"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Sang Pencipta yang Terbuang
Malam itu, hujan turun dengan deras, membasahi kaca jendela apartemen mewah milik Elodie Lunara. Di dalam ruangan yang remang-remang, Elodie duduk di depan laptopnya, jarinya gemetar hebat saat mencoba mengetik baris kalimat baru di draf novel online-nya.
Namun, setiap kata yang ia ketik di layar perlahan menghilang, digantikan oleh baris kalimat yang muncul sendiri seolah-olah sistemnya sedang diretas.
"Alur telah berubah. Karakter Blair menolak kematian."
"Sialan! Kenapa sistem ini tidak mau menurut?!" teriak Elodie frustrasi.
Ia melempar mouse-nya ke dinding. Elodie—atau lebih tepatnya jiwa Elodie sang penulis yang juga terseret masuk ke tubuh karakternya sendiri—kini merasa terpojok. Ia mengira dengan masuk ke dunia buatannya, ia bisa hidup mewah selamanya dengan Andreas. Namun, segalanya hancur sejak insiden di sekolah tadi siang.
"Blair yang asli seharusnya menangis dan meminta cerai hari ini," gumam Elodie sambil mondar-mandir. "Dia seharusnya membenci Axelle. Dia seharusnya mencintai Andreas sampai gila. Tapi kenapa... kenapa dia justru terlihat seperti singa betina yang melindungi keluarganya?"
Elodie menatap cermin besar di kamarnya. Wajah cantik di cermin itu adalah Elodie, tapi matanya memancarkan ketakutan seorang penulis yang kehilangan kendali atas karyanya.
"Jangan-jangan..." Elodie membeku. Pikirannya melayang pada kata-kata Blair di balkon malam itu. 'Kau pikir aku sebodoh karakter yang kau tulis?'
"Tidak mungkin," bisik Elodie, suaranya bergetar. "Apakah Blair... juga masuk ke sini? Apakah dia Charlotte Lauren Blair, si pegawai bank itu?"
...****************...
Di saat yang sama, di mansion Alexander.
Aku sedang duduk di balkon kamar, menyesap teh hangat sambil menatap rintik hujan. Liam baru saja selesai pillow talk dengan Axelle—ya, mereka sekarang sering mengobrol sebelum tidur—dan sekarang pria itu sedang berjalan mendekatiku dengan langkah pelan.
[Dia terlihat sangat tenang. Bagaimana bisa dia begitu tenang setelah menghancurkan Andreas tadi siang? Istriku... kau benar-benar penuh rahasia. Tapi aku tidak peduli siapa kau sebenarnya, asalkan kau tetap di sini.]
"Belum tidur?" suara berat Liam memecah lamunan. Ia menyampirkan kemejanya yang hangat ke bahuku.
"Belum. Aku sedang memikirkan Elodie," jawabku jujur.
Liam mengernyitkan dahi, duduk di kursi sebelahku. "Wanita ular itu? Kenapa kau memikirkannya? Aku sudah menyuruh orang untuk mengawasi setiap gerak-geriknya. Dia tidak akan bisa menyentuhmu lagi."
"Bukan itu, Liam. Ada sesuatu yang aneh padanya," aku menatap Liam dengan serius. "Dia menatapku seolah dia mengenal pribadiku yang sebenarnya. Bukan Blair si desainer, tapi 'aku' yang lain."
Liam terdiam, menggenggam tanganku erat.
[Aku juga merasakannya. Kau berbeda, Blair. Kau jauh lebih hidup, lebih hangat, dan lebih... nyata. Tapi jika aku bertanya, apakah kau akan pergi? Aku lebih baik hidup dalam kebohongan daripada kehilanganmu lagi.]
"Siapa pun dia, dia tidak akan menang darimu," ucap Liam tegas. "Alexander Group sudah memutus semua kontrak dengan agensi modelnya. Dia sekarang hanyalah wanita tanpa perlindungan."
Aku tersenyum tipis. "Terima kasih, Liam."
...****************...
Keesokan harinya, aku memutuskan untuk menemui Elodie di sebuah kafe tersembunyi. Aku ingin mengonfirmasi kecurigaanku. Saat aku masuk, Elodie sudah duduk di sana, wajahnya tampak kuyu dengan lingkaran hitam di bawah mata.
"Kau datang," ucap Elodie sinis saat aku duduk di depannya.
"Tentu saja. Aku ingin melihat bagaimana kabar 'sang penulis' yang naskahnya berantakan," sahutku langsung ke inti masalah.
Elodie tersentak. Gelas kopinya hampir terjatuh. Ia menatapku dengan mata membelalak penuh kengerian. "Kau... kau benar-benar Blair? Blair sahabatku si pegawai Bank itu?!"
Aku menyandarkan tubuh dengan santai. "Selamat, Elodie. Tebakanmu seratus persen benar. Bagaimana rasanya terjebak di dunia yang kau buat sendiri untuk menyiksaku, tapi justru kau yang tersiksa?"
"Kau merusak segalanya!" Elodie mendesis, suaranya penuh kebencian. "Ini ceritaku! Aku yang menciptakan Liam! Aku yang menciptakan kekayaan ini! Harusnya aku yang menjadi ratu, bukan kau!"
"Kau lupa satu hal, Elodie," aku mencondongkan tubuh, menatapnya dengan tatapan mematikan. "Kau mungkin yang menulis awalnya, tapi aku yang menjalani hidup ini sekarang. Karakter yang kau buat sebagai 'sampah' ini sekarang punya cinta dari suami dan anaknya. Sedangkan kau? Kau hanya punya Andreas, pria parasit yang sebentar lagi akan masuk penjara."
"Aku bisa menulis ulang akhirannya!" teriak Elodie frustrasi. "Aku akan membuatmu mati besok!"
"Coba saja," aku berdiri, mengenakan kacamata hitamku dengan anggun. "Dunia ini bukan lagi sekadar tinta di atas kertas, Elodie. Ini adalah kenyataan bagiku. Dan di dunia ini, kau hanyalah seorang wanita licik yang kehilangan panggungnya."
Aku berbalik pergi, meninggalkan Elodie yang menangis histeris di kafe itu. Namun, di balik pintu kafe, aku melihat mobil hitam Liam sudah menunggu.
Liam keluar dari mobil, wajahnya tampak khawatir.
[Tadi dia berteriak. Apa dia menyakitimu? Aku ingin menghancurkan kafe ini sekarang juga! Blair, kemarilah... masuk ke pelukanku.]
Aku berlari kecil dan langsung memeluk Liam di bawah rintik hujan yang mulai turun lagi.
"Semuanya sudah selesai, Liam. Sampahnya sudah benar-benar dibersihkan," bisikku.
Liam memelukku sangat erat, mencium puncak kepalaku dengan penuh kasih sayang. "Ayo pulang. Axelle sudah menunggu kita untuk makan malam."
Aku tersenyum dalam pelukannya. Elodie mungkin sang penulis, tapi aku adalah pemegang takdirku sendiri. Dan takdirku adalah berada di sini, bersama pria tsundere yang sangat mencintaiku ini.
semoga bisa menghibur semuanya...
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/