Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Perjamuan Kulit dan Darah
Kegelapan di dalam gubuk itu bukan lagi sekadar ketiadaan cahaya; ia terasa padat, dingin, dan berdenyut seperti jantung raksasa yang sedang sekarat.
Bima terpojok di sudut ruangan, sementara sosok wanita tanpa kaki itu—yang kini lebih mirip tumpukan daging busuk yang dibalut kain kafan kotor—semakin merapat ke tubuh Kinasih.
"Pilih, Bima..." Kinasih mengulangi kalimat itu.
Namun, kali ini bibirnya tidak bergerak.
Suara itu keluar dari lubang lehernya yang tiba-tiba terbuka lebar, mengeluarkan uap panas berbau amis.
Bima mencoba berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan.
Ia merasa paru-parunya seperti diisi oleh rambut-rambut halus yang gatal dan tajam.
Setiap kali ia mencoba menarik napas, rasa sakit yang menyayat menghujam dadanya.
Tiba-tiba, koin hitam di tangan Kinasih mulai memancarkan suara lengkingan—seperti ribuan jiwa yang menjerit bersamaan.
Cairan hitam yang keluar dari koin itu kini merambat naik ke lengan Kinasih, masuk ke dalam pori-pori kulitnya.
Pembuluh darah di wajah Kinasih menghitam, menjalar seperti jaring laba-laba yang pecah.
"Nasih, sadar! Buang koin itu!" Bima akhirnya berhasil mengeluarkan suara, meski parau dan pecah.
Namun Kinasih justru tertawa. Tawa yang kering dan patah-patah. "Buang? Dia sudah masuk, Bim. Dia lapar. Dia sangat... sangat lapar."
Sosok wanita di belakang Kinasih mulai melakukan sesuatu yang lebih mengerikan.
Jari-jarinya yang panjang dan hitam mulai menusuk masuk ke dalam pundak Kinasih, bukan untuk melukai, melainkan untuk masuk.
Perlahan tapi pasti, sosok makhluk itu mulai menyatu dengan tubuh Kinasih.
Tulang-tulang Kinasih terdengar berderak, patah, dan tersusun kembali dengan bunyi krak... krak... yang memilukan.
Kulit Kinasih mulai menggelembung dan melepuh.
Di bawah lapisan kulitnya, sesuatu yang besar dan tidak berbentuk bergerak-gerak, mencoba mencari jalan keluar.
Bima mencoba menerjang pintu gubuk, namun pintu itu kini tidak lagi terbuat dari kayu.
Permukaannya telah berubah menjadi tekstur seperti lidah manusia yang besar dan basah.
Saat tangannya menyentuh "pintu" itu, ribuan bintil perasa di sana menjilat tangannya, mencoba mengisap darah dari balik kulitnya.
"Sialan! Apa-apaan ini?!" Bima menarik tangannya yang kini dipenuhi bintik-bintik merah kecil yang berdenyut.
Ia berbalik, dan gubuk itu telah menghilang.
Bima kini berdiri di sebuah hamparan luas yang gelap.
Di bawah kakinya bukan lagi lantai tanah, melainkan hamparan gigi manusia yang tak terhitung jumlahnya.
Setiap kali ia melangkah, suara gigi yang remuk dan pecah berderak di bawah sepatunya.
Di kejauhan, ia melihat Kinasih—atau apa pun yang kini menguasai tubuhnya—sedang duduk di atas sebuah singgasana yang terbuat dari tulang-belulang yang masih segar.
Makhluk itu sedang menguliti wajahnya sendiri dengan kuku panjangnya, seolah sedang membuka sebuah topeng yang tidak nyaman.
"Sini, Bima... lihatlah hidup baru kita," panggil makhluk itu. Suaranya kini terdengar seperti gesekan tulang rusuk.
Dari kegelapan di sekeliling Bima, muncul sosok-sosok lain. Mereka adalah orang-orang dengan tubuh yang tidak lengkap.
Ada yang berjalan dengan tangan, ada yang kepalanya terbelah dua dan isinya berceceran, dan ada anak-anak kecil dengan mata yang sudah dicungkil, menyisakan lubang hitam yang terus mengeluarkan nanah.
Mereka membawa piring-piring yang berisi potongan daging yang masih berdenyut.
"Makan, Bima... makan agar kau bisa abadi bersama kami," bisik suara-suara itu serempak.
Bima merasa perutnya mual hebat.
Salah satu sosok, seorang lelaki tua dengan perut yang terburai hingga ke tanah, mendekat dan menyodorkan sepotong daging.
Saat Bima melihat lebih dekat, daging itu memiliki tato yang sangat ia kenal.
Itu adalah tato di lengan ayahnya yang sudah meninggal bertahun-tahun lalu.
"Ayah...?" bisik Bima lemas.
Lelaki tua itu hanya membuka mulutnya lebar-lebar, menunjukkan bahwa ia tidak memiliki lidah, hanya ada ribuan belatung yang menggeliat di dalam kerongkongannya.
Belatung-belatung itu mulai melompat keluar, mencoba mencapai kaki Bima.
Bima jatuh terduduk di atas hamparan gigi yang tajam.
Rasa sakit menusuk lututnya, namun ia terlalu takut untuk peduli. Di depannya, Kinasih berdiri.
Kulit wajahnya kini benar-benar sudah lepas, menampakkan wajah asli makhluk di dalamnya.
Wajah tanpa hidung dengan mulut yang menjahit sendiri setiap kali ia tidak bicara.
"Koin itu adalah kontraknya, Bima. Kau yang membawaku ke sini. Kau yang menginginkan kekayaan ini," kata Kinasih (makhluk itu) sambil menunjuk koin yang kini tertanam di tengah dahinya.
"Aku tidak pernah menginginkan ini! Kami hanya ingin hidup normal!" teriak Bima histeris.
"Normal adalah sebuah ilusi bagi mereka yang sudah mencicipi darah terkutuk," makhluk itu mendekat, wajahnya yang tanpa kulit hanya berjarak beberapa senti dari wajah Bima.
Bau busuknya begitu kuat hingga Bima muntah empedu.
"Sekarang, berikan bagianmu. Aku butuh kakimu, Bima. Aku butuh kakimu agar aku bisa berjalan lagi di dunia atas."
Makhluk itu mengeluarkan sebuah pisau karatan dari balik gaun putihnya yang kini sudah berubah warna menjadi cokelat kemerahan karena darah kering.
Bima mencoba mundur, namun tangan-tangan tak terlihat dari bawah hamparan gigi menahan pergelangan kakinya.
Kuku-kuku tajam menusuk daging tumitnya, mengunci posisinya.
"Satu potong untuk satu nyawa..."
Saat pisau itu menyentuh kulit pergelangan kaki Bima, langit di atas mereka terbelah.
Bukan oleh cahaya matahari, melainkan oleh hujan darah yang kental dan panas.
Bima menjerit sejadi-jadinya saat merasakan logam dingin itu mulai menggergaji tulangnya.
Di tengah rasa sakit yang tak tertahankan, ia melihat Kinasih menangis.
Bukan air mata yang keluar, melainkan cairan hitam pekat yang membakar pipinya.
"Maafkan aku, Bim... aku lapar..." bisik Kinasih untuk terakhir kalinya sebelum kegelapan benar-benar menelan kesadaran Bima.
Malam itu, motor tua di pinggir jalan setapak itu masih di sana.
Mesinnya dingin.
Namun di atas joknya, kini terdapat dua koin hitam yang berdampingan, menunggu siapa pun yang cukup malang untuk memungutnya dan memulai "hidup baru" yang lainnya.