Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.
Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.
Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.
Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 16
Matahari pagi di atas barak Eldersheath terasa seperti bara api yang dipaksakan menembus kulit.
Di lapangan luas yang tandas akan rumput, ratusan kadet berdiri kaku dengan seragam latihan baru mereka—sebuah setel linen kasar berwarna abu-abu yang kaku dan tidak nyaman.
Bau keringat, debu, dan kecemasan menggantung tebal di udara.
Di depan mereka, Gilios berdiri dengan kedua tangan bersedekap di dada bidangnya. Sosoknya yang jangkung dan berotot menciptakan bayangan panjang yang mengintimidasi.
Di belakangnya, berjajar puluhan keranjang rotan besar yang diperkuat dengan kerangka besi.
"Dengarkan baik-baik, kalian para pemalas berdarah biru!" suara Gilios menggelegar, serak namun tajam seperti logam yang digesekkan.
"Aku tidak peduli seberapa banyak mana yang kalian punya atau seberapa hebat pedang yang kalian bawa dari rumah. Hari ini, kalian bukan penyihir, bukan ksatria, bukan bangsawan. Kalian hanyalah daging yang harus ditempa!"
Gilios menunjuk ke arah barisan keranjang di belakangnya. "Latihan pertama: Ketahanan Dasar. Kalian lihat keranjang-keranjang itu? Ambil satu per satu, sandang di punggung kalian, dan mulailah berlari mengelilingi lapangan ini. Jangan berhenti sampai aku menyuruh kalian berhenti. Jika ada yang berani melambat, kakiku sendiri yang akan memastikan kalian mencium debu!"
Seorang kadet dari keluarga cabang maju dengan langkah ragu.
Namun, saat ia mencoba mengangkat keranjang tersebut, wajahnya mendadak memerah dan matanya nyaris keluar. "I-ini... apa-apaan ini?!"
Kadet-kadet lain segera mengerubungi keranjang-keranjang itu dan serentak mereka terkesiap.
Di dalam setiap keranjang, terdapat tumpukan batu gunung yang besar, kasar, dan sangat berat.
Beratnya tidak main-main; bagi anak berusia delapan hingga sepuluh tahun, beban itu setara dengan membawa satu orang dewasa di punggung mereka.
"Apa yang kalian tunggu?! Cepat gerakkan kaki kalian!" bentak Gilios, langkahnya mendekat dengan aura yang menekan.
Satu per satu kadet mulai menyandang keranjang itu dengan napas yang terengah-engah.
Suara rintihan dan gerit gigi memenuhi lapangan.
Mereka mulai berlari, atau lebih tepatnya, menyeret kaki mereka dalam ritme yang lambat dan menyakitkan.
Ilwa berdiri di depan keranjangnya. Ia menatap batu-batu itu dengan pandangan dingin.
Ia tahu, di dalam raga mungilnya ini, *Aura-Lock* akan merespons beban ini dengan rasa sakit yang luar biasa.
Namun, ia tidak punya pilihan. Ia menyandang keranjang itu, merasakan tali kasarnya mengiris bahunya seketika.
*Bruakk!*
"Lambat! Kau pikir ini piknik sore?!" teriak Gilios sambil menendang tanah di dekat kaki seorang kadet yang mulai berjalan lunglai.
"Lari atau aku akan menambahkan dua batu lagi di punggungmu!"
Ilwa mulai berlari.
Setiap langkah terasa seperti duri yang menusuk persendiannya.
Keringat mulai membanjiri keningnya, dan dadanya mulai terasa sesak.
Namun, di tengah penderitaan fisik itu, matanya tetap fokus ke depan.
Albus di dalam dirinya sedang menghitung setiap detak jantung, mencoba mengatur sirkulasi mana seminimal mungkin agar tidak memicu belenggu penyakitnya namun tetap memberi tenaga pada otot kaki.
---
Di saat yang sama, di lantai atas bangunan administrasi yang menghadap langsung ke lapangan, dua sosok berdiri di balik jendela kaca besar yang gelap.
Robert Eldersheath berdiri dengan tangan di belakang punggung, matanya yang tajam mengunci sosok Gilios yang sedang mengamuk di lapangan.
Di sampingnya, Kael berdiri dengan posisi siaga, raut wajahnya dipenuhi keheranan yang tak tertutupi.
"Aku benar-benar tidak habis pikir," suara Robert memecah kesunyian ruangan itu. "Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun mengirim utusan, menawarkan emas, tanah, bahkan posisi tinggi di klan ini agar Gilios mau menjadi instruktur. Dia selalu menolak dengan kata-kata yang kasar. Tapi sekarang... lihat dia. Dia berdiri di sana, melatih anak-anak kecil itu seolah hidupnya bergantung padanya."
Kael mengangguk pelan, matanya tak lepas dari Gilios. "Saya juga sangat terkejut, Tuan. Gilios bukan hanya sekadar prajurit bayaran. Dia adalah pria yang hampir mencapai gelar *Mercenary King*. Kekuatannya di masa jayanya setara dengan satu legiun tentara. Melihatnya mau mengenakan seragam instruktur keluarga kita... ini adalah keajaiban yang sulit dipercaya. Aris benar-benar memiliki lidah yang sangat tajam jika berhasil membujuknya."
Robert menghela napas, namun matanya kemudian meredup, menyimpan sebuah keprihatinan yang mendalam. "Tapi aku ragu dia masih bisa bertahan dalam sepuluh tahun ke depan sebagai instruktur."
Kael menoleh, sedikit bingung. "Maksud Anda, Tuan? Apakah karena usianya?"
"Bukan sekadar usia, Kael," Robert menunjuk ke arah Gilios yang sesekali terlihat menahan napas sambil memegangi sisi perutnya secara samar. "Penyakit 'Karatan Mana' yang dideritanya... itu sudah masuk ke tahap kronis. Aku pernah bertanya pada tabib kerajaan, dan mereka bilang sirkuit mana Gilios sudah hancur dari dalam akibat penggunaan teknik terlarang di masa lalu. Aku ragu dia akan hidup lama. Dia mungkin bugar di luar, tapi di dalam, tubuhnya sedang membusuk perlahan."
Kael terdiam, menatap sosok legenda yang sedang berteriak-teriak di bawah sana dengan rasa hormat yang bercampur kasihan. "Jadi... ini mungkin adalah tugas terakhirnya?"
"Mungkin," jawab Robert singkat. Matanya kemudian beralih ke sosok mungil berambut putih yang sedang berjuang di barisan tengah. Ilwa terlihat sangat kelelahan, wajahnya pucat pasi, namun ia tidak berhenti.
"Dan anak itu... Ilwa. Membiarkan dua orang yang sekarat berada di satu lapangan yang sama... entah apa yang dipikirkan Aris. Ini bisa menjadi tempat kelahiran pahlawan, atau kuburan massal bagi mereka semua."
Di bawah sana, Gilios terus menggila. Ia melewati Ilwa dan berteriak tepat di telinganya. "Jika kau jatuh sekarang, jangan harap bisa melihat matahari besok! Terus lari, Bocah!"
Ilwa tidak menjawab.
Ia hanya mempercepat langkahnya, mengabaikan rasa perih di bahu dan sesak di dada.
Di bawah tatapan kakeknya yang ragu dan instrukturnya yang sekarat, sang Omni-Overlord mulai memahat fisiknya dalam penderitaan yang nyata.
Setiap langkah adalah perang. Dan Ilwa tidak berencana untuk kalah.
Latihan baru saja dimulai, namun aroma perubahan sudah mulai menyengat di barak Eldersheath—pertemuan antara legenda yang akan padam dan legenda yang baru saja menyalakan apinya kembali.
Matahari telah mencapai puncaknya, menggantung tepat di atas kepala seperti bola api yang siap melelehkan apa pun di bawahnya.
Udara di lapangan barak Eldersheath bergetar karena gelombang panas yang memantul dari tanah gersang.
Para kadet, yang telah berlari sejak fajar dengan keranjang penuh batu di punggung mereka, kini tampak seperti sekumpulan mayat hidup yang dipaksa bergerak.
Keringat telah membasahi seragam latihan mereka hingga berubah warna menjadi abu-abu gelap.
Suara napas mereka yang terputus-putus terdengar seperti mesin rusak yang dipaksakan bekerja.
"Berhenti!" teriak Gilios, suaranya menggelegar membelah kesunyian lapangan.
Mendengar kata sakti itu, hampir seluruh kadet—tanpa memedulikan martabat mereka sebagai bangsawan—langsung melepaskan keranjang batu tersebut hingga berdentum keras ke tanah.
Mereka jatuh terkapar.
Ada yang berlutut sambil memuntahkan isi perutnya, ada yang berbaring telentang menatap langit dengan mata kosong, dan banyak yang hanya bisa mengerang kesakitan karena otot kaki mereka yang mati rasa.
Ilwa menurunkan keranjangnya dengan perlahan, meskipun tangannya gemetar hebat. Ia tidak langsung jatuh seperti yang lain, melainkan berdiri dengan bertumpu pada lututnya.
Paru-parunya terasa seperti terbakar, dan setiap detak jantungnya mengirimkan rasa nyeri yang tajam ke seluruh pembuluh darahnya—sebuah reaksi protes dari *Aura-Lock* yang tertekan.
"Cih... jika bukan karena raga yang terbelenggu ini, berlari dengan beban seperti itu hanyalah pemanasan bagiku,"batin Ilwa sambil menyeka keringat yang nyaris membutakan matanya.
---
Kesenangan mereka karena berhenti berlari hanya bertahan tidak lebih dari sepuluh detik. Gilios melangkah maju ke tengah-tengah kerumunan kadet yang terkapar, wajahnya memerah karena amarah yang tampak sangat nyata.
"Apa-apaan ini?! Siapa yang memberi kalian izin untuk mencium debu seperti anjing malas?!"
Gilios berteriak, suaranya disertai dengan sedikit tekanan mana yang membuat nyali para kadet menciut. "Bangun! Kalian pikir musuh di medan perang akan menunggumu selesai mengatur napas?!"
"Tapi... Instruktur... ini sudah tengah hari... kami butuh air..." rintih salah seorang kadet dari keluarga cabang.
Gilios berjalan cepat ke arah bocah itu dan berdiri tepat di depannya.
"Air? Kau butuh air? Kau seharusnya butuh otak yang lebih pintar untuk menyadari bahwa di barakku, tidak ada yang namanya istirahat!" Gilios melirik ke seluruh lapangan dengan tatapan menghina.
"Cepat bangun! Pergi ke rak senjata di sana, ambil masing-masing satu pedang kayu, dan buat barisan dalam sepuluh detik! Jika masih ada yang menempel di tanah dalam hitungan kesebelas, aku akan memastikan kalian tidak akan bisa berjalan selama seminggu!"
Ancaman itu bekerja seperti sihir. Dengan rasa sakit yang luar biasa, para kadet merangkak bangun, terhuyung-huyung menuju rak senjata.
Mereka mengambil pedang kayu yang beratnya terasa berkali-kali lipat karena kelelahan, lalu kembali membentuk barisan yang berantakan di tengah lapangan.
---
Gilios berdiri di depan barisan, memegang sebuah pedang besar yang hanya ia sandarkan di bahunya. "Dengarkan baik-baik. Di klan ini, kalian mungkin diajarkan bahwa sihir adalah segalanya. Tapi bagiku, sihir tanpa fondasi fisik hanyalah kembang api yang menunggu padam. Hari ini, aku tidak akan mengajarkan teknik sihir pedang yang mewah. Aku akan mengajari kalian dasar dari segala dasar: Kuda-kuda."
Ia menancapkan pedang besarnya ke tanah. "Pasang kuda-kuda rendah! Rentangkan kaki kalian, tekuk lutut hingga sejajar dengan pinggang, dan tegakkan punggung! Jika aku melihat punggung yang membungkuk, aku akan menggunakan pedang ini untuk meluruskannya!"
Ilwa mengikuti instruksi itu.
Ia memasang kuda-kuda rendah yang sempurna—sebuah posisi yang sudah terpatri dalam jiwanya sebagai Albus.
Namun, bagi tubuh bocah delapan tahun, posisi ini adalah siksaan murni. Otot paha yang sudah kelelahan karena berlari kini dipaksa untuk menahan beban tubuh secara statis.
"Mulai mengayun!" perintah Gilios lagi. "Ayunan vertikal dari atas kepala hingga ke lutut! Jangan berhenti sampai aku bilang berhenti. Dan ingat, jika kalian kehilangan keseimbangan atau jatuh, seluruh barisan akan mendapatkan tambahan seratus ayunan!"
*Wush! Wush! Wush!*
Suara pedang kayu yang membelah udara mulai terdengar secara tidak beraturan.
Para kadet mulai mengayun.
Awalnya gerakan mereka terlihat bertenaga, namun setelah ayunan ke-50, kecepatan mereka mulai menurun drastis. Lengan mereka terasa seperti ditarik oleh beban ribuan ton.
"Lebih kuat!" teriak Gilios sambil berjalan berkeliling di sela-sela barisan. "Kalian menyebut ini ayunan ksatria? Ini lebih mirip ayunan nenek tua yang sedang memukul kasur! Tekan mana kalian ke lengan jika perlu, tapi jangan pernah biarkan pedang itu turun!"
Ilwa terus mengayun.
Matanya tetap fokus pada satu titik imajiner di depannya.
Di setiap ayunan, ia mencoba menyinkronkan tarikan napasnya dengan sirkulasi mana yang sangat tipis agar penyakitnya tidak meledak.
Ia bisa merasakan tatapan Gilios yang sesekali tertuju padanya, memperhatikan bagaimana seorang anak "cacat" mampu mempertahankan kuda-kuda yang bahkan lebih stabil daripada Leo yang memiliki bakat ganda.
"Jangan pernah bermimpi tentang istirahat!" suara Gilios kembali menggema, memutus harapan para kadet yang berharap latihan ini akan segera berakhir. "Di latihanku, jika kalian ingin istirahat, lebih baik mati saja! Karena hanya orang mati yang punya waktu selamanya untuk berbaring!"
Di bawah terik matahari yang kian menyengat, lapangan barak itu berubah menjadi tempat penyiksaan yang sistematis.
Ratusan anak bangsawan itu kini sadar, bahwa masuk ke dalam bimbingan Gilios bukan sekadar pelatihan ksatria, melainkan perjalanan melintasi neraka hidup di mana setiap detik adalah perjuangan untuk tidak menyerah pada kematian.
Ilwa terus mengayun, pedang kayunya membelah udara dengan ritme yang tetap, seolah-olah ia adalah mesin yang tidak mengenal rasa sakit,
padahal di dalam hatinya, ia sedang menghitung setiap detik untuk menghancurkan batasan fisiknya sendiri.
Barak ini baru saja memulai hari pertamanya, dan horor yang sebenarnya baru saja diperlihatkan oleh Gilios kepada mereka semua.
Bersambung....