Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini Belum Berakhir
"MAMAAA!"
Jeritan Devina membelah studio. Ia melihat ibunya tersungkur tak berdaya. Dalam sekejap, rasa takut yang selama ini menghantui Devina bermutasi menjadi amarah murni yang membakar jiwanya. Ia tidak lagi melihat Aris sebagai mantan kekasih atau ancaman; ia melihat Aris sebagai hama yang harus dibasmi.
Aris melompat naik ke atas panggung syuting, merobek dekorasi bunga yang menghalangi jalannya. "Devina, ikut aku! Kita pergi dari sini sekarang! Mereka semua mau memisahkan kita!"
"Jangan berani-berani kamu menyentuhku!" Devina berteriak. Tangannya dengan cepat meraih sebuah mangkuk stainless steel besar berisi adonan tepung yang masih basah.
PYARR!
Devina melemparkan mangkuk itu tepat ke arah wajah Aris. Adonan putih lengket itu mengenai jas dan sebagian wajah Aris, membuatnya terhuyung. Namun Devina tidak berhenti di situ. Ia meraih apa pun yang ada di atas meja kerjanya.
"Ini untuk Salsa!" Devina melempar sebotol saus tomat kaca yang pecah di kaki Aris, menyipratkan warna merah darah di celana pria itu.
"Ini untuk Ibu Imroh!" Seikat seledri dan segenggam lada hitam dilemparkan tepat ke mata Aris, membuatnya mengerang perih sambil mencoba mengusap wajahnya yang kotor.
"Dan ini untuk Mama!" Puncaknya, Devina mengangkat sebuah wajan berat berbahan besi tuang (cast iron). Dengan seluruh tenaga yang ia miliki, ia mengayunkan wajan itu ke arah meja, menciptakan dentuman logam yang memekakkan telinga untuk menggertak Aris.
Suasana syuting menjadi gaduh luar biasa. Kru berlarian, kamera-kamera tumbang, dan beberapa asisten sutradara mencoba mendekat namun mundur saat melihat Aris mengeluarkan sebuah pisau lipat dari sakunya.
"Kamu pikir ini mainan, Devina?!" Aris tertawa, sebuah tawa kering yang mengerikan. Wajahnya yang berlumuran tepung dan saus membuatnya tampak seperti monster dari mimpi buruk. "Aku sudah kehilangan segalanya! Perusahaanku, namaku... aku tidak akan membiarkanmu tetap di sini dan tertawa bersama Gavin!"
****
Sementara kekacauan meledak di studio, puluhan kilometer jauhnya di sebuah safe house yang sunyi, Bu Imroh sedang bersimpuh di atas sajadah. Kamar itu remang-remang, hanya diterangi seberkas cahaya lampu jalan yang masuk lewat celah gorden.
Jari-jarinya yang kasar tak henti menggeser butiran tasbih. "Hasbunallah wanikmal wakil... Hasbunallah wanikmal wakil..."
Air matanya mengalir membasahi pipi yang keriput. Hatinya merasa tidak tenang. Ada firasat buruk yang merambat di dadanya, sebuah rasa sesak yang sama seperti malam saat Salsa didorong ke jurang.
"Ya Allah... lindungilah Nak Devina... lindungilah orang-orang baik yang menolong hamba..." bisiknya di sela isak tangis. "Jangan biarkan iblis itu menang lagi. Cukup Salsa yang menjadi korban... jangan ada lagi darah yang tumpah."
Setiap lafaz zikirnya adalah peluru doa yang ia tembakkan ke langit, memohon agar keadilan yang selama ini bungkam segera menemukan jalannya.
****
Di jalanan Jakarta yang mulai macet, sebuah mobil SUV hitam melaju dengan kecepatan tinggi, menyalip di antara celah-celah kendaraan lain dengan nekat. Di balik kemudi, Gavin Wirya Aryaga mencengkeram setir hingga buku jarinya memutih.
Ponselnya yang diletakkan di dasbor terus menyala, menampilkan panggilan dari Raka, manajer Devina, yang melaporkan keributan di studio.
"Tunggu aku, Devina... Kumohon, tunggu aku," gumam Gavin.
Napasnya memburu. Ia sudah mendengar dari Komisaris Pratama bahwa Aris sudah menghilang dari apartemennya dan dalam status buron. Gavin tahu, seorang pria yang sudah kehilangan segalanya dan merasa terpojok adalah predator yang paling mematikan. Aris tidak akan menyerahkan diri secara baik-baik.
Gavin menginjak pedal gas lebih dalam, mengabaikan klakson kendaraan lain yang memaki tindakannya. Perasaannya mengatakan bahwa Aris tidak hanya ingin merusak acara syuting; Aris ingin membawa Devina ke dalam kegelapannya.
****
Kembali di studio, Aris berhasil mendekati Devina. Ia mencengkeram pergelangan tangan Devina dengan sangat kuat hingga Devina meringis kesakitan.
"Lepaskan! Aris, lepaskan!"
"Ikut aku atau aku akan memastikan ibumu tidak akan pernah bangun lagi!" Aris menunjuk ke arah Bu Ines yang masih tergeletak pingsan di bawah.
Devina menatap mata Aris. Ia tidak melihat ada sisa-sisa cinta di sana, hanya obsesi yang menjijikkan. Devina melirik ke arah pisau di tangan Aris, lalu ke arah botol minyak zaitun yang ada di dekatnya.
Tepat saat Aris hendak menarik Devina turun dari panggung, pintu utama studio terbanting terbuka. Sosok Gavin muncul di sana dengan napas tersengal, pakaiannya berantakan, dan matanya berkilat penuh amarah saat melihat Devina dalam cengkeraman Aris.
"LEPASKAN DIA, ARIS!" Suara Gavin menggelegar, memenuhi setiap sudut studio yang gaduh.
Aris menoleh, menyeringai lebar saat melihat rivalnya tiba. Ia menarik tubuh Devina ke depan dadanya, memposisikan pisau lipatnya tepat di bawah leher jenjang sang koki.
"Selamat datang di acara penutupan, Gavin," ucap Aris dingin. "Tepat waktu untuk melihat bagaimana aku mengakhiri semuanya."
****
Lampu-lampu biru dan merah dari belasan mobil patroli kepolisian berputar liar, memantul di dinding kaca studio dan menciptakan suasana yang mencekam di luar gedung. Suara sirene yang saling bersahutan seolah menjadi musik latar bagi kehancuran mental seorang Aris Wicaksana. Di dalam studio, waktu seolah berhenti.
Aris masih mencengkeram bahu Devina, namun matanya yang liar terus melirik ke arah pintu-pintu darurat yang kini dijaga ketat oleh personel kepolisian bersenjata lengkap. Dari pengeras suara di luar, terdengar perintah tegas yang menggema:
"Aris Wicaksana! Letakkan senjata Anda dan menyerahlah! Gedung ini sudah dikepung!"
Aris tertawa sumbang, sebuah suara serak yang lahir dari keputusasaan yang mendalam. Ujung pisau lipatnya bergetar di dekat leher Devina, namun fokusnya kini beralih sepenuhnya pada Gavin Wirya Aryaga yang berdiri hanya beberapa meter darinya.
"Kamu pikir kamu menang, Gavin?" desis Aris. Wajahnya yang berlumuran tepung dan noda merah saus tomat nampak mengerikan di bawah lampu sorot studio. "Kamu hanya beruntung karena memiliki segalanya. Tapi ingat satu hal... kamu tidak akan pernah bisa tidur tenang selama aku masih bernapas."
Gavin mengepalkan tangannya, matanya menatap tajam tanpa rasa takut sedikit pun. "Sudah berakhir, Aris. Jangan buat dirimu semakin rendah dengan menyakiti wanita yang pernah kamu klaim kamu cintai."
Aris menatap Devina sekilas, lalu beralih kembali ke Gavin. Dendamnya membakar hingga ke tulang. Baginya, Gavin adalah pencuri—pencuri harga dirinya, pencuri bisnisnya, dan pencuri wanita yang menjadi tiket kembalinya menuju kesuksesan.
"Aku belum kalah," bisik Aris tepat di telinga Devina, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. "Ini bukan akhir, Devina. Aku akan kembali untuk mengambil apa yang menjadi milikku. Dan saat itu tiba, tidak akan ada Gavin yang bisa menyelamatkanmu."
Dengan satu sentakan kasar, Aris mendorong Devina ke arah Gavin. Tubuh Devina limbung, dan Gavin dengan sigap menangkapnya, mendekapnya erat seolah tak ingin membiarkan seujung rambut pun terluka lagi.
Memanfaatkan momen kekacauan itu, Aris berbalik dan melesat menuju pintu belakang panggung yang menuju ke arah koridor teknis gelap. Ia sudah hafal seluk-beluk studio ini karena sering menemani Devina syuting sebelumnya.
"Jangan bergerak! Berhenti!" teriak petugas polisi yang baru saja merangsek masuk, namun Aris sudah menghilang di balik kegelapan lorong.