Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.
Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.
bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Keheningan yang menyelimuti ruang tamu rumah keluarga Widanata terasa begitu pekat, seolah-olah oksigen di ruangan itu mendadak menipis. Alisa masih berdiri mematung di anak tangga terakhir, jemarinya meremas pinggiran kebayanya hingga buku-buku jarinya memutih. Di seberangnya, pria yang seminggu lalu mendekapnya dengan begitu protektif di lorong supermarket, kini berdiri dengan kemeja batik yang membuatnya tampak jauh lebih dewasa dan berwibawa, namun tetap dengan tatapan tajam yang sama.
"Alisa, ayo duduk, Nak. Kenapa malah melamun di sana?" suara Bunda Ratna memecah kekakuan itu.
Alisa tersentak. Ia memaksakan sebuah senyum tipis yang tampak sangat tidak alami, lalu melangkah menuju sofa tunggal di samping bundanya. Matanya sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan Vino, namun ia bisa merasakan sepasang mata elang itu terus mengawasinya.
"Maafkan anak saya, Jeng Ratna," Mama Sari tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Vino ini memang sulit kalau disuruh dandan rapi. Tadi saja di rumah harus pakai acara debat dulu baru mau pakai batik ini."
"Ah, tidak apa-apa, Jeng Sari. Alisa juga sama, biasanya cuma pakai snelli atau baju tidur kalau habis jaga malam," balas Bunda Ratna.
Papa Hendra berdehem, menarik perhatian semua orang. "Jadi, sepertinya anak-anak kita sudah pernah bertemu sebelumnya? Vino, Papa tidak tahu kamu sudah mengenal dokter Alisa."
Vino mengalihkan pandangannya ke arah papanya. Suaranya terdengar datar namun tegas. "Hanya insiden kecil di supermarket minggu lalu, Pa. Ada copet, dan kebetulan kami berada di lokasi yang sama."
"Insiden kecil?" Maura menyela dengan nada jahil. "Bang, kamu hampir membuat mbak dokter ini jatuh ke lantai kalau tidak kamu tangkap. Itu bukan insiden kecil, itu namanya takdir yang sedang bekerja!"
Wajah Alisa memanas. Ia merasa ingin sekali menghilang dari ruangan itu sekarang juga. Sementara itu, Vino hanya memberikan tatapan maut pada adiknya, yang justru dibalas Maura dengan cengiran tanpa dosa.
"Wah, kalau begitu ini memang sudah jalannya," Bunda Ratna tampak sangat senang. "Alisa, kenapa kamu tidak cerita kalau sudah bertemu dengan nak Vino?"
"Alisa... Alisa tidak tahu kalau itu Mas Vino, Bun. Dia tidak menyebutkan namanya saat itu," jawab Alisa pelan, suaranya nyaris berbisik. Ia menggunakan sebutan 'Mas' karena tuntutan sopan santun di depan orang tua, meski rasanya sangat aneh di lidahnya.
Pertemuan pun berlanjut ke arah yang lebih formal. Papa Hendra mulai menceritakan tentang persahabatannya dengan almarhum ayah Alisa, Ayah Surya. Mereka dulu adalah rekan sejawat di kepolisian yang sangat akrab, hingga sebuah tragedi kecelakaan memisahkan mereka.
"Surya adalah orang yang hebat. Kami pernah berjanji, jika suatu saat anak-anak kami sudah dewasa, kami ingin mereka bersatu. Saya tahu ini terdengar sangat kuno di zaman sekarang, tapi melihat Vino yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, dan Alisa yang merupakan putri dari sahabat terbaik saya... saya rasa ini adalah cara terbaik untuk menjaga janji itu," ujar Papa Hendra dengan nada emosional.
Vino mendengarkan dengan rahang yang mengeras. Ia menghormati ayahnya, sangat menghormatinya. Namun, kata 'janji' dan 'perjodohan' terasa seperti belenggu yang mencekik lehernya. Ia melirik Alisa. Gadis itu menunduk dalam, tampak seperti seseorang yang sedang pasrah menerima vonis hakim.
"Bagaimana menurutmu, Vino?" tanya Papa Hendra tiba-tiba.
Vino terdiam sejenak. Ia menatap kedua orang tuanya, lalu beralih ke Bunda Ratna yang menatapnya dengan penuh harap. Terakhir, matanya tertuju pada Alisa. Ia tahu, jika ia menolak sekarang, ia akan melukai perasaan banyak orang, terutama ayahnya yang sedang dalam masa pemulihan setelah operasi jantung tahun lalu.
"Jika ini keinginan Papa dan Mama, saya akan menjalaninya," jawab Vino singkat. Kalimat itu bukan jawaban seorang pria yang sedang jatuh cinta, melainkan jawaban seorang prajurit yang menerima misi dari komandannya.
Mama Sari dan Bunda Ratna tampak lega luar biasa. Mereka mulai membicarakan detail kecil, mulai dari pertunangan hingga rencana pernikahan yang diinginkan segera.
"Tapi, Bun..." Alisa akhirnya memberanikan diri bicara. "Apa tidak terlalu cepat? Alisa dan Mas Vino bahkan belum benar-benar bicara berdua."
"Betul kata Alisa," Mama Sari menyetujui. "Vino, kenapa kamu tidak mengajak Alisa bicara di teras? Biar kami para orang tua yang melanjutkan obrolan serius ini."
Vino berdiri lebih dulu. "Mari," katanya pada Alisa, tanpa menunggu jawaban.
Alisa mengikuti langkah lebar Vino menuju teras samping yang asri. Udara malam Jakarta yang lembap menyambut mereka. Suara jangkrik di taman kecil Bunda Ratna menjadi satu-satunya latar belakang suara saat mereka berdua berdiri dengan jarak sekitar satu meter.
Vino menyandarkan tubuhnya pada pilar teras, melipat tangannya di dada. Ia melepas kancing teratas kemeja batiknya, seolah-olah ia baru saja bisa bernapas lega setelah keluar dari ruang tamu.
"Jadi," Vino memulai pembicaraan tanpa basa-basi. "Dokter Alisa Widanata. Kamu punya pacar?"
Alisa terperanjat dengan pertanyaan langsung itu. Ia menoleh ke arah Vino, matanya berkaca-kaca karena tekanan emosional sepanjang malam ini. "Kenapa Mas bertanya seperti itu?"
"Karena aku tidak suka drama," jawab Vino dingin. "Jika kamu punya pria lain, katakan sekarang. Aku tidak ingin masuk ke dalam hubungan yang isinya hanya tangisan untuk pria lain. Aku punya cukup banyak masalah di kepolisian, aku tidak butuh masalah tambahan di rumah."
Alisa mengepalkan tangannya. "Mas Vino sangat tidak sopan. Apa Mas pikir aku menginginkan perjodohan ini? Mas sendiri, apa Mas tidak punya wanita lain yang Mas cintai? Kenapa Mas langsung setuju begitu saja?"
Vino menatap langit malam yang mendung. "Aku tidak punya waktu untuk cinta. Bagiku, pernikahan ini adalah tugas. Papa saya ingin ini terjadi, dan aku akan melakukannya sebagai bentuk baktiku. Sederhana."
"Tapi hidup tidak sesederhana itu!" suara Alisa sedikit meninggi. "Aku punya seseorang. Namanya Raka. Kami sudah bersama selama dua tahun. Tapi Bunda melarang kami tanpa alasan yang jelas. Dan sekarang, Bunda memaksaku menikah dengan Mas hanya karena janji masa lalu yang bahkan aku tidak tahu pernah ada."
Vino menoleh sepenuhnya ke arah Alisa. Ekspresinya sedikit melunak saat melihat setetes air mata jatuh di pipi gadis itu. "Raka? Pria yang tidak berani datang ke rumahmu untuk memperjuangkanmu di depan ibumu itu?"
Alisa tersentak. "Mas tidak tahu apa-apa tentang dia!"
"Aku tahu satu hal," potong Vino. "Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, dia tidak akan membiarkanmu duduk di sini, dijodohkan dengan pria asing, sementara dia hanya bersembunyi di balik pesan singkat. Itu pengecut namanya."
Alisa terdiam. Kalimat Vino menghantamnya tepat di ulu hati. Memang benar, Raka cenderung menghindari konflik dengan Bundanya. Raka selalu bilang 'sabar', 'tunggu waktu yang tepat', tapi waktu itu tidak pernah datang hingga malam ini tiba.
"Dengar, Alisa," suara Vino kini lebih rendah. "Aku juga tidak bahagia dengan ini. Aku punya masa lalu yang belum selesai. Aku punya luka yang mungkin tidak akan pernah sembuh. Tapi aku melihat Papa dan Mama saya. Mereka sangat berharap. Aku tidak bisa menghancurkan hati mereka."
Alisa menghapus air matanya dengan punggung tangan. "Lalu kita harus bagaimana? Menikah tanpa perasaan? Menjalani hidup seperti dua orang asing di bawah satu atap?"
Vino melangkah satu tindak lebih dekat. "Kita buat kesepakatan. Kita jalani ini untuk orang tua kita. Kita tidak perlu menjadi pasangan romantis seperti di film-film. Aku akan memberikanmu kebebasan, selama kamu menjaga kehormatan keluargaku. Dan aku berharap hal yang sama darimu."
"Kesepakatan?" Alisa menatap pria itu dengan ragu.
"Ya. Satu tahun. Kita coba jalani selama satu tahun. Jika setelah satu tahun kita tetap merasa seperti ini, kita akan bicara pada orang tua kita bahwa ini tidak berhasil. Adil?"
Alisa menimbang-nimbang. Satu tahun. Itu waktu yang cukup lama, tapi setidaknya ada cahaya di ujung terowongan. Ia tidak perlu merasa bersalah karena mengkhianati Bundanya sekarang, tapi ia juga tidak terikat selamanya jika memang tidak ada kecocokan.
"Apa Mas yakin?" tanya Alisa.
"Aku selalu yakin dengan apa yang aku katakan," jawab Vino mantap.
Tepat saat itu, Maura muncul di pintu teras dengan wajah ceria. "Hai, dua sejoli! Maaf mengganggu, tapi mama bilang sudah waktunya pamit. Mas sudah dapat nomor telepon Mbak Dokter, kan?"
Vino mendesah, merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Ia menyodorkannya pada Alisa. "Masukkan nomor teleponmu. Aku akan menghubungimu untuk membahas teknis... pertunangan."
Alisa menerima ponsel itu dengan tangan gemetar. Ia mengetikkan nomornya, lalu mengembalikannya pada Vino. Saat jemari mereka bersentuhan sesaat, ada aliran listrik statis yang membuat keduanya sedikit terperanjat, namun mereka segera menyembunyikannya.
"Ayo, Ra. Pulang," ajak Vino pada adiknya.
Sebelum pergi, Vino menatap Alisa sekali lagi. "Dokter Alisa, jangan menangis lagi. Mata sembap tidak cocok untuk seorang dokter yang harus melayani pasien."
Vino berbalik dan berjalan menuju ruang tamu untuk berpamitan, meninggalkan Alisa yang masih terpaku di teras.
Malam itu, setelah keluarga Narendra pulang, Alisa duduk di tepi tempat tidurnya. Kamarnya terasa sangat sunyi. Ia mengambil ponselnya dan melihat sebuah pesan dari Raka.
Raka: "Al, bagaimana pertemuannya? Aku harap kamu menolak mereka. Aku sedang berusaha bicara pada Ibuku agar bisa melamar kamu secepatnya."
Alisa hanya menatap pesan itu tanpa keinginan untuk membalas. "Sedang berusaha?" bisiknya pedih. "Sudah dua tahun, Raka. Dan pria asing itu benar, kamu tidak pernah benar-benar ada di sini."
Ia teringat kembali pada Vino. Pria itu keras, dingin, dan bahkan kasar dalam bicaranya. Namun, ada kejujuran yang brutal dalam setiap kata-katanya. Vino tidak memberikan janji manis, ia memberikan realitas. Dan di dunia Alisa yang penuh dengan ketidakpastian, realitas—meskipun pahit—terasa sedikit lebih kokoh.
Di sisi lain kota, Vino sedang mengendarai motor besarnya membelah angin malam Jakarta. Ia sengaja tidak langsung pulang, memilih untuk memutar jalan menuju kawasan bundaran HI yang masih ramai.
Pikirannya melayang pada aroma Alisa saat di supermarket, dan bagaimana ekspresi gadis itu saat menangis di teras tadi. Ia merasa bersalah karena telah bersikap kasar, tapi ia tidak tahu cara lain. Di dunianya, kelemahan adalah musuh, dan ia tidak ingin Alisa menjadi kelemahannya yang baru.
Masa lalu adalah penjara, Vino, suara ayahnya terngiang di telinganya. Dan kunci penjara itu terkadang ada di tangan orang lain.
Vino mempercepat laju motornya. Ia tidak tahu apakah Alisa adalah kunci itu, atau justru penjara yang lebih baru. Satu yang pasti, dalam satu minggu ke depan, ia akan menyandang status baru sebagai tunangan seorang dokter.
"Satu tahun, Alisa. Mari kita lihat siapa yang akan menyerah lebih dulu," gumam Vino di balik helmnya.
Lampu-lampu Jakarta yang berwarna-warni memantul di kaca helmnya, mengiringi langkah pertama mereka menuju takdir yang sudah digariskan, namun masih penuh dengan rahasia yang tersembunyi.