Jihan Fahira memergoki suaminya selingkuh dengan sahabatnya. saat dia kembali dari rumah sakit. Saat itu suami dan sahabatnya sedang melakukan hubungan yang tidak pantas di dalam sebuah villa.
Saat itu Jihan tewas di tangan suami dan sahabatnya sendiri. Namun keajaiban muncul dalam hidupnya. Dia di beri kesempatan kedua. Jihan kembali hidup ke enam tahun yang lalu.
Kesempatan kedua untuk membalas dendam dan mengubah kembali takdir tragis yang akan terjadi di masa depan.
Mampukah Jihan membalas dendam dan mengubah takdir tragis yang akan menimpanya ?
Follow Ig: Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Jihan merencanakan rencananya dengan sangat teratur dirinya membuat salinan dari proposal yang dia buat untuk diberikan kepada Pak Toni.
Dia berjalan mendekati Pak Toni sambil membawa proposal yang dia salin namun hanya mengubah cover dari proposal tersebut. Namun isi proposal itu tetap sama dengan sebelumnya.
"Pak Toni! Ini proposal yang sudah saya ganti" Ucup Jihan memberikan proposal itu kepada Pak Toni.
Atasannya mengambil proposal yang di berikan oleh Jihan. Pak Toni kemudian membuka halaman dan melihat seluruh halaman proposal tanpa membacanya.
Terlihat wajah atasan tampak kesal setelah melihat proposal yang di berikan oleh Jihan. Namun itulah yang Jihan harapkan.
"Sekarang kita lihat apakah dia benar-benar membaca proposal itu atau hanya sekedar melihatnya saja...!" ucap Jihan dalam hati.
"Apa-apaan ini...!" ujar pak Toni membanting proposal itu di atas meja.
Brak!
"Jihan kamu main-main dengan saya! Proposal kamu yang sebelumnya lebih baik dari pada ini..." ujar pak Toni, dengan suara yang tinggi membentak Jihan.
Jihan menundukkan wajahnya sambil tersenyum tipis, apa yang dia harapkan akhirnya terjadi. Dirinya kemudian mendekati dan mengambil proposal miliknya.
"Aduh! Maaf pak, sepertinya saya salah memberi proposal, proposal ini sama seperti yang sebelumnya, hanya saja covernya yang berbeda...!" ujar Jihan, kemudian pergi mengambil proposal yang telah dia perbaiki.
Saat itu seluruh karyawan yang mendengarnya tertawa, dan berbisik apakah atasan mereka itu benar-benar berkerja atau hanya main-main saja di perusahaan.
Saat itu akhirnya Bu Reni tahu, kenapa setiap pekerjaan tidak pernah sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya dan tidak pernah sesuai dengan prosedur perusahaan.
Jihan kemudian kembali menyerahkan proposal yang sedikit ia ubah, rencananya akhirnya sukses untuk membuktikan kepada Bu Reni bahwa atasan mereka tidak pernah berkerja.
"Keluar kamu sekarang...! Keluar!" bentak pak Toni, kepada Jihan. Dirinya saat itu merasa telah dipermalukan olehnya di depan karyawan perusahaan.
Jam istirahat akhirnya tiba. Jihan membuat secangkir Es fresh so, untuk dia dan juga Bu Reni. Sambil menunggu nya datang menemuinya dirinya.
Jihan melihat Bu Reni yang datang menghampirinya, dia memberikan Es fresh so, yang dia buat kepadanya.
"Bagaimana mana Bu Reni... Apakah Bu Reni sekarang percaya dengan apa yang saya katakan?" tanya Jihan.
Dirinya berhasil membuktikan semua perkataan nya kepada Bu Reni. kemudian Bu Reni akhirnya tahu, mengapa semua pekerjaan tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan.
"Pantas saja semuanya tidak pernah sesuai dengan apa yang aku inginkan, ternyata dia hanya bermain-main saja di perusahaan!" ujar Bu Reni, wajahnya sedikit kesal karena hanya dia yang sibuk mengurus semua pekerjaan atasannya.
Jihan kembali menawarkan kepada Bu Reni apakah dia mau bergabung dengannya untuk mengembangkan proposal miliknya.
"Bagaimana Bu Reni! Apakah sekarang ibu mau bergabung dengan saya...?" tanya Jihan.
Dirinya sangat berharap agar Bu Reni benar-benar bergabung dengan nya. Untuk mengembangkan proposal miliknya.
"Bu Jihan... Saya akan bergabung dengan mu... Tapi sebelumnya kita harus mendapatkan tanda tangan pak Toni terlebih dahulu" ujar Bu Reni, tegasnya karena butuh tanda tangan atasan mereka untuk mengajukan proposal itu kepada direktur utama.
Sekarang Jihan sudah memiliki orang yang tepat untuk membantunya mengembangkan proposal itu.
Di luar ruangan, Regina melihat Jihan dan Bu Reni yang mengobrol, merasa heran dengan Jihan sambil tertawa.
Jihan yang awalnya tidak pernah berbicara dengan orang lain selain dirinya mengapa sekarang tampak akrab dengan Bu Reni.
Regina kemudian menghampiri mereka, dia membuka pintu dan berpura-pura mencari Jihan.
"Jihan... Kamu disini rupanya, aku mencari mu kemana-mana...!" ujarnya sambil menggandeng tangan Jihan.
"Bu Reni... Jihan apa yang sedang kalian berdua bicarakan, kelihatannya sangat asik!" tanya Regina, dirinya penasaran dengan apa yang mereka obrolkan.
Jihan kemudian menggelengkan kepalanya, memberikan isyarat kepada Bu Reni untuk tidak mengatakan apapun kepada Regina.
"Kumohon jangan katakan itu di depan Regina!" batin Jihan berbisik, sambil menggelengkan kepalanya.
Bu Reni, mengerti apa yang di isyaratkan oleh Jihan. "Apa...? Apa Jihan tidak ingin aku mengatakannya kepada Regina... Sepertinya iya".
Bu Reni kemudian mencoba mencari topik lain. "Begini Regina! Kami hanya sedikit membahas tentang pekerjaan saja, tidak ada yang lain kok!" ujarnya mengalihkan pertanyaan.
"Oh, ternyata hanya kerjaan, kirain ada yang lain...! Kalau begitu Jihan temani aku membeli makanan yah!" ucap Regina, dengan sikap manjanya.
"Jihan tolong antar, dan temani Regina! Kalian berdua seperti saudara saja!" ucap Bu Reni, sedikit tersenyum tipis.
Jihan kemudian mengantar dan menemani Regina. Walaupun sebenarnya dirinya tidak ingin. Namun Jihan terpaksa agar Regina tidak curiga.
Namun yang Jihan tidak tahu adalah takdirnya perlahan berubah, kejadian yang akan menimpa dirinya juga berubah.
Di sisi lain, Hendrick yang sedang bermain saham, sangat bersemangat, karena dalam semalam sahamnya kembali naik .
"Apa naik lagi...! Bagaimana kalau aku ambil pinjaman di bank, lalu aku investasi di sini aku yakin pasti akan menjadi berkali-kali lipat... Dengan begitu aku tidak usah capek-capek lagi kerja..." gumam Hendrick, wajahnya tampak penuh dengan semangat.
"Sebentar lagi aku akan menjadi orang kaya! He-yah! Ha-ha-ha!" tambahnya sambil tertawa dengan keras dan penuh semangat yang membara.
Namun Hendrick tidak tahu bahwa itu adalah titik kehancuran yang akan mengubah hidupnya.
❅
❅
❅
𝐵ℯ𝓇𝓈𝒶𝓂𝒷𝓊𝓃ℊ...ღ