NovelToon NovelToon
GADIS PEMBAWA SIAL, DI CINTAI DUDA KAYA RAYA

GADIS PEMBAWA SIAL, DI CINTAI DUDA KAYA RAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa idayu

Nayra Agata Kennedy, ia merupakan putri bungsu dari Lukas Kennedy, Nayra memliki saudari kembar bernama Nayla (Nayla lahir 45 menit lebih dulu), lahir dengan membawa duka. Ibunya meninggal dunia karena pendarahan hebat setelah berjuang melahirkannya, membuat Nayra dibenci ayah dan ketiga kakak laki-lakinya selama 21 tahun. Hanya Nayla yang selalu peduli padanya.

Takdir berubah saat Nayra bertemu seorang miliarder tampan. Dipersunting olehnya, hidup Nayra berubah drastis, dari yang dulu diabaikan, kini ia dimanjakan layaknya putri raja oleh suaminya yang penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa idayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penghianatan

Pagi itu, sinar matahari sudah mulai menyinari jalan-jalan kawasan bisnis sejak pukul 06.30. Udara masih segar namun sudah terasa sedikit lembap, khas musim penghujan yang akan tiba. Sean Fawas Samir, pria berusia 32 tahun dengan tubuh tinggi dan postur yang gagah. melangkah dengan langkah yang pasti menuju restoran mewah "La Veranda" yang terletak tepat di lantai dasar gedung perkantoran kelas atas. Rencananya, pukul 07.00 tepat ia akan bertemu dengan Mr. Richard Cooper, pengusaha tekstil asal Amerika Serikat yang akan menjalin kerja sama besar dengan perusahaan keluarganya.

Sebagai pembisnis yang dikenal teliti dan tepat waktu hingga detiknya, Sean selalu datang 15 menit lebih awal. Bukan karena ia takut terlambat, tapi karena ia ingin menyusun ulang poin-poin penting yang akan dibahas dalam pertemuan. Namun hari ini, semua perhitungan dan fokusnya hancur berkeping-keping dalam sekejap mata.

Suara alas kaki hak tinggi wanita yang menyentuh lantai marmer mengganggu kesunyian yang ada di lobi restoran. Sean mengangkat kepala secara refleks, dan matanya yang biasanya dingin dan fokus kini seperti tertusuk oleh ribuan jarum tajam. Dari arah lift yang menghubungkan restoran dengan hotel bintang lima di lantai atasnya, muncul sosok wanita yang mengenakan gaun warna merah anggur dengan renda transparan yang mengkilap di bawah sinar lampu kristal. Rambut panjangnya yang hitam lebat terurai sembarangan, wajahnya yang cantik masih membekas kesan kehangatan malam sebelumnya, bibirnya sedikit membengkak, pipinya kemerahan, dan matanya masih terlihat mengantuk namun penuh keceriaan.

Nayra Silvia Wijaya, istri yang telah bersamanya selama sembilan bulan akibat perjodohan orang tua. Wanita yang dua hari lalu mengirim pesan teks padanya dengan nada lembut: “Sayang, aku sudah tiba di Bali nih. Liburan kali ini aku akan pulang dengan oleh-oleh terbaik buat kamu ya…”

Di sisinya, seorang pria kulit putih dengan rambut pirang bergaya menyandarkan lengannya erat di pinggang Silvi, tangan kanannya bahkan dengan tega merayap perlahan ke arah punggung bawah wanita itu sambil memberikan ciuman lembut di pelipisnya. Silvi menoleh ke arah pria itu dengan senyum manja, bahkan mengangkat dagunya sedikit untuk menerima ciuman tambahan di bibirnya.

Kedua orang itu tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang menyaksikan aksi mereka dengan pandangan yang semakin membeku. Sean merasa darahnya membeku di dalam pembuluhnya. Ia merasakan bagaimana jantungnya yang biasanya berdetak teratur kini seperti akan meledak dari dalam dadanya. Tangannya yang sedang menggenggam folder berisi dokumen kerja mulai menggigil, hingga akhirnya ia harus menjepitnya dengan kuat agar tidak terjatuh.

“Ku kira kau benar-benar setia…”

Kata-kata itu keluar dari bibirnya dengan suara yang hampir tak terdengar, disertai senyum getir yang penuh dengan rasa sakit dan penghinaan. Ia tidak bisa mempercayai apa yang dilihat matanya sendiri. Meskipun dalam hati terdalam ia tahu bahwa pernikahan mereka tidak ada cinta di dalamnya, namun rasa kehormatan sebagai seorang suami kini hancur berkeping-keping.

“Tuan…?”

Suara lembut dari belakang membuat Sean kembali ke realita. Ia menoleh dan melihat Roy, asistennya yang telah bekerja bersama nya selama tujuh tahun ini, Roy berdiri dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Roy juga telah melihat apa yang dilihat oleh tuannya, dan matanya menunjukkan rasa kasihan yang dalam.

“Tuan, apa kita pindah restoran saja? Saya bisa hubungi Mr. Cooper untuk mengubah tempat pertemuan…” ucap Roy dengan hati-hati, tidak ingin menyentuh luka yang baru saja terbuka dalam hati Sean.

Sean menggelengkan kepalanya perlahan. Ia berdiri dengan gerakan yang lambat namun tetap menjaga postur tubuhnya yang tegap. Ia tidak ingin orang lain melihat bahwa dirinya sedang hancur. “Atur ulang meeting nya nanti siang. Katakan saja aku ada urusan mendadak yang tidak bisa ditunda,” ucapnya dengan suara yang datar namun penuh dengan tekanan yang luar biasa. Tanpa menoleh lagi ke arah Silvi dan pria itu, ia berjalan menuju pintu keluar restoran dengan langkah yang kokoh walau rasanya setiap langkahnya seperti menjejak tanah yang terbakar.

Roy mengikuti di belakangnya dengan langkah yang cepat, segera membuka pintu mobil mewah yang telah menunggu di depan restoran. Sean masuk ke dalam mobil tanpa berkata apa-apa, tubuhnya jatuh ke kursi belakang dengan berat yang luar biasa. Ia menutup matanya sejenak, mencoba menekan rasa sakit yang seperti membakar seluruh tubuhnya.

“Kita kemana, Tuan?” tanya Roy sambil memutar kunci kontak mobil. Ia melihat refleksi wajah Sean di cermin spion, dan bisa membayangkan betapa dalam rasa sakit yang sedang dialami oleh tuannya yang selalu kuat dan tak terkalahkan.

Sean tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah luar jendela mobil, menyaksikan pemandangan jalanan kota yang mulai ramai dengan aktivitas pagi hari. Gedung-gedung tinggi, kendaraan yang berlalulintas, orang-orang yang sibuk menjalankan aktivitas mereka semua terasa seperti dunia lain yang tidak terkait dengan dirinya. Karena tidak mendapatkan jawaban, akhirnya Roy melajukan kendaraannya menuju perusahaan

“Aku memang tidak bisa memuaskan mu… wajar jika kau mencari kepuasan di luar…”

Kata-kata itu bergema di dalam benaknya seperti mantra yang menyakitkan. Ia mengingat malam-malam terakhir sebelum Silvi pergi “liburan”. Ia berada di kamar tidur mereka, ia sedang membaca laporan bisnis ketika Silvi masuk dengan mengenakan gaun tidur yang sangat terbuka. Wanita itu kemudian duduk di pangkuannya, tangan lembutnya merayap perlahan ke dada dan lehernya, bibirnya menyentuh telinganya dengan suara bisik yang penuh hasrat: “Sayang, mari kita coba lagi ya… mungkin kali ini bisa berhasil…”

Sean telah mencoba dengan sekuat tenaga. Ia ingin memenuhi kewajibannya sebagai suami. Tapi setiap kali ia mencoba menghadapi Silvi dengan tujuan untuk berhubungan intim, bagian tubuhnya yang seharusnya merespon justru tetap dingin dan tidak bergerak sama sekali. Sejak kecelakaan mobil setahun tahun yang lalu, ketika ia harus menjalani operasi panjang karena tulang ekornya yang patah dan menekan saraf penting. ia tidak bisa lagi merasakan gairah terhadap wanita. Ia tidak bisa ereksi, tidak bisa memberikan apa yang seharusnya diberikan kepada seorang istri muda.

“Memang benar pernikahan yang dipaksakan tanpa adanya cinta tidak akan bisa bertahan lama…” gumamnya dengan suara yang rendah, disertai senyum sinis yang membuat Roy merasa iba. Sean kemudian menoleh ke arah Roy yang duduk di kursi pengemudi, matanya yang dingin kini penuh dengan rasa putus asa. “Apa mungkin ada wanita yang mau dinikahi tanpa disentuh, Roy?”

Pertanyaan itu keluar dengan nada yang sangat datar, seolah ia sedang bertanya tentang sesuatu yang sepele seperti cuaca hari ini. Namun Roy tahu, di balik pertanyaan itu ada rasa sakit yang mendalam dari seorang pria yang merasa gagal dalam perannya sebagai laki-laki.

“Ada, Tuan… seandainya dia sabar,” jawab Roy dengan hati-hati, sambil tetap fokus pada jalanan yang dilaluinya. “Dokter sudah bilang kan, Tuan bisa disembuhkan. Itu artinya masih ada harapan besar. Cukup butuh waktu saja…”

“Tidak, Roy… tidak mungkin ada wanita yang mau sabar menunggu,” ucap Sean dengan nada yang semakin dingin. Ia menutup matanya lagi, mengingat bagaimana wajah Silvi berkali-kali menunjukkan rasa kecewa yang semakin mendalam setiap kali usaha mereka untuk berhubungan intim berakhir dengan kegagalan. “Aku laki-laki tidak normal, Roy. Aku tidak bisa ereksi meskipun dia sudah berusaha sekeras mungkin. Semua usaha nya… semua godaan nya… nihil. Senjataku sama sekali tidak tersentuh dan tidak ada reaksi sama sekali…”

Roy terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia tahu bahwa kata-kata penghiburan tidak akan cukup untuk menghilangkan rasa sakit yang sedang dialami oleh tuannya. Ia hanya bisa mengemudi dengan hati-hati, sambil berdoa dalam hati agar suatu hari nanti Sean bisa menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.

“Tuan tenang saja… suatu hari nanti pasti sembuh. Tuan laki-laki normal, Tuan seperti ini hanya karena kecelakaan. Pasti nanti akan sembuh, Tuan…” ucap Roy perlahan, berusaha memberikan sedikit harapan dalam hati Sean yang sedang gelap gulita.

ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

Di sisi lain kota, di kawasan perumahan elit, rumah keluarga Kennedy sudah penuh dengan suara dan aktivitas pagi hari. Rumah bergaya kolonial dengan taman yang luas dan terawat rapi ini merupakan tempat tinggal bagi lima bersaudara yatim piatu yang kini telah tumbuh menjadi orang-orang sukses di bidang masing-masing.

Di ruang makan yang luas dengan lantai marmer putih dan furnitur kayu jati klasik, mereka sedang berkumpul untuk sarapan pagi. Nagara Ananta Kennedy, kakak tertua yang berusia 33 tahun dan menjabat sebagai CEO di Perusahaan Kennedy, duduk di ujung meja dengan wajah yang serius, sedang membaca koran bisnis pagi hari. Di sebelahnya, Nicholas Ananta Kennedy, yang kedua berusia 29 tahun dan bekerja sebagai pilot utama maskapai penerbangan, sedang menikmati telur mata sapi dengan roti panggangnya. Nathan Ananta Kennedy. yang ketiga berusia 27 tahun dan merupakan pebisnis restoran. sedang mengetik pesan teks di ponselnya sambil sesekali menyendok sup jagung ke dalam mulutnya.

Di sisi lain meja, Nayla Agata Kennedy dan Nayra Agata Kennedy, saudari kembar berusia 21 tahun. duduk berdampingan. Nayla yang selalu ceria sedang bercerita tentang proyek desain busana yang sedang di kerjakannya, sementara Nayra duduk dengan tenang, tangan kanannya sering kali menyentuh perutnya yang sebenarnya belum buncit dan belum merasakan apa pun. Wajah Nayra yang cantik dan lembut kini menunjukkan kesan lebih dewasa dan penuh dengan kekhawatiran, namun tetap ada kilatan kebaikan hati yang selalu ada di dalam matanya.

“Kalau kau ngidam atau butuh sesuatu bilang saja ke kakak ya, Nay,” ucap Nick sambil mengangkat kepalanya dari piring, matanya yang hangat menatap Nayra dengan penuh perhatian. Biasanya Nick tidak pernah bisa ikut sarapan bersama karena jadwal terbang yang kadang bisa sampai berhari-hari. namun hari ini ia muncul di meja makan dengan mengenakan baju santai dan wajah yang rileks.

Nayla mengangkat alisnya dengan heran. “Kakak bukan nya ada penerbangan hari ini? Kan kemarin bilang akan terbang. untuk penerbangan rutin?”

Nick mengangguk perlahan, kemudian mengambil gelas jus jeruk di depannya dan meneguknya satu tegukan. “Aku sudah ajukan cuti selama setahun,” katanya dengan suara yang tenang namun tegas. “Selain mau merawat Nayra dan membantu mengurusnya selama hamil, aku juga mau fokus ke perkebunan sawit yang ditinggalkan oleh Papa dulu. Sudah lama aku tidak bisa memberikan perhatian penuh pada bisnis keluarga kita.”

Nathan segera menatap kakaknya dengan ekspresi khawatir. “Kakak… pilot itu kan cita-cita kakak? Jangan tinggalkan itu hanya karena masalah ini dong. Kak, ada kami kan? Kami akan jaga Nayra dengan baik. Selama Nayra hamil, bila perlu aku akan mengurus perkebunan kakak. Kakak tidak usah khawatir sama sekali.”

Nick menggelengkan kepalanya dengan lembut. Ia melihat ke arah Nayra yang kini sedang menunduk dan mengocok-ngocok makanan di piringnya dengan sendoknya. “Ini bukan masalah yang bisa kita sepelekan, Nathan,” ucapnya dengan nada yang lembut namun tegas. “Nayra adalah saudari kita. Dia sedang menghadapi masa-masa sulit dalam hidupnya, dan kita harus bersama-sama mendukungnya. Apalagi kita sudah kehilangan Mama dan Papa, kita hanya punya keluarga untuk bergantung satu sama lain.”

Nayra menengadahkan kepalanya dengan perlahan, matanya sudah mulai berkaca-kaca. “Kak… maaf ya… karena aku sudah membuat kakak semua susah dan terganggu pekerjaannya…” ucapnya dengan suara yang lembut dan penuh rasa bersalah. Ia merasa sangat tidak nyaman karena kondisinya kini membuat kakak-kakaknya harus mengorbankan banyak hal.

Nick segera menatap Nayra dan memberikan senyum hangat padanya. “Nay, ini bukan salah mu sama sekali. Jangan pernah berpikir bahwa kamu menjadi beban bagi kita ya. Kamu adalah bagian dari keluarga Kennedy, dan kita akan selalu ada untukmu.”

Naga yang sedari tadi ini hanya diam dan mendengarkan pembicaraan mereka akhirnya menutup korannya dengan lembut. Ia melihat ke arah semua saudara-saudaranya dengan wajah yang penuh perhatian. “Nick sudah benar. Ini musibah yang tidak diinginkan oleh siapapun, Nay,” ucapnya dengan suara yang dalam dan penuh dengan kekuasaan alaminya. “Ini sama sekali bukan kesalahan mu atau kesalahan Sean. Seandainya inseminasi buatan itu tidak salah orang, kamu tidak akan pernah berada di situasi seperti ini. Jika mau cari siapa yang salah, itu adalah kesalahan dokter yang tidak teliti, dia yang salah memasukkan sampel Sean ke rahim mu padahal seharusnya untuk istri nya sendiri.”

Naga kemudian menatap langsung ke arah Nick dengan pandangan yang tegas. ”Nick, tetaplah bekerja sebagai pilot seperti yang kamu inginkan. Cita-cita mu juga penting bagi keluarga kita. Nayra akan menjadi tanggung jawab ku sebagai kakak tertua. Selain itu, aku akan minta Pak Tarjo untuk pergi ke Sumatra untuk sementara waktu agar kebun mu bisa dikelolanya dengan baik. Pak Tarjo sudah bekerja dengan keluarga kita sejak zaman Papa. Kau bisa mempercayainya”

Nathan mengangguk dengan setuju. “Benar mas. Lagian semenjak Tuan sudah tidak ada, Pak Tarjo memang lebih banyak waktu luangnya. Dia pasti akan senang membantu mengurus kebun mas Nick.”

Pada saat itu, Bi Surti, pembantu rumah tangga yang telah bekerja dengan keluarga Kennedy selama lebih dari dua puluh tahun dan telah melihat mereka tumbuh dari kecil, datang mendekat dengan membawa mangkuk sup ayam hangat untuk Nayra. Wanita berusia 50 tahun itu selalu memperhatikan kondisi kesehatan Nayra dengan sangat cermat semenjak mengetahui bahwa gadis itu sedang mengandung.

“Betul sekali, Mas Naga,” ucap Bi Surti dengan suara yang ramah namun penuh kekhawatiran. “Aku juga akan selalu ada di samping Nayra. Aku tidak akan pernah biarkan anak yang aku rawat dari kecil ini kesusahan atau merasa tidak nyaman sedikit pun selama hamil. Jadi Mas Nick tidak usah khawatir sama sekali ya. Kerja saja dengan tenang sebagai pilot seperti yang selalu kamu inginkan.”

Nick mengangguk dengan senyum hangat kepada Bi Surti. Ia tahu bahwa dengan adanya Bi Surti yang selalu penuh perhatian dan kasih sayang, Nayra akan selalu dalam keadaan yang baik. Ia kemudian menoleh ke arah Bi Surti dengan senyum ramah. “Terima kasih banyak ya, Bi Surti. Bibi selalu menjadi bagian penting dari keluarga kita.”

Suara dering bel pintu utama yang keras tiba-tiba mengganggu suasana hangat di ruang makan. Semua orang berhenti sejenak dan saling tatap muka. Siapa yang bisa datang ke rumah mereka pada jam delapan pagi yang masih sangat awal ini?

Beberapa saat kemudian, salah satu asisten rumah tangga muda memasuki ruang makan dengan langkah yang cepat dan sedikit tergesa-gesa. Wanita itu melihat ke arah Naga dengan ekspresi sedikit gugup. “Tuan… di depan ada tamu yang ingin bertemu,” ucapnya dengan suara yang rendah.

Naga mengangkat alisnya dengan heran. “Siapa bertamu pagi-pagi begini?”

“Beliau bernama Tuan Sean Fawas Samir Wijaya, Mas,” jawab asisten itu dengan suara yang jelas. “Katanya ingin bertemu dengan Nona Nayra khususnya.”

Kata-kata itu membuat seluruh ruangan menjadi sunyi seketika. Nayra merasa jantungnya berdebar kencang hingga rasanya akan keluar dari dadanya. Ia tahu bahwa nama Sean Fawas Samir Wijaya adalah nama ayah dari anak yang sedang dikandungnya, anak yang ada di dalam rahimnya

1
Monroe George
dunia Nayra msih baik" sja coz pnya saudara kembar yang peduli 👍
Monroe George
marathon aku kak, seru crita nya 💪
Monroe George
CEO ni nnti yang nikahi Nayra 🤭
Ardy Ansyah
teraniaya dulu bahagia kemudian 🤣. suka aku tuh kalau alur yang begini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!