NovelToon NovelToon
Perempuan Yang Selalu Di Tinggalkan

Perempuan Yang Selalu Di Tinggalkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga
Popularitas:983
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MELEWATI BATAS PUTIH JAS DOKTER

Langkah kaki Dokter Arga yang terburu-buru menciptakan irama ganjil di koridor bangsal Seruni yang biasanya tenang pada jam tujuh pagi. Tanpa mengetuk pintu dengan formalitas seperti biasanya, ia menyibakkan tirai kain yang membatasi tempat tidur Dina dengan gerakan yang cukup sentak, hingga menimbulkan suara derit besi yang nyaring. Sosoknya berdiri di sana dengan napas yang sedikit memburu dan raut wajah yang tak bisa menyembunyikan rasa panik, membuat Dina dan Warda yang sedang berbincang pelan sontak terlonjak kaget. Keduanya terpaku menatap sang dokter yang biasanya tampil begitu tenang dan berwibawa, kini tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan kendali atas emosinya sendiri.

"Dokter?" sapa Dina lirih, suaranya bergetar melihat sorot mata Arga yang tajam namun terselubung kekhawatiran yang mendalam.

Arga tidak segera menjawab. Ia melangkah lebar menghampiri sisi tempat tidur Dina, mengabaikan kehadiran Warda seolah dunia saat itu hanya menyisakan mereka berdua. Ia berdiri cukup dekat, menatap langsung ke dalam mata Dina yang masih tampak sayu dan ketakutan. "Kamu bohong sama saya kemarin," ucap Arga dengan nada rendah yang sarat akan kekecewaan sekaligus rasa sesak yang tertahan. "Kamu bilang kamu baik-baik saja di kantin, kamu tersenyum seolah semuanya terkendali, dan kamu janji akan sembuh. Tapi lihat sekarang, kamu malah terbaring di sini dengan kondisi yang jauh lebih buruk dari kemarin sore."

Arga mengepalkan tangannya di sisi tubuh, mencoba meredam gejolak di dadanya yang terasa panas. Baginya, melihat Dina kembali ke bangsal ini dalam keadaan darurat adalah sebuah tamparan keras atas kegagalannya sebagai seorang dokter yang ingin menjaga wanita itu. "Kenapa kamu nggak jujur kalau suara-suara itu masih menyiksa kamu? Kenapa harus menunggu ambruk dan dibawa ke UGD tengah malam seperti ini baru saya tahu kalau kamu sedang tidak baik-baik saja?" cecar Arga lagi, suaranya kini melunak namun justru terasa lebih menyakitkan bagi Dina yang hanya bisa menunduk dalam, tak berani menatap wajah pria yang selama ini menjadi sandaran medisnya namun kini mulai menuntut lebih dari sekadar kepatuhan seorang pasien.

Suasana di dalam kamar Seruni yang tadinya tenang mendadak berubah mencekam. Dina meremas pinggiran selimutnya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian untuk membela diri di hadapan tatapan tajam Arga. "Saya memang sudah merasa membaik kemarin, Dok. Saya tidak berbohong," ucap Dina dengan suara bergetar, mencoba meyakinkan pria di depannya bahwa senyumnya di kantin kemarin bukanlah sekadar sandiwara total.

Namun, jawaban itu justru menyulut emosi Arga yang sudah di ubun-ubun sejak membaca rekam medis tadi. "Kamu bohong!" bentak Arga dengan suara tinggi yang menggelegar di ruangan sempit itu, membuat Dina tersentak kaget hingga bahunya menciut. Suster Cinta yang berdiri di belakang Arga segera melangkah maju, wajahnya pucat melihat atasannya yang biasanya sangat tenang kini kehilangan kendali. Ia menepuk pundak Arga dengan tegas, mencoba menarik kesadaran pria itu kembali ke realita. "Dokter, tolong tenang. Jangan buat keributan di sini, ini bangsal perawatan pasien lain bisa terganggu," bisik Suster Cinta dengan nada peringatan yang tajam.

Warda, yang sejak tadi terdiam karena terkejut, kini bangkit dari kursinya dengan tatapan yang tak kalah berapi-api. Ia berdiri di samping tempat tidur Dina, seolah menjadi perisai bagi sahabatnya yang tampak semakin ciut. "Kenapa dokter jadi tidak profesional begini?" tanya Warda dengan nada ketus, menatap Arga dari atas sampai bawah seolah sedang menilai kembali kredibilitas dokter di hadapannya. "Adik saya ini sedang sakit, dia butuh ketenangan, bukan dibentak-bentak seperti ini. Kalau Dokter Arga tidak bisa mengontrol emosi dan bersikap subjektif seperti ini, saya bisa saja meminta pihak rumah sakit untuk ganti dokter penanggung jawab untuk Dina sekarang juga!"

Kata-kata Warda bagaikan siraman air es yang mendadak memadamkan api amarah di mata Arga. Ia tertegun, menyadari bahwa tindakannya barusan telah melanggar batas suci antara dokter dan pasien. Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap, hanya menyisakan suara mesin pemantau jantung yang berbunyi teratur, kontras dengan kekacauan emosi yang baru saja terjadi di antara mereka bertiga.

Arga tertegun, seolah baru saja tersadar dari mimpi buruk yang menguasai logikanya. Suara tinggi yang tadi memenuhi ruangan seketika surut, digantikan oleh kesunyian yang mencekam dan rasa malu yang menjalar hingga ke tengkuknya. Ia menatap telapak tangannya yang sedikit bergetar, lalu beralih menatap Dina yang tampak menciut di balik selimut, matanya yang berkaca-kaca menyiratkan ketakutan—bukan lagi karena bayangan Adrian, tapi karena dirinya.

"Maaf... saya nggak bermaksud begitu. Saya benar-benar minta maaf," ucap Arga dengan suara yang kini parau dan nyaris berbisik. Ia mundur satu langkah, mencoba memberi ruang bagi Dina dan Warda yang masih menatapnya dengan penuh selidik. "Saya cuma... saya cuma terlalu khawatir. Saya nggak mau melihat kamu kembali ke titik nol setelah semua kemajuan yang kita buat."

Arga menarik napas panjang, mencoba menata kembali wibawa dokternya yang baru saja runtuh berkeping-keping. Ia menyadari bahwa kekhawatirannya sudah melampaui batas profesionalisme seorang tenaga medis; itu adalah kekhawatiran seorang pria yang takut kehilangan satu-satunya alasan yang membuatnya merasa bermakna di rumah sakit ini. Suster Cinta di sampingnya hanya bisa menghela napas panjang, memberikan kode mata agar Arga segera mengendalikan diri sebelum kepala perawat atau dokter lain datang memeriksa keributan.

Warda masih menyilangkan tangan di dada, matanya belum melembut meski Arga sudah meminta maaf. "Khawatir boleh, Dok, tapi pasien punya hak untuk merasa tenang. Dina ke sini buat sembuh, bukan buat ditekan," tegas Warda, suaranya tetap rendah namun penuh penekanan.

Dina perlahan mendongak, menatap Arga dengan tatapan yang sulit diartikan—ada rasa bersalah, namun juga ada kebingungan melihat dokter yang biasanya begitu kaku kini tampak begitu rapuh di depannya. "Dokter Arga... saya nggak apa-apa," bisik Dina pelan, mencoba mencairkan suasana yang masih kaku. "Tolong, jangan marah lagi."

Arga hanya bisa mengangguk lemah, tidak sanggup membalas tatapan Dina lebih lama. "Saya akan tinggalkan instruksi pengobatan pada Suster Cinta. Istirahatlah, Dina. Saya permisi," ucapnya singkat sebelum berbalik dan melangkah keluar dari balik tirai dengan bahu yang tampak turun, meninggalkan aroma antiseptik dan penyesalan yang tertinggal di udara.

Warda masih berdiri mematung di samping tempat tidur, matanya terus menatap pintu yang baru saja tertutup rapat oleh kepergian Dokter Arga. Kecurigaannya sebagai seorang sahabat sekaligus wanita dewasa mulai terusik oleh pemandangan yang tak lazim bagi seorang praktisi medis profesional. "Din, coba jujur sama Mbak. Dokter itu... apa kalian memang punya jalur komunikasi khusus di luar rumah sakit? Maksud Mbak, apa kalian sering bertukar pesan lewat media sosial atau punya nomor handphone pribadi masing-masing?" tanya Warda dengan nada menyelidik, mencoba mencari celah dari ledakan emosi Arga yang terasa sangat personal tadi.

Dina menggeleng lemah, jemarinya masih gemetar kecil saat merapikan ujung selimutnya yang kusut. "Nggak, Mbak. Sumpah. Kami cuma bicara kalau aku jadwal kontrol dan itu selalu di lingkungan rumah sakit, di ruang praktiknya. Aku bahkan nggak punya nomornya," ucap Dina dengan suara lirih, mencoba meyakinkan Warda bahwa tidak ada hubungan gelap atau rahasia di antara mereka. Ia sendiri pun merasa bingung mengapa Dokter Arga yang biasanya kaku dan sangat menjaga jarak itu bisa kehilangan kendali hanya karena melihatnya kembali jatuh sakit.

Warda mendengus pelan, ia duduk kembali di kursi kayu sambil melipat tangan di dada, matanya menyipit seolah sedang menganalisis setiap gerak-gerik Arga yang tertangkap ingatannya tadi. "Aneh, Din. Kalau cuma hubungan dokter dan pasien, reaksinya tadi itu sudah kelewatan. Cara dia membentak kamu, cara dia menatap kamu dengan napas yang memburu... itu bukan ekspresi dokter yang takut pasiennya gagal diet lambung," ucap Warda dengan nada yakin. "Tapi dia itu tadi kayak orang yang lagi khawatir setengah mati lihat pacarnya sendiri yang jatuh sakit. Ada kemarahan yang muncul dari rasa takut kehilangan, bukan sekadar urusan rekam medis. Kamu harus hati-hati, Din, atau mungkin... justru dia yang sebenarnya sedang menaruh hati sama kamu."

Dina hanya bisa terdiam mendengar analisis tajam dari Warda. Kata-kata "khawatir lihat pacarnya sakit" terasa seperti hantaman baru yang membuatnya semakin merasa bersalah. Di dalam benaknya, ia masih merasa menjadi milik Adrian sepenuhnya, namun kehadiran Arga yang begitu intens mulai mengaburkan garis tegas antara bantuan medis dan perhatian yang lebih dalam, menciptakan kekacauan baru di tengah suara-suara yang masih sesekali berdenging di telinganya.

1
Ratih Tupperware Denpasar
astaga knp adriqn dibuat meninggal
nanuna26: karena dina itu selalu ditinggalkan ka
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
semoga adrian bener2 tulus ga kayak si rama.namanya rama tqpi tingkahnya ga sesuai namanya
Ratih Tupperware Denpasar
semoga ditempat baru dina bener2 bs tenang
Ratih Tupperware Denpasar
kukasi juga secangkir kopi supaya dina tetep semangat
nanuna26: kakk cantik terimakasih sudah support terua😍
total 1 replies
Ara putri
Hay kak. jika berkenan saling dukung yuk. mampir keceritaku.

-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib
Ratih Tupperware Denpasar: astga part awao sdh mewek
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!