Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16:Penyesalan Yang Mendalam Dan Jalan Baru Untuk Kekuatan
Matahari pagi bersinar lembut, menembus celah-celah bebatuan di mulut gua tempat mereka berlindung. Namun, bagi Kaelen, cahaya itu tidak membawa kehangatan apa pun. Dia berdiri di luar gua, memunggunginya pintu masuk yang terlindung oleh semak-semak liar. Matanya menatap kosong ke arah pemandangan alam yang terbentang di depan—pegunungan yang hijau dan langit yang biru—namun pikirannya jauh dari sana.
Pikirannya terus kembali ke momen di benteng Malakar, saat Lira terlempar dan terbaring lemah dengan darah yang mengalir dari mulutnya. Pikirannya terus kembali pada rasa tidak berdaya yang dia rasakan saat dia tidak bisa melindungi Lira, saat dia tidak bisa mengalahkan Malakar. Rasa bersalah itu memenuhi hatinya, membuatnya merasa sangat menyedihkan dan tidak berguna.
"Jika aku lebih kuat," bisik Kaelen pelan, suaranya bergetar karena emosi yang terpendam. "Jika aku memiliki kekuatan yang lebih besar, Lira tidak akan terluka separah ini. Ini semua salahku. Aku yang seharusnya terluka, bukan dia."
Tiba-tiba, dia merasakan sebuah tangan yang hangat menyentuh bahunya. Kaelen menoleh dan melihat Eldric berdiri di sampingnya, menatapnya dengan mata yang penuh dengan pengertian dan kebaikan.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Kaelen," kata Eldric pelan, suaranya lembut namun tegas. "Apa yang terjadi bukan salahmu. Kalian berdua berjuang dengan sangat berani. Malakar memang sangat kuat, dan dia telah mempersiapkan dirinya selama ratusan tahun. Tidak masuk akal jika kalian berharap bisa mengalahkan dia dalam pertarungan pertama kalian."
"Tapi Lira terluka, Tuan Eldric," jawab Kaelen, air matanya mulai menetes di pipinya. "Dia terluka parah karena aku. Aku seharusnya bisa melindunginya lebih baik. Aku adalah seorang Raja, dan aku seharusnya bisa melindungi orang-orang yang aku cintai. Tapi kenyataannya, aku tidak bisa melakukan apa-apa."
Eldric tersenyum kecil, dan dia menepuk bahu Kaelen dengan lembut. "Menjadi seorang Raja bukan berarti kamu harus bisa melakukan segalanya sendirian, Kaelen. Menjadi seorang Raja berarti kamu memiliki hati yang besar, kamu berani berkorban, dan kamu mau belajar dan tumbuh menjadi lebih baik. Lira tahu risiko yang dia ambil saat dia memutuskan untuk pergi bersamamu. Dan dia tidak menyesalinya. Dia mencintaimu, dan dia rela berkorban untukmu dan untuk dunia ini."
Kaelen mendengarkan kata-kata Eldric, dan dia merasa sedikit lebih tenang. Dia tahu bahwa Eldric benar. Tapi rasa bersalah itu masih ada di dalam hatinya, dan dia tahu bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk menghilangkannya. Dia harus menjadi lebih kuat. Dia harus menjadi cukup kuat untuk melindungi Lira, untuk melindungi dunia ini, dan untuk mengalahkan Malakar sekali dan untuk selamanya.
"Tuan Eldric," kata Kaelen, tiba-tiba menatap Eldric dengan mata yang penuh dengan tekad yang kuat. "Saya ingin belajar. Saya ingin Anda mengajari saya. Saya tahu bahwa Anda adalah seorang penyihir yang sangat kuat dan sangat bijaksana. Tolong ajari saya cara untuk menggunakan kekuatan saya dengan lebih baik. Tolong ajari saya cara untuk menjadi lebih kuat. Saya tidak mau lagi merasa tidak berdaya seperti ini."
Eldric menatap Kaelen dengan mata yang penuh dengan kekaguman. Dia bisa melihat bahwa di balik rasa bersalah dan kesedihan Kaelen, ada sebuah semangat yang membara, sebuah keinginan yang kuat untuk tumbuh dan untuk menjadi lebih baik.
"Aku akan mengajari kamu, Kaelen," jawab Eldric, tersenyum bangga. "Aku akan mengajari kamu semua yang aku tahu. Tapi kamu harus ingat, kekuatan yang sejati tidak hanya datang dari kemampuan sihir atau kekuatan fisik. Kekuatan yang sejati datang dari hati yang murni, dari cinta, dan dari keberanian untuk berkorban. Jika kamu memiliki hal-hal itu, kamu akan menjadi penyihir yang sangat kuat, jauh lebih kuat daripada yang kamu bayangkan."
"Terima kasih, Tuan Eldric," kata Kaelen, merasa sangat bersyukur. "Saya berjanji akan belajar dengan sungguh-sungguh. Saya tidak akan mengecewakan Anda."
"Baiklah," kata Eldric. "Sekarang, mari kita masuk ke dalam gua. Lira sudah bangun, dan dia ingin melihatmu. Dan setelah itu, kita akan mulai pelajaran pertama kita."
Kaelen mengangguk, dan dia mengikuti Eldric masuk ke dalam gua. Di dalam gua, Lira sedang duduk di atas tempat tidur batu, wajahnya masih pucat dan lemah, tapi matanya bersinar dengan cahaya yang hangat dan penuh dengan cinta saat melihat Kaelen masuk.
"Yang Mulia," bisik Lira pelan, mengulurkan tangannya kepada Kaelen.
Kaelen segera berlari ke arah Lira dan memegang tangannya dengan erat. "Lira... Kamu sudah bangun. Bagaimana perasaanmu? Apakah kamu merasa sakit?"
Lira tersenyum kecil, menggelengkan kepalanya. "Saya merasa lebih baik, Yang Mulia. Terima kasih. Tuan Eldric sudah merawat saya dengan sangat baik. Dan terima kasih karena Anda sudah menyelamatkan saya. Terima kasih karena kita masih hidup bersama-sama."
Kaelen memeluk Lira dengan lembut, mencium keningnya. "Jangan pernah tinggalkan aku, Lira. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika sesuatu terjadi padamu. Aku berjanji padamu, mulai sekarang, aku akan menjadi lebih kuat. Aku akan melindungimu dengan sekuat tenagaku. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu lagi."
Lira membalas pelukan Kaelen, merasakan kehangatan dan keamanan dalam pelukan itu. "Saya tahu, Yang Mulia. Saya tahu bahwa Anda akan menjadi sangat kuat. Dan saya akan selalu ada di sisimu, mendukungmu."
Mereka melepaskan pelukan itu, dan mereka saling menatap dengan mata yang penuh dengan cinta. Mereka tahu bahwa mereka telah melewati masa yang sangat sulit, tapi mereka juga tahu bahwa mereka semakin kuat dan semakin dekat satu sama lain.
Setelah beberapa saat, Eldric berbicara. "Baiklah, Kaelen. Sekarang, mari kita mulai pelajaran pertama kita. Lira, kamu istirahatlah di sini. Kami akan berada di luar gua sebentar."
Lira mengangguk dengan senyum. "Baiklah, Tuan Eldric. Semoga sukses, Yang Mulia."
Kaelen dan Eldric pun berjalan keluar dari gua, menuju ke sebuah tempat yang datar dan aman di dekat mulut gua. Di sana, Eldric mulai mengajari Kaelen.
"Pelajaran pertama kita adalah tentang fokus dan konsentrasi," kata Eldric, berdiri di depan Kaelen dengan mata yang serius. "Kekuatan sihir adalah manifestasi dari energi yang ada di dalam diri kita dan di alam semesta. Untuk bisa menggunakan kekuatan itu dengan efektif, kamu harus bisa memusatkan pikiranmu dan mengendalikannya dengan sempurna. Jika pikiranmu kacau atau jika kamu tidak fokus, kekuatanmu akan menjadi tidak stabil dan tidak kuat."
Eldric menunjuk ke sebuah batu kecil yang ada di tanah di depan mereka. "Cobalah untuk mengangkat batu itu dengan kekuatan esmu. Tapi jangan hanya mengangkatnya. Cobalah untuk memutarnya di udara, dan cobalah untuk membekukannya secara perlahan-lahan tanpa menghancurkannya. Fokuskan pikiranmu pada batu itu. Rasakan energinya, dan rasakan hubungannya dengan energimu."
Kaelen mengangguk dengan tegas. Dia berdiri di depan batu itu, matanya terfokus pada batu itu. Dia mengangkat tangannya, dan cahaya biru mulai bersinar dari telapak tangannya. Dia mencoba untuk mengangkat batu itu dengan kekuatan esnya. Awalnya, batu itu bergerak sedikit, tapi kemudian jatuh kembali ke tanah. Kaelen mencoba lagi dan lagi, tapi dia selalu gagal. Pikirannya terus terganggu oleh rasa bersalah dan kecemasannya tentang Lira dan tentang Malakar.
"Sialan," geram Kaelen, merasa frustrasi. "Kenapa saya tidak bisa melakukannya? Apa yang salah dengan saya?"
Eldric berjalan mendekati Kaelen, dan dia meletakkan tangannya di bahu Kaelen. "Tenanglah, Kaelen. Jangan terburu-buru. Masalahnya bukan pada kekuatanmu, tapi pada pikiranmu. Pikiranmu masih kacau. Kamu masih memikirkan tentang rasa bersalahmu dan tentang bahaya yang menanti kalian. Kamu harus melepaskan semua itu. Kamu harus fokus pada saat ini, pada batu ini, dan pada energimu."
"Tutup matamu," lanjut Eldric. "Dan tarik napas dalam-dalam. Rasakan udara yang masuk ke paru-parumu, dan rasakan energi yang mengalir melalui tubuhmu. Pikirkan tentang hal-hal yang membuatmu bahagia, tentang hal-hal yang membuatmu merasa tenang. Pikirkan tentang cinta yang kamu rasakan terhadap Lira, dan tentang keinginanmu untuk melindungi dunia ini. Biarkan perasaan-perasaan itu mengisi hatimu dan mengusir semua rasa bersalah dan kecemasan itu."
Kaelen menutup matanya, dan dia mengikuti instruksi Eldric. Dia menarik napas dalam-dalam, dan dia mencoba untuk melepaskan semua rasa bersalah dan kecemasan yang ada di dalam hatinya. Dia memikirkan tentang Lira, tentang senyumnya yang indah, dan tentang cinta yang mereka miliki satu sama lain. Dia memikirkan tentang dunia yang indah dan damai yang ingin dia lindungi. Semakin dia berpikir tentang hal-hal itu, semakin dia merasa tenang dan damai. Pikiran yang kacau itu perlahan-lahan hilang, digantikan oleh sebuah ketenangan dan fokus yang kuat.
"Baiklah," kata Eldric pelan. "Sekarang, buka matamu, dan cobalah lagi."
Kaelen membuka matanya, dan dia menatap batu itu dengan mata yang tenang dan fokus. Dia mengangkat tangannya, dan cahaya biru mulai bersinar dari telapak tangannya. Kali ini, kekuatan itu terasa lebih stabil dan lebih kuat. Dengan lembut, dia mengangkat batu itu ke udara. Batu itu melayang di udara dengan lancar. Kemudian, dia mulai memutarnya di udara dengan perlahan-lahan. Dan akhirnya, dia mulai membekukannya secara perlahan-lahan, menciptakan sebuah lapisan es yang tipis dan halus di permukaan batu itu tanpa menghancurkannya.
Kaelen menurunkan tangannya, dan batu itu jatuh kembali ke tanah dengan lembut. Dia menatap tangannya dengan heran dan kagum. Dia berhasil. Dia berhasil melakukannya.
"Saya melakukannya, Tuan Eldric!" teriak Kaelen, tersenyum bahagia. "Saya berhasil melakukannya!"
Eldric tersenyum bangga, mengangguk setuju. "Benar, Kaelen. Kamu berhasil. Kamu melihat? Kekuatanmu ada di sana, selama kamu bisa mengendalikan pikiranmu dan fokus dengan benar. Itu adalah langkah pertama yang sangat penting."
Hari itu, Kaelen belajar banyak hal dari Eldric. Dia belajar tentang fokus dan konsentrasi, dia belajar tentang cara untuk mengendalikan kekuatan esnya dengan lebih baik, dan dia belajar tentang cara untuk menggabungkan kekuatannya dengan perasaan hatinya. Dia belajar bahwa kekuatan yang sejati datang dari dalam diri, dari hati yang murni dan penuh dengan cinta.
Meskipun dia masih lelah dan meskipun dia masih memiliki rasa bersalah di dalam hatinya, Kaelen merasa lebih yakin dan lebih berani. Dia tahu bahwa dia sedang berada di jalan yang benar.