Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.
Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.
Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.
Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.
Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.
Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desa Karang Sirep
Suara gamelan itu muncul tanpa sumber yang jelas. Bukan dari radio dan bukan pula dari hajatan. Tidak ada rumah yang tampak menyala terang di sekitar, tetapi bunyinya pelan dan berulang, seperti diputar dari tempat yang sangat jauh lalu tiba-tiba terasa dekat di telinga. Irama itu mengalun tipis, mengganggu, seperti sengaja memanggil sesuatu yang tidak terlihat.
Endric menghentikan langkahnya di pinggir jalan. Ia mengerutkan kening, lalu menoleh ke kanan dan kiri. Hanya ada sawah gelap dan deretan pohon yang berdiri kaku seperti bayangan. Angin malam menggerakkan dedaunan, tetapi tidak cukup kuat untuk menjelaskan suara itu.
“Ini desa apa kuburan, sih ....” gumamnya pelan.
Ia menarik napas, berusaha menenangkan diri, lalu melanjutkan langkah sambil menyeret koper yang rodanya terus tersangkut batu kecil. Suara gesekan roda koper terdengar kasar, kontras dengan sunyi di sekitarnya. Setiap langkah terasa lebih berat dari seharusnya.
Perjalanan ke desa ini sudah cukup melelahkan. Dari kota, ia naik ojek hampir satu jam, lalu harus berjalan kaki karena jalannya semakin sempit dan tidak bisa dilalui kendaraan. Namun, yang membuatnya tidak nyaman bukanlah rasa lelah.
Melainkan perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan sejak pertama masuk wilayah ini. Sepi, tetapi terasa seperti diperhatikan. Ia baru beberapa langkah ketika suara itu berhenti mendadak. Sunyi, benar-benar sunyi, seperti sesuatu baru saja ditarik pergi.
Endric refleks menoleh ke belakang. Tidak ada siapa pun.
“Ahh, cuma halusinasi, paling,” katanya, mencoba menenangkan diri, meski suaranya sendiri terdengar tidak meyakinkan.
Namun, sebelum ia sempat melangkah lagi, terdengar suara lain. Tawa pelan, seperti ditahan. Endric langsung menegang dan memutar badan dengan cepat. Tetap tidak ada siapa pun.
“Siapa itu?” suaranya sedikit meninggi.
Tidak ada jawaban. Hanya suara jangkrik yang tiba-tiba terasa lebih nyaring dari sebelumnya. Endric mendecak pelan, mencoba menertawakan dirinya sendiri, meski tengkuknya terasa kaku. Ia melanjutkan perjalanan dengan langkah yang sedikit lebih cepat.
Beberapa menit kemudian, ia akhirnya melihat rumah yang dimaksud. Rumah kayu sederhana dengan teras kecil dan lampu kuning redup. Tidak jauh dari situ ada beberapa rumah lain, tetapi jaraknya renggang dan tampak sepi, seperti tidak benar-benar dihuni.
“Lumayan juga,” gumamnya.
Ia menaiki dua anak tangga menuju teras. Belum sempat mengetuk, pintu rumah itu sudah terbuka. Seorang lelaki tua berdiri di ambang pintu dengan senyum lebar, seperti sudah menunggu sejak lama.
“Sampean Endric, ya?” tanyanya ramah.
Endric agak kaget, tetapi tetap mengangguk. Ia menyesuaikan posisi kopernya, mencoba terlihat santai.
“Iya, Pak. Saya yang menyewa rumah ini.”
“Masuk, masuk. Dari tadi saya tunggu.”
Endric melangkah masuk sambil menarik koper. Bagian dalam rumah cukup bersih, bahkan terlalu rapi untuk ukuran rumah yang katanya jarang ditempati. Bau kayu tua bercampur sesuatu yang asing, seperti tanah basah, menyusup pelan ke inderanya.
“Perjalanan jauh, ya?” tanya lelaki itu.
“Iya, Pak. Lumayan.”
“Sendirian?”
“Iya.”
Lelaki itu mengangguk pelan. Senyumnya tidak hilang sedikit pun, justru terasa menetap terlalu lama di wajahnya.
“Bagus. Lebih enak kalau sendirian di sini.”
Endric berhenti sebentar. Ada sesuatu dalam nada suara itu yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.
“Kenapa, Pak?”
Lelaki itu tertawa kecil, ringan, tetapi tidak benar-benar hangat.
“Biar cepat akrab sama warga.”
Endric ikut tertawa, meskipun ada yang terasa ganjil dari kalimat itu. Tawanya terdengar pendek dan dipaksakan.
“Ada aturan khusus, Pak? Soalnya saya baru pertama tinggal di desa seperti ini.”
“Oh, tidak ada yang rumit. Cuma... jangan sering keluar malam saja.”
“Kenapa?”
“Dingin,” jawab lelaki itu singkat.
Endric mengangguk, meskipun jelas itu bukan jawaban yang ia harapkan. Ia menahan pertanyaan lain yang sempat muncul di kepalanya.
“Saya Lurah di Desa Karang Sirep ini, tapi sampean panggil saja Pak Wakhid,” lanjut lelaki itu.
“Iya, Pak Wakhid.”
Mereka berbincang sebentar soal rumah, air, dan kebutuhan dasar lainnya. Semuanya terdengar normal, bahkan terlalu lancar. Tidak ada satu pun hal yang membuat Endric merasa kesulitan. Justru itu yang membuatnya sedikit tidak nyaman. Semuanya terasa terlalu mudah, seperti sudah diatur sebelumnya.
“Ya sudah, saya pamit dulu. Kalau butuh apa-apa, panggil saja,” kata Pak Wakhid sambil berdiri.
“Siap, Pak. Terima kasih.”
Pak Wakhid berjalan menuju pintu, lalu berhenti sebentar. Ia menoleh ke arah Endric, senyumnya masih sama.
“Sampean jangan kaget kalau dengar suara-suara di malam hari.”
Endric mengernyit. Dadanya kembali terasa tidak enak.
“Suara apa, Pak?”
“Biasa,” jawabnya ringan. “Desa.”
Lalu ia pergi. Pintu tertutup pelan, menyisakan keheningan yang terasa lebih berat dari sebelumnya. Endric berdiri diam beberapa detik, mencoba mencerna percakapan barusan.
“Desa apaan ....” gumamnya.
Ia menghela napas panjang, lalu mulai membereskan barang. Tidak banyak yang ia bawa, hanya pakaian, laptop, dan beberapa kebutuhan dasar. Ia sengaja pindah ke sini karena harga sewanya murah, terlalu murah bahkan untuk ukuran tempat seperti ini.
Awalnya ia tidak peduli, yang penting bisa tinggal sementara sambil mencari kerja. Namun sekarang, setelah benar-benar sampai di tempat ini, ia mulai merasa ada yang tidak beres. Perasaan itu tidak punya bentuk, tetapi terus mengganggu di dalam pikirannya.
Namun, rasa lelahnya lebih kuat. Setelah selesai membereskan barang, ia langsung merebahkan diri di kasur tipis yang sudah tersedia. Lampu dimatikannya.
Gelap.
Beberapa detik pertama terasa biasa saja. Lalu suara itu muncul lagi. Gamelan, pelan dan mendekat, seperti bergerak menuju dirinya.
Endric membuka mata. Ia tidak bergerak, hanya mendengarkan. Suara itu kini semakin jelas. Bukan halusinasi. Irama pelan yang berulang, seperti mengiringi sesuatu yang tidak terlihat.
“Ada orang hajatan tengah malam?” gumamnya.
Ia bangkit pelan dan duduk di tepi kasur. Suara itu seperti berasal dari luar. Endric menoleh ke arah jendela. Tirai tipis bergoyang sedikit. Ia menelan ludah.
“Cuma lihat sebentar,” bisiknya pada diri sendiri, mencoba meyakinkan diri.
Ia berdiri dan melangkah pelan menuju jendela. Setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya. Saat tangannya menyentuh tirai, suara gamelan itu berhenti lagi.
Sunyi.
Endric menahan napas. Perlahan, ia membuka tirai. Di luar gelap. Hanya halaman kecil dan jalan tanah yang tadi ia lewati.
Kosong.
Endric mengembuskan napas panjang, mencoba menertawakan dirinya sendiri.
“Anjir, bikin tegang aja,” gumamnya.
Ia hendak menutup tirai lagi ketika sesuatu tertangkap di sudut matanya. Putih, di bawah pohon.
Endric membeku. Ia memfokuskan pandangannya. Sosok itu berdiri diam, terbungkus kain putih. Kepalanya sedikit miring. Tidak bergerak.
Endric menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.
“Oke... ini pasti...”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, sosok itu bergerak. Melompat sekali, lalu maju.
Endric langsung mundur satu langkah. Tubuhnya refleks bereaksi sebelum pikirannya sempat mengejar.
“Anjir!”
Sosok itu melompat lagi, lebih dekat. Sekarang jaraknya hanya beberapa meter dari jendela. Wajahnya tidak terlihat jelas, tetapi bentuknya tidak mungkin salah.
“Pocong...” bisik Endric.
Ia terpaku. Tidak bisa lari dan tidak bisa berteriak. Hanya bisa menatap. Sosok itu berhenti tepat di depan jendela.
Diam.
Beberapa detik berlalu, terasa jauh lebih lama dari seharusnya.
“Cok, lo ngapain bengong gitu?”
Endric membeku total. Matanya melebar, napasnya tertahan.
“Hah?”
Sosok pocong itu menghela napas panjang, terdengar jengkel.
“Ya ampun, dapet yang begini lagi. Baru pindah, ya?”
Endric masih tidak bergerak. Otaknya seperti menolak memproses apa yang ia lihat dan dengar.
“Oke, fix. Gue lagi mimpi,” gumamnya.
“Ndak, rek. Ini bukan mimpi,” jawab pocong itu santai.
Endric menunjuk dirinya sendiri dengan jari gemetar. Tangannya terasa dingin.
“Lo... ngomong?”
“Lah, masa gue nyanyi?”
Endric terdiam beberapa detik. Lalu ia menepuk pipinya sendiri, sekali, dua kali, cukup keras untuk memastikan.
“Masih sakit...” katanya pelan.
Pocong itu mendekat sedikit lagi, hampir menempel ke jendela. Kehadirannya terasa semakin nyata dan mengganggu.
“Nama lo siapa?”
“Endric.”
“Hmm.” Pocong itu mengangguk pelan. “Gue Gandhul.”
Endric menatapnya kosong, mencoba mencari logika di situasi yang jelas tidak masuk akal.
“Pocong punya nama?”
“Ya punya, cok. Gue dulu manusia, bukan karung beras!”
Endric mengusap wajahnya kasar, berusaha menahan panik yang mulai naik.
“Oke... oke... santai... santai...”
Ia menarik napas dalam, lalu menatap lagi ke arah jendela. Gandhul masih di sana. Tidak hilang dan tidak berubah sedikit pun.
“Keknya Gue udah gila,” kata Endric pelan.
“Semua orang yang di sini awalnya ngomong gitu,” jawab Gandhul santai.
Endric menelan ludah. Kata-kata itu tidak membantu sama sekali.
“Di sini... maksud lo?”
Gandhul diam sebentar. Lalu suaranya berubah sedikit lebih pelan, tidak lagi santai seperti tadi.
“Desa ini, rek.”
Endric merasakan sesuatu turun di perutnya. Perasaan tidak nyaman itu semakin jelas sekarang.
“Lo sering muncul kayak gini, ya?” tanya Endric.
“Baru ke lo aja gue nongol,” jawab Gandhul. “Yang lain pura-pura ndak lihat.”
Endric mengernyit. Kata-kata itu terasa lebih mengganggu daripada kemunculan pocong itu sendiri.
“Pura-pura?”
Gandhul tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Endric dari balik kain putihnya. Walaupun wajahnya tidak jelas, entah bagaimana Endric merasa sedang diperhatikan dengan serius.
“Lo satu-satunya yang bisa lihat gue,” kata Gandhul akhirnya.
Endric terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat, menghantam dadanya.
“Apa maksud lo...”
Gandhul mendekat sedikit lagi, hampir menempel ke kaca. Suaranya pelan, tetapi jelas, seperti sengaja ditekan.
“Yang jelas itu bukan kabar baik.”
Endric merasakan tengkuknya dingin. Ia ingin mundur, tetapi kakinya tidak bergerak.
“Kenapa?” bisiknya.
Gandhul tidak langsung menjawab. Ia hanya diam beberapa detik, seperti memberi waktu bagi ketakutan itu tumbuh.
“Karena yang bisa lihat... biasanya ndak lama jadi manusianya.”
Endric membeku.
Sunyi kembali menyelimuti. Tidak ada gamelan dan tidak ada jangkrik. Hanya napasnya sendiri yang terdengar, berat dan tidak teratur.
Perlahan, Gandhul mundur. Satu lompatan, dua lompatan. Lalu berhenti di bawah pohon seperti tadi. Sosoknya kembali diam, seperti tidak pernah bergerak.
“Selamat datang di Karang Sirep, Endric.”