NovelToon NovelToon
Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.

Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.

Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

“Semoga aja langgeng sampai waktu yang ditentukan ya…” gumam Raka pelan, hampir tak terdengar.

Tapi dalam hati kecilnya, Raka merasa ada sesuatu yang berbeda. Ada firasat yang memberitahunya bahwa pernikahan ini mungkin tidak akan berjalan sesuai dengan skenario dingin dan kaku yang dibuat oleh Elvano. Ada sesuatu yang memberitahunya bahwa gadis bernama Aira itu mungkin akan mampu melakukan hal yang mustahil, mencairkan es yang sudah membeku bertahun-tahun.

Kembali di kamar Aira, malam semakin larut. Udara di luar terasa semakin dingin, namun di dalam kamar kecil itu terasa hangat karena kehadiran mereka berdua.

“Jadi besok Dinda ikut kan nemenin Aira?” tanya Aira sekali lagi, wajahnya terlihat sangat bergantung pada sahabatnya. Matanya memancarkan ketakutan yang masih tersisa.

“Pasti dong! Mana mungkin gue lewatin momen bersejarah ini!” seru Dinda dengan semangat yang membara, dia mengangkat kepalan tangannya tinggi-tinggi seolah sedang bersumpah. “Gue bakal ada di belakang lo, dukung lo dari jauh, jadi penonton setia nomor satu! Gue bakal liat dengan mata kepala gue sendiri gimana gagahnya calon suami lo itu!”

Dinda kemudian menyengir jahil.

“Dan kalau ada apa-apa, kalau dia berani bikin lo sedih atau nangis pas acara, gue siap terjang! Gue gak peduli dia bos besar atau apa!”

Aira akhirnya tersenyum lega, rasa cemas di dadanya berkurang drastis.

“Makasih ya Din. Aira jadi lebih berani sekarang rasanya. Kayaknya kalau ada kamu di situ, Aira nggak bakal gemeteran kayak jelly.”

“Udah ah jangan makasih-makasih terus! Basi tau nggak!” Dinda memukul pelan paha Aira. “Sekarang lo harus langsung tidur! Wajib tidur! Besok lo harus bangun pagi-pagi sekali, perawatan wajah biar kinclong dan glowing, maskeran, terus rambut harus diatur rapi! Lo harus tampil sempurna! Biar si Mas Elvano itu liat, oh ternyata istri gue secantik dan sebaik ini! Biar dia langsung klepek-klepek jatuh hati pada pandangan pertama!”

“Dinda!!” Aira tertawa renyah, tawanya terdengar sangat manis dan menenangkan. Rasa takut dan beban berat di pundaknya perlahan hilang digantikan rasa hangat dan bahagia memiliki sahabat sejati.

Mereka berdua kemudian berbaring, menata selimut hingga menutupi tubuh. Dinda mematikan lampu utama kamar, hanya menyisakan lampu tidur yang redup dan hangat.

Malam itu akhirnya mereka berdua tidur bersama, berpelukan erat seperti masa-masa sekolah dulu saat mereka menginap satu sama lain. Aira merasa sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Dinda yang selalu bisa membuatnya tertawa, dan tidak pernah meninggalkannya meski dalam situasi sesulit ini.

Tapi tepat sebelum mereka benar-benar terlelap, suasana hening kembali menyelimuti ruangan. Dinda yang sudah setengah mengantuk dan matanya sudah berat, tiba-tiba menyenggol pelan lengan Aira, lalu berbisik pelan dengan suara serak khas orang mengantuk,

“Ra… serius deh… inget kata gue ya… hati-hati janda muda ya… love you… good night…”

Aira di sebelahnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar dalam kegelapan. Sahabatnya ini memang tidak ada habisnya.

“Iya iya… Aira inget kok. Love you too, Din. Selamat tidur.”

Aira pun akhirnya memejamkan matanya perlahan. Besok adalah hari besar. Hari di mana seluruh hidupnya akan berubah selamanya. Dia siap menghadapi takdirnya, siap menjadi istri kontrak bagi pria paling dingin di dunia, demi orang-orang yang dia sayangi.

*****

“RA!! AIRAAA!! CEPAT DONG KELUAR!! MEREKA UDAH SAMPAI DEPAN PAGAR LHO!! MOBIL HITAM MEWAH ITU PASTI MEREKA!!”

Suara teriakan Dinda terdengar begitu nyaring dan memecah keheningan sore itu. Bahkan lebih keras dan lebih panik dari biasanya, seolah ada kebakaran hebat. Gadis berambut ikal itu berlari dengan kencang seperti angin dari teras depan menuju kamar Aira di lantai atas. Napasnya terengah-engah, wajahnya memerah padam bukan karena lelah, tapi karena antusiasme yang meluap-luap tak tertahankan.

Hari ini adalah hari yang paling dinanti-nantikan sekaligus paling ditakuti oleh Aira. Hari di mana takdirnya akan ditulis ulang. Hari di mana keluarga Praditya datang secara resmi bukan hanya untuk melamar, tapi langsung melangsungkan akad nikah. Ya Keluarga dari pihak Elvano ingin memajukan akad nikahnya agar segera dilaksanakan langsung setelah lamaran . Proses yang berjalan sangat cepat, mendadak, namun harus berjalan dengan sempurna tanpa ada satu pun kesalahan.

Di dalam kamar, Aira yang sedang duduk diam di depan cermin rias besar, langsung tersentak kaget. Tangannya yang sedang merapikan ujung kebaya langsung mencengkeram kain itu kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Jantungnya berdegup kencang tak karuan, seakan ingin melompat keluar dari rongga dada. Dug... dug... dug... suaranya terdengar begitu keras di telinganya sendiri.

“Iya… iya Din… Aira siap kok…” jawabnya pelan, suaranya terdengar bergetar hebat, hampir tak terdengar.

Dinda langsung masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk lagi, lalu dengan sigap ia memegang kedua bahu Aira erat-erat. Ia memutar tubuh Aira sedikit agar bisa melihat pantulan wajah mereka berdua di cermin.

Dan benar saja, hari ini Aira terlihat sangat berbeda. Sangat cantik. Ia memakai kebaya modern warna soft peach yang menawan, kainnya jatuh anggun di tubuhnya yang ramping. Rambut hitam panjangnya disanggul sederhana namun elegan, dengan beberapa helai anak rambut yang dibiarkan menjuntai lembut di pipi, menambah kesan manis. Riasan wajahnya dibuat sangat tipis dan alami, hanya mempertegas mata indahnya dan membuat pipinya terlihat merona alami. Kecantikannya bersinar begitu lembut dan menenangkan.

“Lihat tuh!” seru Dinda semangat sambil menunjuk pantulan Aira di kaca. “Lihat pantulan lo! Lo itu cantik banget Ra! Sumpah deh! Bidadari pun kalah cantik sama lo hari ini! Lo kelihatan anggun banget, kayak putri keraton!”

Aira tersenyum tipis namun ragu. Senyumnya terlihat gugup. “Masa sih Din? Aira rasa Aira kelihatan takut banget nih. Keringat dingin udah keluar semua di telapak tangan. Rasanya pengen pingsan aja.”

“Biarin aja keringatan!” potong Dinda cepat dengan tegas. “Yang penting lo kelihatan cantik dan tenang! Dengerin gue baik-baik ya Ra, ini instruksi mendadak dari jenderal Dinda!”

“Apa lagi sih Din?” tanya Aira lemas, matanya menatap pantulan sahabatnya yang terlihat sangat siap tempur.

“Nanti pas turun, jalan itu pelan-pelan, tegapin punggung! Jangan menunduk terus kayak orang salah! Angkat dagu sedikit! Senyum dikit aja, yang manis, yang bikin hati adem! Biar semua orang pada terpana! Biar si Mas Elvano itu juga melongo liat istri dia secantik ini!”

Dinda berhenti sejenak, ia menarik napas panjang, lalu mendekatkan wajahnya sangat dekat ke telinga Aira, lalu berbisik keras dengan nada menekan agar masuk ke dalam hati,

“HATI-HATI JANDA MUDA YA!! MULAI HARI INI LO ISTRI SAH! JAGA DIRI BAIK-BAIK! JAGA HATI LO! JANGAN SAMPAI LO YANG NANGIS BELAKANGAN! DENGER GAK?!”

Aira langsung memukul pelan lengan Dinda berkali-kali, pipinya memerah padam karena malu sekaligus geli.

“Ih Dinda!! Ini acara sakral lho! Acara nikahan! Kok lo malah ngomongin itu lagi sih! Bener-bener nggak ada habisnya mulut lo! Sialan banget tau!”

“Kan buat ngingetin! Biar lo waspada!” Dinda tertawa renyah, tawanya yang ceria sedikit banyak membantu mencairkan suasana yang tegang di kamar itu. “Gue kan sayang sama lo! Oke deh, kalau gitu yuk siap-siap turun! Pangeran es batu udah nunggu di bawah sama rombongan lengkapnya! Ayo Ra, hadapin takdir lo!”

Dinda menarik tangan Aira berdiri dengan semangat. Dengan napas yang tertahan dalam-dalam, Aira melangkah keluar dari kamarnya, menuruni tangga, menuju gerbang takdir yang akan mengubah seluruh hidupnya selamanya.

 

Di Ruang Tamu: Suasana Penuh Haru dan Harapan

Sesampainya di ruang tamu, suasana di sana terasa sangat hangat namun juga penuh dengan rasa hormat dan ketegangan. Ruangan tamu yang sederhana itu kini dipenuhi oleh orang-orang dari keluarga Praditya. Mereka tampak berkelas, sopan, dan membawa aura yang sangat berbeda.

Tuan dan Nyonya Praditya sudah duduk rapi di sofa utama. Mereka tampak sangat ramah, wajah mereka dipenuhi dengan senyum hangat yang tulus, sama sekali tidak terlihat sombong seperti orang kaya pada umumnya.

Dan di sana, duduk di posisi yang paling terlihat dan paling menonjol, ada dia. Elvano Praditya.

Pria itu tampil sangat gagah dan memukau mata. Ia mengenakan setelan jas hitam yang disesuaikan dengan sangat rapi di tubuhnya yang atletis, kemeja putih bersih tanpa noda, dan dasi yang sempurna. Rambut hitamnya ditata rapi namun tetap terlihat santai. Wajahnya tetap datar dan dingin, tatapannya tajam, memancarkan wibawa yang luar biasa. Namun, saat matanya yang gelap itu bergerak dan akhirnya bertemu dengan pandangan Aira yang baru saja melangkah masuk, ada sekelebat kilatan aneh yang tak terbaca di sana. Sesuatu yang berkilat cepat, lalu hilang lagi.

Aira langsung menunduk malu dan takut, jantungnya berdegup makin kencang hingga rasanya sesak.

“Nah itu dia anak gadis kita!” seru Ibu Aira dengan senyum lebar yang sangat bangga, mencairkan suasana yang sempat hening sejenak.

Mendengar itu, Nyonya Praditya langsung berdiri dengan antusias dan menghampiri Aira. Wanita paruh baya itu menatap Aira dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan senyum yang semakin lebar dan penuh kasih sayang, seolah sudah sangat menyukai menantunya ini sejak pandangan pertama.

“Ini Aira kan?” tanya Nyonya Praditya lembut, suaranya sangat halus. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung memegang kedua tangan Aira erat-erat, mengusapnya hangat. “Ya ampun… cantiknya anak ini. Manis sekali. Sehat juga kulitnya. Mama suka sekali! Cocok banget sama El!”

Aira terkejut dengan keramahan yang begitu hangat itu, namun ia langsung tersenyum sopan dan menunduk hormat.

“Te… terima kasih, Tante.”

“Bukan Tante dong, mulai sekarang harus panggil Mama,” sahut Nyonya Praditya manja dan akrab, membuat semua orang di ruangan itu tertawa kecil melihat keramahannya. “Mama sudah jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu, Nak. Kamu baik, sopan, cantik. Cocok sekali jadi pendamping anak Mama.”

Elvano yang duduk di sana hanya diam menyimak interaksi itu, tapi siapa sangka, sudut bibirnya yang biasanya datar itu sedikit terangkat sangat tipis. Hampir tak terlihat, tapi Raka yang berdiri di belakangnya bisa melihatnya dengan jelas.

Raka menyenggol pelan pinggang sahabatnya itu dan berbisik pelan agar tak didengar orang lain,

“Wih… gampang banget dapet hati Mertua! Lo beruntung banget bro! Cewek itu memang punya aura yang bikin orang nyaman. Hoki lo dapet istri sebaik dia!”

Elvano hanya mendengus pelan, sikapnya tetap cool, tapi matanya tak lepas dari wajah Aira yang terlihat malu-malu dan polos itu. Ada perasaan aneh yang menghangat sedikit di dadanya.

Dinda yang berdiri di belakang Aira pun tersenyum lega melihat sambutan yang begitu hangat. Ia lalu menyenggol pelan lengan Aira dan berbisik,

“Gila Ra! Mertua lo baik banget! Langsung sayang! Hoki lo dapet keluarga baru yang welcome! Tapi inget terus ya di otak lo… Hati-hati janda muda! Jangan lengah!”

Acara pun akhirnya dimulai secara resmi. Perwakilan dari keluarga Praditya, seorang paman dari pihak Elvano, berdiri dan menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka dengan bahasa yang sangat sopan, halus, dan penuh hormat.

“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Bismillahirrahmanirrahim. Yang kami hormati Bapak Darmawan dan Ibu, serta keluarga besar yang berbahagia. Kami datang ke sini dengan hati yang tulus, bermaksud ingin meminang putri Bapak dan Ibu yang cantik budiman, Aira Maharani, untuk menjadi istri sah dari putra kami, Elvano Praditya. Semoga Bapak dan Ibu berkenan menerima niat baik kami ini.”

Suasana menjadi hening sejenak, penuh dengan ketenangan dan kesakralan.

Ayah Aira, yang meski sedang sakit namun berusaha tampil kuat, tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya dengan penuh rasa syukur.

“Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Dengan ridho Allah SWT, dan dengan keridhaan kami sebagai orang tua, kami menerima lamaran ini dengan senang hati dan hati yang terbuka. Kami merestui hubungan anak-anak kami.”

Suasana langsung berubah menjadi sangat haru dan bahagia. Tepuk tangan pelan bergema. Ibu Aira bahkan sudah tidak bisa menahan air mata haru yang menetes membasahi pipinya. Ini adalah jalan terbaik bagi keluarga mereka.

Kemudian tibalah saat yang ditunggu-tunggu, Tukar Cincin.

Elvano berdiri tegak dari tempat duduknya. Langkahnya pasti dan gagah saat berjalan mendekati Aira yang berdiri mematung di sana. Ia mengambil kotak cincin berwarna biru tua yang disodorkan oleh Raka.

Dibukanya kotak itu. Terletak sebuah cincin berlian yang sangat indah, berkilauan memikat mata, desainnya elegan dan mewah namun tetap terlihat lembut.

“Berikan tanganmu,” suara Elvano terdengar rendah dan lembut, hanya cukup didengar oleh mereka berdua. Tidak ada nada dingin seperti biasanya, melainkan nada yang lembut dan memerintah halus.

Aira mengulurkan tangannya yang gemetar hebat. Ia menutup matanya sedikit, takut melihat mata pria itu.

Elvano perlahan memegang pergelangan tangan Aira dengan lembut namun pasti. Ia mengambil cincin itu, lalu dengan gerakan perlahan dan hati-hati, ia memakaikan cincin itu ke jari manis tangan kanan Aira.

Saat kulit mereka bersentuhan, sebuah sensasi aneh dan hangat menjalar cepat hingga ke seluruh tubuh Aira. Seperti listrik kecil yang menyengat manis.

1
🍒⃞⃟🦅 Gami
mantap
Rosa Santika: makasih udah komen kk xixixi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!