"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Pilihan di Ujung Jari
[POV: Vaya]
Aku menatap amplop cokelat di atas meja kerja butikku seolah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak. Celine, asistenku, masih berdiri di sana dengan raut wajah serba salah.
"Nyonya, apa perlu saya buang saja?" tanya Celine hati-hati. "Orang yang mengantarnya tadi... dia memakai jaket hitam dan topi. Dia tidak menyebutkan nama, hanya bilang itu 'titipan dari masa lalu'."
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungku yang menggila. "Nggak usah, Celine. Kamu bisa kembali ke depan. Tolong jangan biarkan siapa pun masuk dulu."
"Baik, Nyonya."
Setelah Celine keluar, ruangan desainku yang mewah itu terasa sangat mencekam. Aku meraih amplop itu. Dingin. Di dalamnya terasa ada benda keras, bukan sekadar kertas.
“Mama... jangan buka... itu hantu... hantu jahat...”
Suara hati Mici kembali terngiang. Suaranya terdengar sangat sedih, hampir menangis. Aku memejamkan mata erat-erat. Kenapa Mici bisa tahu? Apakah ikatan batin ini begitu kuat sampai dia bisa merasakan ancaman dari jarak bermil-mil?
"Mici sayang... Mama cuma mau tahu sedikit saja," bisikku pada udara kosong, mencoba meyakinkan diriku sendiri.
Aku merobek segel amplop itu. Isinya adalah sebuah flashdisk tua berwarna perak dan selembar foto usang. Aku mengambil fotonya terlebih dahulu. Jantungku mencelos.
Itu adalah foto masa SMA. Foto Narev yang sedang berdiri di belakang sekolah, namun penampilannya sangat berbeda. Bajunya berantakan, tangannya berlumuran darah, dan di depannya, seorang siswa laki-laki tergeletak tidak berdaya. Aku menutup mulutku dengan tangan. Siswa itu... aku mengenalnya. Dia adalah teman sekelasku yang tiba-tiba pindah sekolah setelah menyatakan cinta padaku di kelas 11.
"Jadi... Narev yang melakukan ini?" gumamku ngeri.
Aku segera mencolokkan flashdisk itu ke laptop. Isinya hanya satu file video pendek. Begitu diputar, rekaman buram CCTV menunjukkan Narev sedang mencekik Rian di koridor gedung tua—kejadiannya sepertinya baru beberapa tahun lalu.
“Kalau kau berani menyentuh Vaya lagi, aku tidak akan segan-segan menghapus namamu dari dunia ini, Rian. Kau pikir perjodohan ini kecelakaan? Tidak. Aku yang merancangnya. Aku yang memanipulasi perusahaan ayahmu sampai mereka tidak punya pilihan selain menyerahkan Vaya padaku!” suara Narev di video itu terdengar begitu bengis, begitu jauh dari Narev yang tadi pagi mencium keningku dengan lembut.
"Ya Tuhan..." aku menyandarkan punggungku ke kursi, merasa lemas.
...****************...
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Halo?" suaraku bergetar.
"Vaya, kau sudah lihat isinya?" Itu suara Rian. Suaranya terdengar sangat tenang, terlalu tenang. "Sekarang kau tahu, kan? Narev bukan pahlawanmu. Dia adalah monster yang menghancurkan masa mudamu, menghancurkan impianmu untuk bersamaku, hanya demi obsesinya. Video itu adalah bukti bahwa dia memanipulasi pernikahan kalian."
"Rian... kenapa kamu melakukan ini sekarang?" tanyaku, air mata mulai mengalir.
"Karena aku mencintaimu, Vaya. Aku ingin menyelamatkanmu sebelum Narev benar-benar membuatmu 'hilang' lagi. Temui aku sore ini di taman belakang butikmu. Sendirian. Aku akan membantumu keluar dari penjara ini."
Panggilan terputus.
Aku menatap layar laptop. Di satu sisi, ada bukti bahwa Narev adalah pria manipulatif yang menghalalkan segala cara. Di sisi lain, aku teringat Mici. Aku teringat hangatnya pelukan Narev saat Mici sakit.
...****************...
Brak!
Pintu ruanganku terbuka kasar. Aku tersentak dan refleks menutup layar laptop. Narev berdiri di sana. Napasnya memburu, matanya tertuju langsung pada amplop cokelat yang tergeletak di meja.
"Apa itu, Vaya?" suaranya rendah, namun penuh dengan getaran amarah yang tertahan.
"N-narev? Kenapa kamu di sini? Katanya ada rapat?" aku mencoba berdiri, menghalangi pandangannya dari laptop.
Narev melangkah maju, setiap langkahnya terasa seperti dentuman godam. Dia tidak menjawab pertanyaanku. Dia meraih amplop itu, lalu menatapku dengan tatapan yang sangat terluka.
"Aku sudah bilang, kan? Jangan ada rahasia," ucapnya parau. "Kenapa kau menerima barang dari bajingan itu lagi?"
"Ini bukan apa-apa, Narev! Cuma urusan butik—"
"Jangan bohong padaku, Anvaya!" bentak Narev hingga aku terlonjak. Dia menyambar flashdisk dari samping laptopku. "Kau pikir aku tidak tahu Rian mengirimkan orang ke sini? Kau pikir aku akan membiarkanmu melihat sampah ini?!"
"Narev, apa benar kamu yang membuat teman sekolah kita pindah karena kamu memukulinya?! Apa benar kamu yang memanipulasi perjodohan kita?!" teriakku balik, air mataku tumpah.
Narev terdiam. Rahangnya mengeras. Dia menatapku lama, lalu perlahan-lahan kemarahannya mereda, digantikan oleh ekspresi keputusasaan yang mengerikan. Dia menjatuhkan flashdisk itu ke lantai dan menginjaknya hingga hancur berkeping-keping.
"Iya," jawabnya pendek. "Aku melakukannya. Semuanya. Karena jika aku tidak melakukannya, kau tidak akan pernah melihatku, Vaya. Kau akan selalu melihat pria lain, dan aku tidak bisa membiarkan itu terjadi."
Aku terpaku. Pengakuannya terasa lebih menyakitkan daripada video tadi.
"Sekarang, ikut aku pulang," Narev mencengkeram pergelangan tanganku. Kali ini, cengkeramannya tidak lembut. "Kau tidak akan pernah keluar dari rumah lagi sampai kau mengerti bahwa tidak ada tempat yang lebih aman bagimu selain di sampingku."
"Lepas, Narev! Kamu benar-benar monster!" aku meronta, tapi dia tidak peduli.
Di sela isak tangisku, aku mendengar suara Mici lagi di kepalaku. Kali ini suaranya sangat lirih, seperti bisikan pelan yang sangat sedih.
“Mama... Papa nakal ya? Jangan benci Papa... Papa cuma takut sendirian...”
Aku berhenti meronta. Kalimat Mici menghujam jantungku. Takut sendirian? Benarkah monster ini sebenarnya hanya pria yang sangat kesepian dan ketakutan?
...****************...
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa