Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.
~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~
Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.
▪︎Objek Utama:
- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.
- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).
- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.
.
.
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Damai dan Masa Depan yang Cerah
Hening.
Setelah ledakan dahsyat yang membutakan mata dan gemuruh yang memekakkan telinga, keheningan tiba-tiba menyelimuti seluruh wilayah utara. Angin berhenti berhembus, debu yang beterbangan perlahan turun kembali ke tanah, dan asap hitam yang selama berbulan-bulan menyelimuti langit lenyap tak berbekas.
Matahari bersinar terang kembali, menyinari bumi yang baru saja terbebas dari mimpi buruk.
Di tanah yang gundul dan retak itu, ribuan pasukan dan penyihir hanya bisa terdiam. Mata mereka terangkat ke atas, menatap dua sosok yang melayang lembut di udara. Tubuh mereka masih dikelilingi sisa-sisa cahaya ungu keemasan yang indah dan agung.
Elara dan Kael perlahan menurunkan ketinggian, mendarat dengan lembut di atas rerumputan hijau yang tiba-tiba tumbuh subur kembali di bawah kaki mereka—tanda bahwa alam sedang merayakan kemenangan mereka.
Mereka saling berpandangan, lalu tersenyum lebar. Napas mereka memburu, tangan mereka saling menggenggam erat, seakan memastikan bahwa ini bukan ilusi. Mereka benar-benar telah melakukannya. Mereka telah mengalahkan musuh yang dianggap tak terkalahkan.
"Mereka... hilang?" tanya Elara pelan, suaranya bergetar karena kelegaan yang luar biasa.
"Ya," jawab Kael sambil mengusap keringat di dahi Elara. "Mereka sudah pergi selamanya. Tidak ada yang tersisa."
Tiba-tiba, sorak-sorai yang dahsyat meledak dari belakang mereka.
"HOORRAAAAYY!!!"
"KAMI MENANG!!"
"ELARA! KAEL! PAHLAWAN KAMI!!"
Pasukan yang tadinya putus asa, kini melompat-lompat kegirangan. Mereka melempar topi dan senjata mereka ke udara, menangis bahagia, dan berpelukan satu sama lain. Perang yang telah memakan begitu banyak korban dan penderitaan, akhirnya berakhir di hari ini.
Darian terbang mendekat dengan wajah yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Mata pria tangguh itu basah oleh air mata. Ia memeluk putrinya dan Kael secara bergantian dengan sangat erat.
"Ayah bangga... Ayah sangat bangga pada kalian berdua," bisik Darian di bahu Elara. "Kalian tidak hanya menyelamatkan kota ini. Kalian menyelamatkan seluruh dunia."
Beberapa hari kemudian, suasana di kota Lunaria berubah total. Kesedihan dan ketakutan digantikan oleh pesta pora dan sukacita. Warga kota keluar dari rumah mereka, menghiasi jalanan dengan bunga-bunga dan spanduk-spanduk besar yang bertuliskan nama Elara dan Kael.
Tidak ada lagi tembok pertahanan yang menakutkan, tidak ada lagi perisai merah yang mencekam. Langit kembali biru, burung-burung berkicau riang, dan kehidupan kembali berjalan normal, bahkan lebih indah dari sebelumnya.
Di Kedai Bintang Jatuh, suasana pagi itu sangat hangat. Nenek Mara sedang sibuk menyiapkan makanan lezat untuk keluarga kecilnya. Di meja makan, sudah tersedia berbagai hidangan khas Lunaria yang mengundang selera.
"Makanlah, makanlah! Kalian butuh tenaga setelah pertarungan besar itu!" seru Nenek Mara sambil terus menumpuk makanan di piring Elara dan Kael.
"Terima kasih, Nek," kata Elara sambil tertawa bahagia. Rasanya sangat nikmat bisa makan bersama keluarga lagi tanpa beban apa pun di pundak.
"Jadi," Darian meletakkan sendoknya, lalu menatap kedua anak muda itu dengan tatapan serius namun penuh kasih sayang. "Apa rencana kalian selanjutnya? Kekuatan kalian sekarang sudah setara dengan dewa. Kalian bisa pergi ke mana saja, melakukan apa saja."
Pertanyaan itu membuat Elara dan Kael terdiam sejenak. Mereka saling bertukar pandang. Selama ini hidup mereka penuh dengan latihan, pertarungan, dan misi menyelamatkan dunia. Sekarang, saat semuanya sudah aman, apa yang sebenarnya mereka inginkan?
Kael menggenggam tangan Elara di atas meja.
"Aku tidak ingin pergi ke mana-mana, Tuan," jawab Kael tegas. "Dunia ini sudah cukup bagi kami. Dan tempat yang paling aku inginkan hanyalah di sini, di samping Elara."
Elara tersenyum manis mendengarnya. "Aku juga. Aku ingin hidup tenang. Mungkin aku akan membuka kembali toko ramalan seperti Nenek, tapi versi yang lebih modern. Dan Kael... dia bisa menjadi pelindung kota jika ada bahaya lain datang."
"Dan kami akan menikah," potong Kael tiba-tiba.
Wajah Elara memerah padam, Nenek Mara terkikik senang, sementara Darian tertawa lepas.
"HAHAAHA! Bagus! Itu rencana yang sangat bagus!" puji Darian. "Aku sudah menunggu hari itu sejak lama. Kalian berdua memang ditakdirkan untuk bersama."
***
Waktu terus berjalan. Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun.
Elara dan Kael tidak pernah meninggalkan Lunaria. Mereka menjadi simbol cinta dan keseimbangan yang abadi.
Elara menjadi seorang pemimpin spiritual yang sangat dicintai. Ia menggunakan kekuatan Penciptanya untuk menyembuhkan orang sakit, membuat tanah tandus menjadi subur, dan menciptakan bunga-bunga indah yang menghiasi setiap sudut kota. Ia tidak lagi hanya dikenal sebagai Peramal, tapi sebagai Ratu Cahaya.
Sementara Kael, ia menjadi Komandan Pasukan Pertahanan yang paling ditakuti musuh namun paling disayangi rakyatnya. Ia mengajari generasi muda cara menggunakan sihir dengan bijak, dan ia selalu menjadi perisai terkuat yang melindungi kota dari bayang-bayang jahat. Ia dikenal sebagai Ksatria Kegelapan yang Mulia.
Hubungan mereka semakin hari semakin kuat. Ikatan jiwa mereka sempurna. Mereka bisa merasakan apa yang dirasakan pasangannya, berpikir seirama, dan mencintai tanpa ada satu pun rahasia di antara mereka.
Suatu sore yang indah, tepat di tepi danau tempat mereka dulu sering berjanji setia, Elara dan Kael duduk berdampingan menikmati matahari terbenam. Langit berwarna oranye dan ungu, memantul indah di permukaan air yang tenang.
"Kau ingat tidak," tanya Elara sambil menyandarkan kepalanya di bahu Kael, "Dulu kau sangat dingin dan pendiam? Kau bahkan tidak mau menatap mataku."
Kael tertawa kecil, mengelus rambut Elara yang kini semakin panjang dan indah.
"Aku ingat sekali. Saat itu aku pikir kau hanyalah gangguan kecil dalam hidupku. Ternyata... kau adalah hidupku itu sendiri."
"Kaulah Kunciku, Elara," bisik Kael lembut.
"Dan kaulah Gembokku, Kael," jawab Elara balas berbisik. "Selamanya."
Mereka duduk di sana sampai matahari benar-benar tenggelam dan bintang-bintang mulai muncul di langit. Di bawah naungan langit yang luas, di dunia yang telah mereka selamatkan dan cintai, kisah cinta mereka yang epik pun mencapai akhirnya yang bahagia.
Namun, perjalanan mereka masih panjang. Meskipun perang besar sudah usai, kehidupan mereka masih terus berjalan, dipenuhi dengan tawa, air mata, petualangan baru, dan keajaiban-keajaiban kecil yang membuat kisah mereka abadi selamanya.
(Bersambung ke Bab 21...)