10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Suara yang Tidak Bisa Diabaikan
Hujan masih turun.
Namun kini, bukan lagi sekadar suara latar.
Bagi Dira, setiap tetesnya terasa seperti ketukan… seperti pesan… seperti sesuatu yang mencoba berbicara dalam bahasa yang tidak ia mengerti.
Ia masih duduk di lantai kamarnya.
Tubuhnya gemetar.
Matanya tak lepas dari buku tua di hadapannya.
Halaman itu terbuka.
Dan tulisan di sana masih segar—seolah baru saja ditulis beberapa detik yang lalu.
Cara ke-2: Mendengar suara di antara keheningan.
Dira menelan ludah.
“Aku… aku harus berhenti…” bisiknya.
Namun seperti ada sesuatu yang menahan.
Bukan secara fisik.
Tapi dari dalam dirinya sendiri.
Rasa penasaran.
Dorongan yang aneh.
Seolah pikirannya bukan sepenuhnya miliknya lagi.
“Cuma suara…” katanya pelan, mencoba menenangkan diri. “Aku bisa abaikan.”
Ia berdiri perlahan.
Berjalan mundur menjauh dari buku itu.
Namun—
“Dira…”
Suara itu kembali.
Lebih jelas.
Lebih dekat.
Ia langsung membeku.
“Itu cuma halusinasi…”
gumamnya cepat. “Aku cuma takut…”
“Dira…”
Kali ini, suara itu terdengar… tepat di belakangnya.
Napasnya tercekat.
Dengan gerakan sangat pelan, ia menoleh.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun udara di sana terasa berbeda.
Lebih dingin.
Lebih berat.
Seperti ada sesuatu yang berdiri… tapi tak terlihat.
“Apa yang kamu mau…?” tanya Dira dengan suara bergetar.
Tidak ada jawaban.
Namun suara itu berubah.
Bukan lagi memanggil.
Melainkan… berbisik.
Cepat.
Tak jelas.
Seperti banyak suara berbicara bersamaan.
Dira menutup telinganya lagi.
“Berhenti! Tolong berhenti!”
Namun semakin ia mencoba mengabaikan, semakin keras suara itu terdengar.
“Dengarkan kami…”
“Kami di sini…”
“Kami menunggumu…”
“Tidak…!” Dira menjatuhkan diri ke lantai. “Pergi!”Ia memejamkan mata rapat-rapat.
Menahan semuanya.
Dan perlahan…
Suara itu mereda.
Menghilang.
Sunyi kembali.
Hanya hujan.
Dan napasnya yang tersengal.
Dira membuka mata perlahan.
“Aku… berhasil?” bisiknya.
Ia menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Sepuluh detik.
Tidak ada suara.
Ia menghela napas panjang.
“Cuma sugesti…” katanya mencoba tersenyum. “Aku terlalu mikir aneh-aneh.”
Ia berdiri.
Menatap buku itu lagi.
Masih di tempatnya.
Tidak bergerak.
Tidak berubah.
Dengan hati-hati, ia mendekat.
Lalu menutup buku itu dengan
cepat.
TAP!
Sunyi.
Tidak ada reaksi.
Dira tersenyum kecil.
“Nah… selesai.”
Ia mengambil buku itu.
Berniat memasukkannya kembali ke dalam kotak.
Namun saat tangannya menyentuh sampulnya—
Suara itu kembali.
Kali ini…
Berbeda.
Lebih dalam.
Lebih jelas.
Dan hanya satu.
“Dira…”
Ia membeku.
Tangannya masih di atas buku.
“Jangan tutup kami…”
Dira perlahan menoleh ke arah
cermin.
Dan kali ini—
Bayangannya…
Tidak sendirian.
Ada sosok lain berdiri di belakangnya.
Tinggi.
Kurus.
Wajahnya tidak terlihat jelas.
Namun matanya—
Menatap lurus ke arah Dira.
Dira menjerit dan menjatuhkan buku itu.
Buku itu terbuka saat jatuh.
Halaman-halamannya berputar cepat.
FLIP! FLIP! FLIP!
Berhenti di halaman berikutnya.
Tulisan baru muncul.
Lebih cepat dari sebelumnya.
Lebih agresif.
Cara ke-3: Memanggil mereka dengan nama.
Dira mundur menjauh.
Air matanya mengalir deras.
“Aku tidak mau…” katanya berulang-ulang.
Namun sosok di cermin itu…
Masih di sana.
Tidak bergerak.
Tidak menghilang.
“Dia bisa melihat kita…”
Suara itu kembali.
Kali ini bukan dari dalam kepalanya.
Tapi dari… mana-mana.
Dari dinding.
Dari lantai.
Dari udara itu sendiri.
“Tidak semua manusia bisa…”
“Dia spesial…”
“Dia membuka pintu…”
Dira menutup telinganya.
“Berhenti… aku tidak mau dengar…”
Namun kata-kata itu terus masuk.
Memaksa.
Menekan.
“Panggil kami…”
“Kami akan datang…”
“Kami akan menunjukkan…”
“Kebenaran…”
Dira menggigit bibirnya.
Ketakutan memenuhi dirinya.
Namun di balik itu…
Ada rasa lain.
Rasa ingin tahu.
Yang mulai tumbuh lagi.
“Kalau… aku panggil…” gumamnya pelan, “apa mereka akan pergi setelah itu…?”
Tidak ada jawaban langsung.
Namun buku itu…
Menjawab.
Tulisan baru muncul di bawahnya.
“Setiap panggilan… membuka lebih banyak.”
Dira menatap tulisan itu.
Tangannya gemetar.
Ia tahu ini salah.
Ia tahu ia harus berhenti.
Tapi…
Ia juga ingin tahu.
“Nama…” bisiknya. “Aku harus panggil nama…”
Ia menatap sekeliling.
“Siapa… nama kalian?”
Sunyi.
Lalu—
Satu suara muncul.
Pelan.
Jelas.
“Raka…”
Dira membeku.
“Raka…?” ulangnya.
Begitu nama itu keluar dari mulutnya—
Angin dingin berhembus kencang di dalam kamar.
Lampu berkedip.
Dan cermin—
Retak.
KRAAK!
Sosok di dalamnya bergerak.
Mendekat.
Lebih dekat.
Hingga wajahnya mulai terlihat.
Dan mata Dira melebar.
Karena sosok itu…
Memiliki wajah manusia.
Namun bukan sepenuhnya.
Matanya merah redup.
Kulitnya gelap.
Retak.
Seperti sesuatu yang bukan lagi manusia—
Namun pernah menjadi manusia.
“Dira…” suara itu kini terdengar jelas.
Bukan dari mana-mana.
Tapi dari sosok itu sendiri.
Dari dalam cermin.
“Jangan lanjutkan…”
Dira gemetar.
“Kamu… siapa…?”
Sosok itu menatapnya dalam.
Lalu berkata pelan—
“Aku… yang terakhir membuka pintu.”
Jantung Dira seakan berhenti.
“Raka…?” bisiknya.
Sosok itu mengangguk perlahan.
“Kalau kamu teruskan…” katanya, “kamu akan berakhir seperti aku.”
Air mata Dira jatuh tanpa henti.
“Lalu… aku harus bagaimana…?”
Raka terdiam sesaat.
Seolah menahan sesuatu.
Seolah ada kekuatan lain yang mencoba menghentikannya.
“Berhenti sekarang…” katanya akhirnya. “Buang buku itu… sebelum terlambat…”
Namun tiba-tiba—
Suara lain muncul.
Lebih banyak.
Lebih keras.
“Jangan dengarkan dia!”
“Dia milik kami!”
“Kamu juga akan menjadi milik kami!”
Cermin bergetar hebat.
Retakannya semakin besar.
Wajah Raka mulai terdistorsi.
Seperti ditarik kembali oleh sesuatu dari dalam.
“Dira!” teriaknya. “SEKARANG!”
Lampu padam.
Gelap total.
Dan suara terakhir yang terdengar—
Bukan dari Raka.
Melainkan dari sesuatu yang lain.
Sesuatu yang tertawa.
Bab berikutnya akan mengungkap…
Apakah Dira akan mendengarkan peringatan Raka… atau justru melangkah lebih jauh ke dalam kegelapan yang sama?