Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."
Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.
Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.
Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?
"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara
Lorong lantai eksekutif Prayudha Group terasa begitu dingin dan kaku, senada dengan langkah kaki Isvara yang dipaksakan untuk tetap tegap. Di sampingnya, Andra masih melingkarkan lengannya di pinggang Isvara sebuah tindakan yang terlihat sangat suportif bagi orang luar, namun terasa seperti beban bagi Isvara yang harus menjaga keseimbangan tubuhnya.
Sinta dan Rima berjalan beberapa langkah di belakang mereka. Keduanya saling lirik dengan kecemasan yang tak bisa disembunyikan. Sebagai orang yang memegang jadwal obat dan tahu persis kapan detak jantung Isvara mulai tidak stabil, melihat wajah pucat sang atasan adalah alarm bahaya bagi mereka.
"Siapkan berkasnya, Sin. Pastikan semua render 3D untuk proyek Bali sudah siap di layar utama sebelum dewan direksi masuk," perintah Isvara pelan, suaranya terdengar sangat kering.
"Sudah semua, Bu. Ibu... Ibu yakin tidak mau minum air hangat dulu?" Sinta memberanikan diri bertanya, suaranya bergetar.
"Saya sudah bilang dia baik-baik saja," potong Andra dingin tanpa menoleh.
Rima mengepalkan tangannya di samping tubuh. Ia ingin sekali membentak Andra dan mengatakan bahwa Isvara tidak baik-baik saja, namun ia tahu posisinya. Ia hanya bisa menatap punggung Isvara dengan rasa iba yang mendalam.
Begitu pintu ruang rapat yang berlapis kaca kedap suara itu terbuka, aura permusuhan langsung menyergap. Di ujung meja oval yang panjang, Arini sudah duduk dengan angkuh. Ia mengenakan blazer merah menyala, seolah ingin menunjukkan dominasinya. Di sampingnya ada beberapa manajer senior yang tampak sudah terpengaruh oleh bisikan-bisikannya sejak tadi.
"Wah, akhirnya arsitek kesayangan kita datang juga," Arini berucap tanpa berdiri, senyumnya mengandung racun. "Aku kira Kak Isvara bakal pingsan di jalan tadi, mengingat 'drama' sarapan yang luar biasa pagi ini."
Andra tidak membalas. Ia menarikkan kursi untuk Isvara, memastikan istrinya duduk dengan nyaman sebelum ia sendiri duduk di kursi pimpinan rapat.
"Kita mulai rapatnya. Jangan buang waktu untuk hal yang tidak relevan," tegas Andra.
Rapat dimulai dengan presentasi progres proyek yang sedang berjalan. Isvara mencoba fokus. Ia berdiri di depan, menjelaskan setiap detail struktur bangunan dengan profesionalitas yang luar biasa. Namun, di tengah penjelasannya, keringat dingin kembali mengucur. Isvara merasa pandangannya sedikit mengabur saat melihat angka-angka di layar proyektor.
"Maaf, interupsi," Arini mengangkat tangannya dengan kasar. "Kak Isvara, apa Kakak yakin dengan perhitungan beban di sayap barat ini? Aku rasa Kakak terlalu banyak melamun saat merancang. Atau mungkin Kakak terlalu sibuk memikirkan masa lalu sampai-sampai hitungan teknis begini saja bisa meleset?"
Beberapa manajer saling berbisik. Isvara memegang pinggiran meja dengan sangat kuat agar kakinya tidak lemas. "Perhitungannya sudah sesuai standar keamanan, Arini. Jika kamu melihat ada yang kurang, silakan tunjukkan data pembandingnya."
"Data pembanding? Kak, lihat saja wajahmu! Kamu bahkan tidak bisa berdiri tegak! Bagaimana kami bisa percaya pada rancangan yang dibuat oleh orang yang bahkan tidak bisa menjaga kesehatannya sendiri?" Arini berdiri, suaranya melengking memenuhi ruangan. "Kak Andra, apa Kakak yakin mau menyerahkan proyek bernilai triliunan ini pada orang yang sedang 'sakit' ini? Bagaimana kalau dia tiba-tiba tumbang di tengah proyek? Ini mempertaruhkan nama besar Prayudha!"
Andra merasakan amarahnya mendidih. Ia melihat Isvara yang kini benar-benar pucat, tangannya secara refleks kembali menyentuh dadanya. Sinta dan Rima yang berdiri di sudut ruangan sudah bersiap untuk maju, namun mereka tertahan oleh tatapan peringatan dari Isvara.
"Arini, jaga batasanmu sebagai Direktur Keuangan. Isvara adalah Arsitek Utama di sini," ujar Andra dengan nada rendah yang mengancam.
"Aku bicara fakta, Kak! Mama benar, dia ini biang kerok! Lihat saja, karena dia sakit-sakitan, rapat jadi tidak efektif. Harusnya dia sadar diri dan mundur, bukannya malah jadi pahlawan kesiangan yang memaksakan diri!" Arini melangkah maju, mendekati Isvara. "Kenapa, Isvara? Mau pingsan sekarang? Supaya kak Andra kasihan lagi? Benar-benar licik!"
Suasana di ruang rapat eksekutif itu bukan lagi sekadar kaku, melainkan mencekam. Arini masih berdiri dengan angkuh, sisa kata-kata penghinaannya masih menggantung di udara, meracuni oksigen yang sedang susah payah dihirup oleh Isvara. Semua mata tertuju pada Isvara, menanti wanita itu tumbang atau menangis seperti biasanya.
Namun, sesuatu yang berbeda terjadi. Isvara tidak menunduk. Ia tidak memejamkan mata.
Perlahan, Isvara melepaskan pegangannya pada pinggiran meja. Ia berdiri tegak, sangat tegak, hingga tulang punggungnya terasa kaku. Rasa sakit di dadanya masih di sana, menghujam tajam, namun kemarahan yang sudah ia pendam selama dua tahun kini menjadi bahan bakar yang lebih kuat dari rasa sakit mana pun.
"Cukup, Arini," suara Isvara pelan, namun getarannya mengandung kekuatan yang sanggup membungkam bisik-bisik di seberang meja.
"Apa? Isvara mau bilang aku jahat? Aku hanya bicara fakta!" seru Arini, masih mencoba memprovokasi.
Isvara tertawa. Sebuah tawa hambar yang terdengar mengerikan di telinga Andra. Isvara menatap Arini tepat di manik matanya, lalu beralih menatap Nyonya Sofia dan Andra secara bergantian.
"Fakta? Kamu mau bicara soal fakta?" Isvara melangkah maju, meskipun Sinta dan Rima mencoba menahan lengannya, ia menepisnya dengan lembut namun tegas. "Faktanya adalah, aku bertahan di rumah neraka itu, di perusahaan ini, dan menghadapi mulut beracun kalian bukan karena aku butuh uang kalian. Aku bertahan karena satu hal konyol yang selalu kupikir sebagai kewajiban: Hutang Budi."
Seluruh ruangan terkesiap. Andra terpaku di kursinya, matanya melebar menatap istrinya yang kini terlihat seperti orang yang berbeda.
"Aku merasa berhutang budi karena keluarga ini pernah mengulurkan tangan. Tapi hari ini aku sadar, hutang itu sudah lunas dengan setiap tetes air mata dan darah yang kubuang untuk membesarkan nama Prayudha Group!" Isvara berteriak, suaranya menggelegar, meruntuhkan citra wanita lemah yang selama ini mereka sematkan padanya. "Kalian menyebutku beban? Kalian menyebutku tidak tahu diri? Padahal kalianlah yang menghisap nyawaku demi ambisi dan gengsi kalian!"
"Isvara! Jaga bicaramu!" Nyonya Sofia berdiri, wajahnya memerah karena malu dan marah.
Brak!
Tuan Prayudha menggebrak meja dengan sangat keras. "DIAM! Semuanya keluar! Kecuali keluarga, Isvara, dan asistennya. SEKARANG!"
Para manajer dan direksi lain lari tunggang langgang keluar ruangan. Pintu tertutup rapat. Kini hanya ada keluarga inti Prayudha, Isvara yang masih terengah, serta Sinta dan Rima yang berdiri siaga di belakang atasan mereka.
Andra akhirnya bangkit, mencoba mendekat. "Isvara, tenanglah. Kamu sedang sakit, jangan bicara melantur—"
"Aku tidak melantur, Andra!" Isvara menepis tangan Andra dengan kasar saat pria itu mencoba menyentuhnya. Tatapan Isvara penuh luka dan kebencian yang mendalam. "Aku sudah cukup dengan semua ini. Aku sudah cukup menjadi 'properti' yang kamu pamerkan tapi kamu injak-injak di balik pintu."
Nyonya Sofia tidak tahan lagi. Beliau melangkah mendekati Isvara dengan jari menunjuk-nunjuk. "Kamu benar-benar wanita tidak tahu untung! Kamu itu asalnya dari panti asuhan, tidak punya latar belakang yang jelas! Kamu harusnya bersyukur bisa menyandang nama Prayudha. Tanpa kami, kamu itu bukan siapa-siapa, Isvara! Hanya wanita pembohong yang akan mati di pinggir jalan!"
Kalimat itu menjadi pemantik terakhir. Isvara menatap mertuanya dengan pandangan yang membuat Nyonya Sofia mundur selangkah.
"Kalau begitu, ambil kembali nama besar kalian," ucap Isvara dengan nada yang mendadak dingin dan mematikan. "Hari ini, detik ini juga, aku menyatakan pengunduran diriku dari seluruh proyek Prayudha Group. Aku tidak akan menginjakkan kaki lagi di perusahaan ini, dan aku tidak peduli dengan penalti apa pun."
"Hah! Kamu pikir kamu siapa?" Arini menyela, wajahnya penuh kebencian. "Kamu tidak punya apa-apa tanpa kami! Kamu itu cuma parasit, Isvara! Parasit yang sok sedang sakit supaya terlihat seperti pahlawan!"
PLAK!
Suara tamparan itu begitu keras hingga gema-nya terasa memantul di dinding ruang rapat. Arini terjerembap ke samping, memegang pipinya yang langsung memerah panas. Keheningan total menyerang ruangan itu. Andra mematung.
Nyonya Sofia menutup mulutnya dengan tangan, kaget luar biasa.
Isvara berdiri di sana, tangannya masih bergetar, namun matanya memancarkan api yang tak terpadamkan. Ini adalah sisi Isvara yang selama ini terkubur; sisi marahnya orang pendiam yang sudah meledak.
"Satu kali lagi kamu menghinaku, Arini... aku tidak akan segan-segan menghancurkan apa yang paling kamu banggakan," desis Isvara.
Isvara kemudian menoleh ke arah Rima. Rima, seolah sudah mengerti sinyal itu sejak lama, langsung mengeluarkan sebuah map biru dari dalam tasnya. Map yang selama ini sudah disiapkan untuk kemungkinan terburuk.
Isvara mengambil map itu dan melemparkannya ke atas meja, tepat di depan Andra.
"Itu adalah surat pembatalan kerja sama secara resmi. Seluruh desain, hak intelektual, dan tanda tangan kontrak atas namaku ditarik kembali mulai saat ini,"
Isvara menatap Andra yang tampak kehilangan kata-kata. "Termasuk proyek Bali. Cari arsitek lain yang sanggup menahan hinaan keluarga kalian, karena aku sudah selesai."
Andra membuka map itu dengan tangan gemetar. Ia melihat surat resmi yang sudah ditandatangani di atas materai. Isvara sudah menyiapkan ini. Istrinya sudah berencana meninggalkannya bahkan sebelum ia sempat meminta maaf.
"Isvara... apa-apaan ini? Kamu tidak bisa melakukan ini secara sepihak!" Andra berseru, suaranya pecah antara marah dan panik yang luar biasa.
Isvara tidak menjawab. Ia berbalik, memandang Sinta dan Rima. "Ayo pergi. Kita tidak punya urusan lagi di tempat toxic ini."
"Isvara! Kembali!" teriak Nyonya Sofia, namun Isvara tidak menoleh sedikit pun.
Andra hendak mengejar, namun langkahnya terhenti saat melihat Isvara kembali terhuyung di depan pintu. Sinta dan Rima dengan sigap menyangga tubuh kecil itu. Isvara menoleh sedikit, menatap Andra untuk terakhir kalinya di ruangan itu.
"Hutang budiku sudah lunas, Andra. Sekarang, tinggalkan aku dengan sisa napas yang aku miliki... sebelum aku benar-benar mati di tangan keluargamu." Batin Isvara.
Isvara keluar dari ruangan itu dengan kepala tegak, meninggalkan keluarga Prayudha yang hancur dalam keheningan dan penyesalan yang baru saja dimulai. Andra jatuh terduduk di kursinya, menatap surat pembatalan itu dengan pandangan kosong. Ia baru menyadari, saat ia mencoba menggenggam terlalu kuat, ia justru menghancurkan apa yang seharusnya ia jaga.
Crazy up nya ditunggu thor, pengennya isvara bisa balik keadaan