NovelToon NovelToon
Fake Boyfriend Real Husband

Fake Boyfriend Real Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / BTS
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Septiayani

bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi

itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia

ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

trauma tapi tidak sendiri

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Malam itu terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.

Mobil yang membawa Bella, Yoga, dan ibunya berhenti di depan rumah sederhana mereka. Lampu teras menyala redup, seakan ikut merasakan suasana hati yang hancur.

Bella turun perlahan.

Langkahnya lemah. Tatapannya kosong.

Ia tidak berkata apa-apa sejak kejadian itu.

Ibunya langsung memeluknya erat.

Ibu Bella (suara bergetar):

"Nak... maafin Ibu... Ibu nggak ada di samping kamu waktu itu..."

Bella tidak membalas pelukan.

Tubuhnya kaku.

Tangannya dingin.

Seolah jiwanya masih tertinggal di tempat kejadian itu.

Yoga berdiri beberapa langkah di belakang.

Wajahnya penuh rasa bersalah.

Tangannya mengepal kuat.

Ia mendekat... lalu menunduk di depan ibu Bella.

Yoga (suara pelan, penuh penyesalan):

"Tante... maaf... saya gagal jaga Bella..."

Suasana hening.

Ibu Bella menatap Yoga lama.

Ada kesedihan… tapi juga pengertian.

Ibu Bella:

"Ini bukan sepenuhnya salah kamu, Nak... yang penting sekarang... Bella butuh kita..."

Yoga menutup matanya.

Rasa sakit itu tetap ada.

Karena jauh di dalam hatinya—

ia tahu… dia terlambat.

Hari-hari berikutnya berubah.

Bella yang dulu ceria… kini berbeda.

Ia sering melamun

Tak mau keluar kamar

Takut saat mendengar suara keras

Bahkan menjauh saat seseorang mendekat terlalu cepat

Suatu malam…

Bella tiba-tiba terbangun dari tidurnya.

Nafasnya terengah.

Matanya penuh ketakutan.

Bella (berbisik panik):

"Jangan… jangan sentuh aku…!"

Yoga yang berjaga di luar kamar langsung masuk.

Namun langkahnya terhenti saat melihat Bella gemetar di sudut tempat tidur.

Ia ingin mendekat…

Tapi takut membuatnya semakin ketakutan.

Yoga (pelan, menahan air mata):

"Bella… ini aku… Yoga… aku di sini… aku nggak akan nyakitin kamu…"

Bella menatapnya.

Namun tatapan itu… tidak lagi sama.

Ada jarak.

Ada luka.

Sejak hari itu, Yoga berubah.

Ia selalu ada.

Mengantar obat

Menjaga dari jauh

Menunggu Bella makan

Bahkan rela tidur di depan kamar

Tanpa banyak bicara.

Tanpa memaksa.

Hanya memastikan… Bella tidak sendirian.

Suatu sore…

Ibu Bella menghampiri Yoga yang duduk lelah di teras.

Ibu Bella:

"Kamu nggak harus sejauh ini, Nak..."

Yoga tersenyum tipis.

Matanya lelah… tapi penuh tekad.

Yoga:

"Saya mungkin nggak bisa hapus kejadian itu, Tante…

tapi saya mau ada… sampai Bella bisa senyum lagi…"

Ibu Bella terdiam.

Untuk pertama kalinya…

ia melihat betapa tulusnya Yoga.

Di balik pintu kamar…

Bella mendengar semuanya.

Air matanya jatuh pelan.

Tangannya menggenggam selimut.

Hatinya berbisik…

"Aku ingin percaya lagi…

tapi aku terlalu takut…"

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Malam itu sunyi.

Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan di ruang tengah.

Pintu kamar Bella terbuka perlahan.

Bella melangkah keluar dengan ragu.

Matanya sembab, tapi lebih hidup dari hari-hari sebelumnya.

Ia berhenti saat melihat sosok di sofa.

Yoga.

Tidur meringkuk, masih mengenakan pakaian yang sama sejak siang. Tangannya terlipat di dada, wajahnya terlihat lelah… sangat lelah.

Bella menatapnya lama.

Ada rasa sesak di dadanya.

Pelan… ia mendekat.

Duduk di samping sofa.

Tangannya terangkat ragu… lalu akhirnya menyentuh wajah Yoga dengan lembut.

Mengelusnya perlahan.

Seolah takut menyakiti.

Bella (berbisik lirih):

"Maaf…"

Sentuhan itu membuat Yoga bergerak.

Matanya terbuka perlahan.

Dan saat ia melihat Bella di depannya… ia terdiam.

Sejenak, ia bahkan seperti tidak percaya.

Yoga (suara serak, kaget):

"Bella…?"

Belum sempat Yoga berkata apa-apa lagi—

Bella tiba-tiba memeluknya.

Erat.

Seolah takut kehilangan.

Tubuhnya gemetar.

Bella (menangis):

"Maaf… aku malah nyusahin kamu… dari awal sampai sekarang…"

Yoga terdiam.

Tangannya perlahan membalas pelukan itu.

Hati yang selama ini ia tahan… akhirnya runtuh juga.

Bella (terisak):

"Kalau saja waktu itu… aku izinin kamu ikut… mungkin semua ini nggak akan terjadi…"

Yoga langsung menggeleng, memegang bahu Bella pelan.

Yoga (tegas tapi lembut):

"Jangan salahin diri kamu… ini bukan salah kamu, Bella… bukan…"

Bella semakin menangis.

Wajahnya bersandar di dada Yoga.

Air matanya jatuh tanpa henti.

Semua rasa takut, luka, dan beban… seolah keluar malam itu.

Yoga tidak berkata banyak lagi.

Ia hanya memeluk.

Mengusap rambut Bella dengan lembut.

Memberi rasa aman yang selama ini hilang.

Waktu berjalan…

Menit demi menit…

Tangis Bella perlahan mereda.

Nafasnya mulai teratur.

Tubuhnya melemah karena lelah.

Hingga akhirnya—

Bella tertidur di pelukan Yoga.

Yoga menunduk, menatap wajah Bella yang akhirnya terlihat lebih tenang.

Ada senyum tipis di wajahnya.

Untuk pertama kalinya… setelah semua yang terjadi.

Dengan hati-hati, Yoga menyandarkan tubuhnya di sofa, tetap memeluk Bella.

Tidak ingin melepas.

Tidak akan melepas.

Malam itu…

Tanpa banyak kata.

Tanpa janji besar.

Hanya kehangatan sederhana.

Dua hati yang terluka…

Saling menguatkan.

Dan untuk pertama kalinya sejak kejadian itu—

Bella tidak merasa sendirian.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pagi datang perlahan.

Cahaya matahari masuk melalui jendela, menyinari ruang tengah dengan hangat.

Ibu Bella terbangun lebih dulu.

Dengan langkah pelan, ia keluar dari kamar.

Namun langkahnya terhenti.

Di sofa ruang tengah…

Ia melihat Bella dan Yoga tertidur.

Saling memeluk.

Bella bersandar di dada Yoga, sementara tangan Yoga masih melingkar melindunginya, bahkan dalam tidur.

Ibu Bella terdiam.

Matanya berkaca-kaca.

Ada rasa haru yang sulit dijelaskan.

Melihat bagaimana anaknya yang sempat hancur… kini kembali menemukan sedikit ketenangan.

Dan melihat seorang laki-laki… yang tetap tinggal, menjaga, tanpa lelah.

Ibu Bella (dalam hati):

"Ya Tuhan… kalau ini cinta… tolong jaga mereka… jangan beri mereka luka lagi…"

Ia tersenyum kecil.

Lalu berbalik perlahan, tidak ingin membangunkan mereka.

Beberapa saat kemudian…

Bella membuka matanya perlahan.

Ia masih berada dalam pelukan Yoga.

Hangat.

Aman.

Namun saat ia mengangkat kepala—

Ia melihat ibunya berdiri tak jauh dari sana.

Bella sedikit terkejut.

Wajahnya memerah.

Perlahan… ia melepaskan pelukan Yoga.

Dengan sangat hati-hati, agar tidak membangunkannya.

Bella menatap wajah Yoga sejenak.

Masih sama—

Lelah… tapi damai.

Ada senyum tipis di wajah Bella.

Dalam hatinya, ia berbisik:

"Aku nggak boleh terus kayak gini… aku harus kuat… aku harus kembali…"

Hari itu—

Bella membuat keputusan.

Ia ingin kembali menjadi Bella yang dulu.

Ceria.

Kuat.

Bukan untuk melupakan…

tapi untuk bangkit.

Dari ruang tengah, Bella berjalan ke dapur.

Di sana, ibunya sudah mulai menyiapkan sarapan.

Aroma masakan sederhana memenuhi ruangan.

Bella mendekat.

Bella (pelan):

"Bu… aku bantu ya…"

Ibu Bella menoleh.

Sedikit terkejut… lalu tersenyum hangat.

Ibu Bella:

"Kamu udah bangun? Sini… bantu Ibu potong sayur."

Bella mengangguk.

Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu—

ia melakukan hal sederhana dengan tenang.

Mereka memasak bersama.

Suasana hening… tapi nyaman.

Di tengah kegiatan itu…

Ibu Bella melirik Bella.

Ibu Bella (lembut):

"Dia nggak pulang semalaman… demi kamu."

Bella terdiam sejenak.

Tangannya berhenti memotong.

Bella (pelan):

"Aku tahu, Bu…"

Ibu Bella tersenyum tipis.

Ibu Bella:

"Nggak semua orang bisa setulus itu, Nak…"

Bella menunduk.

Matanya sedikit berkaca.

Bella:

"Aku juga nggak nyangka… dia bakal sejauh ini…"

Ibu Bella mendekat, menyentuh bahu Bella.

Ibu Bella:

"Kalau kamu nemu orang yang tulus… jangan disia-siakan."

Bella mengangguk pelan.

Ada tekad di matanya sekarang.

Bukan lagi hanya luka.

Tapi harapan.

Dari kejauhan…

Yoga mulai terbangun di sofa.

Melihat dapur yang ramai oleh suara kecil dan tawa pelan.

Ia tersenyum.

Tanpa mereka sadari—

pagi itu bukan sekadar hari baru.

Tapi awal dari proses penyembuhan.

Perlahan.

Bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!