Celina Andreas dijuluki sebagai bawang merah begitu tergila-gila dengan seorang pria sehingga berbagai cara ia lakukan buat menaklukkan hati sang pria incarannya. Meskipun pria itu mencintai adik tirinya.
Berhasilkah Celina menjadi istrinya atau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 9
Elma pun memasang wajah pura-pura senang, "Oh, tentunya, Kak!"
"Kalian janjian di sini?" tuding Celina memperhatikan keduanya secara bergantian.
"Tidak, Kak. Kebetulan kami bertemu di sini, tidak sengaja," Elma membantah.
"Oh, aku pikir kalian sengaja membuat janji!" Celina tersenyum.
"Tidak mungkin aku mengajak suami Kak Celin bertemu. Itu sama saja aku membuat rumah tangga kalian jadi salah paham," kata Elma.
"Syukurlah kalau kau memang pintar memahaminya!" singgung Celina.
"Mau apa kau ke sini?" Azka tanpa basa-basi bertanya.
"Aku bosan di rumah, jadi coba main ke kafe ini. Eh, ternyata bertemu kalian di sini," jawab Celina berbohong.
"Wah, kebetulan yang sangat tepat sekali, ya!" kata Elma.
"Ya, begitulah!" ucap Celina tersenyum. "Kalian sudah pesan makanan?"
"Belum, Kak. Tapi, aku minum saja. Lagi buru-buru!" kata Elma tak lama berselang pesanan dia pun datang.
Pandangan Celina beralih ke Azka, "Kamu tidak mau makan?" tanyanya dengan lembut.
"Tidak," jawab Azka ketus.
"Hmm.. kalau begitu biar aku saja yang memesan makanan!" Celina lalu memanggil pelayan.
"Kau serius memesan begitu banyak?" Azka bertanya setelah pelayan pergi karena istrinya itu memesan 5 porsi makanan.
"Ya, aku mau makan semuanya. Lagian kamu 'kan yang membayarnya," jawab Celina tersenyum.
"Tidak masalah, tapi apa kau sanggup menghabiskannya?" tanya Azka lagi.
"Tenang saja, aku akan menghabiskannya," jawab Celina melirik adik sambungnya.
Selang 15 menit kemudian, satu persatu pesanan Celina tersaji di meja. Celina lalu menoleh ke arah Elma. "Kau tidak jadi pulang?" sindirnya.
"Iya, Kak. Ini aku mau pulang!" Elma bergegas bangkit, ia menatap sekilas Azka yang ada dihadapannya.
"Ya, hati-hati!" ucap Celina tanpa menatap sebab dirinya mulai menyantap makanannya.
Elma pun berlalu.
Azka menoleh ke arah istrinya yang sedang menikmati makanan. "Celina, jangan buat aku malu karena tingkahmu itu!" tegurnya.
"Memangnya apa yang aku lakukan sehingga kau merasa malu?" Celina mendongakkan wajahnya menatap suaminya.
"Aku tahu kau tidak makan sebanyak ini!" kata Azka.
"Apa salah aku makan sebanyak ini? Aku menyukai makanan yang ada di kafe ini!"
"Tapi, kau sudah membuatku malu. Seperti orang yang tak pernah makan beberapa hari. Bagaimana jika tubuhmu melebar?" singgung Azka.
"Kau 'kan sekarang telah menjadi suamiku. Jadi, tak perlu lagi aku menjaga berat tubuhku!" kata Celina tersenyum.
"Aku tidak suka kau menjadi gendut!" ucap Azka terus terang.
"Kau serius? Apa kau sebenarnya sedang perhatian denganku?" sindir Celina.
"Aku sama sekali tidak perhatian, jangan besar kepala. Kau adalah istri dari pengusaha terkenal, bagaimana tanggapan orang lain jika melihat penampilanmu yang sangat buruk?" singgung Azka.
Celina tertawa getir mendengarnya.
"Cukup hari ini kau makan sebanyak ini!" Azka memberikan peringatan.
"Bagaimana jika aku benar-benar hamil anakmu? Apa kau akan marah padaku karena tubuhku menjadi besar?" Celina balas menyindir.
"Jangan pernah bermimpi, Celina!" Azka menyandarkan punggungnya dan melipat kedua tangannya.
-
Dua jam kemudian, keduanya tiba di rumah. Azka terpaksa menunggu istrinya selesai menyantap makanannya di kafe. Padahal dia berniat ingin meninggalkan wanita itu sendirian, tapi ia tak mau ditegur oleh kedua orang tuanya.
Di kamar Celina mengelus perutnya karena kekenyangan. Ini pertama kali dia makan sebegitu banyak setelah 5 tahun berlalu. Dirinya mulai menjaga kesehatan dan bentuk tubuh untuk membalas perbuatan ibu tiri dan adik sambungnya.
"Sepertinya besok aku harus menambah jam olahraga!" gumamnya.
Sementara itu, Azka duduk di pinggir ranjang. Ia mengacak rambutnya, rencana ke kafe untuk menenangkan diri dan mengobrol dengan Elma jadi gagal sebab kehadiran Celina.
"Bagaimana dia selalu tahu di mana posisiku? Apa sebenarnya dia menyewa agen mata-mata?" batinnya.
****
Besok paginya, Celina tak menyiapkan sarapan untuk suaminya. Sia-sia juga karena Azka juga tak mau menyantapnya.
Azka berjalan menuju ruang makan, di meja masih tampak kosong. Ia lalu menanyakan kepada salah satu pelayan keberadaan istrinya.
"Nona Celina sudah pergi sepuluh menit lalu, Tuan."
"Ke mana? Ke kantor?"
"Sepertinya tidak, Tuan. Karena Nona Celina memakai pakaian gym."
Azka mengernyitkan keningnya.
"Apa Tuan ingin makan sesuatu biar saya buatkan?"
"Tidak usah. Saya sarapan di luar saja," kata Azka kemudian berlalu.
-
Selang 15 menit, mobil yang dikendarai Azka telah berada di jalanan. Ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan pelan sembari memikirkan makanan apa yang ingin dimakannya. Tanpa sengaja matanya tertuju ke arah mobil milik istrinya.
Azka lalu memutuskan menghentikan laju kendaraannya di tempat itu. Dia ingin mengetahui apa saja kegiatan Celina dan berniat mencari cara menghancurkan istrinya itu.
Azka turun, berdiri sejenak memperhatikan bangunan itu. Ia kemudian masuk dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan istrinya. Dari kejauhan, ia dapat melihat Celina sedang menggunakan salah satu alat. Di sebelah berdiri seorang pria dengan tubuh kekar dan wajah rupawan. Entah mengapa perasaan Azka jadi kesal apalagi Celina tampak bahagia mengobrol dengan pria itu.
Azka lalu bergegas meninggalkan tempat tersebut. Celina yang mengetahui suaminya berada di tempat yang sama dengannya menoleh ke belakang lalu tersenyum. Ia tak tahu alasan suaminya mengikutinya tapi itu saja sudah membuatnya merasa senang.
"Dia lebih cocok dengan pria itu, kenapa mereka tak menikah saja?" gumam Azka kesal.
Azka melajukan mobilnya ke restoran yang menyediakan sarapan pagi. Tak lupa ia mengajak Elma bertemu. Tanpa menolak, Elma pun tiba beberapa menit kemudian.
"Apa kau pernah mendengar Celina dekat dengan seseorang?" tanya Azka penasaran.
Elma menggelengkan sebagai jawaban.
"Apa dia tidak punya teman atau sahabat seorang pria?" tanya Azka lagi.
"Ada, sih, tapi dia tidak tinggal di negara ini. Mereka berteman sejak sekolah," jawab Elma.
"Siapa namanya dan dia tinggal di negara mana?" cecar Azka.
"Aku tidak tahu," jawab Elma lagi. "Kenapa, sih, kamu menanyakan pria yang dekat dengannya? Apa kamu mulai cemburu?" Elma balik bertanya dan mulai sedikit kesal.
"Aku ingin menjebaknya dan membuat kedua orang tuaku kecewa lalu menyuruh kami mengakhiri pernikahan," jawab Azka menjelaskan ide gilanya.
Elma diam sejenak mencerna jawabannya Azka hingga akhirnya dia pun setuju.
"Aku tak tahu teman-temannya, aku cuma tahu sahabat dekatnya. Tapi, dia tak tinggal di sini," kata Elma.
"Siapa dia?" Azka penasaran.
"Sahabatnya seorang wanita, kebetulan bekerja dan tinggal di luar negeri juga. Nama negaranya aku tak tahu, pastinya dia sangat dekat dengan itu orang," kata Elma lagi.
"Apa kamu pernah berkomunikasi dengannya?" tanya Azka kembali.
Elma menggelengkan kepalanya.
"Kalian sama sekali tak pernah bicara jika bertemu di suatu acara?" Azka terus bertanya.
"Tidak. Dia sama seperti Celina. Sombong dan angkuh!" jawab Elma mengingat pertemuan mereka 3 tahun lalu, ia sempat melemparkan senyuman namun wanita itu tak membalasnya.
"Pantas saja mereka bersahabat!" kata Azka.
"Ya, begitulah."
"Jika aku berhasil memfitnahnya, kita bisa menjalani hubungan tanpa rahasia!" kata Azka membayangkan Elma menjadi kekasihnya.
"Semoga saja kita berhasil, aku tak mau dinilai sebagai wanita perebut suami orang!" ucap Elma berharap.
"Bantu aku buat menghancurkannya!" pinta Azka tersenyum seringai, dalam pikiran ia membayangkan Celina menangis menyesali perbuatannya dan kedua orang tuanya menjadi sangat membencinya.