NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.

Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 29

Dua minggu setelah pengumuman kehamilan itu, rutinitas di penthouse lantai 65 Menara Alexander mengalami perubahan radikal. Jika dulu tempat ini adalah pusat komando untuk perang politik dan manuver bisnis, kini penthouse itu lebih menyerupai fasilitas medis bintang lima yang dijaga ketat oleh seorang tiran yang sedang dimabuk kepanikan.

Pukul enam pagi. Cahaya matahari baru saja mengintip dari balik tirai kamar utama.

Yvone terbangun dengan sentakan kasar di perutnya. Rasa mual yang sangat familiar langsung menyergap tenggorokannya. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia menyingkap selimut sutra itu dan berlari menuju kamar mandi.

Ia bahkan belum sempat mengunci pintu ketika sepasang tangan besar dan hangat sudah menahan tubuhnya yang membungkuk di depan wastafel.

Dylan, yang entah bagaimana bisa bangun lebih cepat darinya, dengan sigap menarik rambut panjang Yvone ke belakang dan menahannya. Tangan pria itu yang lain mengusap punggung Yvone dengan gerakan melingkar yang menenangkan. Pria itu sudah mengenakan celana training dan kaus polos, tampak sepenuhnya sadar dan siap siaga.

Setelah perut Yvone akhirnya kosong dan hanya menyisakan rasa pahit, Dylan mengambil handuk kecil yang sudah dibasahi air hangat dan mengusap wajah istrinya yang pucat dengan sangat lembut.

"Sudah lebih baik?" bisik Dylan, suaranya dipenuhi oleh kekhawatiran yang tebal. Ia memeluk Yvone dari belakang, menopang berat badan istrinya sepenuhnya.

Yvone bersandar lemas pada dada bidang suaminya, mengatur napasnya. "Ya... Maaf, aku membangunkanmu lagi."

"Jangan pernah meminta maaf untuk ini," geram Dylan pelan, mengecup puncak kepala Yvone. Pria itu kemudian menggendong Yvone layaknya menggendong anak kecil, membawanya kembali ke ranjang, dan membaringkannya dengan sangat hati-hati di antara tumpukan bantal.

Yvone menatap meja nakas di samping ranjang Dylan. Ia hampir tertawa melihat tumpukan buku tebal di sana. Ensiklopedia Kehamilan Trimester Pertama, Nutrisi Janin Komprehensif, hingga jurnal medis tentang psikologi ibu hamil. Sang CEO legendaris yang biasa membaca laporan bursa saham global itu kini menghabiskan malam-malamnya untuk membedah literatur kebidanan.

"Dylan, kau tidak perlu membaca semua jurnal medis itu. Dr. Amanda sudah bilang ini morning sickness biasa," ucap Yvone sambil menarik selimut.

"Dr. Amanda tidak hidup bersamamu 24 jam sehari. Aku yang hidup bersamamu," bantah Dylan mutlak. Pria itu berjalan menuju interkom di dinding kamar. "Aku akan menyuruh dapur membuatkan teh jahe organik dan oatmeal hangat."

"Aku tidak ingin oatmeal," Yvone mengerucutkan bibirnya sedikit, sesuatu yang hanya berani ia lakukan akhir-akhir ini. Hormon kehamilannya mulai mengambil alih akal sehatnya. "Aku ingin... bubur ayam yang dijual di gerobak depan apartemen lamaku. Yang pakai sate usus."

Tangan Dylan yang hendak menekan tombol interkom terhenti di udara. Pria itu menoleh perlahan, menatap istrinya dengan ekspresi ngeri yang nyata.

"Bubur ayam pinggir jalan? Yang terpapar debu knalpot, polusi udara, dan entah bakteri apa yang menempel di sate ususnya?" Dylan menggeleng tegas. "Tentu saja tidak. Kau sedang membawa anakku, Yvone. Sistem imunmu sedang rentan. Koki pribadiku bisa membuatkan bubur ayam dengan kaldu ayam kampung organik dan jamur truffle."

"Tapi aku tidak mau jamur truffle, Dylan," Yvone merengek pelan, matanya mulai berkaca-kaca. Perubahan suasana hatinya terjadi begitu cepat hingga ia sendiri bingung. "Aku mau bubur ayam gerobak Bang Udin."

Melihat mata istrinya yang berkaca-kaca, dinding pertahanan sang miliarder es seketika runtuh tanpa sisa. Dylan menghela napas panjang, memijat pelipisnya. Di dunia bisnis, ia bisa menaklukkan dewan direksi yang keras kepala. Tapi menghadapi rengekan istrinya yang sedang hamil tujuh minggu? Ia sepenuhnya kalah.

Dylan mengambil ponselnya dan menekan panggilan cepat.

"Marco."

Di seberang sana, suara Marco terdengar serak. "Bos? Ini baru jam setengah tujuh pagi. Apakah ada krisis saham—"

"Kirim tim keamanan lapis kedua ke alamat apartemen lama Yvone," perintah Dylan dengan nada memerintah yang sangat serius. "Ada penjual bubur ayam gerobak bernama Bang Udin di sana. Beli seluruh gerobaknya beserta isinya. Bawa gerobak dan penjualnya itu ke fasilitas sterilisasi dapur di basement Menara Alexander sekarang juga. Pastikan bahan-bahannya lolos uji klinis dari tim medis kita sebelum disajikan ke lantai 65."

Yvone membelalakkan matanya lebar-lebar. "Dylan! Kau tidak perlu membawa gerobaknya kemari!"

Dylan mematikan teleponnya dan menatap Yvone dengan raut wajah tanpa dosa. "Aku tidak akan membiarkanmu makan makanan yang tidak melewati quality control perusahaanku, Yvone. Ini kompromi terbaik yang bisa kuberikan."

Yvone hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik bantal, mengerang frustrasi namun tak urung tersenyum lebar di balik kain sutra itu. Suaminya benar-benar sudah gila.

Pukul 10.00 WIB. Ruang Kerja Yvone.

Setelah berhasil memakan setengah mangkuk bubur ayam (yang telah disterilisasi dan disajikan di atas piring porselen Hermès), Yvone merasa jauh lebih berenergi. Ia telah berpakaian rapi dengan blus ibu hamil yang stylish dan celana bahan yang nyaman, siap untuk bekerja.

Namun, saat ia melangkah masuk ke ruang kerjanya, ia menemukan Dylan sudah duduk di kursi kebesarannya, sedang memeriksa setumpuk blueprint.

"Apa yang kau lakukan di ruanganku, Tuan Hartono?" Yvone berkacak pinggang, berdiri di ambang pintu.

Dylan mendongak. Pria itu telah mengenakan setelan jas navy rapinya, memancarkan aura dominasi yang tak terbantahkan. "Aku sedang meninjau ulang jadwal pengerjaan resor Uluwatu. Aku memutuskan untuk menunda inspeksi lapanganmu bulan ini."

"Apa?!" Yvone melangkah maju menghampiri meja. "Dylan, aku adalah Direktur Utama Divisi Desain. Aku harus memastikan ukiran batu kapurnya sesuai dengan render yang kubuat. Aku harus terbang ke Bali minggu depan!"

"Kau tidak akan naik pesawat terbang di trimester pertama kehamilanmu, Yvone," Dylan berdiri, memutari meja, dan berdiri tepat di hadapan istrinya. Pria itu memegang kedua bahu Yvone. "Tekanan udara di kabin pesawat, turbulensi, kelelahan fisik... itu semua terlalu berisiko."

"Aku hamil, Dylan, bukan terbuat dari kaca tipis," Yvone mencoba berdebat, menatap lurus ke mata kelam suaminya. "Dokter Amanda bilang aku boleh beraktivitas normal selama tidak mengangkat beban berat."

"Standar 'normal' Dr. Amanda tidak berlaku untuk istriku," balas Dylan mutlak. Pria itu menyentuh perut Yvone yang masih datar dari balik blusnya, sentuhannya begitu protektif. "Bulan lalu, kau mempertaruhkan nyawamu di tengah baku tembak di Lembang demi membersihkan nama ayahmu. Kau maju menghadapi media dan investor demi melindungiku. Sekarang, giliranmu untuk mundur selangkah dan membiarkan aku yang melindungi kalian berdua."

Yvone menghela napas, tatapannya melembut melihat ketulusan dan kekhawatiran di mata Dylan. Trauma kehilangan orang-orang yang dicintainya masih membekas di alam bawah sadar pria itu, bermanifestasi menjadi sikap posesif yang luar biasa setelah mengetahui kehamilan Yvone.

"Lalu bagaimana dengan pekerjaanku?" tanya Yvone pelan, menyandarkan kepalanya di dada Dylan. "Aku tidak bisa hanya diam di penthouse ini seharian. Aku akan bosan dan stres."

Dylan merengkuh tubuh Yvone, mencium puncak kepalanya. "Kau akan tetap bekerja. Aku sudah menemukan solusinya."

Pria itu menekan tombol di remot kecil di atas meja. Kaca smart-glass di dinding ruangan itu seketika berubah transparan, memperlihatkan ruang rapat eksekutif yang berada tepat di sebelah ruangan Yvone.

Mata Yvone melebar.

Ruang rapat itu telah diubah total. Tidak ada lagi meja panjang formal. Sebagai gantinya, ruangan itu dipenuhi oleh layar monitor canggih, maket-maket bangunan, dan sampel-sampel material dari berbagai penjuru dunia. Delapan orang arsitek senior dan manajer proyek Alexander Group sedang berdiri siaga di sana.

"Aku memindahkan seluruh tim inti Uluwatu dan Senopati ke lantai ini," bisik Dylan di telinga Yvone. "Mereka yang akan datang kepadamu. Setiap sampel batu, kayu, dan cat akan dibawa ke ruangan ini untuk kau setujui. Drone proyek akan menyiarkan progres lapangan secara real-time ke monitormu setiap hari. Kau adalah Ratu-nya, Yvone. Biarkan pion-pion yang bergerak untukmu."

Yvone menatap suaminya dengan takjub. Pria ini rela merombak struktur operasional perusahaannya sendiri hanya agar istrinya tidak perlu kelelahan berjalan, namun tetap merasa berdaya dalam pekerjaannya.

"Kau benar-benar seorang tiran yang manipulatif," Yvone tersenyum, mengalungkan lengannya di leher Dylan.

"Aku hanya seorang suami yang mencoba memastikan warisanku aman," balas Dylan menyeringai.

Ia menunduk dan mencium bibir Yvone dengan lembut, melumatnya perlahan seolah mencecap madu yang paling manis. Ciuman itu dengan cepat berubah menjadi sedikit lebih menuntut saat tangan Dylan mulai turun mengusap punggung bawah Yvone.

Ketukan pelan di pintu kaca menghentikan mereka.

Marco berdiri di luar dengan senyum canggung, memegang sebuah map. Ia berdeham saat Dylan menatapnya dengan tajam karena mengganggu momen mereka.

"Maaf mengganggu, Bos. Tadi... gerobak bubur ayamnya tidak muat masuk ke lift barang," Marco melaporkan dengan nada yang sangat profesional meskipun isi kalimatnya sangat absurd. "Jadi tim keamanan terpaksa membongkar rodanya terlebih dahulu."

Yvone membenamkan wajahnya di dada Dylan, tertawa terbahak-bahak hingga perutnya bergetar.

Dylan hanya memutar bola matanya dan mengusap rambut istrinya. "Pastikan buburnya sampai di meja istriku dalam keadaan panas, Marco. Atau aku akan membongkar gajimu."

"Siap, Bos!"

1
Titien Prawiro
Bacanya deg2gan terus.
k
bagus sekali
k
lia kasihan
p
memang bagus😍
p
👍👍👍👍
1
lanjut
1
absen
Sang_Imajinasi
Jangan Lupa beri vote dan dukungan 🙏
Xiao Bar
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!