Bagaimana rasanya bila sedang berduka karena kehilangan laki-laki yang sangat kita cintai secara tiba-tiba, datang wanita asing dan anak kecil yang yang tidak kita kenal sama sekali mengaku sebagai istri dan anak suami kita yang telah meninggal dunia.
Dunia seakan runtuh saat itu juga.
Hancur. Pedih. Perih...
Rasa itulah yang kini bersemayam di palung hati Mikhaela Andisti. Kepergian Dion Sadewa, memberikan luka begitu dalam bagi Mikha. Ternyata laki-laki yang selalu menunjukkan rasa cinta padanya itu telah mengkhianatinya.
Bagaimana kelanjutan kisah ini ikuti terus ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di setiap bab🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA TEMPAT BERBEDA
Tio menggebrak meja hingga cangkir kopi di hadapannya berdenting nyaring. Napasnya memburu, matanya menatap tajam Nania yang masih tampak tenang dengan senyum tipis yang memuakkan.
"Kamu sudah gila, mbak? Benar-benar gila!!", desis Tio dengan suara rendah namun penuh penekanan.
"Mikha itu bukan cuma orang asing bagi ku. Dia istri mendiang mas Dion. Dan kamu minta aku masuk ke hidupnya hanya untuk mengambil hartanya? Di mana akal sehat mu mbak? Kenapa bukan kamu saja yang melakukannya... misalnya kau memohon minta maaf pada Mikha dan membujuk Mikha agar kamu bisa tinggal bersamanya biar lebih mudah mengetahui dimana wanita itu menyimpan surat-surat berharga yang mas Dion tinggalkan". Ketus Tio dengan suara meninggi.
Nania hanya menyesap tehnya perlahan, tidak terusik sedikit pun oleh ledakan kemarahan adiknya. "Akal sehat tidak akan bisa membayar utang-utang judi kamu, Tio! Juga tidak akan bisa mempertahankan gaya hidup mewah yang selama ini kamu banggakan itu!".
"Kamu juga harus memikirkan menghidupi anak mu, apa kau mau Salfa menjadi gembel tanpa harta, hah?". Nania tanpa tedeng aling-aling bicara kebenaran tepat di muka adiknya.
Kedua tangan Tio terkepal kuat.
"Tapi tidak dengan cara menjijikkan seperti ini!" sergah Tio lagi. Ia mulai berjalan mondar-mandir di ruangan tamu rumah orangtua mereka. Sementara Warda sudah beristirahat dikamar.
"Kalau mas Dion tahu kita merencanakan ini, dia pasti akan mengutuk kita dari liang lahat, terutama kamu mbak!", hardik Tio menatap tajam Nania.
"Dion sudah tidak ada, kenapa juga kita harus memikirkan perasaan orang yang sudah mati. Yang ada sekarang hanyalah janda muda kaya raya yang tidak tahu apa-apa tentang bisnis".
Nania berdiri, melangkah mendekati Tio dan meletakkan tangannya di bahu pria itu. Suaranya kini melunak, penuh manipulasi. "Mikha itu kesepian. Dia butuh sandaran. Siapa lagi yang lebih pantas menjaganya sekaligus menjaga aset keluarga kita selain kamu? Anggap saja ini misi penyelamatan harta keluarga".
Tio menepis tangan Nania. Kepalanya berdenyut hebat. Bayangan wajah Mikha yang polos dan tulus beberapa jam yang lalu melintas di benaknya. Tentu saja Tio butuh uang. Ia benci kemiskinan yang mulai mengintai, tapi ide untuk memangsa iparnya sendiri terasa menjijikan baginya, hal paling kotor yang pernah ia bayangkan.
"Kamu dan Mikha itu seumuran, dia juga cantik. Bahkan lebih cantik dari Ira simpanan mu itu Tio. Akui saja pendapat ku ini benar!".
"Aku tidak bisa melakukannya," ucap Tio lirih, meski suaranya mulai terdengar ragu.
Nania tersenyum penuh kemenangan melihat keraguan itu. "Pikirkan lagi. Besok awal bulan, penagih utang itu akan datang lagi ke rumahmu. Apakah kamu lebih takut pada dosa, atau lebih takut kehilangan segalanya Tio?".
Tanpa menunggu jawaban adiknya, wanita dewasa itu berlalu dari hadapan Tio dengan senyum culas di sudut bibirnya.
*
Mikhaela berdiri di balkon kamarnya. Menatap langit malam tanpa bintang.
Beberapa saat yang lalu ia baru saja menidurkan Revan. Namun mata Mikha tidak bisa terpejam meski jam di dinding sudah menyentuh angka sebelah malam.
Seketika rasa kesepian menyelimuti relung hati Mikhaela. Ia ingin menangis sejadi-jadinya. Walau tidak tahu apa yang ia tangisi. Tapi rasa sepi yang di rasakan kali ini membuatnya rapuh.
Drt..
Drt..
Layar ponsel Mikha menyala di tengah ke gelapan malam memecah kesunyian yang sejak tadi mencekik. Nama Dante muncul di sana, sebuah kejutan yang membuat detak jantungnya sedikit berpacu.
Setelah dua kali dering, Mikha akhirnya mengangkat panggilan itu dengan suara serak. Dante tidak langsung bicara mendengar sahutan Mikha. Ada jeda beberapa detik di mana hanya terdengar deru napas pelan dari kedua ujung telepon.
"Mikha...?"
"Iya? Bagaimana kabar Eugene?", tanya Mikha terdengar lembut.
"Apa kamu hanya ingin tahu kabar anak ku saja? Kamu tidak ingin tahu keadaan daddy-nya?". Dante balik bertanya.
Pertanyaan laki-laki itu sontak saja membuat jantung Mikha berdetak lebih cepat.
"Hm .. Iya, bagai mana kabar kalian berdua? Aku berharap kalian baik Dante", ujar Mikha perhatian.
Terdengar tawa renyah Dante di ujung telpon. "Hal yang sama untuk mu dan Revan. Aku sudah tidak sabar bertemu kalian", ucapnya yang membuat jantung Mikha kian berdebar kencang.
"Aku tahu ini sudah malam di sana", suara Dante terdengar rendah dan tenang. "Aku masih di kantor sekarang. Di sini masih sore. Tiba-tiba saja aku ingat pada mu Mikhaela", ujar Dante berterus-terang.
Terdengar hembusan nafas laki-laki itu. Pun Mikha sesaat memejamkan kedua matanya.
"Aku tidak bisa tidur". Mikha yang awalnya lebih banyak mendengar, mulai merespons dengan gumaman kecil sampai akhirnya ia bisa tertawa tipis membalas gurauan Dante yang fasih berbicara Indonesia.
"Sekarang sudah malam di sana, sebaiknya kamu tidur dan jaga kesehatan mu Mikha", ujar laki-laki itu penuh perhatian beberapa saat kemudian.
Dante menawarkan untuk tetap berada di telepon sampai Mikha tertidur.
"Iya. Aku akan rebahan.
Jangan dimatikan telepon nya", bisik Mikha lirih, mengakui kerapuhan perasaan nya saat ini.
"Aku akan menemanimu. Cobalah pejamkan matamu".
Dante setuju, ia membiarkan sambungan tetap terhubung, sesekali memberikan suara gumaman kecil untuk memastikan Mikha bahwa ia masih ada di sana.
Malam yang tadinya terasa hampa, kini terasa sedikit lebih hangat hanya dengan kehadiran suara Dante di ujung telepon. Seakan-akan laki-laki itu berada di samping Mikhaela yang mulai merasakan kantuk.
"Dante... Sepertinya aku mulai mengantuk. Terimakasih sudah menemani ku".
"Good night Mikhaela. Mimpi yang indah..."
...***...
To be continue
Thor jgn ada drama tiba-tiba dion msh hidup y. Asli dah biasa bgt kayak gitu 😂 btw visualnya selalu pas👍 Nania tuh sesuai dg karakter yg di gambarkan. Sadis😂