Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.
Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.
Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Pandu bersandar di pagar besi atap gedung, menghembuskan asap rokok perlahan ke udara yang mulai menggelap. Angin sore membawa sisa panas hari itu, tapi suasana di antara mereka terasa lebih berat dari sekadar cuaca.
“Jadi…,” ujar Pandu akhirnya, melirik ke arah Bima yang berdiri tak jauh darinya, “gimana bisa kamu dulu pacaran sama Aira?”
Bima tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat rokoknya, menghisapnya dalam-dalam, lalu menatap kosong ke kejauhan seolah sedang memutar ulang sesuatu di kepalanya.
“Awalnya?” katanya pelan. “Cuma karena penasaran.”
Pandu mengernyit. “Penasaran?”
Bima mengangguk kecil. “Ada satu siswi… yang hampir tiap hari ada di perpustakaan. Duduk di pojok yang sama, buku tebal di depannya, dan wajah serius seolah dunia luar tidak penting.”
Ia tersenyum tipis, senyum yang samar dan hampir tidak terlihat.
“Aira.”
Pandu tidak menyela. Ia tahu, jika Bima sudah mulai bicara seperti ini, sebaiknya didengarkan saja sampai selesai.
“Dia rajin. Terlalu rajin malah,” lanjut Bima. “Tapi yang bikin orang lain gampang meremehkan dia… tubuhnya kecil. Pendek. Wajahnya juga… seperti kucing.”
Pandu mengangkat alis. “Kucing?”
Bima terkekeh pelan. “Iya. Ekspresinya itu… galak kalau kesal, tapi sebenarnya tidak berbahaya. Justru lucu.”
Ia membuang abu rokoknya, lalu melanjutkan.
“Awalnya aku cuma iseng. Jahil. Ganggu dia waktu lagi baca. Ambil bukunya, sembunyiin pulpen, atau duduk di depannya sambil ganggu konsentrasinya.”
“Dan dia diam aja?” tanya Pandu.
“Tidak,” jawab Bima cepat. “Dia marah. Selalu marah.”
Nada suaranya berubah, ada sedikit kehangatan di sana.
“Setiap dia kesal, dia akan menatapku tajam. Kadang memukul lenganku. Kadang mengomel panjang lebar. Tapi… itu justru yang bikin aku terus kembali.”
Pandu menghembuskan asap, menatap Bima dengan ekspresi setengah mengerti.
“Seperti kucing itu,” lanjut Bima. “Aku dulu punya kucing di rumah. Aku sering jahili dia. Tarik ekornya, ganggu waktu dia tidur. Dia akan marah, mencakar, bahkan menggigit. Tapi anehnya… aku tetap suka mengganggunya.”
Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil.
“Aira sama.”
“Jadi kamu jatuh cinta karena suka dijahili balik?” Pandu menyeringai.
Bima menggeleng. “Bukan. Awalnya memang cuma permainan. Tapi lama-lama… aku terbiasa ada di dekat dia.”
Ia menarik napas panjang.
“Dan dia juga mulai terbiasa dengan kehadiranku.”
Pandu mengangguk pelan, memberi isyarat agar Bima melanjutkan.
“Suatu hari,” kata Bima, “aku dihukum berdiri di depan kelas. Setengah jam, waktu istirahat pula.”
“Kenapa?” tanya Pandu.
“Hal sepele,” jawab Bima singkat. “Seperti biasa.”
Ia menghela napas, lalu melanjutkan dengan nada lebih pelan.
“Semua orang keluar kelas. Istirahat. Tapi dia… tidak pergi.”
Pandu menoleh, sedikit tertarik.
“Dia duduk di bangkunya, pura-pura baca. Tapi sebenarnya menungguku.”
Bima menatap ke bawah, ke jalanan yang mulai ramai dengan lampu kendaraan.
“Setelah beberapa menit… dia mendekat. Diam-diam. Bawa minuman dan roti.”
Pandu tersenyum tipis. “Diam-diam?”
“Dia bahkan sempat lihat ke kanan kiri dulu,” kata Bima, suaranya hampir terdengar seperti tertawa kecil. “Seolah-olah sedang melakukan sesuatu yang besar.”
“Apa yang dia bilang?”
Bima mengingat sebentar.
“Dia cuma bilang, ‘Jangan pingsan. Nanti aku yang repot.’”
Pandu tertawa pelan.
“Dingin sekali.”
“Begitulah dia,” jawab Bima. “Tidak pernah terang-terangan. Tapi dari situ… aku tahu.”
“Bahwa dia peduli,” sambung Pandu.
Bima mengangguk.
“Sejak hari itu… semuanya berubah. Aku mulai benar-benar ingin dekat dengannya. Bukan cuma jahil.”
Ia menghisap rokoknya lagi, lalu melanjutkan.
“Aku bahkan ikut les privat.”
Pandu langsung menoleh tajam. “Kamu?”
“Iya,” jawab Bima tanpa rasa malu. “Hanya supaya bisa satu ruangan dengan dia lebih lama.”
Pandu menggeleng, setengah tidak percaya. “Gila.”
“Memang,” kata Bima datar. “Aku tidak bisa sehari tanpa melihatnya waktu itu.”
Keheningan sejenak menyelimuti mereka. Hanya suara angin dan lalu lintas dari bawah yang terdengar samar.
Pandu akhirnya berbicara lagi.
“Sekarang?” tanyanya, sambil menatap Bima. “Kamu masih mengharapkan Aira?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Bima tidak langsung menjawab.
Ia terdiam. Tatapannya kosong, tapi jelas pikirannya sedang kacau.
“Asal tahu saja,” lanjut Pandu, “dari ceritamu barusan… kamu belum benar-benar selesai dengan dia.”
Bima menghembuskan napas panjang.
“Masalahnya sekarang sudah rumit,” katanya akhirnya.
“Serumit apa?”
Bima menatap rokok di tangannya, seolah mencari jawaban di sana.
“Dia pernah… minta tolong padaku.”
Pandu mengernyit. “Lalu?”
“Aku tidak membantunya.”
Keheningan kembali turun, kali ini lebih berat.
“Kenapa?” suara Pandu terdengar lebih serius.
Bima menggertakkan rahangnya sedikit.
“Karena aku masih sakit hati,” jawabnya jujur.
Ia melanjutkan, nadanya lebih rendah.
“Dan… aku membiarkanmu mengganggunya.”
Pandu langsung menoleh tajam. “Apa?”
“Aku tahu apa yang kamu lakukan,” kata Bima. “Dan aku tidak menghentikannya.”
Pandu menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu membuangnya ke lantai dengan kesal.
“Jadi sekarang aku yang disalahkan?” katanya tajam. “Enak sekali.”
Bima langsung melotot.
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi kenyataannya begitu,” balas Pandu. “Kamu diam saja waktu itu. Sekarang semuanya jadi berantakan, lalu kamu seolah-olah bersih?”
Bima maju satu langkah, nada suaranya meninggi.
“Aku juga ikut menyakiti dia, aku tahu itu. Tapi jangan bertindak seolah semuanya salahku.”
“Dan jangan bertindak seolah semuanya salahku juga,” balas Pandu cepat.
Keduanya terdiam beberapa detik, saling menatap dengan emosi yang belum sepenuhnya reda.
Pandu akhirnya menghela napas, lalu membuang sisa emosinya bersama udara yang keluar dari paru-parunya.
“Dengar,” katanya lebih tenang. “Sekarang bukan soal siapa yang salah.”
Bima tidak menjawab, tapi ia tidak membantah.
“Kalau memang serumit itu,” lanjut Pandu, “kamu tinggal lakukan satu hal.”
Bima menatapnya.
“Ulangi saja apa yang dulu kamu lakukan.”
Bima mengernyit. “Maksudmu?”
“Dekati dia lagi. Ganggu dia lagi. Buat dia marah lagi. Buat dia terbiasa lagi dengan kehadiranmu.”
Bima terdiam.
“Kalau dulu berhasil,” kata Pandu, “kenapa sekarang tidak?”
Bima menatap ke kejauhan, memikirkan kata-kata itu.
“Tapi sekarang beda,” katanya pelan.
“Memang beda,” jawab Pandu. “Sekarang kamu punya lebih banyak masalah. Tapi perasaanmu ke dia… tidak berubah, kan?”
Bima tidak menjawab. Tapi diamnya sudah cukup sebagai jawaban.
Pandu mengangguk kecil.
“Kalau begitu, masih ada jalan.”
Bima menghela napas panjang.
“Ada satu hal lagi,” katanya.
“Apa?”
“Aku sedang dalam proses perjodohan.”
Pandu terdiam beberapa detik, lalu mengangkat alis.
“Serius?”
“Dengan keponakan Pak Rudi.”
Pandu tertawa kecil, tapi bukan karena lucu.
“Jadi sekarang kamu bukan cuma bodoh karena cinta lama, tapi juga terjebak perjodohan.”
Bima tidak menanggapi.
Pandu menepuk pundaknya.
“Kamu ini aneh,” katanya. “Dulu tidak pernah mau diatur. Sekarang malah mau dijodohkan dengan orang yang tidak kamu suka.”
Bima menunduk sedikit.
“Itu yang kupikirkan juga.”
“Kalau kamu menolak?”
“Ibuku akan mencari yang lain,” jawab Bima. “Sampai aku menikah.”
Pandu mendecak pelan.
“Ambisius sekali.”
“Begitulah.”
Pandu terdiam sejenak, lalu berkata,
“Kalau begitu… kenalkan saja Aira.”
Bima langsung menoleh. “Apa?”
“Kalau kamu bisa mengajaknya kembali,” lanjut Pandu santai, “kenapa tidak?”
Bima tidak langsung menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, wajahnya terlihat sedikit lebih ringan.
Pandu menepuk pundaknya sekali lagi.
“Bima yang aku kenal,” katanya, “tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan.”
Bima tersenyum tipis.
Pandu kemudian berbalik, berjalan menuju pintu keluar atap.
Namun sebelum ia membukanya—
“Pandu.”
Ia berhenti, menoleh sedikit.
“Jangan datang lagi ke perusahaanku.”
Pandu terdiam sejenak.
“Untuk Aira,” tambah Bima.
Pandu tersenyum kecil.
“Baik,” katanya. “Aku tidak akan datang lagi… kalau kamu benar-benar berusaha mengajaknya kembali.”
Bima tidak menjawab, tapi senyumnya sedikit melebar.
Pandu membuka pintu, lalu menghilang di balik tangga.
Bima tetap berdiri di sana.
Sendiri.
Angin malam mulai terasa lebih dingin.
Ia menatap ke arah tangga tempat Pandu menghilang, lalu kembali melihat ke kejauhan.
Walaupun mereka sempat berselisih, satu hal tidak berubah.
Pandu tetap sahabatnya.
Seseorang yang selalu mendorongnya maju.
Seseorang yang selalu memaksanya menghadapi apa yang sebenarnya ia inginkan.
Bima menghembuskan napas panjang.
Rokok di tangannya sudah hampir habis.
Ia menjatuhkannya, menginjaknya perlahan.
Pikirannya kembali pada satu nama.
Aira.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak hanya mengingat masa lalu.
Ia mulai memikirkan bagaimana cara kembali.
Dan mungkin… memperbaiki apa yang pernah ia rusak.