Empat tahun lalu, Flaire Nathasha menghilang setelah melahirkan secara rahasia, meninggalkan Jaydane Shelby dengan luka pengkhianatan dan seorang putra balita bernama Jorden. Jaydane, sang penguasa bisnis sekaligus mafia, membesarkan Jorden dengan kebencian mendalam, mengira Flaire membuang anak mereka demi kebebasan dan karier.
Kini, Flaire kembali ke Jerman sebagai CEO Fernandez yang memukau dengan julukan "Queen of Lens". Kecantikannya yang tak tertandingi membuat Aurora, tunangan Jaydane, merasa terancam dan mulai menggali identitas ibu kandung Jorden yang misterius.
Jaydane yang dibutakan dendam mulai menghancurkan bisnis Flaire untuk memaksanya berlutut. Namun, di balik lensa kontak yang selalu menutupi warna mata aslinya, Flaire menyimpan luka trauma masa lalu difakta bahwa ia adalah korban pengasingan paksa keluarganya dan sama sekali tidak tahu bahwa bayinya masih hidup di tangan pria yang kini mencoba menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon caxhaaesthetic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM PENYATUAN SANG RAJA DAN RATU
Resepsi megah itu akhirnya berakhir saat tengah malam tiba. Jaydane tidak membiarkan Flaire berlama-lama menyapa tamu undangan. Dengan sikap posesif yang mutlak, ia menggendong Flaire keluar dari aula pesta, meninggalkan para bos mafia yang masih berpesta pora.
Sebuah helikopter pribadi membawa mereka ke puncak gedung tertinggi di Berlin The Shelby Crown Penthouse. Begitu pintu lift terbuka, napas Flaire tercekat.
Seluruh lantai marmer hitam penthouse itu tertutup oleh jutaan kelopak mawar merah yang harumnya memabukkan. Lilin-lilin aromaterapi menyala di sepanjang lorong menuju kamar utama yang dindingnya terbuat dari kaca transparan, memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota Berlin di bawah kaki mereka.
Jaydane menurunkan Flaire di tengah lautan mawar itu. Matanya yang abu-abu kini telah berubah menjadi gelap gulita, penuh dengan rasa lapar yang sudah mencapai batasnya. Ia melepaskan dasi dan jas tuksedonya, melemparkannya ke sembarang arah.
"Jay... pelan-pelan," bisik Flaire, jantungnya berdebum keras saat melihat otot-otot punggung Jaydane yang menegang di balik kemeja putihnya yang mulai terbuka.
"Tidak ada kata pelan untuk malam ini, Flaire," geram Jaydane. Ia melangkah maju, memerangkap Flaire di pelukannya. "Piton ini sudah tersiksa berhari-hari karena gangguan Jorden, musuh-musuh sialan, dan keraguanmu. Sekarang, tidak ada yang bisa menghentikannya."
Jaydane berlutut di depan Flaire, tangannya yang besar merayap naik ke paha sintal istrinya, lalu dengan satu tarikan kasar namun ahli, ia merobek stoking putih yang dikenakan Flaire.
"Jay! Gaun ini mahal!" pekik Flaire, meski ia sudah mulai terangsang oleh dominasi suaminya.
"Aku akan membelikanmu seribu gaun lagi besok pagi. Sekarang, aku hanya ingin kulitmu," sahut Jaydane. Ia berdiri dan membalikkan tubuh Flaire, membuka ritsleting gaun pengantin itu hingga kain sutra seharga miliaran rupiah itu meluncur jatuh ke lantai, menumpuk di atas kelopak mawar.
Flaire berdiri polos di depan dinding kaca, memperlihatkan lekuk tubuh hourglass-nya yang sempurna dada yang penuh dan bokong semok yang berkilau di bawah cahaya rembulan. Jaydane menelan ludah. Ia segera membebaskan "piton jumbo"-nya yang sudah berdenyut hebat, menegang hingga urat-uratnya menonjol mengerikan.
"Lihat ini, Flaire," bisik Jaydane sambil memeluk Flaire dari belakang, membiarkan senjatanya yang masif itu menekan belahan bokong Flaire yang empuk. "Dia sudah tidak sabar untuk menghancurkanmu."
Jaydane mengangkat satu kaki Flaire dan menyandarkannya di meja marmer, lalu tanpa peringatan lagi, ia menghujamkan miliknya ke dalam kehangatan Flaire yang sudah membasah.
"AAHHH! JAYDANE!"
Flaire memekik, tangannya mencengkeram kaca jendela hingga meninggalkan bekas uap napas. Rasanya luar biasa penuh, seolah tubuhnya tidak sanggup menampung ukuran raksasa itu, namun kenikmatan yang menjalar jauh lebih kuat daripada rasa sakitnya.
Jaydane bergerak dengan kekuatan penuh, setiap tumbukannya membuat seluruh tubuh Flaire bergetar hebat. Ia tidak memberi ampun; ia menyerang dari berbagai sudut, memastikan Flaire mendesah namanya hingga suaranya serak. Di tengah lautan mawar dan kemewahan Berlin, sang Mafia benar-benar menuntaskan dahaganya, mengklaim istrinya lahir dan batin dalam penyatuan yang paling primitif dan membara.
Gairah di dalam penthouse itu sudah melampaui batas kewarasan. Di hadapan dinding kaca yang menampilkan kemegahan Berlin, Jaydane membalikkan tubuh Flaire kasar namun penuh damba. Ia memaksa Flaire menungging dalam posisi doggy style, mencengkeram pinggang kecilnya yang kontras dengan bokong super semok yang kini menjadi sasaran empuk bagi "piton jumbo"-nya.
"Jay... jangan... itu terlalu dalam! Hnggh!" Flaire merengek, jemarinya mencengkeram sprei sutra hingga kuku-kukunya memutih.
Setiap kali Jaydane melakukan dorongan mautnya, Flaire merasa seolah jiwanya akan melayang. Ukuran masif yang berurat itu menghujam tepat ke titik sensitifnya, menciptakan sensasi kenikmatan yang begitu menyiksa hingga Flaire merasa bisa menggila saat itu juga. Air mata kenikmatan meleleh di pipinya, suaranya serak memohon ampun namun tubuhnya justru menuntut lebih.