NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Dasar Nyamuk!!

Jam 3 sore.

Matahari mulai bergeser ke barat, tapi panasnya masih menyengat. Halaman depan fakultas mulai ramai dengan mahasiswa yang keluar dari kelas sore. Ada yang jalan kaki sambil bercanda, ada yang buru-buru naik motor, ada juga yang duduk di bawah pohon sambil menunggu jemputan.

Angga sudah ada di sana sejak jam setengah tiga.

Seperti biasa, ia bersandar di motornya. Kawasaki Ninja hitam yang terparkir rapi di tempat favoritnya. Helm biru Adea tergantung di stang. Tangan disilangkan di dada. Wajah datar seperti tidak melakukan hal istimewa.

Padahal ia sudah menyelesaikan dua lukisan sejak pagi dan sekarang hanya ingin cepat-cepat pulang, memasak untuk Adea, lalu mungkin tidur siang sebentar sebelum malam tiba.

Tapi rencana itu buyar ketika sebuah mobil merah muda meluncur masuk ke area parkir.

Bukan merah muda sembarangan. Pink mencolok. Pink yang terlihat dari kejauhan. Pink yang terasa berteriak "Lihat aku!"

Ferrari.

Thalia turun dari mobil itu dengan gerakan lambat, seolah ia sedang berada di video klip. Rambut hitam panjangnya tertiup angin sore. Blazer putihnya diganti dengan kemeja santai berwarna krem, rok pensil diganti celana panjang putih. Tetap rapi. Tetap mahal.

"Angga," sapa Thalia sambil berjalan mendekat. Sepatu flats-nya melangkah pelan di aspal. "Lu belum pulang?"

Angga menatapnya sekilas. "Belum. Nunggu orang."

"Nunggu siapa?"

Angga tidak menjawab.

Thalia tidak tersinggung. Ia bersandar di sisi mobilnya, sengaja parkir tidak jauh dari motor Angga sambil memainkan ponsel. Tapi matanya sesekali melirik ke arah pria itu.

Dari kejauhan, di pintu keluar gedung kedokteran, seorang gadis kecil muncul.

---

Adea keluar dengan senyum ceria.

Pipi chubby-nya merona karena seharian di ruang praktikum yang pengap. Rambutnya yang diikat dua kepang mulai berantakan, beberapa helai terlepas dan menempel di pelipis. Tas ransel merah muda menggantung di punggungnya, sedikit terlalu besar untuk tubuhnya.

Matanya langsung mencari.

Dan menemukan.

Angga. Di tempat biasanya. Dengan helm biru di stang. Dengan tubuh tegap yang bersandar santai. Dengan wajah datar yang meski tidak pernah ia akui selalu ia nantikan setiap pulang kuliah.

"Anggaaa~!!"

Adea berlari.

Bukan lari biasa. Tapi lari kecil dengan tangan sedikit terangkat ke samping, seperti burung yang baru belajar terbang. Tas ranselnya bergoyang ke kanan dan kiri. Wajahnya berseri-seri.

Ia tidak melihat Ferrari pink di samping motor Angga.

Ia tidak melihat Thalia.

Yang ia lihat hanya Angga.

"Gantengnya akuuuh~"

Adea melemparkan dirinya ke pelukan Angga.

Kedua tangannya melingkar di leher pria itu, memeluk erat-erat seperti koala yang tidak mau jatuh. Wajahnya mengubur di dada bidang Angga, di antara aroma sabun dan sedikit bau cat minyak yang selalu melekat di pakaian pria itu.

"Gue kangen," bisik Adea pelan, hanya untuk Angga.

---

Angga terpaku di tempatnya.

Tubuhnya kaku sesaat bukan karena tidak terbiasa, tapi karena ada orang lain yang menonton. Dan karena Adea belum pernah memeluknya seperti ini di depan umum. Belum pernah dengan antusiasme sebanyak ini.

Dia sadar ada orang lain?

Tapi kemudian Angga merasakan sesuatu yang aneh.

Adea melirik.

Dari balik pelukannya, dari sudut mata yang hampir tidak terlihat, gadis itu melirik ke samping. Ke arah Thalia. Ke arah Ferrari pink. Ke arah perempuan cantik yang berdiri di sana dengan alis terangkat dan senyum kecil.

Lirikan itu tajam. Hanya sesaat. Tapi cukup untuk membuat Angga mengerti.

Adea sengaja.

Dia sengaja memeluk erat. Sengaja memanggil "gantengnya akuuuh" dengan nada yang lebih manis dari biasanya. Sengaja menunjukkan sesuatu pada perempuan asing yang berdiri di dekat motornya.

Angga tidak marah.

Ia malah tersenyum kecil.

---

Thalia mengamati adegan di depannya dengan alis terangkat.

Seorang gadis kecil.

Benar-benar kecil, tingginya mungkin hanya sampai bahu Angga.

Sedang memeluk pria itu erat-erat. Wajahnya chubby, rambutnya berantakan, tasnya kebesaran. Dia terlihat seperti anak SMA yang nyasar di kampus kedokteran.

Tapi matanya... saat melirik ke arah Thalia, ada sesuatu di sana. Bukan kebencian. Bukan kemarahan. Tapi semacam... ini milikku, jangan coba-coba.

Thalia tersenyum kecil.

Oh. Jadi ini orang yang ditunggu-tunggu.

"Angga, ini siapa?" tanya Thalia dengan suara manis, berpura-pura tidak mengerti situasi.

Tapi sebelum Angga sempat menjawab-

Angga mengangkat tangan kirinya. Tangannya yang besar dan kasar itu menyentuh surai Adea. Rambut kepang gadis itu yang mulai berantakan. Ia mengelus pelan, dari atas kepala hingga ke ujung rambut yang tergerai di punggung.

Lalu ia menunduk.

Bibirnya menyentuh puncak kepala Adea.

Ciuman singkat. Lembut. Tanpa suara.

Dan ia tidak menoleh ke arah Thalia. Tidak sedikit pun. Seolah perempuan dengan Ferrari pink itu tidak ada di sana. Seolah dunia hanya berisi dirinya dan gadis kecil di pelukannya.

"Udah, naik. Cepet pulang, lu pasti laper," ucap Angga pada Adea, suaranya lembut. Nada yang tidak pernah Thalia dengar sebelumnya.

---

Thalia terdiam.

Ia merasa... diabaikan. Bukan dengan sengaja diabaikan, tapi benar-benar dilupakan keberadaannya. Seperti ia adalah patung di pinggir jalan. Seperti Ferrari pink-nya tidak lebih menarik dari motor hitam usang di sebelahnya.

Cowok ini...

Thalia tidak marah. Ia malah semakin penasaran.

Siapa gadis kecil itu? Kenapa Angga bisa berubah lembut hanya dengan kehadirannya? Dan kenapa...untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Thalia merasa ia harus bersaing untuk mendapatkan perhatian seseorang?

Ia tersenyum kecil.

Menarik.

"Angga, aku pulang dulu. Sampai besok di kelas," ucap Thalia dengan suara tetap manis.

Ia membuka pintu Ferrari-nya, duduk di kursi kulit putih, dan menyalakan mesin. Suara mobil sport itu menggelegar sebentar sebelum akhirnya meluncur pelan meninggalkan area parkir.

Angga tidak menoleh.

Adea, yang masih dalam pelukan Angga, melirik ke arah mobil pink yang perlahan menghilang di tikungan.

Matanya menyipit.

---

"Udah pergi," bisik Adea.

"Iya," jawab Angga datar.

"Siapa tuh?"

"Mahasiswa baru. Anak pindahan dari Jakarta."

"Cantik," kata Adea. Nadanya datar. Tidak ada emosi.

Angga melepas pelukan Adea perlahan, lalu menatap wajah gadis itu. Matanya mencari sesuatu.

"Iya. Cantik," ucap Angga. "Tapi gak penting."

Adea menatap balik. "Maksudnya?"

"Buat gue, yang penting lu udah selesai praktikum dan sekarang gue anter pulang." Angga mengambil helm biru dari stang. "Naik."

Adea tersenyum. Senyum yang tulus, bukan senyum pura-pura seperti tadi.

Ia menerima helm, memakainya sendiri tanpa bantuan Angga, sesuatu yang jarang ia lakukan. Lalu dengan canggung, ia berusaha naik ke jok belakang motor tanpa diangkat.

Kakinya terlalu pendek. Ia hampir jatuh.

Angga menghela napas. Ia meraih pinggang Adea dan mengangkatnya dengan satu gerakan, meletakkannya di jok belakang dengan mudah.

"Dasar," gumamnya.

"Dasar apa?"

"Dasar... Adea."

Adea tertawa. Ia memeluk Angga dari belakang, erat.

"Angga."

"Hm?"

"Gue laper. Beliin gue pisang goreng di pinggir jalan."

"Iya."

"Yang banyak."

"Iya."

"Yang pedas."

"Pisang goreng gak pake pedas."

"Ya udah yang biasa. Tapi banyak."

"Iya."

Mesin motor menyala. Mereka melaju pelan meninggalkan kampus, melewati jalan yang sama setiap hari. Tapi bagi Adea, sore ini terasa berbeda.

Ia menggenggam jaket Angga lebih erat.

Thalia.

Nama itu terukir di kepalanya. Cantik. Kaya. Mobil Ferrari. Dan dia kuliah satu kelas dengan Angga.

Adea menggigit bibir bawahnya.

Gue harus lebih waspada.

---

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!