Seri Kedua dari Lahirnya Pendekar Naga!
___
Kemunculan Pendekar Naga telah mengguncang keseimbangan dunia—membangunkan makhluk kuno dan menarik perhatian kekuatan yang telah lama menunggu dalam bayang-bayang.
Dunia berubah.
Sekte-sekte hancur tanpa sisa. Jejak kehancuran menyebar tanpa arah… dan pelakunya adalah sosok yang tidak pernah dibayangkan oleh Wei Zhang Zihan.
Chu Kai.
Sebagai Pendekar Suci, Wei Zhang Zihan tidak punya pilihan selain menelusuri jejak itu—mengungkap kebenaran yang tersembunyi, dan menghadapi satu kenyataan yang tidak ingin ia percayai:
Mungkin, orang yang harus ia hentikan… adalah orang yang seharusnya menjadi pelindung dunia.
Pendekar Naga itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamtaro Dasha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 - Yang Tidak Terduga
Ledakan keras itu mengejutkan Wei Zhang Zihan dan Wei Shezi.
Tidak jauh di depan mereka—dinding kayu sebuah kedai jebol, serpihannya beterbangan ke jalan. Ada seseorang yang terlempar keluar, menghantam tanah dengan keras.
Sosok itu hanyalah manusia biasa dan bekerja sebagai pelayan kedai. Dia memiliki tubuh yang kurus dengan pakaian kotor di beberapa bagian, dan sekarang ia meringkuk di tanah, gemetar sambil melindungi kepalanya ketika mulai diinjak dan ditendang oleh dua orang pria dewasa.
"Beraninya kau!"
Wei Zhang Zihan mendengar suara bentakan dari dalam kerumunan, namun segera teredam oleh hiruk-pikuk di sekitarnya.
"AAKH—!"
Pelayan itu hanya bisa mengerang dan tidak mampu melawan.
!
Ada beberapa orang yang menghalangi pandangan Wei Zhang Zihan, namun saat ia mendengar suara erangan tersebut—tangan kanannya mulai bergerak, mencapai gagang pedangnya.
Wei Zhang Zihan melangkah. Niatnya jelas, namun tiba-tiba saja Wei Shezi menarik lengannya dan membuat ia terkejut.
"Sebaiknya hentikan apa pun yang ingin kau lakukan." ekspresi Wei Shezi serius.
"Kau!"
"Apa kau lupa di mana kita berada?" Wei Shezi menatap Wei Zhang Zihan tajam. "Ini wilayah Aliran Hitam. Bertindak gegabah—apalagi ikut campur urusan orang lain... akan membunuhmu lebih cepat dari yang kau kira."
Wei Zhang Zihan tidak langsung menjawab. Tatapannya mengeras sebelum ia kembali memandang ke depan dan melihat tubuh pelayan kedai itu diinjak tanpa ampun. Bahkan orang-orang yang berkerumun pun tidak ada yang berniat untuk melerai dan menolong pelayan itu.
Wei Zhang Zihan mengepalkan tangannya. Dia tidak bisa hanya berdiri dan melihat seseorang yang dianiaya—tepat di depan matanya.
Wei Shezi menyadari keinginan Wei Zhang Zihan dan berdecak pelan. Inilah kesulitan yang dirinya temui jika mengikuti orang yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Bahkan sebelum ia sempat menahannya lagi—tangannya justru ditepis.
"Hei—!"
Wei Shezi terlambat.
Wei Zhang Zihan sudah bergerak. Langkahnya cepat, nyaris menembus kerumunan—namun sebelum ia sempat mencapai mereka... sebuah teriakan memecah suasana.
"AAAKH—!"
Semua orang terkejut ketika seseorang muncul entah dari mana. Dua pria yang tadi menginjak pelayan itu kini terangkat dari tanah dengan leher yang dicengkeram oleh satu tangan.
Wei Zhang Zihan membeku.
Di sisi lain, Wei Shezi yang ikut menyaksikan kejadian itu juga nampak kaget. Mata dan mulutnya terbuka lebar, bahkan ekspresi wajahnya berubah sangat pucat seolah telah melihat sesuatu yang menakutkan.
"A-astaga..." suara Wei Shezi bergetar, "Ba-bagaimana bisa di-dia... di sini?"
!!
Detakan jantung Wei Zhang Zihan berpacu kencang. Tatapan matanya tertuju pada sosok pemuda yang berdiri di tengah kerumunan.
Subjek itu memakai pakaian hitam membalut tubuhnya. Rambutnya panjang terikat dengan pita hijau yang melambai ringan. Matanya merah, nampak dingin, dan mengerikan.
Aura yang memancar dari sosok itu menekan seluruh area. Beberapa orang mundur tanpa sadar, bahkan napas mereka terasa berat. Seolah-olah mereka berdiri di hadapan sesuatu yang bukan manusia.
"Kalian mengganggu... makan malamku."
Suara sosok itu terdengar rendah dan berat.
"Ku-kurang ajar!"
Salah satu pria yang dicengkeram mencoba melawan dengan mengayunkan tangannya, namun sebelum pukulan itu terbentuk—suara retakan tulang terdengar jelas.
KRAK!
Kedua pria itu bahkan tidak sampai berteriak, tubuh mereka mendadak lemas—dan saat berikutnya mereka telah kehilangan nyawa.
!!
Semua orang yang ada di tempat kejadian itu terkejut bukan main. Mereka mundur beberapa langkah dengan wajah pucat, apalagi ketika sosok tersebut mulai menjatuhkan tubuh kedua pria yang dicengkeramnya.
Wei Zhang Zihan menyaksikan semua kejadian itu dengan jelas, dan semakin lama tatapannya berubah. Subjek yang ia lihat adalah sosok yang sangat ia kenali.
"... Kai."
*
*
Wei Zhang Zihan tidak salah mengenali seseorang. Pemuda itu benar-benar Chu Kai. Bahkan reaksi yang diperlihatkan Wei Shezi juga memperjelas identitas dari subjek yang ada di hadapannya.
Chu Kai muncul di Kota Hou. Sosok itu menatap dingin pada dua orang yang sudah dihabisinya, sebelum pandangan matanya teralihkan pada pelayan kedai yang tersungkur di tanah.
Dengan santai, Chu Kai mengangkat kakinya—lalu membalik tubuh pelayan itu menggunakan ujung sepatunya.
Tubuh tersebut terguling lemah. Napasnya nyaris tidak terdengar.
"Hmph," Chu Kai mendengus pelan. Tatapannya datar, tanpa sedikit pun rasa iba. "Sudah seperti ini saja..."
"Di-dia membunuh! Dia membunuh orang…!"
Suara panik tiba-tiba pecah di antara kerumunan, menciptakan riuh dan kegelisahan dari orang-orang di sekitar Chu Kai.
Kota Huo memang gelap, namun bukan tanpa aturan. Ada satu hukum mutlak yang harus dipatuhi oleh siapa pun yang memasuki kota ini, dan aturan itu adalah—larangan bahwa siapa pun tidak boleh membunuh secara terang-terangan di tempat ini.
Dan tindakan yang dilakukan Chu Kai sebelumnya—telah melanggar aturan tersebut.
Chu Kai mengusap poni rambutnya ke belakang, dan lantas menghela napas panjang.
"Aah... sialan." nada suaranya terdengar jenuh. "Perasaanku benar-benar buruk."
"Beraninya kau mengacau di tempat ini…!" seru seseorang.
"Kau berani mengambil nyawa orang lain—kau harus menerima akibatnya!"
Beberapa orang menarik pedang mereka. Aura mulai berdesir di udara, namun Chu Kai sama sekali tidak bergeming.
Tangan Chu Kai terangkat, menyentuh pipinya perlahan sebelum seulas senyum tipis terukir di wajahnya.
"Kalian berisik."
!!!
Wei Shezi merasakan aura mengerikan itu lebih dahulu dan tanpa ragu menarik lengan Wei Zhang Zihan—melesat dengan kecepatan tinggi dan membawa Pendekar Suci itu pergi sejauh mungkin.
Bersamaan saat Wei Shezi melesat—tubuh orang-orang di sekitar Chu Kai membeku, dan detik itu juga satu per satu kepala mereka meledak.
Darah dan serpihan tulang menyembur ke udara.
Tidak ada di antara mereka yang sempat bereaksi. Tubuh semua orang kaku, lalu runtuh seperti boneka yang talinya diputus.
Bahkan orang-orang yang berjarak belasan meter dari tempat kejadian dan sama sekali tidak terlibat juga mendapat dampak yang sama.
Ada pedagang yang sementara memberikan penjelasan tentang barang dagangannya—langsung terkejut menyaksikan kepala pelanggan di depannya meledak tanpa peringatan. Dia bahkan baru akan menjerit saat dentuman keras tiba-tiba menusuk kepalanya dan seluruh pandangannya menghitam.
"AAAAH...!"
Jeritan pecah di sisi yang lain, namun itu hanya berlangsung singkat ketika yang terdengar berikutnya adalah bunyi ledakan pendek, namun begitu mengerikan.
Para kultivator yang peka dengan aura itu langsung berubah ekspresi, termasuk segera mengeluarkan energi spiritual yang besar untuk menciptakan perisai pelindung.
Hanya sebagian kultivator yang berhasil melakukannya, sementara bagi yang terlambat—dampaknya adalah kepala atau dada mereka yang meledak tanpa ampun.
******