NovelToon NovelToon
Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Teen
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.

​Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian Tak Terduga dari Seorang Dokter

Pagi hari di penthouse biasanya diawali dengan kesibukan yang efisien. Arka yang sudah bergelut dengan laporan keuangan, Kenzo yang bersiap menuju lokasi syuting dengan kacamata hitamnya, hingga Jeno yang masih sibuk dengan gadget-nya. Namun, di tengah keriuhan yang terorganisir itu, ada satu keheningan yang terasa janggal. Meja makan yang biasanya dihadiri Lana dengan senyum malu-malunya, kini kembali terasa hambar.

Lana duduk di sana, namun jiwanya seolah tertinggal di suatu tempat yang jauh. Ia hanya mengaduk-aduk bubur gandum organiknya tanpa benar-benar menyuapkannya ke mulut. Pandangannya kosong, tertuju pada butiran gandum yang tenggelam dalam susu. Rambutnya hanya diikat asal, dan ia mengenakan sweter kebesaran yang menyembunyikan bahunya yang tampak merosot layu.

Bumi, yang baru saja menyelesaikan sif malamnya di rumah sakit, duduk tepat di hadapan Lana. Ia masih mengenakan kemeja biru muda yang sedikit kusut, namun matanya tetap tajam mengobservasi. Sebagai seorang dokter, Bumi tidak hanya melihat gejala fisik; ia membaca bahasa tubuh. Dan apa yang ia baca dari Lana pagi ini adalah sebuah kehancuran mental yang sistematis.

"Buburnya nggak salah apa-apa, Lan. Jangan diaduk terus sampai pusing," ucap Bumi pelan, suaranya serak namun menenangkan.

Lana tersentak, sendoknya berdenting pelan menyentuh piring porselen. "Eh, Kak Bumi... Maaf, Lana cuma... cuma nggak terlalu lapar."

Bumi menyesap kopi hitamnya tanpa gula. Ia tidak langsung mendesak. Ia membiarkan keheningan menyelimuti mereka sejenak, sementara anggota keluarga yang lain mulai meninggalkan meja makan satu per satu. Arka sempat melirik Lana dengan dahi berkerut sebelum pergi, namun Bumi memberikan isyarat kecil dengan gelengan kepala agar Arka membiarkannya menangani situasi ini.

"Gimana kuliah kemarin? Rian bilang lo sempat menghilang pas jam makan siang," tanya Bumi dengan nada yang sangat kasual, seolah hanya bertanya tentang cuaca.

Lana terdiam. Tangannya yang memegang sendok tampak gemetar sedikit. "Kuliahnya... lancar, Kak. Gedungnya bagus, dosennya pinter-pinter."

"Gue nggak tanya soal gedung atau dosennya, Lan. Gue tanya gimana hari lo di sana? Lo ketemu temen baru? Atau ada yang bikin lo nggak nyaman?" Bumi mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap langsung ke dalam mata Lana yang mulai berkaca-kaca.

Lana menunduk dalam-dalam. "Lana... Lana rasa Lana nggak pantes di sana, Kak. Orang-orang di sana... mereka beda banget sama Lana. Mereka pinter dandan, pinter ngomong, tasnya bagus-bagus. Sedangkan Lana..."

"Sedangkan lo adalah Lana," potong Bumi lembut. "Lo tahu, di rumah sakit, gue sering liat orang yang badannya sehat tapi jiwanya sakit karena terus-menerus ngebandingin diri sama orang lain. Itu namanya racun, Lan. Dan gue nggak mau racun itu ngerusak lo."

Lana akhirnya tidak tahan lagi. Setetes air mata jatuh ke dalam mangkuk buburnya. "Tapi mereka bener, Kak. Lana itu cuma anak desa yang beruntung diajak tinggal di sini. Lana nggak tahu apa-apa soal kecantikan, soal gaya hidup kota. Lana cuma jadi bahan ketawaan di kelas."

Bumi menghela napas panjang. Ia berdiri dari kursinya, membawa gelas kopinya, lalu pindah duduk di kursi tepat di sebelah Lana. Ia tidak menyentuh Lana secara fisik, namun kehadirannya memberikan rasa aman yang luar biasa.

"Dengerin gue, Lan," ucap Bumi, kali ini dengan nada yang lebih serius namun tetap hangat. "Kecantikan itu bukan cuma soal apa yang lo tempel di muka. Tapi gue paham, di dunia luar sana, orang sering pake 'topeng' buat ngelindungin diri mereka. Kalau lo ngerasa butuh 'topeng' itu buat ngerasa lebih berani, itu nggak salah. Yang salah adalah kalau lo ngerasa kecil cuma karena lo belum tau cara pakenya."

Lana menoleh, menatap Bumi dengan wajah yang basah oleh air mata. "Tapi Lana nggak tahu harus mulai dari mana, Kak. Lana takut nanya sama Kak Kenzo karena Kak Kenzo pasti mikir Lana aneh. Lana juga takut nanya sama Kak Arka..."

"Kenapa lo nggak nanya sama gue?" tanya Bumi sambil tersenyum tipis.

"Kak Bumi kan dokter... Kakak ngurusin orang sakit, bukan ngurusin bedak," jawab Lana polos, membuat Bumi terkekeh kecil.

"Dokter juga belajar anatomi wajah, Lan. Kita tau mana kulit yang sehat, mana yang butuh nutrisi. Dan sebagai orang yang paling sering liat lo melamun di meja makan ini, gue ngerasa punya tanggung jawab buat bikin lo senyum lagi. Gak asik banget kalau dokter hebat kayak gue punya pasien di rumah sendiri yang mukanya ditekuk terus tiap pagi."

Bumi mengambil selembar tisu dan menyerahkannya pada Lana. "Hapus air mata lo. Habis ini, lo ikut gue sebentar ke ruang tengah. Gue punya sesuatu yang mungkin bisa ngebantu lo 'berperang' di kampus besok."

Lana menurut. Ia menghapus air matanya dan mengikuti langkah Bumi menuju ruang tengah yang luas. Bumi mengajaknya duduk di sofa besar yang menghadap ke jendela raksasa. Sinar matahari pagi masuk dengan lembut, menerangi wajah Lana yang pucat.

"Lan, gue liat lo sering minder karena ngerasa 'polos' banget dibandingin mahasiswi lain. Tapi lo harus tau, kulit lo itu aset yang paling bagus. Mereka pake makeup tebal buat nutupi kekurangan, sedangkan lo cuma butuh sedikit sentuhan buat nonjolin kelebihan lo," jelas Bumi.

Ia mulai bercerita tentang pengalamannya di rumah sakit, tentang bagaimana penampilan yang rapi dan segar bisa meningkatkan rasa percaya diri pasien untuk sembuh. Bumi berbicara dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti, tidak menggunakan istilah medis yang rumit. Ia memvalidasi perasaan minder Lana sebagai sesuatu yang manusiawi, bukan sesuatu yang memalukan.

"Lo tahu nggak? Kenzo itu emang jago soal estetika, tapi dia sering berlebihan. Rian jago soal teori, tapi dia kaku. Arka jago soal perintah, tapi dia nggak peka. Makanya, lo punya gue," Bumi mengedipkan sebelah matanya, membuat Lana sedikit tersenyum untuk pertama kalinya sejak kemarin.

Lana merasakan kehangatan yang merambat di hatinya. Perhatian Bumi terasa sangat tulus, tidak seperti Kenzo yang sering menjadikannya bahan candaan atau Arka yang selalu memberi instruksi. Bumi mendengarkan. Bumi memperhatikan detail-detail kecil yang bahkan Lana sendiri tidak menyadarinya.

"Makasih ya, Kak Bumi. Lana kira Kakak nggak merhatiin Lana karena Kakak selalu sibuk di rumah sakit," bisik Lana pelan.

"Tugas dokter itu siaga dua puluh empat jam, Lan. Dan prioritas gue sekarang adalah mastiin Lana-nya kita nggak sedih lagi," jawab Bumi sambil menepuk pundak Lana sekali dengan sangat sopan. "Satu hal yang harus lo inget: jangan biarin kata-kata orang yang nggak kenal lo, nentuin siapa diri lo. Mereka cuma liat sampulnya, sedangkan kita di sini tau isinya."

Lana mengangguk mantap. Rasa sesak di dadanya perlahan mulai terangkat. Meskipun ia belum tahu apa "sesuatu" yang disiapkan Bumi, tapi kata-kata Bumi telah memberinya fondasi kekuatan yang baru. Ia merasa tidak lagi sendirian menghadapi badai di kampus.

Bumi berdiri, melihat jam tangannya. "Gue mau mandi dulu sebentar. Lo tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Gue bakal bawa 'kotak rahasia' gue buat lo."

Lana duduk terdiam di sofa, menatap ke arah balkon. Langit Jakarta hari ini tampak lebih cerah di matanya. Ia menyadari bahwa di balik kemewahan teknologi dan kedinginan gedung tinggi ini, ada sosok seperti Bumi yang memiliki tangan hangat untuk merangkulnya. Perhatian tak terduga dari sang dokter ini bukan hanya soal penampilan, tapi soal menyembuhkan hati Lana yang hampir mati karena rasa minder.

Bagi Lana, Bumi adalah penawar dari segala racun kata-kata mahasiswi di kampus. Dan ia tidak sabar untuk melihat apa yang akan dilakukan Bumi selanjutnya. Di sisi lain, Bumi yang berjalan menuju kamarnya tersenyum kecil. Ia sudah menyiapkan sebuah kotak hadiah yang ia beli beberapa hari lalu setelah melihat Lana terus-menerus menunduk. Sebuah kotak yang ia harap bisa menjadi awal dari mimpi-mimpi baru bagi Lana.

"Gak asik banget kalau lo terus-terusan sembunyi, Lana," gumam Bumi sambil membuka laci lemari pakaiannya. "Waktunya lo bersinar dengan cara lo sendiri."

1
Bri Anto
sunting mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!