NovelToon NovelToon
Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Pangeran
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Neon Pena

Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

Angin di Puncak Mahkota tidak lagi terasa dingin bagi kulitku; ia terasa seperti kawan lama yang menyapa. Aku duduk bersila di atas batu kristal yang terbelah dua. Di depanku, Ki Kusumo berdiri tegak, membelakangi matahari terbit yang masih malu-malu menampakkan cahayanya.

"Kau sudah bisa membelah batu, kau sudah bisa menangkap petir," suara Ki Kusumo terdengar parau, tertahan oleh deru angin. "Tapi, bisakah kau menaklukkan dirimu sendiri saat perutmu menjerit minta tolong?"

Aku mendongak, menatap matanya yang mulai mengeruh dimakan usia. "Maksudmu, Ki?"

"Ujian Kelima: Puasa Seratus Hari," ia mengangkat satu jari telunjuknya yang keriput. "Seratus hari tanpa daging, tanpa ubi, tanpa arak. Hanya satu tetes embun dari pucuk pohon pinus salju setiap subuh. Jika kau mengeluh, jika kau mencuri makan, atau jika kau bergerak dari dudukmu sebelum matahari keseratus terbit... kita mulai lagi dari nol."

Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jauh lebih dewasa daripada usiaku yang baru menginjak sembilan tahun. "Hanya itu, Ki? Kau lupa aku pernah menatap rusa panggangmu selama tiga hari tanpa berkedip?"

"Jangan sombong, Bocah! Tiga hari itu mudah. Seratus hari adalah urusan nyawa!" Ki Kusumo meludah ke samping, lalu berbalik pergi. "Si Hitam akan membawakan embunmu. Jangan mati sebelum aku kembali."

Hari Ketigapuluh.

Tubuhku mulai menyusut. Lemak yang tersisa dari masa pertumbuhanku terbakar habis, menyisakan otot yang menempel ketat pada tulang seperti lilitan kawat baja. Setiap kali perutku melilit, aku justru tertawa dalam hati.

Krucuk...

"Diamlah," bisikku pada perutku sendiri. "Kau hanya tamu di tubuh ini. Aku adalah tuannya."

Aku memusatkan Qi petirku, bukan untuk meledak, tapi untuk membasuh dinding lambungku dengan kehangatan. Rasa lapar itu tidak hilang, tapi ia menjadi "jinak". Ia tidak lagi mengendalikan pikiranku.

Hari Keenampuluh.

Si Hitam, beruang raksasa yang kini menjadi sahabatku, datang setiap subuh. Dengan cakarnya yang besar namun lembut, ia menyodorkan pucuk daun pinus yang masih basah.

Tetes...

Satu tetes air embun jatuh ke lidahku. Rasanya lebih manis daripada madu hutan mana pun.

"Terima kasih, Hitam," gumamku tanpa membuka mata.

Beruang itu mendengus, embusan napas panasnya menerpa wajahku yang kini tirus namun bercahaya. Ia seolah bisa merasakan bahwa di dalam tubuh kecil yang kurus ini, sedang terjadi badai energi yang luar biasa dahsyat.

Hari Kesembilanpuluh Sembilan.

Ki Kusumo datang membawa sekeranjang ubi madu yang baru saja dibakar. Aromanya... luar biasa. Gurih, manis, dan menggoda setiap saraf di otakku.

"Qinar, lihat ini," ia memecah ubi itu tepat di depan hidungku. Uapnya mengepul cantik. "Satu gigitan saja. Kau sudah bertahan sembilan puluh sembilan hari. Satu hari lagi tidak akan ada bedanya, kan? Makanlah, kau terlihat seperti kerangka berjalan."

Aku perlahan membuka mataku. Manik mataku yang berwarna perak menatapnya dengan tenang. Tidak ada gejolak nafsu di sana.

"Kau terlihat lebih lapar daripada aku, Ki," sahutku pelan. Suaraku kini lebih berat, lebih berwibawa. "Makanlah ubi itu. Aku sedang menikmati hidangan yang lebih mewah: energi langit dan bumi."

Ki Kusumo tertegun. Ia terdiam lama, lalu menghela napas panjang dan membuang ubi itu ke jurang. "Kau benar-benar bukan manusia lagi, Qinar."

Hari Keseratus.

Saat fajar menyingsing di ufuk timur, sebuah getaran hebat muncul dari pusat jiwaku. Bukan lagi dari otot atau tulang, tapi dari inti keberadaanku.

DUG!

Jantungku berdegup sekali, tapi suaranya menggema ke seluruh Puncak Mahkota. Tanda merah di pergelangan tanganku memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan, merambat naik ke lengan, bahu, hingga membentuk tato cahaya di leherku.

"Haaaaaa...."

Aku mengembuskan napas. Udara yang keluar dari mulutku bukan lagi sekadar uap, melainkan gelombang energi transparan yang membelah kabut di depanku.

Aku berdiri perlahan. Tubuhku yang tadinya kurus kering mendadak mengembang kembali. Tulang-tulangku berderak, tumbuh lebih panjang dan kuat. Aku merasakan tinggi badanku bertambah drastis. Jubah ramiku yang lama kini terasa sesak dan menggantung di atas mata kaki.

Aku melihat tanganku. Kulitku kini memancarkan aura emas tipis yang stabil.

"Level 5..." bisikku.

Aku menatap sebuah pohon pinus yang jaraknya sepuluh meter dariku. Tanpa bergerak, aku hanya menjentikkan jari di udara.

Wush! Sret!

Sebuah pisau energi transparan melesat dari ujung jariku, memotong batang pohon itu dengan sekali tebas. Pohon itu tumbang tanpa aku perlu menyentuhnya sedikit pun. Itulah Tahap Manifestasi Qi.

"Luar biasa," Ki Kusumo berjalan mendekat, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—bangga, sekaligus sedikit takut. "Sembilan tahun... dan kau sudah mencapai Level 5. Tahap di mana energi tubuhmu bisa mewujud di dunia nyata."

Ia memegang bahuku, merasakan kepadatan ototku yang kini setara dengan sumsum berlian. "Kau sudah lulus, Qinar. Kau bukan lagi monster gunung. Kau adalah badai yang sedang menunggu waktu untuk dilepaskan."

Aku menatap ke arah utara, ke arah Kerajaan Geedapa yang tersembunyi di balik awan. Di sana, ayahku sedang menggerakkan pion-pionnya. Ia tidak tahu bahwa salah satu pion yang ia buang kini telah tumbuh menjadi sesuatu yang tak bisa ia kendalikan.

"Ki," panggilku.

"Apa, Bocah?"

"Aku siap. Mari kita hancurkan papan catur itu."

1
Sport One
salah fokus🤣 sama kalimat ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!