NovelToon NovelToon
Jarak Antara Kita

Jarak Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: ilham Basri

Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Air Mata Yang Tak Terdefinisikan

​Salju yang meluncur di bawah tubuh Arga terasa seperti ribuan pecahan kaca yang menggores kulitnya saat dia dan Nadia merosot turun dari lereng curam. Kecepatan mereka tak terkendali, gravitasi menarik mereka masuk ke dalam dekapan lembah yang gelap. Pepohonan pinus melesat lewat bagaikan bayangan hitam yang mengancam akan menghantam tubuh mereka hingga hancur. Arga memejamkan mata, melindungi wajahnya dengan lengan yang sudah mati rasa, sementara suara rentetan peluru dari arah Dani di puncak lereng terdengar meredam oleh deru angin salju.

​Brak!

​Tubuh Arga menghantam gundukan salju tebal di dasar lembah. Dunianya berputar. Oksigen seolah menghilang dari paru-parunya, meninggalkan rasa sesak yang mencekik. Dia terbatuk, mencoba merangkak keluar dari timbunan salju yang dinginnya membakar. Beberapa meter di sampingnya, Nadia tampak berusaha bangkit, wajahnya pucat pasi dengan luka di bahu yang kini kembali mengeluarkan darah segar, menodai salju putih di bawahnya dengan warna merah pekat yang mengerikan.

​"Bangun... Arga... kita belum aman," bisik Nadia, suaranya nyaris hilang ditelan kesunyian malam pegunungan.

​Arga mendongak. Di atas sana, di puncak lereng yang baru saja mereka turuni, cahaya senter anak buah Dani bergerak-gerak liar. Mereka sedang mencari jalur aman untuk turun. Waktu mereka tidak banyak. Hanya hitungan menit sebelum para pemburu itu sampai di dasar lembah ini.

​Arga meraih tangan Nadia, membantunya berdiri. "Kita harus masuk ke area perimeter fasilitas. Mereka tidak akan berani menembak serampangan jika kita sudah dekat dengan pagar kawat berduri itu. Terlalu banyak sensor sensitif di sana."

​"Kamu belajar cepat," Nadia tersenyum kecut, meski matanya menyiratkan rasa sakit yang luar biasa.

​Mereka tertatih-tatih melintasi padang salju yang luas menuju kaki tebing tempat Fasilitas Tatra berdiri angkuh. Bangunan beton itu tampak seperti monster purba yang sedang tidur, namun sorot lampu dari menara pengawasnya terus menyapu permukaan salju dengan ritme yang mematikan. Jarak fisik yang tersisa mungkin hanya lima ratus meter, namun bagi Arga, setiap langkah terasa seperti menyeberangi samudera keputusasaan.

​Di saat yang sama, di dalam ruang observasi yang steril, suasana mendadak kacau. Alarm berbunyi dengan nada rendah namun mendesak. Hendrawan, yang tadinya sedang menyesap kopi hitam sambil menatap monitor, berdiri dengan sentakan kasar hingga cangkirnya tumpah ke atas meja.

​"Apa yang terjadi?! Kenapa dia bangun sebelum fase sinkronisasi selesai?!" bentak Hendrawan pada tim dokter.

​"Kami tidak tahu, Tuan! Denyut jantung Subjek Nol-Sembilan melonjak drastis secara mendadak. Ada aktivitas anomali di lobus temporalnya. Ini... ini seolah-olah dia merespons sesuatu dari luar," dokter wanita itu menjawab dengan tangan yang gemetar di atas papan ketik.

​Di balik kaca, Elina berdiri tegak di tengah ruangan. Kabel-kabel sensor yang tadi menempel di tubuhnya kini berserakan di lantai seperti bangkai ular hitam. Dia mengenakan gaun putih tipis yang tampak kontras dengan kedinginan ruangan itu. Wajahnya yang pucat tetap datar, namun matanya yang kosong kini terpaku pada jendela kaca besar yang menghadap ke arah lereng gunung.

​Sesuatu yang mustahil terjadi. Air mata perlahan mengalir di pipi Elina. Cairan bening itu jatuh, membasahi lantai beton yang dingin.

​"Analisis emosinya!" perintah Hendrawan dengan suara yang bergetar antara amarah dan rasa ingin tahu yang besar.

​"Sistem tidak bisa mendefinisikannya, Tuan," lapor asisten laboratorium. "Ini bukan kesedihan, bukan pula rasa takut. Ini... ini adalah resonansi. Seolah-olah ada frekuensi eksternal yang memaksa air mata itu keluar. Dia sedang bergetar pada frekuensi yang sama dengan... seseorang di luar sana."

​Hendrawan mengepalkan tangannya. Dia menatap ke arah kegelapan di luar jendela, ke arah lereng di mana Dani sedang mengejar Arga. "Arga... Si tua Broto benar-benar menanamkan kutukan di dalam darah cucunya. Dia bukan kunci, dia adalah magnet."

​Elina perlahan mengangkat tangannya, menyentuh permukaan kaca yang dingin. Bibirnya bergerak tanpa suara, membentuk sebuah suku kata yang telah dihapus secara paksa dari memori jangka pendeknya.

​"Ar...ga..."

​Suara itu begitu pelan, nyaris tak terdengar, namun di dalam sistem saraf pusat fasilitas itu, kata tersebut memicu peringatan merah. Protokol penghapusan memori otomatis mulai bekerja. Gas penenang mulai disemprotkan ke dalam ruangan Elina untuk memaksanya kembali tidur.

​Di luar, Arga dan Nadia sudah sampai di pagar kawat berduri pertama. Nadia mengeluarkan pemotong kawat hidrolik kecil dan mulai bekerja dengan sangat hati-hati.

​"Sedikit lagi, Arga. Begitu kita masuk ke dalam terowongan ventilasi di bawah menara utara, kita punya peluang," bisik Nadia.

​Namun, tepat saat kawat terakhir terputus, sebuah lampu sorot raksasa dari menara pengawas mendadak berhenti berputar. Cahaya putih yang menyilaukan itu kini terkunci tepat pada posisi Arga dan Nadia berdiri.

​Suara sirine keamanan fasilitas meledak, memekakkan telinga.

​"Target terdeteksi di Perimeter Selatan! Aktifkan unit penahan!" suara mekanis bergema dari pengeras suara di seluruh gunung.

​Arga menatap ke arah menara. Dia bisa melihat moncong senapan otomatis yang terpasang di sistem pertahanan mandiri mulai berputar ke arah mereka. Namun, alih-alih berlari mencari perlindungan, Arga justru berdiri diam. Dia merasakan getaran aneh di dalam dadanya, tepat di tempat anting perak Elina dia simpan.

​Dia menatap ke arah gedung beton tinggi itu. Di salah satu jendela di lantai atas, dia melihat sesosok bayangan putih. Jaraknya terlalu jauh untuk memastikan, namun hatinya berteriak bahwa itu adalah Elina.

​"Elina! Aku di sini!" Arga berteriak sekuat tenaga, suaranya melawan raungan sirine.

​"Arga, tiarap!" teriak Nadia sambil menarik bahu Arga.

​Tepat saat itu, bukannya rentetan peluru yang keluar dari menara pengawas, pintu gerbang baja utama di bawah fasilitas justru perlahan terbuka. Bukan karena diperintahkan oleh Hendrawan, melainkan karena sistem keamanan pusat mengalami kegagalan fungsi massal.

​Lampu sorot mulai berkedip liar. Monitor di dalam ruang kontrol menampilkan satu pesan yang sama di semua layar:

​ENKRIPSI 74291 DITERIMA. OTORITAS DIAMBIL ALIH OLEH SUBJEK NOL-SEMBILAN.

​Dani, yang baru saja sampai di dasar lembah bersama anak buahnya, berhenti dengan wajah pucat. Dia menatap ke arah fasilitas yang kini tampak seperti sedang mengalami kejang digital.

​"Tidak mungkin..." gumam Dani. "Dia belum terbangun sepenuhnya. Bagaimana bisa dia memegang kendali sistem?"

​Arga menatap gerbang yang terbuka lebar itu. "Kakek tidak hanya memberiku kunci, Nadia. Dia memberikan Elina kendali untuk membukakan pintu untukku."

​Namun, di tengah kekacauan sistem itu, sosok Hendrawan muncul di layar raksasa di atas gerbang utama. Wajahnya tampak tenang, namun ada kilat kebencian yang mendalam di matanya.

​"Selamat datang, Arga," ucap Hendrawan dengan nada dingin. "Kamu berhasil membukakan pintunya. Tapi kamu lupa satu hal: Elina yang membukakan pintu ini bukan lagi wanita yang kamu cintai. Dia hanya ingin kamu masuk... agar dia bisa menghapus satu-satunya gangguan yang tersisa di dalam memorinya."

​Lampu sorot di atas gerbang mendadak berubah menjadi merah darah. Di dalam kegelapan lorong gerbang yang baru terbuka, Arga melihat Elina berdiri di sana. Dia tidak lagi menangis. Di tangannya, dia memegang sebuah benda logam kecil yang berkilau sebuah pisau bedah yang dia ambil dari laboratorium.

​Elina berjalan perlahan mendekati Arga, langkahnya kaku dan matanya tidak menunjukkan pengenalan sedikit pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!