NovelToon NovelToon
Love Mercenary Killer

Love Mercenary Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: bgreen

Penculikan yang salah berujung pada malam panas. Lalu, wanita menghilang. Obsesi sang pembunuh bayaran dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pertemuan tak terduga

Di penthouse mewah lantai atas yang menghadap ke kota Las Vegas, lampu neon berkelip-kelip menerangi malam seperti lautan bintang jatuh ke bumi.

Sejak malam pertemuan itu, Orion tak pernah lagi bertemu dengan Sue—kesibukan bisnis yang tak ada habisnya selalu mengambil alih waktu dan pikirannya.

Saat ini, ia sedang berendam di bathtub marmer putih yang luas, air hangat meresap ke dalam otot yang tegang.

Di satu tangan ia menggenggam gelas Wiski tua dengan warna emas pekat, sementara ujung rokok di tangan satunya mengeluarkan asap tipis yang melayang perlahan ke arah langit-langit tinggi.

Ia bersantai dalam keheningan malam, mata tak pernah lepas dari pemandangan kota yang penuh warna melalui jendela kaca panoramik di kamar mandi mewah itu.

Beberapa hari lalu, ia menyuruh asistennya menyelidiki latar belakang keluarga Sue dengan seksama.

Hasilnya membuatnya mengerutkan kening—Sue, Storm dan anak laki laki (atau yang ia kenal sebagai Rey), selalu berpindah-pindah tempat tinggal setiap beberapa bulan.

Tidak ada alasan yang jelas, tidak ada jejak yang terbentuk, hanya perjalanan tanpa arah yang terus berlanjut.

Kenapa mereka selalu berpindah-pindah? Pikirannya berputar tanpa henti, seperti roda kasino yang tak pernah berhenti berputar.

Tiba-tiba, bunyi dering ponsel yang keras menerobos keheningan, membuat Orion terkejut hingga sedikit tersentak.

Dia segera menjulurkan tangan ke tepi bathtub, mengambil ponsel mewah yang terletak di atas meja marmer, lalu melihat nama yang muncul di layar.

"Hallo, Rex," ucap Orion dengan nada yang kembali tenang, mengangkat telpon dari sahabatnya.

"Apa kau masih di Las Vegas?" suara Rex terdengar dalam dan sedikit kasar di ujung saluran, khas seperti biasanya.

"Ya, masih di sini," jawab Orion sambil menyedot Wiski nya, mata masih melihat ke arah kota yang sibuk.

"Aku akan datang kesana besok pagi. Ada urusan bisnis yang harus aku selesaikan," ucap Rex.

"Hmmm... Kau butuh bantuan atau sesuatu?" tanya Orion, sudah terbiasa dengan kedatangan sahabatnya yang seringkali datang tanpa peringatan panjang.

"Tidak, cukup luangkan waktu sebentar untuk bertemu saja," jawab Rex dengan nada yang lebih lembut.

"Oke, aku tunggu," jawab Orion singkat sebelum keduanya mengakhiri panggilan.

Ia menaruh ponsel kembali di meja, napasnya keluar pelan. "Rey... Rex... Bukankah mereka sangat mirip?" gumamnya pelan, jari-jarinya mengelus permukaan air hangat di bathtub. "Bagaimana kalau Sue adalah Maple—wanita yang selama ini Rex cari tanpa henti?"

Gelagangnya terasa berat. "Jika benar Rey punya hubungan darah dengan Rex, dan Sue memang mengubah penampilannya... maka kemungkinan besar dia adalah Maple yang hilang," gumamnya lagi, matanya menatap jauh ke luar jendela.

*

*

Keesokan harinya, sekitar pukul empat sore, Orion berdiri di lorong kedatangan bandara McCarran, jasnya rapi dan wajahnya terpancar kesabaran yang langka.

Cahaya matahari sore mulai meredup, memberi warna keemasan pada lantai granit yang mengkilap.

Dari kejauhan, tampak sosok Rex berjalan dengan langkah santai namun tegas, jas hitamnya melengkung sesuai bentuk tubuh yang atletis, rambut hitamnya sedikit berantakan karena perjalanan udara.

"Kau tidak sibuk dengan bisnismu yang banyak?" ucap Rex saat sudah berdiri tepat di depan Orion, senyum tipis muncul di wajahnya yang biasanya serius.

"Tidak ada yang tidak bisa ditunda untuk sahabat," jawab Orion sambil mengangkat bahu, lalu berjalan menuju pintu keluar bandara. "Ayo, kita pergi ke suatu tempat."

"Kemana?" tanya Rex yang mengikuti langkahnya.

"Sedikit jauh dari pusat kota. Jangan tanya dulu," jawab Orion tanpa menoleh, suara nya terdengar misterius.

"Ada apa denganmu hari ini?" tanya Rex dengan tatapan curiga namun penuh rasa ingin tahu.

"Aku ingin meminta pendapatmu tentang sebuah lokasi yang ingin aku beli," ucap Orion saat mereka tiba di depan mobil mewah berwarna hitam pekat yang sudah menunggu di depan gerbang keluar.

"Apa yang ingin kau beli kali ini?" tanya Rex saat Orion membuka pintu untuknya, lalu masuk ke kursi pengemudi.

"Pantai," jawab Orion singkat saat mesin mobil menyala dengan suara halus.

Dalam perjalanan yang panjang, keduanya berbicara santai seputar bisnis mereka—beberapa di antaranya adalah perjanjian yang tak bisa diutarakan di depan orang lain.

Mereka sudah mengenal satu sama lain sejak masih kecil, karena kedua orang tua mereka adalah teman dekat yang terjalin dalam hubungan bisnis dan kepercayaan.

"Rex, kau masih melakukan hobi gila itu?" tanya Orion tiba-tiba di tengah perjalanan, sambil menatap jalan raya yang lurus menghadap ke arah pantai.

"Hobi gila? Maksudmu?" tanya Rex dengan wajah bingung.

"Pembunuh bayaran yang selalu membuatmu terlibat dalam masalah besar," jawab Orion dengan nada yang sedikit menyindir namun penuh perhatian.

"Tidak lagi. Aku sudah berhenti setahun yang lalu," jawab Rex dengan suara yang tegas, matanya melihat ke luar jendela ke arah hamparan gurun yang melintas cepat.

Orion mengangguk dengan puas. "Lalu, kau masih mencari keberadaan Maple?" tanyanya lagi, mengingatkan masa lalu yang sudah tujuh tahun lamanya Rex mencari wanita itu tanpa hasil.

"Ya," jawab Rex, nada suaranya sedikit melengking dan penuh rasa putus asa yang tersembunyi.

"Apa Maple punya saudara atau keluarga yang masih hidup?" tanya Orion dengan hati-hati.

"Informasi yang aku dapatkan selama ini mengatakan dia yatim piatu. Tidak ada satu orang pun yang bisa aku temukan dari keluarganya," jawab Rex.

"Kau benar-benar yakin?" tanya Orion lagi.

"Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba banyak bertanya tentang dia?" Rex mulai merasa curiga, tatapannya menyilang dengan Orion.

"Tidak apa-apa. Cuma berpikir, jika dia punya saudara atau kerabat, mungkin kita bisa menemukan jejaknya lebih cepat," jawab Orion dengan nada yang mencoba tampak rileks.

"Entahlah... Dia terlalu banyak menyimpan misteri dalam dirinya. Keluarga Vandross masih terus mencarinya dengan segala cara, dan aku harus menemukannya sebelum mereka menemukan Maple," ucap Rex dengan wajah yang semakin serius.

"Hmm... Bukan hanya keluarga Vandross. Ketua Organisasi Ordo Wolf juga mengincarnya karena telah membunuh Camille—wanita yang dia cintai," ucap Orion, mengingatkan bahaya yang mengintai Maple dari berbagai arah.

"Ya... Itulah sebabnya aku tidak bisa berhenti mencari dia," jawab Rex dengan tegas.

"Tenang saja, aku sudah menggerakkan beberapa anggota terbaikku untuk membantu mencari jejaknya," ucap Orion sambil menepuk bahu Rex secara perlahan.

Keduanya lalu terdiam, hanya suara mesin mobil dan angin yang menyapu kaca jendela yang terdengar. Namun keheningan itu tidak berlangsung lama.

"Rex... Adayang ingin ku tanyakan tentang kau dan Maple. Kau memakai pengaman saat... bersamanya?" tanya Orion dengan nada yang sedikit canggung, ingatan tentang kemiripan wajah Rey dan Rex tiba-tiba muncul di benaknya.

"Kenapa kau menanyakan hal yang begitu pribadi itu?" Rex menoleh dengan tatapan heran.

"Aku hanya penasaran saja. Hahaha... Lupakan saja pertanyaan itu," ucap Orion dengan tertawa kikuk.

Rex hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sudah terbiasa dengan sikap acak-aduk Orion yang terkadang membuatnya bingung.

*

*

Setelah perjalanan yang cukup lama melalui jalan raya yang semakin sepi, akhirnya mereka tiba di lokasi yang dituju.

Matahari sore yang awalnya menyinari langit dengan warna oren kemerahan kini mulai tenggelam, menggantikan suasana dengan warna ungu dan biru gelap.

Suara ombak yang menghantam pantai terdengar lembut namun jelas, membawa aroma garam dan kelembapan udara laut yang menyegarkan.

"Tempat ini?" tanya Rex sambil melihat ke luar jendela, matanya terpukau dengan pemandangan hamparan pasir putih yang membentang sejauh mata memandang, dikelilingi oleh pepohonan kelapa yang bergoyang-goyang tertiup angin.

"Hmm... Bagaimana menurutmu?" ucap Orion sambil menghentikan mobil di tepi jalan yang terletak tepat di depan sebuah bangunan kecil berwarna biru muda.

"Sepertinya ini tanah milik pribadi. Tidak ada akses umum ke pantai ini," ucap Rex yang sudah mulai menyadari bahwa lokasi ini bukanlah tempat yang biasa dikunjungi orang banyak.

"Kau benar. Dari jalan ini sampai ke ujung pantai di sana—semuanya adalah tanah pribadi, dan aku berniat membelinya dari pemiliknya," jawab Orion sambil membuka pintu mobil dan turun. Rex mengikuti langkahnya, matanya terus mengamati sekeliling.

"Lokasinya sangat terpencil dan sepi. Apakah kau berencana membangun resort mewah di tepi pantai ini?" tanya Rex sambil mengikuti langkah Orion yang semakin mendekati bangunan kecil itu.

"Ya, itu rencanaku. Bagaimana pendapatmu?" ucap Orion saat mereka berdiri tepat di depan pintu bangunan yang ternyata adalah sebuah cafe dengan papan nama kecil bertuliskan "Cafe Pantai Biru". Cahaya di dalam sudah padam, dan tampak sepi tanpa ada seorang pun di sekitarnya.

"Lokasinya sangat bagus untuk tujuan itu. Namun menurutku, pemiliknya tidak akan mudah mau menjual tanah ini padamu," ucap Rex dengan suara yang realistis.

"Tidak ada sesuatu di dunia ini yang tidak bisa aku beli. Aku akan melakukan negosiasi yang baik dengan pemiliknya," ucap Orion dengan semangat yang membara, tangannya sudah siap menekan tombol bel di pintu cafe.

"Sekarang? Kau sudah membuat janji dengan pemiliknya?," Rex berbalik menghadap Orion dengan tatapan tidak percaya.

"Tidak. Namun pemiliknya tinggal di sini," ucap Orion sambil menunjuk ke arah pintu cafe yang terlihat tua namun tetap rapi.

"Cafe ini miliknya?" ucap Rex pelan, masih merasa heran dengan pilihan lokasi yang tidak terduga ini.

Tanpa menjawab lagi, Orion menekan tombol bel dengan suara kring kring yang terdengar jelas di sekitar yang sunyi. Beberapa menit berlalu tanpa ada tanggapan.

"Haaah... Kau benar-benar gila, Orion. Datang tanpa janji temu terlebih dahulu," ucap Rex dengan menggeleng-geleng kepala, sudah terbiasa dengan sifat sahabatnya yang selalu ingin mendapatkan apa yang diinginkannya dengan segera.

Namun tak lama kemudian, terdengar suara kunci yang berdesir dari dalam, dan pintu cafe perlahan terbuka sedikit.

Dari balik celah pintu, muncul wajah seorang anak laki-laki dengan rambut pirang keemasan dan mata biru yang cerah—Rey.

"Hallo, uncle Orion. Kamu datang lagi?" sapanya dengan suara lembut namun jelas.

Rex yang awalnya melihat ke arah pantai segera menoleh ke arah pintu. Pandangannya langsung terpaku pada wajah anak kecil itu, dan tubuhnya tiba-tiba terasa kaku seolah terkena petir.

Wajah anak laki laki itu sangat mirip dengan dirinya saat masih kecil—bentuk alis yang sama, lekukan bibir yang serupa, bahkan cara ia menatap dengan mata besar itu membuatnya merasa seperti melihat bayangan dirinya sendiri dari masa lalu.

Jantung Rex berdetak kencang, suara degupnya terdengar begitu keras di telinganya hingga hampir tidak bisa mendengar suara apa pun.

Ada perasaan aneh yang muncul dari dalam hatinya—seolah ada ikatan yang tak terlihat yang menghubungkannya dengan anak kecil yang kini sedang menatapnya dengan mata penuh rasa ingin tahu.

Kedua pasangan mata biru saling bertemu, dan di antara keduanya terbentuk keheningan yang dalam, penuh dengan rasa ingin tahu dan emosi yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

1
perahu kertas
😯😯
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!