Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.
Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 21
Di bawah temaram lampu meja kerjanya di lantai dua puluh sebuah gedung perkantoran di Sudirman, Rangga Susilo memandangi sebuah kartu nama berwarna perak.
Jam di layar komputernya menunjukkan pukul 23.15 WIB. Kantor biro arsitekturnya telah kosong sejak beberapa jam yang lalu. Hanya tersisa suara rintik hujan yang menghantam kaca jendela, menciptakan irama monoton yang seolah mengejek konflik batin di kepalanya.
Yvone Larasati.
Wajah wanita itu senyumnya yang tulus saat mereka berdiskusi tentang marmer, matanya yang berbinar saat berbicara tentang desain eco-luxury, dan kepanikannya saat dikelilingi oleh para pengawal berjas hitam terus berputar di benak Rangga.
Lalu, memori itu digantikan oleh wajah Dylan Alexander Hartono. Pria arogan bertelanjang dada yang dengan sengaja melintas di depan kamera web hanya untuk mengklaim teritorialnya dan mempermalukan Rangga. Pria yang menurut Nadia Pramudya menjadikan Yvone tak lebih dari sekadar perisai politik untuk menutupi kebusukannya.
"Kau peduli pada Yvone, kan? Kau ingin menyelamatkannya dari sangkar emas yang mencekiknya?" Kata-kata berbisa Nadia Pramudya bergema kembali, bagaikan kaset rusak di telinga Rangga.
Rangga selalu menganggap dirinya sebagai pria yang baik, seorang 'kesatria putih' yang menghormati wanita. Ia melihat bagaimana Yvone selalu tampak tegang, bagaimana gerak-geriknya diawasi oleh bodyguard, seolah wanita itu adalah tahanan berharga yang siap dieksekusi kapan saja. Logika Rangga yang telah dipelintir oleh ego dan rasa cemburu mulai membenarkan tawaran Nadia.
Jika aku membantu Nadia menjatuhkan Dylan, Yvone akan terbebas dari pria tiran itu. Dia akan melihat siapa yang benar-benar peduli padanya.
Dengan tangan gemetar, Rangga meraih mouse komputernya. Ia membuka server internal proyek butik hotel Senopati. Terdapat sebuah folder bertuliskan 'Draf Anggaran & Revisi Material - Rahasia'. Folder itu berisi semua log komunikasi antara dirinya, Yanto, dan Yvone, termasuk pengajuan vendor palsu siang tadi yang berhasil digagalkan Yvone.
Nadia hanya meminta data komunikasi. Jika Nadia menggunakannya untuk menekan Dylan dan membuat skandal bahwa Dylan mengontrol proyek itu secara paksa melalui istrinya, Dylan akan tersudut.
Ini demi kebaikanmu, Yvone, batin Rangga, membohongi nuraninya sendiri.
Ia mengekstrak fail-fail tersebut, mengenkripsinya ke dalam format zip, dan mengirimkannya ke alamat email tak bernama yang tertera di balik kartu perak milik Nadia.
Sent.
Satu klik itu adalah awal dari kejatuhan sang arsitek muda. Rangga Susilo baru saja menjual jiwanya kepada iblis ibu kota, atas nama sebuah ilusi penyelamatan.
Keesokan Harinya. Villa Karang Putih, Uluwatu, Bali.
Berbeda dengan atmosfer muram di Jakarta, udara pagi di Uluwatu terasa begitu segar dan penuh dengan kehidupan.
Sebuah kotak kayu raksasa seukuran meja biliar baru saja dibongkar oleh empat orang staf keamanan di ruang tamu vila. Di dalam kotak itu, terdapat sebuah maket fisik (miniatur) super detail dari proyek resor Alexander Group di Uluwatu. Maket itu dibuat dengan presisi tingkat tinggi, lengkap dengan pencahayaan LED miniatur dan replika tebing batu kapur.
Yvone berdiri di depan maket itu dengan mata berbinar-binar seperti anak kecil di toko permen. Ia menyentuh replika atap vila berbahan alang-alang sintetis dengan ujung jarinya yang lentik.
"Ya Tuhan, tim teknismu bekerja dengan sangat gila, Dylan," gumam Yvone dengan napas tertahan karena takjub. "Mereka berhasil menerjemahkan render 3D-ku ke dalam bentuk fisik hanya dalam waktu beberapa hari!"
Dylan berdiri di sisi seberang maket, memegang secangkir kopi hitam. Pria itu mengenakan kemeja linen putih lengan pendek, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin laut dari pintu teras yang terbuka. Namun, alih-alih menatap maket miliaran rupiah di hadapannya, tatapan mata kelam Dylan sepenuhnya terkunci pada istrinya.
Ia melihat bagaimana wajah Yvone merona karena antusiasme. Ia melihat bagaimana mata wanita itu menyala oleh gairah profesional yang murni. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada ketakutan, tidak ada beban kasus hukum ayahnya.
"Tim teknisku bekerja di bawah ancaman pemecatan jika maket ini tidak ada di meja ini sebelum makan siang," jawab Dylan santai, menyesap kopinya.
Yvone mendongak, mengerucutkan bibirnya sedikit. "Kau tidak perlu mengancam karyawanku seperti itu, Tiran."
Dylan tersenyum tipis. Ia meletakkan cangkirnya dan berjalan memutari meja maket, menghampiri Yvone. Pria itu berdiri tepat di belakang istrinya, melingkarkan kedua lengannya di pinggang Yvone dari belakang, dan menyandarkan dagunya di bahu wanita itu.
"Aku tidak mengancam mereka. Aku hanya memberikan... motivasi kerja yang kuat," bisik Dylan tepat di telinga Yvone. "Lagipula, aku ingin melihat hasil karya ratuku secara nyata secepat mungkin."
Yvone menyandarkan punggungnya ke dada bidang suaminya, tersenyum dan meletakkan tangannya di atas tangan besar Dylan yang memeluk perutnya.
"Lihat ini," Yvone menunjuk pada area tengah maket. "Lobi open-air ini akan menghadap langsung ke arah matahari terbenam. Jika kita menggunakan lantai marmer bertekstur kasar, cahayanya tidak akan memantul keras, melainkan menyerap dan memberikan kesan hangat. Dan di sini... aku menambahkan jalur air kecil buatan yang mengalir dari lobi menuju infinity pool, seakan menyambungkan elemen bumi dan lautan."
Dylan mendengarkan dengan saksama. Hembusan napas pria itu terasa hangat di ceruk leher Yvone, mengirimkan aliran listrik kecil ke seluruh tubuh sang desainer.
"Itu brilian," puji Dylan tulus. Pria itu mengecup pundak Yvone perlahan. "Awalnya aku mengakuisisi lahan ini semata-mata untuk memenangkan pengaruh politik di Bali dan menekan Hadi. Tapi melihatnya sekarang... aku rasa aku akan menyimpan penthouse khusus di resor ini untuk kita berdua."
Yvone memutar kepalanya sedikit untuk menatap mata suaminya. "Hanya untuk kita berdua?"
"Ya. Tanpa pengawal. Tanpa Marco. Tanpa telepon darurat," bisik Dylan, tatapannya turun ke bibir Yvone. Pria itu mempererat pelukannya, memutar tubuh Yvone hingga mereka saling berhadapan. "Hanya kau dan aku, bersembunyi dari dunia."
Bibir mereka baru saja akan bersentuhan ketika suara dering telepon yang sangat nyaring dan tajam memecah momen magis tersebut.
Bukan ponsel Dylan. Melainkan tablet kerja Yvone yang tergeletak di atas meja tak jauh dari mereka.
Yvone menarik diri dengan sedikit enggan. "Itu dari biro Rangga. Pasti tentang audit vendor PT Bina Konstruksi pagi ini."
Mendengar nama Rangga, rahang Dylan seketika mengeras. Romansa pagi itu langsung menguap, digantikan oleh mode waspada. Ia melepaskan pelukannya dan membiarkan Yvone mengambil tabletnya.
Yvone menekan tombol terima panggilan. Namun, bukan wajah Rangga Susilo yang muncul di layar, melainkan wajah pucat salah satu asisten arsitek di biro tersebut.
"Bu Yvone! Syukurlah Anda mengangkatnya!" suara asisten itu terdengar sangat panik.
"Ada apa, Doni? Di mana Rangga?" tanya Yvone, keningnya berkerut.
"Pak Rangga sedang diinterogasi oleh dewan direksi pemegang saham di ruang rapat utama," lapor Doni dengan napas terengah. "Sesuatu yang buruk terjadi, Bu. Setengah jam yang lalu, seluruh investor proyek Senopati menerima email anonim berisikan fail data internal kita."
Firasat buruk langsung menghantam ulu hati Yvone. Dylan yang mendengar percakapan itu langsung melangkah maju, berdiri di samping istrinya.
"Data internal apa?" tanya Dylan dengan suara baritonnya yang berat dan mengancam, membuat asisten di layar itu tersentak kaget.
"D-Data logistik dan email komunikasi antara Bu Yvone, Pak Rangga, dan Pak Yanto si kontraktor," jawab Doni terbata-bata. "Email anonim itu memutarbalikkan fakta, Bu! Mereka menuduh Bu Yvone sebagai pihak yang memaksa Pak Yanto menggunakan vendor abal-abal PT Bina Konstruksi untuk menggelapkan dana! Dan mereka melampirkan draf persetujuan anggaran yang belum ditandatangani namun ada cap digital atas nama Bu Yvone di sana!"
Darah Yvone seakan terkuras habis. "Itu fitnah! Aku yang kemarin menggagalkan pengajuan vendor itu di depan Rangga! Rangga tahu kebenarannya, dia ada di sana saat itu terjadi!"
"I-Iya, Bu. Tapi draf yang bocor ke investor itu sudah dimanipulasi seolah-olah Bu Yvone yang menginisiasinya. Dan parahnya lagi..." Doni menelan ludah. "Media-media gosip di Jakarta mulai mengendus kabar ini. Mereka mengaitkan hal ini dengan wawancara Bu Yvone kemarin. Mereka bilang, Bu Yvone sok suci di majalah elit, padahal diam-diam memanipulasi proyek butik hotel untuk kepentingan pribadi."
"Kunci semua akses server biro kalian. Jangan biarkan ada data keluar lagi. Kami yang akan mengurusnya dari sini." Dylan langsung memotong, tangannya menjulur dan mematikan layar tablet itu secara sepihak.
Ruang tamu vila itu mendadak hening dan tegang. Debur ombak di luar terasa seperti genderang perang yang baru saja ditabuh.
Yvone menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar karena panik dan marah. "Nadia... ini pasti ulah Nadia! Dia memutarbalikkan semuanya! Dia mencoba menjadikanku kambing hitam atas sabotase yang dia buat sendiri!"
Dylan menatap lurus ke depan, otaknya yang brilian bekerja dengan kecepatan super memproses skenario itu. Pria itu tidak terlihat panik, namun matanya memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.
Pria itu mengambil ponselnya dan memutar nomor Marco. "Marco, kau dengar kebocoran data di biro Rangga Susilo pagi ini?"
"Ya, Bos. Tim siber kita baru saja mendeteksinya. Ini sangat buruk. Draf palsu itu dibuat dengan sangat rapi. Investor panik dan mengancam akan menarik dana mereka dari proyek Senopati."
"Dari mana email anonim itu berasal?" tuntut Dylan. "Untuk memalsukan cap digital Yvone di server internal mereka, seseorang harus membocorkan akses dari dalam. Yanto sudah kita bekukan sejak kemarin, dia tidak punya akses ke cap digital Yvone."
Hening sejenak di ujung sana, sebelum Marco menjawab dengan nada hati-hati. "Bos... tim siber kita melacak IP Address pengirim file awal ke server anonim tersebut. Itu... itu dikirim dari alamat IP komputer pribadi milik Rangga Susilo di kantornya tadi malam pada pukul 23.15."
Udara di sekitar Yvone seakan membeku. Wanita itu mendongak menatap suaminya. "Apa? Tidak. Tidak mungkin!"
"Kirimkan buktinya padaku, Marco. Segera," perintah Dylan, lalu mematikan teleponnya.
Dylan memutar tubuhnya menghadap Yvone. Pria itu meletakkan kedua tangannya di bahu istrinya, mencengkeramnya sedikit kuat.
"Rangga Susilo mengkhianatimu, Yvone." Dua kalimat itu diucapkan Dylan tanpa keraguan sedikit pun.
"Kau salah!" Yvone menggeleng kuat-kuat, melangkah mundur menepis tangan suaminya. Matanya membelalak tak percaya. "Rangga adalah pria yang baik! Dia tidak punya alasan untuk menghancurkan proyeknya sendiri! Lagipula, komputer bisa diretas, IP Address bisa dipalsukan!"
Mendengar istrinya masih saja membela pria lain di saat bukti sudah mengarah ke sana, sesuatu di dalam diri Dylan retak. Kecemburuan dan kemarahan yang sejak lama ia tekan terhadap arsitek muda itu kembali meledak.
"Jangan naif, Yvone!" suara Dylan menggelegar, memenuhi ruangan itu. "Satu-satunya orang yang memiliki akses penuh ke sistem selain dirimu adalah dia! Nadia pasti telah menjangkaunya. Nadia membelinya, atau memanipulasinya!"
"Kau selalu cemburu padanya sejak awal!" teriak Yvone, air mata frustrasi mulai menetes di pipinya. "Kau ingin dia bersalah agar kau punya alasan untuk menghancurkannya! Rangga adalah teman kerjaku, dia yang membantuku—"
Brak!
Dylan memukul meja maket di sampingnya dengan kepalan tangan kanannya. Suara benturan keras itu membuat Yvone terlonjak dan seketika terdiam.
Napas Dylan memburu. Pria itu berdiri menjulang, dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya yang biasa kaku kini dipenuhi oleh emosi mentah yang menakutkan.
"Aku cemburu?!" desis Dylan, melangkah maju hingga Yvone terpojok ke dinding kaca. Pria itu menundukkan wajahnya, menatap lurus ke dalam mata istrinya yang berkaca-kaca. "Ya, aku cemburu! Aku benci melihat caramu tersenyum padanya di layar itu! Aku benci karena dia bisa berada di luar sana bersamamu sementara aku harus mengurungmu dengan bodyguard!"
Mata kelam Dylan berkilat oleh luka dan posesivitas yang membakar.
"Tapi aku tidak pernah memalsukan bukti untuk menghancurkan sainganku, Yvone!" geram Dylan rendah, suaranya bergetar. "Aku menyelidikinya karena aku ingin melindungimu. Karena pria yang kau sebut 'teman kerja' dan 'orang baik' itu baru saja menyerahkanmu ke mulut singa!"
Yvone terpaku. Ia melihat raut kesakitan yang tulus di mata pria es itu. Dylan tidak sedang berusaha mengendalikan Yvone; Dylan sedang terluka karena Yvone lebih mempercayai logika rapuh tentang seorang arsitek yang baru dikenalnya, dibandingkan suaminya sendiri yang telah mempertaruhkan segalanya.
Sadar akan kekasarannya, Dylan memejamkan mata dan mundur selangkah, menciptakan jarak di antara mereka. Pria itu mengusap wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menarik kembali sisa-sisa kendalinya.
"Marco akan mengirimkan log aktivitas komputernya," ucap Dylan pelan, nadanya kembali dingin dan datar, namun ada nada keputusasaan yang tertahan di sana. "Kau bisa membacanya sendiri. Rangga login menggunakan kata sandi otentikasi dua langkah miliknya sendiri. Tidak ada peretasan. Dia dengan sadar menyerahkan data itu."
Yvone merasa kakinya lemas. Ia merosot dan duduk di tepi sofa. Air matanya mengalir deras. Proyek independen pertamanya... proyek yang ia pikir akan menjadi pembuktian dirinya, kini berubah menjadi senjata yang digunakan untuk menusuknya dari belakang.
"Kenapa..." isak Yvone, memeluk dirinya sendiri. "Kenapa dia melakukan ini? Aku tidak mengerti. Jika dia hancur, bironya juga hancur."
Dylan menatap istrinya yang menangis tersedu-sedu. Amarah di dalam dada sang miliarder seketika menguap, digantikan oleh rasa sakit melihat wanita yang ia cintai terluka oleh pengkhianatan.
Dengan langkah pelan, Dylan mendekat. Ia berlutut di lantai dengan satu kaki, tepat di hadapan Yvone. Pria arogan yang selalu menundukkan orang lain itu, kini menundukkan dirinya di hadapan tangis istrinya.
Dylan meraih kedua tangan Yvone yang gemetar, menariknya dari wajah wanita itu, lalu menggenggamnya erat di depan bibirnya.
"Manusia bisa dibeli dengan banyak cara, Yvone," bisik Dylan lembut, mengecup punggung tangan istrinya. "Harta, kekuasaan, atau ego. Nadia menemukan titik lemahnya, dan Rangga memilih egonya di atas kesetiaannya sebagai rekan kerja."
Yvone mendongak, menatap mata suaminya dengan putus asa. "Media di Jakarta sedang menghancurkanku, Dylan. Jika investor Senopati menuntutku atas penipuan... aku akan ditangkap. Dan jika aku ditangkap, Ayah—"
"Tidak akan ada yang ditangkap." Dylan memotong ucapan itu dengan tegas. Sorot mata pria itu kembali setajam pedang, memancarkan aura dewa perang yang siap membantai ribuan pasukan.
Pria itu berdiri dan menarik Yvone ke dalam pelukannya. Yvone menyandarkan kepalanya di dada Dylan, membasahi kemeja linen pria itu dengan air matanya. Dylan membelai rambut Yvone, mencium puncak kepalanya dengan penuh perlindungan.
"Mereka mengira dengan menghancurkan satu bidak pion, mereka bisa membuat sang Raja menyerah," geram Dylan pelan, matanya menatap tajam ke luar jendela, menembus cakrawala lautan yang luas. "Mereka lupa, pion ini adalah milikku. Aku akan menunjukkan pada Nadia, pada Menteri Hadi, dan pada arsitek pengecut itu... apa yang terjadi jika mereka membangunkan naga yang sedang tidur."
Dylan menunduk, mengangkat wajah Yvone dengan lembut. Ia menghapus air mata di pipi wanita itu dengan ibu jarinya.
"Ganti bajumu," perintah Dylan dengan senyum predator yang mematikan. "Kita tidak akan bersembunyi di Bali lagi. Kita kembali ke Jakarta siang ini."
Yvone terkejut. "Ke Jakarta? Tapi kau bilang di sana tidak aman!"
"Tidak aman bagi mereka yang tidak siap," balas Dylan, matanya menyala oleh tantangan. "Tapi sekarang, kau sudah siap. Dan aku akan memegang tanganmu saat kita membakar kerajaan mereka menjadi abu."
Malam itu, tidak ada lagi ketakutan yang menguasai Yvone. Saat mereka berada di dalam jet pribadi yang membelah awan kembali menuju ibu kota, Yvone menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Genggaman tangan mereka tidak terlepas sedetik pun. Badai yang sesungguhnya tengah menunggu mereka di Jakarta, namun kali ini, Yvone tahu, ia tidak lagi bertarung sendirian. Sangkar emas itu telah berubah menjadi benteng besinya.