Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Puing Puing Dewa Yang Retak
Ruangan server itu mendadak menjadi panggung bagi fenomena yang menantang nalar manusia. Aroma ozon yang menyengat dan bau kabel terbakar memenuhi udara yang tipis. Dani terjerembap ke lantai, mengerang kesakitan sambil memegangi tangannya yang melepuh hebat akibat ledakan senjata yang baru saja ia pegang. Logam panas dari senapan laras panjang itu kini hanya berupa rongsokan yang meleleh di atas lantai beton, seolah-olah baru saja dimasukkan ke dalam tanur api.
Arga terpaku di sisi kursi medis, tangannya masih menggenggam jemari Elina yang kini terasa panas membara, seakan ada aliran lava yang mengalir di bawah kulit porselennya. Cahaya putih yang tadi memancar dari mata Elina meredup, menyisakan tatapan yang tajam, jernih, namun menyimpan kekuatan yang mampu merobek realitas.
"El...?" Arga berbisik, suaranya tenggelam dalam dengungan statis yang keluar dari speaker-speaker yang pecah.
Elina tidak menjawab dengan kata-kata. Dia perlahan turun dari kursi medis, kakinya yang telanjang menyentuh lantai yang dingin tanpa sedikit pun rasa gentar. Rambut hitamnya yang panjang tampak melayang-layang tertiup angin yang entah datang dari mana di dalam ruangan tertutup itu. Setiap langkahnya membuat monitor di sekeliling mereka berkedip liar, menampilkan barisan kode 74291 yang kini berubah warna menjadi merah darah.
"Mundur, Arga!" teriak Nadia dari ambang pintu yang hancur. Nadia mengangkat senjatanya ke arah Dani yang mencoba merangkak bangun, namun matanya tetap waspada menatap Elina. "Dia bukan lagi subjek, dia adalah pusat dari badai ini!"
Di luar fasilitas, suara helikopter Hendrawan terdengar menjauh, melarikan diri dari anomali yang baru saja ia ciptakan sendiri. Namun, suara itu mendadak terhenti dengan suara dentuman logam yang mengerikan. Dari jendela besar di ujung ruangan server, Arga melihat pemandangan yang mustahil: helikopter itu seolah ditarik oleh tangan tak kasat mata, mesinnya mati total, dan ia jatuh terhempas ke lereng salju seperti mainan plastik yang patah.
Elina menoleh ke arah jendela itu, ekspresinya datar. "Jarak... sudah tidak ada," suaranya kini terdengar berlapis, seolah ada ribuan suara yang berbicara secara bersamaan di dalam tenggorokannya.
"Elina, dengarkan aku!" Arga menerjang maju, mencengkeram bahu Elina, mengabaikan rasa panas yang mulai membakar telapak tangannya. "Ini aku! Kita sudah sampai di sini! Jangan biarkan kode itu mengendalikanmu! Kamu manusia, El! Kamu adalah wanita yang menungguku dengan cokelat panas di Praha!"
Mata Elina perlahan beralih ke arah Arga. Untuk sesaat, kilatan cahaya putih itu menghilang, digantikan oleh binar cokelat yang familiar—namun penuh dengan penderitaan yang tak tertahankan.
"Ar...ga..." Elina merintih, tubuhnya mulai gemetar hebat. "Sakit... di dalam kepalaku... terlalu banyak suara... terlalu banyak memori yang bukan milikku..."
"Lawan, El! Aku di sini!" Arga memeluknya erat, menempelkan keningnya ke kening Elina. "Ingat anting ini! Ingat bintang kecil ini!"
Dani, yang masih terduduk di lantai dengan tangan yang hancur, tertawa getir. "Bodoh... kamu membebaskannya, Arga. Tapi kamu tidak sadar... serum itu bukan penawar. Itu adalah pemicu tahap akhir. Dia sekarang terhubung dengan seluruh satelit 'The Iron Circle'. Dia adalah otak dari sistem pertahanan dunia, dan sistem itu... sedang mendeteksi kita semua sebagai ancaman."
Tiba-tiba, monitor besar di belakang mereka menampilkan peta dunia. Titik-titik merah mulai bermunculan di setiap benua, berkedip seiring dengan detak jantung Elina yang kini kembali menguat—namun dengan irama yang aneh dan sinkron dengan getaran mesin di bawah lantai.
"Protokol Pembersihan Global diaktifkan," suara sistem otomatis bergema di seluruh fasilitas.
"Tidak..." Nadia memucat. "Hendrawan tidak hanya ingin menciptakan agen. Dia ingin menciptakan kiamat yang bisa dia kendalikan. Dan Elina adalah tombol pemicunya."
Elina menjerit, suara lengkingannya memecahkan sisa-sisa kaca di ruangan itu. Gelombang kejut tak kasat mata terpancar dari tubuhnya, melemparkan Arga dan Nadia ke dinding. Arga merasakan tulang rusuknya retak, pandangannya menggelap sejenak.
Saat dia mencoba mendongak, dia melihat Elina melayang beberapa senti di atas lantai. Tangannya terentang, dan dari ujung jarinya, percikan listrik statis mulai merambat ke kabel-kabel server utama. Seluruh data yang dicuri kakek Arga selama puluhan tahun kini sedang mengalir masuk ke dalam kesadaran Elina, menghancurkan sisa-sisa kepribadian manusianya.
"El! Jangan tinggalkan aku!" Arga merangkak di atas lantai yang dipenuhi pecahan kaca, tangannya meraih-raih ke arah Elina.
Namun, di tengah kekacauan itu, sebuah pintu rahasia di belakang rak server terbuka. Sesosok pria tua dengan kursi roda elektrik keluar dari sana. Wajahnya penuh dengan kerutan dan bekas luka bakar, namun matanya yang tajam sangat mirip dengan Arga.
"Kakek...?" Arga tertegun, napasnya seolah berhenti.
Pak Broto tidak mati. Dia selama ini bersembunyi di jantung fasilitas yang ia rancang sendiri, mengawasi setiap langkah cucunya seperti seorang dalang yang menunggu babak terakhir.
"Selamat, Arga," ucap Pak Broto dengan suara serak yang penuh dengan kepuasan yang mengerikan. "Kamu telah menyelesaikan tugasmu. Kunci telah bertemu dengan pintunya. Sekarang, biarkan aku mengambil alih ciptaan terbesarku."
Pak Broto mengangkat sebuah remote kecil ke arah Elina. Cahaya biru memancar dari alat itu, mengunci tubuh Elina di udara.