NovelToon NovelToon
Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur / Roh Supernatural
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.

Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.

Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Balik Buluh

Hujan tipis turun di Stone Reed Town keesokan paginya.

Bukan hujan deras yang mengguyur jalan hingga berubah jadi lumpur, melainkan hujan halus yang meresap pelan ke papan-papan kayu, atap jerami, dan kain jemuran yang lupa diangkat. Kabut sungai bercampur dengan udara basah, membuat seluruh kota kecil itu terasa seperti berdiri di dalam napas panjang seekor beast air raksasa.

Bagi kebanyakan orang, cuaca seperti ini menjengkelkan.

Bagi Shou Wei, ini justru waktu yang bagus.

Ia berdiri di belakang Mud Heron Inn, menatap tetes air menabrak baskom kayu, lalu meluncur turun dari permukaannya. Gerakan itu mengingatkannya pada pelat kecil di dalam gudang—mini moisture-repelling mark buatannya semalam.

Kalau ia berhasil menyelesaikan dua pelat untuk Mu Qinglan hari ini, maka ia akan mendapat uang, pengalaman, dan mungkin kepercayaan pertama dari pelanggan tetap. Kalau setelah itu masih ada sisa tenaga dan bahan, ia bisa mulai menyentuh pesanan Jin Pel yang jauh lebih berbahaya.

Semua harus dilakukan pelan.

Tepat.

Tanpa menarik terlalu banyak perhatian.

Pagi itu, setelah membantu pemilik penginapan memindahkan dua tong air hujan dan memotong kayu basah, Shou Wei kembali ke gudang belakang. Ia menutup pintu rapat, menyalakan lampu minyak kecil, lalu mengeluarkan tiga pelat logam tipis dari bungkus kain.

Dua pelat untuk pesanan.

Satu pelat cadangan kalau gagal.

Ia memulai dari pola yang semalam paling stabil:

dua simpul utama dan satu simpul gantung di pinggir.

Tangannya bergerak lebih mantap dibanding malam pertama di Stone Reed Town. Ujung pena ukir logam menari tipis di permukaan pelat, menarik garis halus yang nyaris tak terlihat kecuali terkena cahaya lampu dari sudut tertentu. Shou Wei mulai menyadari sesuatu yang penting tentang dirinya sendiri—saat menarik garis formasi, kepalanya menjadi sangat tenang. Semua suara luar seperti menjauh. Semua keraguan juga ikut surut.

Di saat seperti itu, ia paling mirip dirinya yang sesungguhnya.

Bukan pelarian.

Bukan bocah miskin.

Bukan anak tambang.

Melainkan seseorang yang sedang membangun sesuatu dengan tangan dan pikirannya sendiri.

Pelat pertama selesai tanpa kesalahan besar.

Saat diaktifkan dengan sedikit qi, garisnya menyala lembut. Shou Wei mengambil secarik kain tipis, membasahinya, lalu membungkus sebuah botol kecil dengan kain itu sebelum meletakkan pelat di sampingnya. Setelah beberapa puluh napas, permukaan botol tetap kering.

Berhasil.

Pelat kedua sedikit lebih sulit. Di simpul gantung terakhir, tangannya terpeleset setipis rambut, membuat sudut ukiran terlalu sempit. Kalau dipaksa aktif, qi akan tersangkut lalu pecah. Ia menatapnya cukup lama sebelum akhirnya mengikis bagian itu dan mengukir ulang.

Kesalahan kecil seperti ini dulu mungkin akan membuatnya frustrasi.

Sekarang tidak.

Di dunia kultivasi, hampir semua yang berharga lahir dari memperbaiki sesuatu yang belum sempurna.

Menjelang tengah hari, dua pelat kecil itu selesai.

Shou Wei membungkusnya dalam kain kering dan membawanya ke Green Cress.

Mu Qinglan sedang menumbuk batang hitam panjang di lesung batu saat ia masuk. Bau pahit memenuhi ruangan. Di salah satu rak tergantung dua ekor ular kecil yang sudah dikeringkan.

“Kau cepat,” katanya tanpa menoleh.

“Yang kau minta tidak terlalu rumit.”

“Itu tergantung siapa yang membuat.” Ia mengangkat kepala dan menatap bungkusan di tangan Shou Wei. “Letakkan.”

Shou Wei membuka kainnya.

Mu Qinglan mengambil pelat pertama, memutarnya di bawah cahaya, lalu meletakkannya di bawah botol serbuk biru muda. Ia memercikkan sedikit cairan dari sendok bambu ke atas permukaan meja dan menunggu. Tetesan itu menyentuh kayu sekitar botol, tapi tidak mendekat ke dasar tempat pelat bekerja.

Mata Mu Qinglan menyipit.

Ia mencoba yang kedua pada bungkusan serbuk halus berwarna kuning. Hasilnya sama.

“Lebih bagus dari yang kuduga,” katanya akhirnya.

“Itu bagus atau buruk?”

“Itu berarti aku sekarang harus memutuskan apakah akan tetap memperlakukanmu seperti bocah, atau mulai menawar seperti penjual sungguhan.”

Shou Wei tetap diam.

Mu Qinglan menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk tipis, seolah mengakui sesuatu. “Dua pelat. Satu perak untuk masing-masing.”

Lebih tinggi dari perkiraan awalnya.

Shou Wei segera mengerti kenapa. Mu Qinglan sedang membeli bukan hanya barang, tapi juga kemungkinan untuk kerja sama berikutnya.

“Baik,” katanya.

Mu Qinglan mengeluarkan dua koin perak kecil dari laci, meletakkannya di atas meja, lalu menambahkan sebuah botol tanah liat kecil seukuran ibu jari.

“Ini apa?” tanya Shou Wei.

“Salep luka.” Mu Qinglan kembali menata bahan-bahan obatnya. “Bukan hadiah. Anggap tambahan karena pelatmu tidak membuatku rugi. Orang yang sering mengukir logam tipis dan mengalirkan qi ke dalamnya biasanya cepat merusak jari atau nadi kecil di tangan.”

Shou Wei memandang botol kecil itu.

“Jangan terlalu tersentuh,” kata Mu Qinglan datar. “Aku hanya tidak suka supplier kecilku mati sebelum sempat berguna.”

Tapi tetap saja, itu adalah bentuk bantuan.

Shou Wei menyimpan dua koin perak dan botol salep itu dengan hati-hati. Sebelum pergi, Mu Qinglan berkata lagi, “Kalau nanti kau bisa buat versi yang lebih stabil untuk peti obat atau laci bahan, datang lagi. Dan kalau suatu hari ada orang menawar terlalu ramah, pastikan dia punya alasan.”

Shou Wei mengangguk. “Aku tahu.”

“Tidak,” jawab Mu Qinglan. “Orang seusiamu belum tahu. Kau baru mulai belajar.”

Kalimat itu terdengar dingin, tapi benar.

Setelah keluar dari Green Cress, Shou Wei tidak langsung ke gudang timur menemui Jin Pel. Ia memutari jalan lebih dulu, membeli dua lembar tipis kayu keras dari kios bahan bekas, serta empat paku kecil. Jin Pel meminta sesuatu untuk peti, dan setelah dipikir-pikir, pelat logam mungkin bukan dasar terbaik. Terlalu mencolok, terlalu mudah diperiksa.

Kayu tipis yang ditanam di dasar peti justru lebih cocok.

Apalagi untuk peti yang hanya perlu “mengaburkan” isi dari mata biasa selama beberapa jam.

Ia kembali ke penginapan saat hujan mulai reda dan bekerja lagi sampai sore untuk menjaga penyamarannya tetap utuh. Saat pemilik penginapan melihatnya kembali ke gudang membawa kayu tipis, pria botak itu hanya mendengus.

“Jangan membakar gudangku.”

“Aku hanya mengukir.”

“Itu justru lebih mengkhawatirkan.”

Malam itu, Shou Wei mulai mengerjakan pesanan Jin Pel.

Ini jauh lebih sulit.

Concealment mark sederhana untuk peti bukan sekadar meredam cahaya seperti pelat lampu semalam. Ia harus membentuk lapisan “kabur” tipis di bagian dasar ruang peti, cukup untuk membuat isi tampak biasa saja bila dilihat sekilas atau dalam cahaya redup. Tidak boleh terlalu rakus qi. Tidak boleh terlalu rumit. Dan yang paling penting, tidak boleh runtuh hanya karena peti diguncang saat dipindah.

Shou Wei memandangi dua lembar kayu keras tipis di depannya cukup lama.

Lalu ia mulai menggambar.

Pola pertama memakai tiga simpul, meniru prinsip dasar dari minor dimming mark. Gagal.

Saat ia mengaktifkannya, cahaya di atas peti memang berubah sedikit, tapi begitu kayu digeser satu jari, salah satu simpul langsung padam.

Pola kedua lebih stabil, tapi efek concealment-nya terlalu lemah. Itu hanya membuat isi peti tampak sedikit lebih gelap, tidak lebih.

Shou Wei mengernyit.

Jin Pel tidak butuh “sedikit lebih gelap”. Ia butuh sesuatu yang cukup bagus untuk membuat buruh atau mata biasa tidak memperhatikan isi penting di dalam peti.

Setelah beberapa saat berpikir, Shou Wei mengubah pendekatan.

Alih-alih menutup dari dalam, ia membuat pola yang “menyesatkan” mata pada pinggiran peti. Jadi perhatian orang secara alami tertarik ke kayu luar, bukan ke dasar. Concealment bukan dengan menyembunyikan benda sepenuhnya, tapi dengan membuatnya tampak tidak penting.

Prinsip itu lebih cocok dengan barang murah dan qi kecil.

Ia mulai lagi.

Garis pertama diukir lebih dangkal. Simpul pinggir dibuat menyebar, bukan terkunci rapat. Di tengah, ia menaruh satu simpul kecil pengabur, hampir tak terlihat. Lalu ia mengaktifkannya dengan qi sangat tipis, setipis kabut di atas sungai.

Kayu itu bergetar halus.

Shou Wei mengambil sebuah batu roh kecil dan meletakkannya di atasnya, lalu memandangi dari berbagai sudut di bawah lampu minyak.

Dari depan, batu itu masih terlihat.

Dari samping... redup.

Dari atas, mata justru lebih mudah tertarik ke serat kayu dan garis tepinya ketimbang ke batu roh kecil di tengah.

Matanya menyipit.

Ini bukan concealment penuh.

Tapi ini cukup licik.

Cukup untuk Jin Pel.

Shou Wei mengembuskan napas perlahan. Jika ia terus memaksa malam itu, ia mungkin bisa menyempurnakannya sedikit. Namun tepat saat ia hendak menggambar salinan kedua, suara langkah berhenti di luar gudang.

Bukan langkah pemilik penginapan. Pria botak itu berjalan berat.

Ini lebih ringan.

Lebih sabar.

Tok.

Satu ketukan saja.

Shou Wei memadamkan aliran qi dan menyelipkan kayu berukir ke bawah jerami. Tangan kirinya otomatis menyentuh pisau pendek di pinggang.

“Siapa?”

“Kalau aku bilang sahabatmu, kau pasti tak percaya.”

Suara itu halus, nyaris sopan.

Shou Wei membuka pintu setengah.

Di luar berdiri Wei Kuan.

Pria tinggi kurus dari meja belakang Reed Hall itu mengenakan jubah hitam cokelat yang sama, tapi malam ini rambutnya diikat lebih rapi. Di pinggangnya tergantung tiga bendera formasi kecil dan satu pelat segel tipis. Senyumnya tetap lembut, tapi matanya dingin seperti pisau terendam air.

“Kau menemukan jalanku,” kata Shou Wei datar.

Wei Kuan mengangkat bahu. “Stone Reed Town kecil. Apalagi kalau orang mulai bertanya tentang bocah yang menjual mark praktis di meja belakang.”

Ia menatap celah pintu, lalu balik ke wajah Shou Wei. “Boleh masuk?”

“Tidak.”

Wei Kuan tampak tak tersinggung. “Jujur. Aku suka itu.”

Keheningan tipis turun di antara mereka.

Lalu Wei Kuan berkata, “Aku datang bukan untuk merampokmu malam ini.”

“Malam ini?”

Sudut bibir pria itu bergerak tipis. “Bagus. Kau dengar ancaman dengan benar.”

Shou Wei tidak berkedip.

Wei Kuan lalu mengeluarkan sesuatu dari lengan bajunya: sepotong pelat logam tipis rusak, dipenuhi ukiran yang setengah terhapus. Ia mengangkatnya setinggi dada. “Aku punya barang kecil. Rusak. Tak bernilai bagi kebanyakan orang. Tapi kalau kau benar-benar paham sedikit garis dan simpul, mungkin bisa bicara.”

Shou Wei menatap barang itu.

Jantungnya berdegup sedikit lebih keras.

Pelat itu jelas bagian dari formasi pengunci. Bukan kuno seperti potongan kulit yang dulu ia jual, tapi juga bukan barang baru murahan. Simpul tengahnya retak. Dua jalur luarnya mati. Namun prinsip dasarnya masih terlihat.

Wei Kuan melihat perubahan halus itu.

“Ah,” katanya lirih. “Jadi matamu memang tak biasa.”

“Apa maumu?”

“Aku mau tahu apakah kau hanya bocah beruntung dengan dua pola sederhana... atau seseorang yang benar-benar bisa tumbuh.” Wei Kuan menggoyang pelat itu pelan. “Bantu jelaskan kerusakannya, dan aku anggap kita mulai dari perkenalan yang lebih baik.”

Shou Wei berpikir cepat.

Menolak langsung bisa memicu masalah lebih cepat.

Menerima terlalu banyak akan membuka diri terlalu jauh.

Jadi ia memilih jalan tengah.

“Pelatmu rusak di simpul pusat, tapi bukan itu masalah utamanya,” katanya setelah beberapa detik. “Jalur kiri luarnya dipaksa ditutup dengan qi yang tak cocok. Karena itu retaknya menyebar ke tengah. Kalau hanya ganti simpul pusat, tetap tak akan hidup.”

Wei Kuan terdiam.

Wajahnya tidak banyak berubah, tapi ada sesuatu yang lebih tajam di matanya sekarang.

“Dan menurutmu jalurnya dibuat untuk apa?” tanyanya.

“Minor lock-seal,” jawab Shou Wei. “Mungkin kotak, laci, atau peti kecil. Bukan pertahanan. Bukan jebakan.”

Wei Kuan menatapnya cukup lama, lalu perlahan memasukkan kembali pelat itu ke lengan baju.

“Menarik,” katanya.

“Itu jawabanmu?”

“Itu cukup untuk malam ini.” Senyum tipisnya kembali. “Dengar, Shou. Stone Reed Town terlalu kecil untuk dua penjual formasi kecil yang tak saling kenal. Cepat atau lambat, orang akan membandingkan. Akan memilih. Atau mendorong salah satunya jatuh.”

“Aku tidak berniat mengambil tempatmu.”

Wei Kuan terkekeh pelan. “Tempat? Bukan itu yang kuperhatikan.” Ia melangkah mundur satu langkah. “Aku hanya tak suka kejutan.”

“Kalau begitu jangan datang ke pintu orang tanpa diundang.”

Untuk pertama kali, tawa Wei Kuan terdengar benar-benar tulus, meski hanya sebentar.

“Baik. Kita lihat berapa lama kau bertahan dengan lidah seperti itu.” Ia menoleh ke jalan gelap di belakang penginapan. “Minor auction lima hari lagi akan menarik banyak orang. Hati-hati. Tempat seperti itu membuat nama kecil jadi lebih mudah diingat.”

Ia pergi tanpa menoleh lagi.

Shou Wei menutup pintu perlahan, lalu berdiri diam cukup lama di dalam gudang.

Wei Kuan tidak menyerang.

Tidak mengancam terang-terangan.

Tidak mencoba mengambil apa pun.

Dan justru itu membuatnya lebih berbahaya.

Orang seperti itu menunggu.

Mengukur.

Membiarkan lawan tumbuh sedikit sebelum memutuskan apakah akan dibeli, dipakai, atau dihancurkan.

Shou Wei duduk kembali di depan peti kayu, tapi kali ini pikirannya tidak hanya pada pola formasi. Ia mulai memahami bahwa di jalur ini, musuh bukan cuma beast, sekte, atau kultivator yang lebih kuat. Ada juga orang-orang satu profesi, satu pasar, satu jalan—yang melihat bakatmu bukan sebagai keajaiban, tapi sebagai ancaman pada piring makan mereka.

Ia menunduk dan menarik kembali lembar kayu berukir dari bawah jerami.

Satu untuk Jin Pel.

Satu lagi harus ia buat sebagai cadangan.

Dan setelah itu, ia harus mengumpulkan uang sebanyak mungkin sebelum minor auction.

1
Muhammad Arsyad
ini...kapan saktinya...lama amat🤭🤭
Simon Semprul
nie cerita pendekar apa misterii si thor /Gosh/
Daryus Effendi
ada b.ingrisnya jadi gak enak bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!