NovelToon NovelToon
Pembalasan Wanita Mandul

Pembalasan Wanita Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Poligami / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: WeGe

"Perempuan Mandul!" cerca Loretta melotot tajam.

"Ibu...." Amira tergugu, sakit hati ia mendengar teriakan sang mertua.

"Kenapa? Kalian sudahenikah 10 tahun, tapi tak kunjung punya anak, kalau bukan mandul apa namanya, Hah?!"

Di sudut ruangan, Beni hanya tertunduk diam, tak berniat mendekati atau menghibur istrinya.

"Atau jangan-jangan kau sengaja minum pil ya, biar nggak hamil?" Loretta tak henti menyudutkan Amira, berdiri bersedekap membelakangi menantunya itu. "Pergi dari sini, Besok pagi Beni harus menikah dengan wanita lain pilihan ibu!"

........

Pernikahan bukan hanya tentang hidup bersama, tapi juga tentang bagaiman abertahanbbersama, setia sekata dalam menghadapi setiap ujian.

Loretta, mertua yang kejam, tak segan menjebak dan menjatuhkan Amira hanya untuk memisahkannya dengan Beni yang notabene adalah putranya sendiri.

Mampukah Amira pergi menanggung tuduhan yang menyakitkan? akankah ia kembali untuk membalas perlakuan keluarga suaminya?

happy reading ya🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WeGe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mertua Licik

Beberapa menit sebelumnya,

Loretta melihat sebuah taksi terparkir di depan rumah putranya, maka ia sengaja melewati taksi itu.

Loretta membuka grup chatnya. Entah bagaimana dia begitu mudah berteman baik dengan beberapa ibu tetangga dekat Amira.

—Tolong, sepertinya ada pencuri di rumah putraku—

Sebuah pesan ia kirimkan, dan mendapat respon cepat dari anggota grup yang notabene adalah ibu-ibu nyinyir yang suka cari muka pada pengusaha kaya seperti Loretta. Ya, alasannya tak jauh dari, dapet barang bekas brandednya aja udah bersyukur, dapet traktiran setiap hari, atau berharap diajak jalan-jalan ke mall atau jika mungkin keluar negri. (ngimpi)

Firasatnya benar, Amira berani kembali ke rumah itu. Loretta yang telah siap dengan skenarionya, sengaja membiarkan Amira kalap dan menyerangnya terlebih dahulu.

"Amira dengar ya, semua orang yang menikahkan putra atau putrinya itu, berharap memiliki keturunan, jadi jika kamu tak bisa memberikan itu, ya tahu dirilah, jangan malah kurang ajar sama mertuamu!" tuduh Bu Ani.

"Eh, lihat-lihat, ini kan Amira, menjijikkan sekali kelakuanmu!" cerca Bu Rum setelah melihat video yang dibagikan Loretta di grup obrolan mereka.

"Baru tahu ya, memang menjijikkan tingkahnya, ah eh oh ngangkang sama semua pria. Sudah bagus Bu Retta nggak laporin tingkahnya ke keluarganya, malah berani mencekik mertua baik kayak Bu Retta."

"Iya ih, dasar nggak tahu diri, pelacur! Mentang-mentang mandul! Kena karma penyakitan baru tahu rasa!"

"Tidak! Itu bukan—" teriak Amira berusaha membela diri.

"Cuh!" Beberapa ibu meludah tepat di depan Amira.

"Usir dia dari kampung ini!"

"Benar, bikin malu saja!"

Teriakan-teriakan kasar disertai ludahan dan tatapan jijik penuh penghakiman tertuju pada Amira yang hanya bisa tertunduk, meremas baju lusuhnya. Semua tudingan buruk mendarat untuknya tanpa memberinya kesempatan untuk membela diri.

"Pergi sebelum kau habis di sini! Amit-amit punya tetangga perek!"

Tak ada pilihan untuk Amira, ia lari menyelamatkan diri, menuju kembali ke dalam taksi.

Brak!

Amira berlari tanpa peduli sekitar, tanpa ia sadari, sebuah mobil melaju cepat dan menabrak tubuhnya, membuatnya terpental lalu jatuh terguling di tanah beberapa kali.

Seorang pria keluar tergesa. "Maaf, Bu!" seru pria itu bergegas menghampiri Amira.

"Jangan sentuh, Mas! Najis kamu nanti!" seru Bu Nia.

"Bener, kalau perlu tabrak aja sekalian, dia itu aib buat kampung ini!" imbuh Bu Rum dari teras rumah Beni.

Amira bangun perlahan, masih tertunduk menyembunyikan wajahnya. Ia meringis kesakitan, berusaha menghapus kotoran tanah di bajunya.

Sungguh malang nasibnya, sudah habis dipermalukan Loretta, didiserahkan para para pria maniak seks, masih juga harus mengalami kemalangan lagi.

Amira celingukan, mencari taksi yang tadinya masih terparkir tak jauh dari rumah Beni. "Bahkan sopir taksi pun meninggalkanku! Kini aku memang sekotor itu!"

Amira berjalan tanpa alas kaki, lunglai tanpa daya. Sembarang melangkah tanpa tujuan. Wajahnya kusut, penampilannya lusuh. Sekujur tubuh dan hatinya sudah hancur, ditambah beberapa luka lecet di siku dan lututnya akibat tertabrak mobil tadi.

Tin!

Beberapa kali ia disemprot pengemudi dengan klakson kencang dan makian kasar, saat Amira berjalan tak seimbang dan sedikit limbung. Semangatnya kembali padam, ia kehilangan tujuan hidup. "Matipun tak akan ada yang menangisiku!" ucapnya pilu.

Dari jarak yang tak disadari Amira atau siapapun, ada sepasang mata yang mengawasi langkah wanita malang itu. Bukan untuk melindungi, tapi membayangkan tubuh mulus, dan gerakan menggairahkan dari wanita yang pernah ditidurinya. "Malam ini, kau akan jatuh lagi ke pelukanku, setelah itu kau tak akan bisa kemana-mana!"

—Awasi dulu, jika dia macam-macam dengan putraku, habisi saja! Tapi ingat jangan meninggalkan jejak!—

Pesan yang dikirimkan Loretta, menjadi senjata bagi pria itu untuk kembali mengikuti Amira untuk menjebaknya. Kali ini ada tatapan marah bercampur waspada.

Tanpa Amira sangka, pria yang tadi menabraknya berlari menghampiri setelah menepikan mobilnya. "Permisi, Mbak!" sapanya sopan.

Amira menoleh lemah. Namun tiba-tiba tatapannya berubah waspada. Tubuhnya menegang, sorot matanya tajam, kedua tangan meremas erat ujung bajunya sendiri, dan mengambil langkah menjauh untuk membuat jarak, bersiap untuk lari sekencang mungkin. "Kamu juga komplotannya?!" pekik Amira menyiratkan rasa takut yang sangat dalam.

"Hah? Saya yang nabrak kamu tadi, Mbak. Saya cuma mau bertanggungjawab, mungkin dengan mengantar ke klinik," jelasnya menyadari kesalahpahaman.

Amira melirik mobil yang terparkir di belakang pria itu. 'Bertanggungjawab? Ke klinik? Mobil? Kali ini aku tak akan tertipu lagi!' pikir Amira waspada, kemudian berlari sekencang yang ia bisa.

Sementara pria yang tadinya bermaksud baik, hanya berdiri menatap punggung Amira yang kemudian menghilang di balik gang pertokoan.

Pria itu berbalik, lalu kembali masuk ke dalam mobilnya. "Entah apa yang telah dialaminya, tapi sorot matanya—"

"Ssst!" potong seseorang yang duduk di kursi belakang sambil melihat ke arah lain, mengawasi pria lain yang berdiri menatap ke mobilnya. "Jalankan mobil dengan wajar, seseorang sedang mengawasimu, atau aku, atau wanita itu. Yang jelas gerak-geriknya mencurigakan."

"Dia mengikuti kita, Lan?"

"Maju dulu pelan-pelan, Taya. Kita akan tahu nanti,"

Beberapa meter mobil mereka melaju, pria yang bersembunyi dibalik mobil box yang terparkir di tepi jalan pun muncul. Bukan untuk mengejar atau mengikuti mobil Nolan, tapi berlari kencang menuju arah Amira.

"Stop, balik arah!" perintah Nolan.

"Istri Beni menyebut soal komplotan, sorot ketakutan terlihat jelas di matanya, kurasa sesuatu terjadi dibelakangnya," jelas Taya teringat ekspresi Amira.

Nolan melonggarkan dasinya, "Menepilah, dia masuk ke gang kecil, kita berpencar!" perintah Nolan yang segera dipatuhi Taya.

Nolan mengejar pria misterius yang mengikuti Amira, lengan kemeja panjangnya ia gulung sambil terus mengejar, melewati gang sempit di antara pertokoan. Sementara Taya, mengejar dari gang sebelahnya setelah menemukan tempat untuk memarkirkan mobil bosnya dengan aman.

"Minimarket?" gumam Nolan saat melihat pria misterius itu justru masuk ke dalam minimarket di ujung gang. Dengan hati-hati dan waspada penuh, ia mengikutinya.

Langkah Nolan terhenti saat sekilas melihat Amira sedang berdiri di depan stand minuman dingin, sedangkan pria yang mengikutinya berdiri mengawasi tak jauh dari Amira.

Nolan segera berpura-pura memilih sesuatu di rak depan kasir, tak lupa ia memberitahu lokasinya pada Taya.

Setelah menemukan tempat Nolan berada, Taya bergegas menyusulnya, namun tepat sebelum ia mencapai minimarket yang disebutkan Nolan, ia melihat Loretta juga sedang berjalan ke arah yang sama sambil melakukan panggilan telepon.

Taya sedikit mendekat, berusaha mendengarkan.

"Tiket pesawat sudah kusiapkan, bawa wanita itu ke Jepang, kau bebas melakukan apa saja padanya di sana!"

Taya bergegas mengirimkan pesan pada Nolan.

—Mundur, sepertinya kita hanya salah sangka, mertua itu hanya mengirimkan menantunya ke jepang. Kurasa tak benar jika kita terlibat dengan wanita itu.—

...🍂🍂🍂Bersambung🤗🍂🍂🍂...

1
Luzi
semangat💪💪💪💪
WeGe: terimakasih 🙏
total 1 replies
@RearthaZ
lanjutin terus ya kak
@RearthaZ: iya, kak, terima kasih, selamat berkarya juga kak, aku minta maaf ya kesannya boom like, tapi beneran karya kakak bagus kok, meskipun saat ku baca sekilas bukan masuk ke genre ku, tapi karya kakak bagus kok
total 8 replies
@RearthaZ
aku mampir ya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!