Daripada penasaran, yuk mampir ><
[Update Tergantung Mood]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Jangan Terlalu Senang
Kantin Oxford siang itu dipenuhi oleh denting sendok perak dan percakapan intelektual yang bergema di bawah langit-langit berkubah tinggi. Namun, di meja pojok yang diduduki oleh "trio" tersebut, suasananya jauh lebih duniawi dan penuh intrik.
Sabrina meletakkan gelas iced americano-nya dengan sedikit hentakan, matanya masih melirik ke arah pintu kantin di mana dua pengawal bersetelan hitam berdiri mematung seperti patung penjaga makam.
"It’s absurd, Gaby. Truly," bisik Sabrina, aksen London-nya yang khas kini terdengar lebih tajam karena rasa kesal. "I mean, I get that Mr. Kaito is... well, protective. But this? They look like they’re waiting to arrest anyone who breathes too close to you."
(Ini tidak masuk akal, Gaby. Sungguh. Maksudku, aku mengerti kalau Pak Kaito itu... yah, protektif. Tapi ini? Mereka terlihat seperti menunggu untuk menangkap siapa pun yang bernapas terlalu dekat denganmu.)
Emilia mengangguk setuju, sambil memotong salad organiknya dengan elegan. "And Melvin didn’t help at all," tambahnya sembari menoleh ke arah Gaby. "The way he leaned in during class? He’s practically begging for a death warrant from your cousin, Gaby."
(Dan Melvin sama sekali tidak membantu. Cara dia mendekat saat kelas? Dia praktis memohon surat kematian dari kakakmu, Gaby.)
Gaby hanya mengaduk-aduk sup labunya tanpa selera. Piyama sutra hitam milik Emrys yang masih tersimpan di ingatannya semalam terasa jauh lebih berat daripada beban buku-buku di tasnya. Ia merasa terbelah, di satu sisi ada Melvin yang menawarkannya percikan api kreativitas, di sisi lain ada Emrys yang menyediakan perlindungan yang menyesakkan namun sangat nyata.
"He’s just being... Emrys," gumam Gaby pelan. "He thinks the world is a battlefield and I’m a liability."
Sabrina mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya yang gelap berkilat penuh rahasia. "Then make yourself a weapon, not a liability, darling. Melvin’s assignment about ‘Sanctuary’? Use it. Show Mr. Kaito that your sanctuary isn’t a locked bedroom in his penthouse."
(Kalau begitu, jadikan dirimu senjata, bukan beban, sayang. Tugas Melvin tentang 'Suaka'? Gunakan itu. Tunjukkan pada Mr. Kaito bahwa suakamu bukanlah kamar tidur terkunci di penthouse-nya.)
"Wait," Emilia menyela, matanya membelalak menatap layar ponselnya. "Gaby, look. Someone just posted a photo on the campus forum. It’s Melvin leaning over your desk, and you can clearly see the shadow of your bodyguard in the background. The caption says. ‘The Forbidden Muse and Her Watchdogs’."
(Gaby, lihat. Seseorang baru saja memposting foto di forum kampus. Itu Melvin yang sedang mencondongkan tubuh di atas mejamu, dan kamu bisa dengan jelas melihat bayangan pengawalmu di latar belakang. Keterangannya berkata. 'Sang Muse Terlarang dan Anjing-Anjing Penjaganya'.)
Gaby tersedak. Ia segera meraih ponsel Emilia. Benar saja, foto itu diambil dengan sudut yang sangat sinematik menampilkan Melvin yang tampak sangat intim dan dominan, sementara bayangan pengawal Emrys di jendela terlihat seperti ancaman yang nyata.
"If Emrys sees this..." suara Gaby menghilang, wajahnya mendadak sepucat salju.
"Oh, he will see it," sahut Sabrina dengan nada santai namun provokatif. "My brother is many things, but a coward isn't one of them. He’s deliberately poking the dragon, Gaby. The question is, whose side are you on when the fire starts?"
(Saudaraku adalah banyak hal, tapi pengecut bukan salah satunya. Dia sengaja menusuk naga itu, Gaby. Pertanyaannya adalah, di pihak mana kamu berada saat api mulai menyala?)
Tiba-tiba, ponsel Gaby yang tergeletak di meja bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk.
[ Kak Emrys ]
Ketiga gadis itu terdiam. Suasana kantin yang tadinya bising mendadak terasa senyap di telinga Gaby. Ia menatap layar itu dengan jemari yang mendingin.
Dengan napas yang tertahan dan tangan sedikit gemetar, ia akhirnya menggeser ikon hijau. Ia tidak menjauh dari meja kantin, membiarkan Emilia dan Sabrina menjadi saksi bisu dari konfrontasi ini.
"Halo," suara Gaby terdengar kecil, namun ada nada perlawanan yang mulai menyusup di sana.
"Keluar sekarang. Mobil sudah di depan gerbang samping," suara Emrys terdengar sangat dingin, lebih menyerupai perintah militer daripada ajakan pulang. "Aku sudah melihat fotonya, Gaby. Dan aku tidak suka berbagi tontonan dengan seluruh penghuni Oxford."
Gaby memejamkan mata, merasakan panas yang menjalar di dadanya. Ia melirik dua pengawal di pintu kantin yang kini mulai bergerak mendekatinya, seolah-olah mereka adalah perpanjangan tangan Emrys yang siap menyeretnya kapan saja.
"Aku masih ada kelas satu jam lagi, Kak," balas Gaby, mencoba bertahan.
"Aku tidak bertanya tentang jadwalmu. Aku memberikan perintah. Sepuluh menit, atau aku sendiri yang akan masuk ke aula itu dan membawamu keluar di depan dosenmu yang 'berbakat' itu."
Gaby mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia melirik Sabrina yang memberikan tatapan 'jangan menyerah' dan Emilia yang tampak cemas. Keheningan sesaat menyelimuti sambungan telepon itu sebelum Gaby akhirnya meledak, meski suaranya tetap ia jaga agar tidak menarik perhatian seluruh kantin.
"Aku tidak mengerti lagi dengan jalan pikiranmu, Kak!" bisik Gaby tajam, air mata kemarahan mulai menggenang di sudut matanya. "Kau berlebihan! Kau mengirim pengawal seolah-olah aku ini tawanan perang. Kau menghancurkan hariku, kau menghancurkan reputasiku di sini, dan sekarang kau ingin menjemputku hanya karena sebuah foto?"
Di seberang sana, terdengar helaan napas berat yang sarat akan amarah yang tertahan. "Kau menyebutnya berlebihan, aku menyebutnya perlindungan. Jika kau cukup dewasa untuk memahami risiko bermain api dengan pria seperti Blackwood, aku tidak perlu bertindak sejauh ini."
"Ini bukan tentang Melvin! Ini tentang aku yang ingin bernapas tanpa merasa diawasi setiap detiknya!" seru Gaby, suaranya naik satu oktav. "Aku tidak akan keluar sekarang. Aku akan menyelesaikan kelasku."
Gaby langsung mematikan sambungan telepon itu sebelum Emrys sempat membalas. Ia meletakkan ponselnya di meja dengan denting yang cukup keras, napasnya memburu.
"Blimey, Gaby... you actually hung up on him?" gumam Emilia dengan mata membelalak tak percaya.
Sabrina justru menyeringai lebar, tampak sangat bangga. "That’s the spirit, darling. The dragon needs to know that his treasure has claws too."
Gaby menatap punggung kedua pria bersetelan gelap itu saat mereka berbalik arah dan melangkah keluar dari aula kantin dengan langkah tegap yang sinkron. Tidak ada paksaan, tidak ada keributan. Mereka benar-benar pergi meninggalkan area kampus setelah Gaby mematikan telepon secara sepihak.
"Wait, did they actually just leave?" tanya Emilia, suaranya naik satu oktav karena heran. Ia menoleh ke arah gerbang luar, memastikan bayangan hitam itu benar-benar menghilang di balik pilar-pilar batu gotik.
Gaby mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan di dada. Rasa lega menyusup pelan, meskipun ada sedikit keraguan yang mengganjal di sudut hatinya. Tidak biasanya Emrys menyerah secepat itu. Pria itu bukan tipe yang akan membiarkan -pemberontakan- berlalu begitu saja tanpa konsekuensi.
"See?" Sabrina menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gaya kemenangan. "Sometimes the dragon just needs to be reminded that you’re not a porcelain doll, Gaby. He respects power. You showed him some."
(Terkadang naga itu hanya perlu diingatkan bahwa kamu bukan boneka porselen, Gaby. Dia menghormati kekuatan. Kamu sudah menunjukkan kepadanya.)
Gaby mencoba tersenyum, meski jemarinya masih sedikit mendingin. "Mungkin dia akhirnya sadar kalau dia sudah keterlaluan. Aku hanya ingin kuliah dengan tenang, tanpa merasa seperti buronan di rumah sendiri."
"Exactly!" seru Sabrina sembari menunjuk Gaby dengan garpu saladnya. "Now, forget about the 'Watchdogs'. We have a design to finish. Let’s show Melvin that Oxford’s newest muse is more than just a pretty face in a tweed suit."
(Sekarang, lupakan soal 'Watchdogs'. Kita punya desain yang harus diselesaikan. Mari tunjukkan pada Melvin bahwa inspirasi terbaru Oxford lebih dari sekadar wajah cantik dalam setelan tweed.)
Satu jam berikutnya di kelas berjalan dengan jauh lebih santai. Tanpa tatapan mengintimidasi dari balik jendela koridor, Gaby mulai bisa berkonsentrasi pada sketsanya. Ia bahkan sempat bertukar ide dengan Melvin saat pria itu berkeliling memeriksa proyek mahasiswa. Melvin memberikan masukan teknis tentang integrasi augmented reality pada kain, tanpa lagi menyindir soal "pengawal", seolah-olah dia tahu bahwa Gaby baru saja memenangkan pertempuran kecilnya.
Namun, saat bel akhir kuliah berbunyi dan sore mulai menyelimuti Oxford dengan semburat jingga, perasaan tenang itu perlahan memudar.
Ketika Gaby, Emilia, dan Sabrina melangkah keluar menuju gerbang samping. Tempat yang tadi disebut Emrys sebagai titik penjemputan. Gaby tidak menemukan Bentley hitam yang biasa menunggunya. Area itu kosong. Hanya ada beberapa mobil listrik mahasiswa yang berlalu lalang dengan senyap.
"No bodyguard. No Bentley. Is he really letting you take the train home?" tanya Emilia, mengernyit heran.
(Tidak ada pengawal. Tidak ada Bentley. Apa dia benar-benar membiarkanmu naik kereta api untuk pulang?)
Gaby merogoh tasnya, mencari ponselnya yang sejak tadi ia abaikan. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada panggilan tidak terjawab dari 'Kak Emrys'. Keheningan dari pihak Emrys justru terasa jauh lebih mengerikan daripada omelannya di telepon tadi.
"Mungkin aku harus naik kereta bersama kalian," gumam Gaby, mulai merasa gelisah.
Tepat saat mereka akan melangkah menuju stasiun, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Gaby. Bukan dari Emrys, tapi dari nomor tidak dikenal.
"A dragon doesn't leave his treasure unguarded, Gaby. He just changes the cage. Look up."
(Seekor naga tidak akan meninggalkan hartanya tanpa penjaga, Gaby. Dia hanya mengganti kandangnya. Coba lihat ke atas.)
Gaby mendongak, matanya membelalak saat melihat sebuah drone pengintai tingkat tinggi milik Kaito Group terbang statis di ketinggian, lensanya yang canggih menyorot tepat ke arahnya. Dan di ujung jalan, sebuah SUV hitam yang jauh lebih garang dari Bentley mulai melaju perlahan mendekati mereka.