Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.
Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____
Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19.
"Aslan... " lirih Alana, kakinya hampir luruh tak bertenaga, namun sepertinya Aslan bahkan tidak menghiraukan permohonan Alana. Suara dari bibir gadis itu hanya menambah suasana hati Aslan semakin memburuk—bukan karena marah, melainkan karena hasrat yang tertahan dan rasa ingin memiliki yang meledak-ledak di dadanya. Napasnya memburu, hangat menyentuh leher Alana yang mulai memerah, namun dengan sekuat tenaga ia menahan diri. Aslan sadar ia telah mencapai batas yang dibuat Alana, batas yang ia sendiri janjikan untuk dihormati.
Dengan perasaan sedikit kecewa bercampur lega, Aslan perlahan menjauhkan tubuhnya dari Alana, memberi ruang agar gadis itu bisa bernapas lega. Ia menatap manik coklat gadis itu yang kini sedang menunduk dan memejamkan matanya, seolah masih berusaha menata kembali detak jantung yang berantakan. Pipi Alana bersinar kemerahan, dan pemandangan itu membuat Aslan merasa seolah ia memenangkan sesuatu, namun sekaligus juga merasa tertahan oleh aturan main yang ia setujui sendiri.
"Alana, aku rasa .... Setelah hari ini aku ingin secepatnya menikah denganmu." ucapnya parau, jemarinya masih bermain lembut di antara rambut panjang Alana yang halus, seolah enggan untuk berhenti menyentuhnya. Matanya sedikit terpejam, menikmati sisa-sisa kehangatan yang masih tertinggal di udara di antara mereka, namun Aslan tahu, ia harus berhenti. Harus.
Alana perlahan membuka matanya, menatap wajah Aslan yang tampak diliputi kerinduan dan ketidaksabaran. Ia bisa melihat betapa tulusnya keinginan itu, namun juga betapa beratnya bagi pria itu untuk menahan diri demi janji yang telah diucapkan. Jantung Alana berdebar kencang, bukan karena takut, melainkan karena perasaan yang sama—rasa ingin menyatukan hidup yang semakin kuat seiring berjalannya waktu.
"Aslan," jawab Alana pelan, tangannya naik menutupi tangan pria itu yang masih berada di rambutnya. "Aku mengerti. Aku tahu perasaanmu dan aku melihatnya...." Suaranya lembut, namun ada getaran keyakinan di dalamnya. "Tapi ingat apa yang kita sepakati? Bahwa kita akan melakukannya ketika kita benar-benar siap, ketika kita sudah cukup mengenal satu sama lain hingga tidak ada lagi rahasia atau keraguan."
Aslan menghela napas panjang, membuka matanya dan menatap tajam ke manik mata Alana. "Bagaimana jika aku merasa sudah cukup mengenalmu? Bagaimana jika bagiku, setiap hari tanpamu sebagai istriku adalah hari yang sia-sia?" tantangnya dengan nada bercanda namun terselip kesungguhan yang dalam. Ia mendekatkan wajahnya lagi, namun kali ini hanya menyentuh kening Alana dengan keningnya, tidak berani melangkah lebih jauh.
Alana tersenyum kecil, tangannya bergerak memegang pipi Aslan yang kasar bulu halus yang mulai tumbuh di wajah Aslan membuat penampilan pria itu semakin mempesona dan matang n. "Karena bagiku, pernikahan bukan hanya tentang perasaan yang meluap-luap saat ini, Aslan. Itu tentang masa depan. Dan aku ingin masa depan kita sempurna. Aku ingin ketika kita akhirnya mengucapkan sumpah setia, kita berdua tahu bahwa kita sudah melewati semua keraguan dan ketakutan."
Aslan terdiam, membiarkan kata-kata itu meresap ke dalam hatinya. Ia tahu Alana benar, selalu benar dalam hal-hal yang mendasar ini. Kesabaran memang pernah menjadi hal yang sulit baginya, namun sejak mengenal Alana, ia belajar bahwa hal-hal yang paling berharga di dunia ini memang layak ditunggu.
"Kau selalu tahu cara membuatku sadar, Alana." gumam Aslan, akhirnya tersenyum lembut dan mencium telapak tangan Alana yang masih menempel di pipinya. "Baiklah, aku akan menahan keinginanku ini. Tapi ingatlah janjimu—jika suatu hari nanti kau merasa kita sudah cukup siap, kau harus memberitahuku lebih dulu. Jangan biarkan aku menunggu lebih lama dari yang diperlukan. Atau..... aku yang akan membuat keputusan." Nada bicara nya tenang dan dalam namun tidak dengan hatinya yang penuh keinginan dan ketidaksabaran.
"Aku janji," sahut Alana mantap.
Mereka tetap duduk berdekatan, menikmati kehadiran satu sama lain tanpa perlu kata-kata. Cahaya matahari sore mulai turun, memantulkan kilau keemasan dari permukaan Danau Jenewa di luar jendela kafe, menerangi wajah keduanya yang kini dipenuhi dengan harapan yang sama. Meskipun pernikahan belum akan terjadi besok atau lusa, mereka berdua tahu bahwa ikatan di antara mereka sudah semakin kuat, sekeras batu karang yang tidak mudah dihantam ombak.
"Ngomong-ngomong," Aslan memecah keheningan, suaranya kembali ceria dan penuh rencana. "Ayahku, Marcel, berencana datang ke Swiss minggu depan. Dia ingin bertemu denganmu secara resmi, setelah beberapa tahun tidak melihatmu, Nyonya Aslan Lenoir." Ujar Aslan membuat semburat merah di pipi gadis itu semakin sulit di hilangkan.
"Papa ingin membicarakan detail rencana kita—walaupun tanggalnya belum ditentukan. Dia sangat antusias mendengar keputusanmu, katanya dia sudah tahu sejak awal dari ayahmu."
Mata Alana membelalak sedikit, ada kilatan gugup yang muncul lagi di matanya. "Benarkah? Tuan Marcel akan datang?"
Aslan tertawa pelan melihat reaksinya, mencubit pipi gadis itu dengan lembut. "Jangan takut. Dia orang yang sangat baik, dan aku yakin dia akan menyukaimu sepertiku. Lagipula, ayahku sangat menginginkanmu bukan ?" Goda Aslan, cukup membuat Alana merasa terpuji.
"Dan... Sekarang kau punya aku di sampingmu, Alana. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan ayahku sendiri, membuatmu merasa tertekan lagi."
Alana mengangguk, rasa gugup itu perlahan berganti menjadi rasa aman. Ia menatap Aslan, pria yang dulu ia anggap sebagai ancaman bagi kebebasannya, kini menjadi tempat ia bersandar paling aman.
"Baiklah," ucap Alana dengan senyum yang semakin lebar. "Kalau begitu, mari kita bersiap. Mari kita tunjukkan pada keluarga kita, dan pada dunia, bahwa keputusan kita adalah keputusan yang tepat."
Aslan mengangguk setuju, lalu dengan hati-hati ia menggenggam tangan Alana, mengaitkan jari-jemari mereka erat-erat—sebuah janji bisu bahwa mulai saat ini, mereka akan berjalan beriringan, menghadapi apa pun yang akan datang, bersama-sama.