NovelToon NovelToon
JANDA SATU ANAK

JANDA SATU ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:952
Nilai: 5
Nama Author: Nana Bear

Rania adalah seorang janda muda dengan satu anak. Meski hidupnya tidak mudah, kecantikannya yang mempesona dan sifatnya yang lembut membuat banyak pria terpikat padanya.
Di tengah usahanya membesarkan anaknya sendirian, dua pria muda tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya. Arga, pria brondong yang ceria dan berani, selalu terang-terangan menggoda dan mendekati Rania. Sementara itu ada Damar, pria muda yang dingin, tampan, dan diam-diam selalu memperhatikan Rania dari jauh.
Dua pria.
Satu wanita.
Siapa yang akhirnya akan memenangkan hati janda cantik itu?
Di antara masa lalu yang belum sepenuhnya hilang, tanggung jawab sebagai seorang ibu, dan godaan cinta dari dua pria yang lebih muda…
Akankah Rania membuka kembali pintu hatinya?
Atau justru cinta baru itu akan mengubah hidupnya selamanya? ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Langkah yang Mengubah Segalanya

Malam itu terasa berbeda.

Setelah kata-kata yang akhirnya keluar dari hati Rania—“Aku merindukan kalian…”—tidak ada lagi yang sama seperti sebelumnya.

Angin malam berhembus pelan di teras rumah kecil itu.

Namun suasana di antara mereka bertiga terasa lebih hangat…

Dan juga lebih tegang.

Rania berdiri di depan Arga dan Damar dengan jantung yang masih berdebar kencang.

Ia tidak pernah membayangkan akan mengatakan hal itu dengan begitu jujur.

Namun begitu kata-kata itu keluar…

Ia tidak bisa menariknya kembali.

Dan sekarang…

Ia harus menghadapi kenyataannya.

Arga tersenyum pelan.

Senyum yang kali ini tidak penuh canda seperti biasanya.

Lebih dalam.

Lebih tulus.

“Akhirnya kamu jujur,” katanya pelan.

Rania menunduk.

Wajahnya memerah.

“Aku… tidak bermaksud—”

Arga menggeleng.

“Tidak apa-apa.”

Ia melangkah sedikit lebih dekat.

“Aku senang mendengarnya.”

Di sisi lain, Damar juga menatap Rania dengan ekspresi lembut.

Tidak banyak kata.

Namun tatapannya sudah mengatakan semuanya.

“Aku juga,” ucapnya singkat.

Rania menggenggam ujung bajunya.

Hatinya terasa penuh.

Namun juga semakin bingung.

Beberapa detik mereka hanya diam.

Suasana menjadi sunyi.

Namun bukan sunyi yang canggung.

Melainkan sunyi yang penuh makna.

Sampai akhirnya Arga berkata lagi.

“Mbak Rania.”

“Iya?”

“Kamu tahu kan… setelah ini kita tidak bisa kembali seperti dulu.”

Rania terdiam.

Ia mengerti maksudnya.

Semua sudah berubah.

Perasaan sudah diungkapkan.

Tidak ada lagi ruang untuk berpura-pura.

Damar menambahkan pelan.

“Kamu harus mulai menentukan arah.”

Kalimat itu membuat dada Rania terasa sesak.

Ia menarik napas dalam.

“Aku tahu…”

Namun mengetahui dan melakukannya adalah dua hal yang berbeda.

Malam semakin larut.

Akhirnya Arga dan Damar pulang.

Untuk pertama kalinya…

Mereka tidak berlama-lama.

Seolah mereka sengaja memberi Rania ruang.

Rania berdiri di depan pintu.

Melihat mereka pergi.

Hatinya terasa berat.

Namun juga hangat.

Ia tahu…

Mereka benar-benar menghargainya.

Keesokan paginya, Rania bangun dengan perasaan yang berbeda.

Lebih ringan.

Namun juga lebih sadar.

Ia tidak bisa terus menunda.

Ia harus mulai memahami perasaannya sendiri.

“Bunda!”

Rafa berlari keluar kamar dengan semangat seperti biasa.

“Iya, Nak?”

“Bunda senyum-senyum!”

Rania tertawa kecil.

“Masa?”

Rafa mengangguk.

“Iya!”

Rania mengusap kepala anaknya.

Mungkin…

Rafa benar.

Hari ini ia merasa sedikit lebih tenang.

Setelah Rafa berangkat sekolah, Rania duduk sendirian di teras.

Ia memejamkan mata.

Mencoba merasakan hatinya sendiri.

Arga.

Sosok yang selalu membuatnya tertawa.

Yang datang dengan kehangatan.

Yang tidak pernah membuat hari-harinya terasa sepi.

Damar.

Sosok yang selalu tenang.

Yang memberikan rasa aman.

Yang hadir tanpa banyak kata, tapi selalu tepat.

Dua perasaan yang berbeda.

Namun sama kuatnya.

Rania membuka matanya perlahan.

“Aku harus jujur… pada diriku sendiri,” gumamnya.

Tidak lama kemudian, suara motor terdengar di depan rumah.

Rania menoleh.

Arga.

Namun hari ini ia tidak langsung masuk.

Ia hanya berdiri di depan pagar.

Seolah menunggu.

Rania berjalan mendekat.

“Kamu tidak masuk?”

Arga tersenyum kecil.

“Boleh?”

Rania mengangguk.

“Masuklah.”

Namun Arga tidak langsung melangkah.

Ia justru berkata pelan.

“Mbak Rania… aku ingin tahu satu hal.”

Rania menatapnya.

“Apa?”

Arga menatapnya dengan serius.

“Kalau aku mundur… apakah kamu akan mencariku?”

Pertanyaan itu membuat jantung Rania berhenti sejenak.

“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”

Arga tersenyum tipis.

“Aku hanya ingin tahu… seberapa besar aku berarti untukmu.”

Rania tidak bisa langsung menjawab.

Namun sebelum suasana menjadi terlalu dalam…

Suara mobil berhenti di depan rumah.

Damar.

Seperti biasa.

Namun kali ini…

Ia juga tidak langsung masuk.

Ia berdiri di samping mobilnya.

Seolah memberi ruang.

Namun tetap hadir.

Rania melihat keduanya.

Hatinya kembali berdebar.

Ia melangkah perlahan ke tengah halaman.

Menatap Arga.

Lalu Damar.

Dua orang yang sekarang menjadi bagian dari hidupnya.

Dua orang yang sama-sama tulus.

Dan akhirnya…

Rania berkata pelan.

“Aku belum bisa memilih…”

Arga terdiam.

Damar juga.

Namun Rania melanjutkan.

“Tapi satu hal yang aku tahu…”

Suaranya sedikit bergetar.

“Aku tidak ingin kehilangan salah satu dari kalian.”

Keheningan langsung menyelimuti halaman itu.

Arga menunduk sejenak.

Lalu tersenyum kecil.

“Itu jawaban yang jujur.”

Damar juga mengangguk pelan.

“Dan itu sudah cukup untuk sekarang.”

Namun Arga kemudian berkata lagi.

“Tapi suatu hari nanti… kamu harus memilih.”

Rania mengangguk.

“Aku tahu.”

Damar menatapnya dengan tenang.

“Kami akan menunggu.”

Kalimat itu membuat hati Rania terasa hangat.

Namun juga semakin berat.

Karena ia tahu…

Waktu itu tidak akan selamanya ada.

Sore hari, Rafa kembali bermain di halaman.

Seperti biasa.

Arga ikut bermain dengannya.

Damar berdiri di dekat pagar.

Rania duduk di teras.

Namun hari ini…

Ia tidak hanya melihat.

Ia mulai merasakan.

Setiap tawa Rafa bersama Arga.

Setiap perhatian diam-diam dari Damar.

Semua itu perlahan membentuk sesuatu di dalam hatinya.

Sesuatu yang semakin jelas.

Malam hari, setelah semuanya tenang…

Rania kembali duduk sendirian.

Namun kali ini…

Ia tidak merasa sepi.

Karena ia tahu…

Ia tidak sendiri lagi.

Ia hanya…

Belum menentukan siapa yang akan berjalan di sampingnya.

Dan mungkin…

Langkah kecil yang ia ambil hari ini…

Akan menjadi awal dari keputusan besar yang akan mengubah segalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!