NovelToon NovelToon
Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!

Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Transmigrasi ke Dalam Novel / CEO / Anak Genius / Fantasi Wanita / Balas Dendam
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
​Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
​Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
​Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
​Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
​Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Penantian Enam Belas Tahun

Suasana di dalam mobil mewah yang membawa kami pulang dari pelelangan terasa begitu pekat. Liam tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemariku sedetik pun. Ia diam, namun napasnya yang berat dan tatapannya yang sesekali mencuri pandang ke arahku menunjukkan badai yang sedang berkecamuk di dalam dirinya.

Begitu pintu mansion Alexander tertutup di belakang kami, kesunyian malam seolah menelan semua suara. Para pelayan sudah beristirahat, menyisakan lampu temaram di lorong menuju kamar utama.

"Blair," suara Liam terdengar parau saat kami sampai di depan pintu kamar.

Aku berbalik, menatap matanya yang hitam pekat. "Ya, Liam?"

[Jangan masuk ke kamar sendirian... kumohon. Malam ini kau begitu berbeda. Kau membelaku di depan Andreas, kau menolak Elodie, dan kau bilang kau milikku. Apakah aku boleh berharap lebih? Apakah malam ini aku tidak perlu tidur di sofa atau kamar tamu?]

Aku tersenyum tipis, meraih kerah jasnya yang mahal dan menariknya sedikit mendekat. "Kau masih ingin tidur di kamar tamu malam ini, Tuan Alexander?"

Liam menegang. Ia menelan ludah dengan susah payah, jakunnya naik turun. "Aku... jika kau mengizinkan."

"Masuklah," ucapku sambil membuka pintu kamar.

Di dalam kamar, aroma mawar dan maskulin bercampur menjadi satu. Liam melepaskan jasnya, menyisakan kemeja putih yang kini dua kancing atasnya sudah terbuka. Ia berdiri di dekat jendela, menatapku dengan tatapan yang sangat intens—tatapan seorang pria yang sudah sangat lapar akan kasih sayang selama belasan tahun.

Aku melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapannya. Tanganku terangkat, perlahan mulai membuka kancing kemejanya satu per satu.

"Blair, apa yang kau lakukan?" bisik Liam, suaranya bergetar hebat. Tangannya mencengkeram pinggiran meja rias di belakangnya untuk menahan diri agar tidak langsung menerjangku.

"Menjadi istrimu yang sebenarnya," jawabku jujur. "Maafkan aku karena membuatmu menunggu selama enam belas tahun, Liam."

Liam mematung. Matanya mulai berkaca-kaca.

[Enam belas tahun... aku menyentuh bayanganmu saja tidak berani. Setiap malam aku hanya bisa memandangimu dari jauh, takut kau akan berteriak jijik jika aku mendekat. Blair... apakah ini nyata? Kau benar-benar menginginkanku?]

Tanpa menunggu lagi, Liam menarik pinggangku dengan satu sentakan kuat, membuat tubuh kami menempel sempurna. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leherku, menghirup aroma tubuhku dengan rakus.

"Aku bisa gila, Blair... kau benar-benar ingin membunuhku," bisik Liam pelan sebelum bibirnya mendarat di leherku, memberikan kecupan-kecupan panas yang membuat bulu kudukku meremang.

Aku mengerang pelan, tanganku merambat ke rambutnya yang tebal, menariknya agar ia menatapku. Saat mata kami bertemu, aku melihat api obsesi dan cinta yang sudah dipendam begitu lama.

"Sentuh aku, Liam. Jangan biarkan aku menyesali keputusanku malam ini," tantangku dengan suara serak.

Liam tidak butuh perintah kedua. Ia mengangkat tubuhku dengan mudah, membawaku menuju ranjang besar di tengah ruangan. Saat punggungku menyentuh seprai sutra yang dingin, tubuh panas Liam langsung mengurungku.

Ciumannya kali ini tidak lagi ragu-ragu. Begitu menuntut, penuh kerinduan, dan rasa posesif yang luar biasa. Setiap sentuhan tangannya di kulitku seolah-olah sedang menandai wilayah kekuasaannya.

[Milikku. Kau milikku. Akhirnya... jantungmu berdetak untukku. Aku tidak akan membiarkan pria manapun menyentuh kulit ini lagi. Aku akan mencintaimu sampai kau memohon padaku untuk berhenti, Blair. Aku tidak akan melepaskanmu... tidak akan pernah.]

Malam itu, di bawah cahaya bulan yang masuk melalui celah gorden, dinding pertahanan yang dibangun Blair asli selama enam belas tahun runtuh total. Tidak ada lagi kebencian, tidak ada lagi rasa dingin. Yang ada hanya dua jiwa yang saling merengkuh dalam gairah yang meledak-ledak.

Liam memperlakukanku seolah-olah aku adalah porselen yang sangat berharga sekaligus mangsa yang harus ia miliki sepenuhnya. Suara hatinya tidak lagi berisik dengan keraguan, melainkan penuh dengan pemujaan.

[Terima kasih... terima kasih sudah memberiku kesempatan ini. Aku mencintaimu, Blair. Sangat mencintaimu sampai rasanya nyawaku pun tidak cukup untuk membayar malam ini.]

Saat fajar hampir menyingsing, aku tertidur di dalam pelukan posesif Liam. Kepalaku bersandar di dadanya yang bidang, mendengarkan detak jantungnya yang perlahan mulai stabil. Pria ini... Tuan Alexander yang kejam ini, ternyata memiliki cinta yang begitu tulus di balik topeng esnya.

Dan aku tahu, setelah malam ini, tidak ada lagi jalan kembali ke alur novel Elodie. Aku sudah menciptakan naskahku sendiri.

1
umie chaby_ba
jadi mau Lo apa heh maxim??? kudu nya si Blair Sama Liam gituan didepan mata Lo?
Ariska Kamisa: oopsss.. 🤭🤭🤭🤭
sabar kak.. maxim lagi menguji kesabaran Blair dan Liam 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
kan ga jadi cerai iiihh... Maxim ngeselin!
Ariska Kamisa: iyah Maxim ini resek yaa 🤭🤭🤭
total 1 replies
Ariska Kamisa
ceritanya ini tentang transmigrasi gitu yaa...
semoga bisa menghibur semuanya...
umie chaby_ba
waduh... ada LG aja nih musuhnya /Shy/
umie chaby_ba
kasian banget nasib penulis 🤣🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
good job Axelle👍👍👍👍👍
umie chaby_ba
Elodie pengen banget si Blair mati kayanya 🫣
umie chaby_ba
Axelle lucu nih pembela mama nya banget
umie chaby_ba
ngeselin Liam /Panic/
umie chaby_ba
sweet banget🤭🤭🤭
umie chaby_ba
bagus Blair....
umie chaby_ba
bagus Axelle 👍👍👍
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/
umie chaby_ba
Adeline pelakor
umie chaby_ba
dih bimbang sih Liam /Sleep/
umie chaby_ba
penulis emang seenaknya sih 🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: aku dong....🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
wow ada karakter baru nih
umie chaby_ba
sang penulis dibuat ketar-ketir 🫣
Ariska Kamisa: iyah hehehe
total 1 replies
umie chaby_ba
so sweet😍
umie chaby_ba
penulisnya kewalahan
Ariska Kamisa: terimakasih kak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
wwiihh keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!