Di balik tatapan dingin seorang Komandan Elite, tersimpan rasa rindu yang terpendam bertahun-tahun.
Saga Pratama Dirgantara menyimpan cinta rahasia untuk sang primadona sekolah, Renata Admajha, adik kelasnya saat SMA. Sosok Saga yang dingin, pendiam, dan tertutup membuatnya hanya berani mengagumi gadis itu dari jauh tanpa berani mengutarakan isi hati.
Hingga saat keberaniannya mulai muncul untuk menyatakan cinta, kabar mengejutkan justru datang menyambar. Sang pujaan hati ternyata telah dipinang oleh saingannya sendiri.
Mendengar hal itu, Sang Komandan patah hati sebelum sempat memiliki. Namun, sebagai lelaki terhormat, tak ada yang bisa ia lakukan selain mundur dengan teratur, mengubur perasaannya dalam-dalam, walau harus menelan pil pahit sendirian.
Namun, takdir cinta sang komandan punya rencana lain yang tak terduga.
Mampukah Saga menemukan Cintanya?
Mau tahu kisah selengkapnya yuk! langsung baca aja ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 My elite lover
Matahari pagi bersinar cerah, namun tidak dengan suasana hati Renata. Gadis itu duduk bersandar di balkon kamarnya, menatap hamparan taman yang penuh bunga warna-warni yang sedang bermekaran di bawah sana dengan wajah manyun. Udara pagi yang dingin seolah tak mampu meredakan rasa kesal yang menggunung di dadanya.
"Bosen banget sih hidup gini!" gerutunya sambil menghentakkan kakinya pelan ke lantai. "Padahal biasanya jam segini aku udah sibuk di rumah sakit, sibuk ngurus pasien, bergelut sama alat medis. Jauh lebih seru dan menantang dibanding cuma duduk diam ngenes kayak janda ditinggal mati suaminya!"
Rena mendengus kasar, tangannya melipat di dada dengan kesal.
"Semua ini gara-gara dua makhluk astral itu! Rendy sama Sasa! Dua pengkhianat bermuka dua! Hidup aku yang udah teratur malah jadi berantakan, waktu berharga aku jadi sia-sia cuma gara-gara ulah mereka yang gak tahu diri!" omelnya panjang lebar, meluapkan semua kekesalan yang tertahan.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu, membuat alisnya berkerut dalam.
"Hah ... aku hampir lupa! Nanti acaranya mereka berdua, aku harus bawa siapa ya ke sana? Kalau datang sendirian, pasti aku jadi bahan gunjingan dan di ketawain habis-habisan. Dan si Sasa jadi makin besar kepada!"
Rena beranjak masuk ke kamar dan menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa empuk. Ia memijat pelipisnya yang terasa berat, berpikir keras siapa yang bisa diajak kerja sama untuk menjadi pasangan pendampingnya nanti.
"LENA!" mata Rena tiba-tiba berbinar terang. "Yah, kan ada dia! Sahabat sejati emang paling bisa diandalkan! Di saat-saat darurat seperti ini, cuma dia yang paham!" serunya semangat.
Dengan semangat baru, Rena buru-buru mengambil ponselnya dan menekan nomor sahabatnya. Tidak butuh waktu lama, sambungan tersambung.
"Len! Sibuk gak?!" seru Rena langsung tanpa basa-basi begitu telepon diangkat.
"Astagfirullah ... Assalamualaikum dulu Neng, baru nyerocos!" sahut Lena dari seberang dengan nada kesal tapi terdengar sangat akrab.
"Hehe ... iya deh maaf. Assalamualaikum!" Rena terkekeh kecil.
"Waalaikumsalam. Kebiasaan gak pernah berubah. BTW Kenapa nih? Tumben banget minta bantuan. Biasanya sok jadi wanita independen, segala hal bisa diurus sendiri," sahut Lena dengan nada bercanda yang menyindir.
"Bukan gitu Len! Ceritanya panjang banget, kalau di telepon gak bakal cukup kuota dan waktunya. Gimana kalau kita ketemuan di cafe biasa aja yuk! Nanti aku cerita detail semuanya dari A sampai Z!" ajak Rena antusias.
"Kayaknya serius banget ya masalah mu? Oke deh! Sampai jumpa di sana kalau gitu."
Tanpa menunggu jawaban persetujuan, Rena langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia tak peduli dengan umpatan kesal Lena dari seberang sana.
Gadis itu segera bergegas ke kamar mandi. Ia ingin tampil santai tapi tetap stylish dan cool. Tak butuh waktu lama, Rena sudah tampil dengan penampilannya yang khas: celana cargo hitam longgar yang nyaman, dipadu crop top putih yang menonjolkan lekuk tubuhnya, dilapisi kemeja yang dibiarkan terbuka, dan tak lupa topi baseball. Rambut panjangnya dibiarkan terurai bebas, menambah kesan santai.
"Ready!" seru Rena sambil menyambar tas kecilnya yang tergantung di lemari kaca.
_______&&_______
Beberapa saat kemudian
Suasana di dalam cafe cukup tenang, karena masih pagi para pengunjung belum terlalu ramai. Rena sudah duduk menunggu di meja sudut yang biasa mereka tempati. Matanya sibuk memperhatikan sekeliling sambil sesekali menyeruput es teh manisnya.
Tiba-tiba, sebuah bayangan tegap berdiri tepat di hadapannya.
"Maaf ya lama, tadi ada urusan dikit ..." seru sebuah suara berat dan dalam yang sangat dikenali.
Rena mendongak senyum di wajahnya langsung membeku seketika saat melihat siapa yang datang.
Bukan Lena.
Tapi ...
"Kak ... Saga?! Kok Kakak bisa ada di sini?"
Rena membelalakkan mata, hampir tersedak minumannya sendiri. Pria itu berdiri tegak di sana, mengenakan kaos polo berwarna gelap dan celana chino, terlihat sangat rapi namun tetap santai. Tatapan matanya tajam namun terselip senyum tipis yang membuat jantung Rena berdegup kencang bak genderang mau perang.
"Kamu nungguin Lena?" tanya Saga pelan, lalu tanpa diminta ia menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Rena dengan santai namun berwibawa.
Kok Kak Saga bisa tahu aku lagi nungguin Lena? Jangan-jangan dia selain terkenal dingin dan tak tersentuh, dia juga cenayang?! batin Rena was-was, matanya berkedip-kedip tak percaya.
"Iya ... Kok Kakak tahu?" tanya Rena curiga.
"Lena tadi nelpon aku. Dia minta tolong aku untuk menemui kamu di sini, gantian dia. Katanya dia mendadak ada urusan keluarga yang gak bisa ditinggal," jelas Saga tenang.
Rena terdiam kaku, mulutnya terbuka sedikit tapi tak bisa mengeluarkan suara.
"LENA?! JAHAT BANGET SIH KAMU! BERANI-BERANINYA NIPU AKu!" batin Rena menggerutu kesal, namun pipinya perlahan-lahan memerah padam karena malu campur salah tingkah.
Saga menyandarkan punggungnya, menatap Rena lekat-lekat dengan tatapan menyelidik. "Apa yang sedang kamu pikirkan? Apa kamu masih memikirkan soal pernikahanmu yang batal? Apa kamu menyesal sudah membatalkannya?" tanya Saga penuh makna.
"Ya enggak lah!" sahut Rena cepat dengan nada ketus, seolah tersinggung dengan pertanyaan itu. "Ngapain nyesel coba melepaskan pengkhianat! Nyesel itu malah kalau aku tetap mempertahankan hubungan yang udah busuk kayak gitu!"
Saga tersenyum tipis mendengar ketegasan itu. "Terus kenapa wajah kamu terlihat tertekan dan pusing begitu?" pancing Saga. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya sedang mengganjal di hati gadis itu.
Rena menghela napas panjang, memainkan jarinya di atas meja. Apa aku ajak Kak Saga aja ya? Tapi ... apa dia mau? Kalau dia nolak, mau ditaruh di mana muka aku nanti? batinnya bertarung hebat antara gengsi dan kebutuhan.
"Kok diam aja? Kamu lagi ada masalah? Cerita aja siapa tahu aku bisa bantu," tawar Saga dengan suara lembut dan penuh perhatian, berhasil mencairkan suasana.
Rena langsung mendongak, memberanikan diri menatap wajah tampan pria di hadapannya. "Kak Saga, benaran mau bantu Rena?"
"Hm!" jawab Saga singkat, padat, dan jelas.
Dengan mengumpulkan seluruh keberanian yang ada, Rena menarik napas dalam-dalam.
"Kalau gitu ... Kakak mau enggak minggu ini temani aku ke acara pernikahan Sasa dan Rendy?" tanya Rena hati-hati, matanya menatap lekat-lekat menanti jawaban, jantungnya hampir copot menunggu detik-detik penentuan.
Bersambung ...