NovelToon NovelToon
Kakiku Menolak Berjalan Lagi

Kakiku Menolak Berjalan Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.

Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.

Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.

Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.

Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.

Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."

Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.

Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.

Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.

Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:

"Aku mau pergi utuh."

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: SEPASANG SANDAL YANG TIDAK SAMA

Mahesa menemukan sandal itu di tempat sampah belakang rumah Pak RT.

Terkubur di bawah kardus bekas mi instan. Terinjak, terlipat, nyaris hancur. Tapi masih utuh. Sandal kiri ukuran tiga puluh dua. Sandal kanan ukuran tiga puluh delapan. Tidak sama. Tidak berpasangan. Tidak seimbang. Tapi gratis. Dan bagi Mahesa yang baru tujuh tahun, gratis adalah satu-satunya harga yang bisa ia bayar.

Ia mengambilnya dengan hati-hati. Seperti mengambil harta karun. Seperti menemukan emas di tengah tumpukan sampah. Dua sandal yang tidak sama—tapi dua sandal yang bisa melindungi kakinya dari aspal panas, dari batu tajam, dari ejekan yang akan datang jika ia tetap telanjang kaki.

"Bu, aku dapat sandal!" teriaknya saat tiba di rumah. Napasnya terengah. Dua kilometer ia tempuh dengan kaki telanjang karena sandal lamanya putus semalam. Kain pembalut kakinya—yang membungkus pergelangan kanan yang mulai bengkak—basah oleh keringat dan debu jalan.

Ibu keluar dari dapur. Melihat sandal di tangan Mahesa. Mengernyit. Bukan jijik—tapi heran. Mungkin juga lelah.

"Itu sandal orang buang, Ma."

"Iya, Bu. Tapi masih bagus." Mahesa mengangkat sandal kanan. Yang besar. "Ini buat kaki kanan. Yang sakit."

Ibu diam. Matanya jatuh ke kaki Mahesa. Ke pergelangan yang terbungkus kain kotor. Ke bengkak yang semakin terlihat meski ditutupi. Sejenak—hanya sejenak—ada sesuatu di wajah ibu. Sesuatu yang mirip... prihatin? Tapi lalu hilang. Berganti datar seperti biasa.

"Cuci dulu. Pakai sabun."

Itu saja. Tidak ada "pintar". Tidak ada "bagus". Tidak ada pelukan. Hanya izin. Hanya perintah. Tapi bagi Mahesa, itu cukup. Ibu tidak melarang. Ibu tidak membuang sandalnya. Itu sudah lebih dari yang ia harapkan.

---

Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Mahesa berangkat sekolah dengan sandal.

Kaki kiri—yang masih normal, yang belum berubah—masuk dengan pas di sandal ukuran tiga puluh dua. Kaki kanan—yang di pergelangannya ada bekas gigitan nyamuk tak sembuh-sembuh, yang semakin berat setiap hari—terpaksa masuk ke sandal ukuran tiga puluh delapan.

Terlalu besar. Jauh terlalu besar. Tapi harus dipakai. Karena tidak ada pilihan lain.

Jalan ke sekolah. Dua kilometer. Jalan tanah berbatu yang belum diaspal. Debu di mana-mana. Lubang di setiap tikungan. Mahesa berjalan cepat. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Empat. Lima.

Sandal kanan terlepas.

Ia berhenti. Menunduk. Memakai kembali. Mengencangkan tali plastik yang sudah ia ikat sekuat tenaga. Berjalan lagi. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima.

Terlepas lagi.

"Dasar!" Ia menggumam pelan. Bukan marah. Hanya lelah. Hanya frustrasi. Hanya ingin sampai sekolah sebelum bel berbunyi tanpa harus berhenti setiap lima langkah.

Di tikungan pertama, suara sepeda terdengar dari belakang. Tiga anak. Dari kelasnya. Dari kampung sebelah. Yang rumahnya punya televisi. Yang bapaknya punya motor. Yang selalu punya bekal di tas.

"Eh, lihat!" Salah satu menunjuk. Tertawa. Suaranya memecah kesunyian pagi. "Sandalnya mau kabur!"

Yang lain menyahut. Lebih keras. Lebih menyakitkan. "Kaki gajah! Kaki gajah! Kakinya besar, sandalnya kecil!"

Mahesa membeku. Berhenti di tengah jalan. Sandal kanan—yang tadi terlepas—masih di tangan. Sandal kiri—yang pas—masih di kaki. Ia tidak bergerak. Tidak bisa bergerak. Hanya menunggu mereka lewat. Menunggu tertawa selesai. Menunggu rasa panas di dada mereda.

Tapi tidak mereda. Tidak pernah mereda.

"Mahesa, kenapa nggak naik sepeda?" Yang ketiga bertanya. Bukan ejekan. Mungkin hanya ingin tahu. Tapi pertanyaan itu lebih sakit dari ejekan. Karena jawabannya terlalu pahit untuk diucapkan.

Karena aku tidak punya sepeda. Karena aku tidak punya apa-apa.

"Spedaku rusak," jawab Mahesa. Cepat. Otomatis. Dusta yang sudah hafal di lidah.

"Mau bonceng?" tawarnya. Tiba-tiba. Tidak diminta.

Mahesa menatap sepeda itu. Bagus. Bersih. Roda tidak bocor seperti sepeda-sepeda di kampungnya. Boncengan di belakang kosong. Bisa dinaiki.

Tapi kakinya. Kaki kanan yang bengkak. Yang harus dilipat di boncengan sempit. Yang akan menyentuh jeruji besi. Yang akan sakit jika tertahan.

Ia membayangkan. Jika ia naik, mereka akan melihat. Mereka akan bertanya. Mereka akan tahu.

"Nggak, makasih." Mahesa tersenyum. Senyum yang ia pelajari dari ibu. Senyum yang tidak pernah sampai ke mata. "Aku suka jalan. Sehat."

Teman-teman itu mengangkat bahu. Melaju. Tertawa lagi—bukan tentangnya kali ini. Tentang hal lain. Tentang apa pun yang membuat anak-anak tertawa. Sepeda mereka menghilang di tikungan. Meninggalkan debu dan suara rantai berderit.

Mahesa menunduk. Melihat sandal kanan di tangannya. Ukuran tiga puluh delapan. Terlalu besar. Tapi miliknya. Satu-satunya yang muat—meski longgar—untuk kaki yang semakin berubah.

Ia memakainya lagi. Berjalan. Lima langkah. Terlepas. Lima langkah. Terlepas.

Tapi ia terus berjalan. Karena sekolah masih di depan. Karena bel akan segera berbunyi. Karena jika ia berhenti, ia tidak akan pernah sampai.

---

Di kelas, ia duduk paling belakang. Sudut kanan. Dekat jendela yang tidak bisa dibuka. Tempat yang diam-diam menjadi miliknya sejak kaki kanan mulai berbeda. Sejak ia belajar menyembunyikan. Sejak ia tahu bahwa terlihat berarti disakiti.

Pelajaran pertama matematika. Bu Kasmi—guru muda dengan rambut dikuncir dua, dengan suara yang tidak pernah marah—menulis soal di papan tulis. Angka-angka. Rumus-rumus. Hal-hal yang Mahesa pahami. Yang Mahesa bisa. Satu-satunya hal di dunia ini yang tidak mengejeknya.

"Mahesa!" panggil Bu Kasmi. "Jawab nomor lima."

Mahesa berdiri. Terlalu cepat. Kakinya menyangkut di kaki bangku. Rasa sakit menjalar dari pergelangan kanan hingga ke lutut. Ia menggigit bibir. Menahan. Tidak boleh teriak. Tidak boleh menunjukkan.

"Mahesa?"

"Empat belas, Bu." Suaranya serak. Tapi benar.

Bu Kasmi tersenyum. "Betul. Duduk."

Mahesa duduk perlahan. Menyembunyikan kaki kanan di bawah bangku. Di balik kain panjang—sisa jahitan ibu—yang menutupi bengkak yang kian terlihat. Tangannya gemetar. Bukan karena sakit. Tapi karena lega. Ia masih bisa. Masih bisa menjawab. Masih bisa berguna.

Tapi hari ini, di bangku sebelahnya, ada Sari.

Anak perempuan dengan rambut dikuncir satu. Yang biasanya duduk di depan, dekat papan tulis. Yang hari ini pindah ke belakang karena demam dan ingin dekat jendela.

Sari melihat.

Melihat ke bawah. Ke kakinya. Ke kain penutup yang basah oleh keringat. Ke sandal kanan yang terlalu besar, yang ia kenakan dengan susah payah.

Mahesa membeku. Tangannya—yang tadi merapikan kain—berhenti di udara. Matanya—yang tadi melihat papan tulis—bertemu dengan mata Sari.

Siap-siap diejek. Siap-siap ditertawakan. Siap-siap dijauhi.

Tapi Sari tidak tertawa. Tidak menunjuk. Tidak berkata apa-apa.

Hanya melihat. Lalu mengangguk. Seperti mengerti. Seperti bilang, tidak apa-apa. Lalu kembali ke bukunya. Ke angka-angkanya. Ke soal-soal yang harus dijawab.

Mahesa menarik napas. Panjang. Dalam. Pertama kalinya sejak pagi—sejak sandal kanan terlepas lima kali di jalan, sejak teman-teman tertawa, sejak ia merasa ingin lenyap dari dunia—ia bisa bernapas lega.

Seseorang melihatnya. Bukan dengan jijik. Bukan dengan kasihan. Bukan dengan apa yang ia takutkan.

Hanya melihat. Seolah ia masih manusia. Seolah kaki yang berbeda bukan dosa. Seolah ia masih bisa duduk di bangku, masih bisa menjawab soal, masih bisa... ada.

---

Jam istirahat. Anak-anak berlarian ke luar. Ke kantin. Ke lapangan. Ke tempat-tempat yang tidak bisa Mahesa datangi karena kakinya tak sanggup berlari.

Ia duduk sendiri. Di bangku belakang. Menunggu rasa sakit reda. Menunggu waktu berlalu.

Sari kembali. Dari toilet. Melewati mejanya. Berhenti.

"Mahesa."

Suaranya kecil. Hampir tidak terdengar di tengah hiruk-pikuk anak-anak di luar. Mahesa mendongak. Kaget. Tidak menyangka namanya dipanggil.

"Kamu... kakinya kenapa?"

Mahesa melihat ke bawah. Ke kain penutup. Ke sandal kanan yang teronggok di lantai—ia melepasnya saat duduk, karena lebih sakit memakai daripada melepas. Kaki kanannya terlihat jelas sekarang. Membengkak. Merah. Asing.

Mahesa ingin berbohong. Ingin bilang tidak apa-apa. Ingin menutupi lagi.

Tapi ia lelah. Lelah berbohong. Lelah menutupi. Lelah menjadi batu.

"Sakit," katanya. Hanya itu. Pendek. Sederhana. Tidak menjelaskan. Karena ia sendiri tidak tahu harus menjelaskan apa.

Sari mengangguk. Tidak bertanya lagi. Tidak menuntut jawaban. Hanya duduk. Di bangku sebelah. Tanpa izin. Tanpa undangan.

"Kemarin aku juga sakit," katanya. "Demam. Tidak bisa bangun. Tapi hari ini sudah baik."

Mahesa menatapnya. Anak perempuan dengan kuncir satu. Yang tidak pernah ia ajak bicara sebelumnya. Yang duduk di depan, di tempat terang, di dunia yang berbeda.

"Kamu tidak sekolah kemarin?"

"Enggak. Tapi hari ini baik. Sudah bisa jalan." Sari tersenyum. Senyum asli. Bukan senyum pelajaran. Bukan senyum terpaksa. Senyum yang seolah sakit kemarin tidak berarti apa-apa. Seolah hari ini selalu baru. Seolah besok selalu lebih baik.

"Semoga kakimu cepat baik," kata Sari. Lalu berdiri. Kembali ke bangkunya—yang sementara ini di belakang, di dekatnya.

Mahesa menatap punggungnya. Kuncir yang bergoyang. Sepatu yang sama besar—kiri dan kanan—yang ia pakai dengan mudah. Tanpa berpikir. Tanpa berhenti setiap lima langkah.

Tapi anehnya, ia tidak iri. Tidak marah. Tidak sedih.

Hanya... terima kasih. Untuk harapan. Untuk ucapan yang mungkin tidak akan terwujud. Ia tahu, di dalam hati yang masih anak-anak tapi sudah belajar banyak, ia tahu kakinya tidak akan "cepat baik". Tapi tetap... terima kasih.

Karena Sari bilang "sembuh". Bukan "kenapa besar begitu". Bukan "jijik". Bukan "aneh". Tapi "sembuh". Seolah ia masih bisa. Seolah ia masih manusia yang bisa sakit lalu baik. Bukan monster yang harus disembunyikan.

---

Bel pulang berbunyi. Anak-anak berlarian masuk, mengambil tas, berlari keluar. Dunia yang bergerak cepat. Dunia yang tidak menunggu.

Mahesa berdiri perlahan. Kaki kanan menahan berat tubuh. Sakit. Tapi sudah biasa. Sandal kanan—ukuran tiga puluh delapan—ia pakai lagi. Longgar. Tapi tidak apa-apa. Ia sudah terbiasa.

Jalan pulang. Dua kilometer. Sendiri. Tanpa teman. Tanpa sepeda. Hanya Mahesa dan sandal yang terlepas setiap lima langkah.

Tapi ia berjalan. Karena di rumah ada ibu yang tidak akan bertanya. Ada ayah yang sudah tidur setelah bekerja di tambang. Ada Bima yang akan berlari-lari dengan teman-temannya.

Dan besok—besok masih ada sekolah. Ada Bu Kasmi yang akan bertanya soal. Ada Sari yang mungkin akan duduk di belakang lagi. Atau tidak. Tapi hari ini ia ada. Hari ini ia diperhatikan. Hari ini ia dilihat.

Sore itu, Mahesa duduk di beranda. Melepas sandal. Mencuci kaki dengan air sumur. Kaki kanan—di bawah sinar matahari sore—terlihat lebih besar dari pagi. Lebih merah. Lebih... menakutkan.

Ia menggosoknya perlahan. Dengan kain basah. Dingin. Menenangkan.

"Besok akan baik," bisiknya. Lagi. Seperti kemarin. Seperti setiap malam.

Tapi malam ini, bisiknya berbeda. Malam ini ia tidak hanya berbisik untuk kakinya. Juga untuk hatinya. Yang baru saja diberi sesuatu. Sesuatu yang kecil. Sesuatu dari Sari. Dari Bu Kasmi. Dari hari yang tidak sepenuhnya buruk.

Besok mungkin tidak baik. Kakinya mungkin semakin besar. Sandalnya mungkin semakin longgar. Teman-teman mungkin semakin banyak tertawa.

Tapi malam ini—dengan sandal tak sama di samping tikar, dengan kaki yang sakit tapi masih bisa digosok, dengan ingatan tentang senyum Sari yang tidak bertanya terlalu banyak—malam ini ia punya sesuatu.

Bukan harapan besar. Bukan keyakinan kuat.

Hanya... kemungkinan. Bahwa besok bisa dihadapi. Bahwa sekolah masih ada. Bahwa masih ada yang melihatnya. Bukan sebagai kaki gajah. Bukan sebagai bahan tertawaan. Tapi sebagai Mahesa. Anak yang bisa menjawab soal matematika. Anak yang berjalan dua kilometer. Anak yang masih berusaha.

---

Malam turun. Ayam-ayam mulai diam. Jangkrik bernyanyi. Mahesa berbaring di tikar, menarik selimut usang. Kaki kanan diletakkan dengan hati-hati. Di posisi paling tidak sakit.

Ibu masuk. Membawa lampu minyak. Meletakkannya di sudut. Melihat Mahesa—untuk pertama kalinya hari ini—dengan mata yang agak lama.

"Kakimu," kata ibu. Hanya itu.

Mahesa menunggu. Menunggu ibu marah. Menunggu ibu menyalahkannya. Menunggu ibu bilang, kamu merepotkan.

Tapi ibu tidak berkata apa-apa lagi. Hanya mengambil kain bersih—kain yang biasa untuk Bima—dan membalut kaki Mahesa. Perlahan. Hati-hati.

Tangan ibu kasar. Tapi balutannya lembut. Tidak seperti biasanya.

Mahesa tidak berani bergerak. Tidak berani bernapas. Takut jika ia bergerak, ibu akan berhenti. Takut jika ia bicara, momen ini akan hilang.

Ibu selesai. Berdiri. Menatap Mahesa. Lama. Lalu berbalik. Keluar. Meninggalkan Mahesa dengan balutan baru dan hati yang penuh tanya.

Kenapa ibu baik malam ini?

Mahesa tidak tahu. Tapi ia tidak akan bertanya. Ia hanya akan menyimpan malam ini. Di tempat yang sama dengan senyum Sari. Di tempat yang aman. Di tempat yang tidak bisa diambil siapa pun.

Karena malam ini—malam dengan balutan dari ibu, dengan ingatan tentang teman yang melihatnya sebagai manusia, dengan sandal tak sama di samping tikar—malam ini, ia merasa... tidak sendiri.

Bukan bahagia. Bukan.

Tapi cukup.

Untuk besok. Untuk berjalan lagi. Untuk memakai sandal kanan yang terlepas. Untuk menjadi Mahesa yang masih bisa.

Malam ini, itu cukup.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!