Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Memakai Topeng Bahagia
Dunia perkuliahan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Pelita Bangsa memiliki hierarki sosialnya sendiri yang terbentuk secara alamiah. Di antara ribuan mahasiswa yang berlalu-lalang, ada beberapa nama yang selalu menjadi pusat orbit gravitasi, dan semester ini, nama Angga Raditya berada di urutan teratas.
Angga bukanlah tipe laki-laki yang sengaja mencari perhatian. Ia tidak pernah nongkrong di kantin dengan suara tawa yang sengaja dikeraskan, ia tidak mengikuti organisasi hanya untuk tebar pesona, dan ia sama sekali bukan seorang playboy. Ia adalah sosok pria yang pendiam, cenderung tertutup, dan selalu memilih duduk di kursi paling belakang. Namun, justru sifat cool dan misteriusnya itulah, dipadukan dengan wajahnya yang luar biasa tampan serta tatapan matanya yang setajam elang, yang membuatnya dikagumi oleh banyak wanita. Setiap kali Angga berjalan menyusuri koridor fakultas, selalu ada bisik-bisik kekaguman dan lirikan curi-pandang dari para mahasiswi senior maupun teman seangkatannya. Mereka semua penasaran, siapa perempuan yang kelak mampu menembus pertahanan pria yang terkenal tidak mudah jatuh cinta itu.
Berbanding terbalik—namun memiliki magnet yang sama kuatnya—adalah Anandara Arunika. Jika Angga adalah misteri di sudut ruangan, maka Anandara adalah mahakarya seni di tengah galeri yang diberi garis batas "Do Not Touch". Anandara memegang gelar tak resmi sebagai 'Nyonya Es Tercantik' di angkatannya. Gadis dengan rambut hitam legam yang selalu tergerai bebas itu memiliki kecantikan yang mengintimidasi. Kulitnya seputih pualam, wajahnya presisi tanpa cela, dan auranya memancarkan kelas sosial yang tinggi. Meski kini ia jauh lebih ramah dan mau berbaur berkat circle pertemanannya, dinding es di sekitar hatinya masih terasa jelas bagi siapa pun laki-laki yang mencoba mendekatinya dengan niat asmara. Puluhan nomor WhatsApp dari kakak tingkat maupun teman seangkatan yang mencoba modus pedekate berujung pada checklist biru yang tak pernah berbalas.
Namun, ketegangan dari aura Anandara yang dingin itu selalu berhasil diseimbangkan secara sempurna oleh kehadiran sahabat-sahabatnya. Sinta dan Kiera dikenal sebagai 'bidadari imut yang ceria'. Sinta dengan senyum gingsulnya yang tak pernah pudar, serta Kiera dengan gayanya yang selalu trendi dan ramah. Keduanya memiliki energi positif yang meluap-luap, membuat meja tempat mereka berkumpul selalu terasa hidup.
Dan tentu saja, circle itu tidak akan lengkap tanpa kehadiran Rehan dan Reza. Duo kocak penggila game yang secara ajaib berhasil menjadi mahasiswa akuntansi ini adalah sumber keributan utama. Di saat mahasiswa lain sibuk mendiskusikan jurnal akuntansi atau nilai tukar rupiah, duo beban negara ini lebih sering terdengar berteriak-teriak soal push rank dan sinyal Wi-Fi kampus.
Siang itu, matahari bersinar terik, memanggang atap-atap gedung FEB. Geng Akuntansi itu sedang berkumpul di salah satu gazebo besar di taman tengah fakultas, menghabiskan waktu jeda sebelum mata kuliah Pengantar Manajemen dimulai.
"Maju, Za! Maju! Itu Mage-nya darahnya sisa setetes, woy! Sini back up gue!" teriak Rehan histeris. Matanya melotot menatap layar ponsel yang dipegangnya secara horizontal. Jari-jarinya bergerak dengan kecepatan kilat.
"Gue lagi di-stun, botak! Sabar napa! Ini gue di- ganking tiga orang, lo malah nyuruh maju!" balas Reza tak kalah heboh, tubuhnya ikut meliuk-liuk mengikuti pergerakan karakter di dalam game-nya.
"Ah, elah! Wiped out kan kita! Cupu banget sih lo main Tank, Za!" Rehan membanting punggungnya ke sandaran gazebo dengan wajah dramatis seolah baru saja kehilangan hartanya.
Di seberang mereka, Kiera memutar bola matanya sambil menyesap es teh manisnya. "Berisik banget sih lo berdua. Ini taman kampus, bukan warnet. Diliatin kating (kakak tingkat) tuh dari tadi."
"Biarin aja, Kiera. Namanya juga seniman game, butuh mengekspresikan emosi," kekeh Ami yang sedang sibuk menyalin catatan.
Anandara duduk di sudut gazebo, memangku laptopnya. Ia tampak sedang mengetik sebuah draf laporan keuangan untuk tugas minggu depan. Wajahnya terlihat tenang, jari-jarinya menari anggun di atas keyboard. Namun, ketenangan itu hanyalah sebuah topeng yang baru saja ia pasang dengan susah payah pagi ini.
Di sebelahnya, Sinta sedang senyum-senyum sendiri menatap sebuah kotak bekal berwarna biru muda yang duduk manis di atas pangkuannya. Sesekali, gadis ceria itu merapikan jepit rambutnya dan melihat pantulan wajahnya di layar ponsel yang gelap.
"Sin, dari tadi lo senyum-senyum mandangin tuh kotak Tupperware, udah kayak mandangin berlian aja. Isinya apaan sih?" tegur Rehan yang sudah move on dari kekalahannya.
Sinta mendongak, matanya berbinar sangat terang. "Ini bekal makan siang. Gue tadi pagi sengaja bangun jam empat subuh buat masak chicken katsu saus teriyaki special edition."
"Wah, asyik! Buat gue sama Rehan ya, Sin? Tahu aja lo kita lagi bokek nunggu kiriman bulanan," Reza mengulurkan tangannya dengan wajah berbinar.
Dengan cepat, Sinta menepis tangan Reza. "Enak aja! Ini bukan buat kalian, monyet! Ini tuh khusus... limited edition buat seseorang yang spesial."
Gerakan jari Anandara di atas keyboard terhenti seketika. Sebuah jarum imajiner terasa menusuk tepat di ulu hatinya. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini bermuara, dan ia harus segera menyiapkan mentalnya.
"Seseorang yang spesial?" Kiera menaikkan alisnya, insting gosipnya langsung menyala. "Siapa, Sin? Jangan bilang lo mau ngasih ke..."
"Iya," Sinta mengangguk mantap, pipinya merona merah jambu. "Gue mau kasih ini ke Angga. Kata Dimas yang kebetulan satu kelompok tugas sama gue, Angga itu jarang banget ke kantin kalau jam istirahat. Dia biasanya cuma baca buku di bangku depan kelas nunggu dosen masuk. Kasihan kan pangeran gue kelaparan."
Suasana di gazebo itu mendadak heboh. Kiera dan Ami langsung bersorak mendukung, sementara Rehan dan Reza bersiul menggoda.
"Gila, gercep (gerak cepat) juga lo, Sin! Nggak nyangka gue lo seberani ini," puji Rehan sambil mengacungkan dua jempolnya.
Sinta menoleh ke arah Anandara yang sedari tadi hanya diam membeku. Sinta menyentuh lengan sahabatnya itu dengan lembut. "Nan, menurut lo gimana? Angga bakal suka nggak ya kalau gue kasih bekal ini? Gue takut dia nolak, kan dia terkenal pendiam dan agak dingin ke cewek-cewek."
Anandara menelan ludah. Tenggorokannya terasa dipenuhi oleh pasir kering. Di dalam dadanya, rasa perih yang luar biasa mengiris-iris nuraninya. Otaknya menjerit, Tentu saja dia tidak akan menolaknya, Sinta. Dan kalaupun dia menolaknya, aku benci kenyataan bahwa kamu berusaha begitu keras untuknya.
Namun, Nyonya Es itu tidak akan pernah membiarkan kelemahannya terlihat. Dengan sisa-sisa kekuatan logikanya, Anandara memasang topeng bahagianya. Sebuah topeng yang ia rancang dengan sangat sempurna malam tadi. Ia menarik napas pendek yang tak kentara, lalu memutar kepalanya menghadap Sinta.
Sebuah senyum yang terlihat sangat tulus, cerah, dan penuh dukungan mekar di bibir Anandara.
"Pasti dia suka, Sin," ucap Anandara dengan nada suara yang hangat dan riang. "Siapa sih yang berani nolak masakan bidadari seimut lo? Chicken katsu buatan lo kan juara satu. Cowok sekeras batu pun pasti bakal luluh."
"Beneran, Nan? Lo nggak lagi lip service kan?" Sinta memastikan, matanya mencari keyakinan dari sahabat yang paling ia percayai itu.
"Serius, seratus persen," Anandara menepuk punggung tangan Sinta pelan. "Coba aja sana kasih. Kalau dia berani nolak, biar gue yang maki-maki dia pakai teori akuntansi."
"Aaa! Nanda! Lo emang bestie gue yang paling top!" Sinta memeluk Anandara dengan erat, tawanya mengalun ceria memenuhi gazebo. "Doain gue ya, guys! Semoga misi pertama menaklukkan hati kulkas dua pintu ini berhasil!"
"Semangat, Sin!" sorak Ami dan Kiera.
Anandara membalas pelukan Sinta, membiarkan sahabatnya itu menyandarkan kepala di bahunya. Saat Sinta tidak bisa melihat wajahnya, senyum di bibir Anandara luntur seketika. Matanya menatap kosong ke arah deretan pepohonan kampus. Hatinya berdarah. Ia sedang menelan pil paling pahit dalam hidupnya secara sadar. Setiap kata dukungan yang ia berikan untuk Sinta terasa seperti silet yang ia telan perlahan-lahan, merobek saluran napasnya dari dalam.
Tidak apa-apa, Nanda. Ini benar. Ini yang harus kamu lakukan, batin Anandara merapalkan mantra itu berulang-ulang, menyuntikkan anestesi palsu pada jiwanya yang kesakitan. Sinta mengorbankan nyawanya untukmu di atap waktu itu. Sinta merelakan masa depannya demi menjagamu saat kamu sakit. Sebuah cinta monyet tidak sebanding dengan nyawa Sinta. Kau harus memastikan dia tersenyum.
"Nah, itu dia orangnya!" seru Reza tiba-tiba, menunjuk ke arah koridor utama FEB yang jaraknya tidak terlalu jauh dari gazebo mereka.
Semua kepala menoleh. Di sana, Angga Raditya sedang berjalan berdampingan dengan Dimas. Pemuda itu mengenakan kaus putih polos yang dibalut kemeja flanel hitam unbuttoned, tas ransel menyamping di bahunya. Aura karismatiknya yang tenang menguar secara alami, membuat beberapa mahasiswi yang berpapasan dengannya terang-terangan memperlambat langkah.
Sinta langsung berdiri dengan panik, merapikan rok dan rambutnya dengan gerakan kilat. "Gimana, Nan? Rambut gue udah oke belum? Ada sisa cabai nggak di gigi gue?"
Anandara tersenyum lagi, senyum dari topeng yang sama. "Sempurna. Lo cantik banget, Sin. Sana, samperin sebelum dia masuk gedung."
"Oke! Bismillah!" Sinta memeluk kotak bekalnya di depan dada dan berlari-lari kecil menuruni tangga gazebo, menghampiri Angga dan Dimas yang sedang berjalan.
Di dalam gazebo, kelima remaja itu menonton adegan tersebut layaknya menonton serial drama Korea live action.
Anandara duduk membeku. Matanya tak bisa lepas dari sosok Angga. Ia melihat bagaimana Sinta mencegat kedua pemuda itu. Ia melihat Angga dan Dimas berhenti melangkah.
Dari jarak sejauh ini, Anandara tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Namun, ia bisa melihat gestur tubuh mereka dengan jelas. Sinta menyodorkan kotak bekal biru muda itu dengan senyum yang sangat lebar, pipi yang tersipu malu, dan kepala yang sedikit menunduk.
Angga terlihat terkejut. Pemuda itu memandangi kotak bekal di tangan Sinta sejenak. Ada keraguan yang sangat jelas di wajahnya. Angga melirik ke arah Dimas, lalu kembali menatap Sinta.
Anandara mencengkeram ujung meja gazebo dengan sangat kuat hingga kukunya memutih. Hatinya menjerit, Tolak. Kumohon, tolaklah. Rasa cemburu yang purba dan mematikan menggerogoti akal sehatnya. Ia membenci dirinya sendiri karena berharap Sinta gagal, namun insting cintanya menolak untuk dijinakkan.
Namun, yang terjadi selanjutnya justru membuat dunia Anandara runtuh seketika.
Angga mengangkat tangannya dan menerima kotak bekal itu dari Sinta. Pemuda itu mengangguk pelan, mengucapkan sesuatu yang membuat Sinta melompat kegirangan di tempatnya.
"Gila! Diterima, cuy!" heboh Rehan sambil bertepuk tangan. "Emang pesona bidadari Sinta nggak ada obatnya. Si kulkas langsung meleleh!"
Dada Anandara terasa dihantam godam beton. Napasnya tercekat. Ia merelakan Angga untuk Sinta, ia yang menyuruh Sinta maju, namun saat melihat Angga benar-benar menerima pemberian sahabatnya itu, rasanya nyawa Anandara seolah direnggut paksa dari raganya. Pil pahit itu kini terasa seperti racun korosif yang membakar lambungnya.
Namun, adegan itu belum selesai.
Setelah menerima bekal itu, Angga tidak langsung pergi. Pemuda bermata tajam itu mengangkat wajahnya. Ia tidak menatap Sinta yang sedang berbicara dengan ceria di depannya. Matanya justru menyapu ke arah taman, melampaui keramaian koridor, mencari-cari sesuatu.
Hingga akhirnya, tatapan elang itu menemukan titik kordinat yang ia cari: Gazebo Fakultas.
Dari jarak dua puluh meter, tatapan Angga melesat lurus seperti anak panah, melewati Rehan, melewati Reza, dan menancap tepat di sepasang mata hitam legam Anandara.
Jantung Anandara seakan berhenti berdetak selama dua detik.
Tatapan Angga bukan tatapan seorang pria yang baru saja luluh oleh pemberian gadis lain. Tatapan itu dingin, penuh dengan rasa frustrasi, dan menyimpan sebuah pertanyaan besar yang diarahkan khusus untuk Anandara. Kenapa? seolah mata itu bertanya padanya. Kenapa kau membiarkannya? Kenapa kau menyuruh sahabatmu yang datang kepadaku?
Angga yang cerdas tahu betul dinamika persahabatan mereka. Ia tahu Sinta tidak akan mungkin seberani ini tanpa dukungan mutlak dari Anandara sang Nyonya Es yang memimpin kelompok itu. Angga menerima bekal itu bukan karena ia menyukai Sinta, melainkan karena ia tidak ingin mempermalukan Sinta di depan umum dan menghargai usahanya. Namun di saat yang bersamaan, Angga merasa kecewa. Ia mencari senyum tulus yang ia lihat di mall, senyum yang sayangnya disembunyikan Anandara dengan sangat rapat dari jangkauannya.
Menyadari bahwa Angga sedang menatapnya lekat-lekat dari kejauhan, kepanikan ganda melanda Anandara. Sinta berdiri tepat di depan Angga. Jika Sinta berbalik dan melihat Angga sedang menatap ke arah gazebo, kesalahpahaman kemarin akan terulang, atau lebih buruk lagi, Sinta akan menyadari rahasianya.
Anandara harus bertindak ekstrem. Ia harus menunjukkan pada Angga bahwa ia sama sekali tidak peduli.
Dengan gerakan yang mendadak, Anandara memutar tubuhnya menghadap Rehan yang sedang sibuk memakan keripik kentang. Anandara merebut paksa bungkus keripik itu dari tangan Rehan.
"Eh, apa-apaan nih Nyonya Besar main rampas aja?!" protes Rehan kaget.
Anandara tidak menjawab. Ia memaksa dirinya tertawa. Bukan tawa tulus yang renyah, melainkan tawa buatan yang sangat keras dan riang, tawa yang menyamarkan suara hatinya yang sedang menangis meraung-raung. Ia memukul bahu Rehan dengan gaya sok asyik, berpura-pura sedang larut dalam candaan yang luar biasa lucu.
"Lo tuh rakus banget sih, Han! Bagi-bagi napa!" seru Anandara sambil tertawa keras, matanya sengaja dikunci ke arah Rehan, sama sekali tidak menoleh lagi ke arah koridor. Ia memastikan bahwa dari sudut pandang Angga, dirinya terlihat seperti gadis yang sedang bersenang-senang dengan teman laki-lakinya, benar-benar tidak acuh dan tidak memedulikan interaksi Angga dengan Sinta.
Di kejauhan, melihat Anandara yang justru tertawa lepas bersama pria lain dan sama sekali mengabaikannya, rahang Angga mengeras. Kekecewaan memancar jelas di mata tajamnya. Ia merasa tertampar oleh sikap tidak peduli yang ditunjukkan oleh gadis yang diam-diam telah mencuri hatinya itu.
Angga mengalihkan pandangannya kembali ke Sinta dengan raut wajah yang kembali datar dan dingin. Ia berpamitan singkat pada Sinta, lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan koridor bersama Dimas, membawa serta kotak bekal biru itu.
Tak lama kemudian, Sinta berlari kembali ke gazebo. Wajahnya merah merona, napasnya tersengal-sengal, namun senyumnya selebar dunia. Ia melompat menaiki tangga gazebo dan langsung menabrak Anandara, memeluknya dengan histeris.
"Nanddaaaaa! Diterima! Bekalnya diterima!" jerit Sinta kegirangan, melompat-lompat kecil sambil memeluk sahabatnya. "Dia bilang makasih! Terus dia bilang nanti wadahnya dia cuciin sebelum dibalikin! Ya ampun, gue bisa gila, Nan! Kulkas gue akhirnya ngomong sama gue!"
Sorak-sorai dari Kiera, Ami, Rehan, dan Reza meledak di dalam gazebo. Mereka merayakan kemenangan kecil Sinta seolah itu adalah kemenangan memenangkan piala dunia.
Di tengah pelukan histeris Sinta, Anandara membeku. Bau parfum sahabatnya tercium jelas, mengingatkannya pada malam di mana tubuh kurus Sinta memeluknya erat di bawah hujan badai atap sekolah.
Anandara mengangkat tangannya dengan perlahan dan gemetar, membalas pelukan Sinta. Ia menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.
"Selamat ya, Sin," ucap Anandara. Suaranya terdengar stabil, hangat, dan penuh kasih sayang. Tidak ada nada sumbang. Topeng bahagianya menempel sempurna di wajahnya tanpa celah sedikit pun. "Gue ikut seneng banget buat lo. Langkah pertama lo sukses."
"Ini semua berkat dukungan lo, Nanda! Kalau lo nggak yakinin gue tadi, gue pasti mundur!" Sinta melepaskan pelukannya, menatap Anandara dengan mata yang berkaca-kaca karena terharu. "Makasih ya, Nan. Lo emang sahabat terbaik yang pernah dikirim Tuhan buat gue."
"Sama-sama, Sin," senyum Anandara semakin lebar, matanya menyipit bahagia. Sebuah pertunjukan teater kelas Oscar yang ia mainkan secara live.
Gue juga sayang sama lo, Sin. Sangat sayang. Lebih dari gue sayang sama diri gue sendiri.
"Eh, guys, gue ke toilet bentar ya. Kebelet nih," pamit Anandara tiba-tiba, melepaskan pelukan Sinta dan berdiri dari duduknya. Ia menyambar ponselnya di atas meja.
"Mau ditemenin nggak, Nan?" tawar Kiera.
"Nggak usah, bentar doang kok. Kalian lanjutin aja euforianya," Anandara tertawa kecil, melambaikan tangannya dan berjalan menuruni tangga gazebo dengan santai.
Ia melangkah menyusuri jalan setapak di pinggir taman menuju gedung fasilitas umum. Posturnya tegak. Wajahnya tenang. Namun begitu ia berbelok di sudut koridor sepi yang mengarah ke toilet, jauh dari jangkauan pandangan teman-temannya, kakinya mendadak kehilangan kekuatan.
Anandara bersandar ke dinding keramik yang dingin. Tangannya mencengkeram kemejanya di bagian dada. Napasnya yang sedari tadi ia tahan akhirnya terlepas dalam wujud rintihan yang sangat perih.
Topeng bahagia itu retak, hancur berkeping-keping.
Air mata yang sudah membakar pelupuk matanya sejak Sinta berlari menghampiri Angga tadi, akhirnya tumpah tanpa bisa dibendung. Nyonya Es itu menangis dalam kesunyian koridor yang sepi. Ia membiarkan hatinya berdarah, membiarkan dadanya robek oleh pisaunya sendiri.
Ia baru saja menyerahkan laki-laki pertama yang mampu membuat jantungnya berdebar, langsung ke tangan sahabatnya. Ia menyaksikan pujaan hatinya dibawa pergi oleh orang yang paling ia lindungi di dunia ini.
"Tidak apa-apa," bisik Anandara di sela isakannya yang menyayat hati, berusaha keras mensugesti dirinya sendiri. Ia memukul dadanya pelan, menghukum perasaannya sendiri. "Kamu kuat, Nanda. Kamu tidak butuh laki-laki. Kamu hanya butuh Sinta. Biarkan saja. Biarkan sakit."
Di ujung koridor itu, Anandara menangisi cintanya yang harus mati sebelum sempat tumbuh. Ia menelan seluruh rasa pahit itu sendirian, bersembunyi di balik kegelapan, memastikan bahwa saat ia kembali ke gazebo nanti, tidak ada satu pun yang tahu bahwa Nyonya Es itu baru saja memakamkan hatinya sendiri demi melihat sebuah senyuman di wajah sahabatnya.
Bersambung...!
pengamat Senja_