NovelToon NovelToon
Poena

Poena

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#13

Kamar tidur Salene Lumiere adalah sebuah mahakarya desain interior—luas, didominasi warna putih gading dan abu-abu pucat, dengan furnitur bergaya neoklasik yang harganya setara dengan sebuah rumah mewah di pinggiran London. Namun, begitu pintu jati seberat lima puluh kilogram itu tertutup dan terkunci rapat, kemewahan itu berubah menjadi peti mati yang kedap suara.

Salene menyandarkan punggungnya di balik pintu. Napasnya tersengal, dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Keteguhan yang ia pertahankan sepanjang perjalanan pulang di dalam Rolls-Royce tadi akhirnya runtuh.

Setitik air mata jatuh, disusul oleh aliran deras yang tak terbendung. Salene merosot ke lantai pualam yang dingin, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Isakannya terdengar tertahan, sebuah kebiasaan yang dilatih sejak kecil karena Madame tidak menyukai suara tangisan yang "berisik dan tidak bermartabat."

"Tidak... tidak..." bisiknya di sela isak tangis yang menyesakkan. "Aku tidak boleh menangis. Aku adalah Salene Lumiere. Aku adalah porselen yang tak bisa retak."

Suara Lauren di kelas tadi terus terngiang seperti kaset rusak di kepalanya. “Mommy-ku bilang yang penting aku tidak stres.” Kalimat itu terasa seperti sembilu yang menyayat ego Salene.

Mengapa kebahagiaan terasa begitu murah bagi Lauren, sementara bagi Salene, ia harus membayarnya dengan setiap tetes keringat dan rasa lapar?

"Aku tidak boleh hancur hanya karena kalimat bodoh Lauren," ucapnya dengan suara serak, mencoba meyakinkan diri sendiri. "Ini hidupku. Madame benar... dia membuatku menjadi sempurna karena ini yang terbaik untuk masa depanku. Kelembutan hanya untuk mereka yang tidak memiliki ambisi."

Ia menghapus kasar air matanya dengan punggung tangan hingga kulit pipinya memerah. Salene berdiri, menatap bayangannya di cermin besar yang menghadap ranjang. Matanya sembab, rambut ekor kudanya sedikit berantakan. Ia membenci pemandangan itu. Ia membenci setiap inci dari dirinya yang terlihat "manusiawi."

Salene melangkah menuju kamar mandi utama yang luasnya hampir menyamai kamar tidur biasa. Ia menyalakan pancuran air hangat, membiarkan uap panas memenuhi ruangan hingga cermin-cermin di sana mengembun. Ia membutuhkan air untuk membasuh kotoran jalanan, bau mesin motor Nikolas, dan sisa-sisa emosi yang memuakkan ini.

Sambil menunggu air siap, ia mengambil ponselnya. Jarinya gemetar saat membuka galeri foto. Di sana, di barisan paling atas, ada foto-foto dari hari Minggu kemarin.

Foto selfie-nya di depan dinding bunga. Foto dirinya yang tertawa dengan rambut acak-acak. Dan satu foto yang diambil secara diam-diam oleh Nikolas saat ia sedang asyik memotret langit—di foto itu, Salene terlihat sangat muda, sangat hidup, dan sangat jauh dari predikat "Gadis Porselen."

Salene menatap foto itu cukup lama. Dadanya kembali berdesir, namun kali ini rasa itu diikuti oleh ketakutan yang luar biasa.

Tatapan apa tadi di parkiran? Salene teringat mata hitam Nikolas yang menatapnya dengan lembut, penuh empati, dan... rasa kasihan.

"Dia mengasihaniku?" desis Salene, giginya terkatup rapat. "Seorang remaja urakan yang hidup di bengkel berani mengasihani seorang Lumiere?"

Rasa terhina membakar harga dirinya. Ia teringat nasihat ayahnya yang jarang pulang, namun suaranya selalu menggema di dinding mansion ini: "Orang lemah hanya akan diinjak-injak, Salene. Jangan pernah tunjukkan retakanmu, atau dunia akan menghancurkanmu sampai jadi debu."

Dengan gerakan cepat dan tanpa ragu, Salene menekan tombol delete pada semua foto hari Minggu itu. Satu per satu, kenangan tentang mie instan, jaket kulit, dan angin London yang menerpa wajahnya menghilang dari layar digital. Ia menghapusnya sampai ke folder sampah, memastikan tidak ada jejak yang tersisa.

"Hampir saja..." gumamnya sambil meletakkan ponselnya dengan kasar di meja wastafel. "Aku tidak akan terlihat lemah di depan siapa pun. Tidak di depan Lauren, tidak di depan Madame, dan terutama... tidak di depan Nikolas Martinez."

Salene melangkah masuk ke bawah kucuran air panas. Ia menggosok kulitnya dengan sabun beraroma mawar yang kuat, seolah-olah ingin mengelupas lapisan sel kulit yang pernah disentuh oleh jari kasar Nikolas saat memasangkan korsetnya semalam.

Di bawah guyuran air, ia memejamkan mata. Ia membayangkan dirinya kembali menjadi patung yang kokoh. Ujian akhir tinggal menghitung hari, dan ia harus menjadi mesin yang efisien. Ia harus naik ke kelas 12 dengan nilai tertinggi, tanpa ada satu pun gangguan emosional yang menghalangi.

Saat ia keluar dari kamar mandi dan memakai jubah mandi sutranya, wajahnya sudah kembali kaku. Matanya kering, dingin, dan waspada. Ia duduk di meja belajarnya, membuka buku kalkulus tebal, dan mulai mengerjakan soal-asisten tanpa jeda.

Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah ruangan kecil yang terkunci rapat. Di sana, suara deru mesin motor Honda dan rasa gurih bumbu mie instan masih tersimpan, berteriak minta dikeluarkan. Salene hanya menekan suara itu lebih dalam, menumpuknya dengan angka-angka dan teori seni, berharap bahwa jika ia cukup keras pada dirinya sendiri, rasa lapar akan kebebasan itu akan mati dengan sendirinya.

"Aku Salene Lumiere," bisiknya pada keheningan kamar. "Dan aku tidak butuh diselamatkan."

Di luar jendela, langit London sudah sepenuhnya hitam. Di suatu tempat di distrik lain, mungkin Nikolas sedang menatap langit yang sama, tidak tahu bahwa porselen yang ingin ia lindungi baru saja mempertebal dinding kacanya dengan lapisan baja yang tak tertembus.

🌷🌷🌷

1
winpar
thorrrrr update lgi plissssss
Ros🍂: Ashiappp kak🙏🥰
total 1 replies
ren_iren
sukaknya bikin huru hara dirimu kak.... 🤭😁😂
Ros🍂: Auuuw🥰🤣
total 1 replies
winpar
terus kk 💪💪💪💪
Ros🍂: Ma'aciww kak🥰🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!