"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Suara yang Hilang di Tengah Badai
[POV: Vaya]
Malam ini, hujan turun dengan sangat deras di luar jendela apartemen. Kilat menyambar berkali-kali, menerangi ruangan yang terasa terlalu luas sejak Narev pergi tiga hari yang lalu. Aku menatap surat cerai yang masih tergeletak di meja rias—surat yang selama ini kuimpikan, namun kini terasa seperti beban yang sangat berat.
Jedar!
Suara petir menggelegar begitu keras hingga kaca jendela bergetar. Detik berikutnya, jeritan melengking terdengar dari kamar sebelah.
"PAPA! PAPA! TAKUT!"
Itu suara Mici. Aku segera berlari menuju kamarnya. Di sana, Mici sedang meringkuk di pojok tempat tidurnya, menutup telinganya dengan kedua tangan kecilnya. Wajahnya merah padam karena menangis hebat.
"Mici, Sayang, ini Mama... sini sama Mama," aku mencoba memeluknya, namun Mici meronta.
"Nggak mau! Mau Papa! Papa... hiks... Papa!" jeritnya.
Baby sitter Mici, Sus Ana, juga tampak panik. "Aduh, Nyonya... biasanya kalau ada petir begini, cuma Tuan Narev yang bisa tenangin Mici. Tuan biasanya gendong Mici sambil nyanyi pelan di telinganya. Mici nggak mau diam kalau bukan sama Tuan."
Aku mencoba segala cara. Memberinya boneka, membacakan dongeng, memutarkan musik lembut, tapi Mici tetap histeris. Dia memanggil "Papa" berkali-kali sampai suaranya serak. Hatiku rasanya seperti diiris sembilu. Aku baru menyadari, selama sepuluh tahun ini, Narev bukan hanya "penyekapku", tapi dia adalah satu-satunya pilar kekuatan bagi anak kami.
Tiba-tiba, suara pintu depan terbuka dengan suara kunci yang diputar terburu-buru.
Langkah kaki berat terdengar mendekat ke arah kamar. Di ambang pintu, berdirilah Narev. Rambutnya basah kuyup karena hujan, jasnya berantakan, dan napasnya memburu. Dia tampak seperti pria yang baru saja menempuh perjalanan jauh dengan kecemasan tingkat tinggi.
"Papa!" Mici berteriak dan langsung merentangkan tangannya.
Narev segera menerjang maju, berlutut di samping tempat tidur dan mendekap Mici ke dalam dadanya yang masih basah. "Sshh... Papa di sini, Mici. Papa di sini. Jangan takut, itu cuma suara langit."
Narev mulai membisikkan sesuatu di telinga Mici, sebuah melodi rendah yang maskulin dan menenangkan. Perlahan, tangis Mici mereda menjadi isakan kecil. Dia menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Narev, merasa aman dalam dekapan raksasa itu.
...****************...
[POV: Narev]
Aku tidak berani menoleh. Aku tahu Vaya berdiri tepat di belakangku. Aku bisa merasakan tatapannya, aku bisa mencium aroma tubuhnya yang selalu membuatku gila. Tapi aku harus menahan diri.
Monster di dalam diriku ingin sekali berbalik, memeluknya, dan memohon agar dia tidak pernah melepaskanku lagi. Namun, aku sudah berjanji. Aku sudah menyerah. Aku tidak boleh meruntuhkan tembok yang baru saja kubangun demi kebebasannya.
"Mici sudah tenang. Dia akan tidur sebentar lagi," ucapku dengan suara datar, tetap fokus pada Mici yang mulai memejamkan mata di pelukanku. Aku sengaja tidak menggunakan panggilan "Sayang" atau menatap matanya.
"Narev... kamu datang?" suara Vaya terdengar bergetar.
"Aku tahu Mici takut petir. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja," jawabku pendek. "Setelah dia benar-benar pulas, aku akan langsung pergi."
Aku menelan semua kesakitan ini sendirian. Rasanya seperti jantungku diremas setiap kali aku mendengar suaranya yang lembut. Aku sangat mencintainya, Tuhan... sangat mencintainya sampai bernapas pun terasa sesak jika harus jauh darinya. Tapi aku harus menekan monster ini. Aku harus mengubur obsesiku dalam-dalam agar dia tidak perlu lagi menatapku dengan ketakutan.
"Narev, kamu basah kuyup... kamu bisa sakit," Vaya melangkah mendekat, tangannya terangkat seolah ingin menyentuh pundakku yang dingin karena air hujan.
Aku refleks menghindar sedikit, membuat tangannya menggantung di udara. "Tidak apa-apa. Aku sudah biasa."
Aku menggendong Mici yang sudah tertidur ke dalam pelukan yang lebih nyaman, membaringkannya perlahan di kasur. Aku menyelimutinya, lalu berdiri tanpa menoleh ke arah Vaya sedikit pun. Aku berjalan lurus menuju pintu keluar.
"Narev, tunggu!" Vaya mengejarku sampai ke ruang tamu. "Surat cerai itu... aku belum menandatanganinya."
Aku berhenti tepat di depan pintu, membelakanginya. Aku memejamkan mata erat-alih, mencoba menahan air mata yang mendesak keluar.
"Tanda tangani saja, Vaya. Kamu bebas sekarang. Jangan biarkan kehadiranku malam ini mengacaukan keputusanmu," kataku dingin, meski hatiku hancur berkeping-keping. "Aku pergi."
Aku menutup pintu apartemen dengan pelan, seolah tidak ingin meninggalkan jejak. Begitu sampai di koridor yang sepi, aku menyandarkan punggungku di dinding, merosot jatuh ke lantai, dan membiarkan air mataku luruh bersama dinginnya sisa air hujan di tubuhku.
“Papa... hatinya Papa warnanya hitam pekat karena sedih... Papa cinta Mama tapi Papa pergi... Kenapa orang dewasa rumit sekali?” bisik suara hati Mici yang terbawa ke dalam mimpi.
Di dalam apartemen, Vaya berdiri di depan pintu yang tertutup, menatap kosong ke arah gagang pintu. Apartemen ini kembali sunyi, namun kali ini kesunyiannya terasa lebih menyakitkan daripada saat Narev masih menjadi monster di dalamnya.
...****************...
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa