Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Simfoni Keretakan di Tengah Hujan
Jakarta pada pukul dua dini hari adalah sebuah monster yang tidak pernah tidur, namun ia menyembunyikan wajahnya di balik kabut asap industri dan hujan asam yang terus-menerus menetes. Di pusat kota, menara kaca Wijaya Holdings kini tampak seperti kerangka raksasa yang terluka. Cahaya lampu dari helikopter polisi dan mobil-mobil pemadam kebakaran menyapu dinding gedung, menciptakan siluet menakutkan yang bisa dilihat dari radius sepuluh kilometer.
Namun, di sebuah penthouse eksklusif di seberang distrik, seseorang tidak memandang kehancuran itu dengan rasa takut, melainkan dengan kenikmatan yang ganjil. Dharmendra Rajendra, pewaris tunggal keluarga Rajendra, duduk dengan punggung tegak di kursi kulitnya yang diimpor dari Italia. Di tangannya, gelas kristal berisi wine berusia setengah abad berdenting pelan setiap kali ia mengetukkan jarinya ke meja kayu jati yang harganya lebih mahal dari sebuah rumah mewah di pinggiran kota.
"Lihatlah itu," gumam Dharmendra, matanya menatap tajam ke arah menara Wijaya. "Clarissa Wijaya telah menghabiskan sepuluh tahun membangun reputasi sebagai ratu bisnis Jakarta, dan dalam satu malam, seorang kuli panggul tak dikenal menghancurkannya hingga ke fondasi. Sungguh ironis. Sungguh... menyenangkan."
Di belakangnya, seorang pria kurus dengan setelan jas rapi namun berwajah kaku—asisten pribadinya—menundukkan kepala dalam-dalam. "Tuan, tim intelijen kami di lapangan mengonfirmasi bahwa target telah terlihat di kawasan industri tua. Teknik yang ia gunakan di Dermaga 4 sangat tidak lazim. Itu bukan bela diri profesional. Itu adalah perpaduan antara naluri liar dan efisiensi mematikan. Tim Pengejar kita kewalahan."
Dharmendra tertawa kecil, suara yang dingin dan tajam seperti silet. "Tentu saja mereka kewalahan. Keluarga Wijaya terlalu terbiasa bermain dengan pengawal berlisensi dan strategi ruang rapat. Mereka lupa bahwa ada dunia di luar sana, dunia di mana hidup dan mati ditentukan oleh siapa yang memegang pisau lebih cepat. Arga... nama yang terdengar sederhana untuk seseorang yang baru saja mengguncang fondasi ekonomi negara."
Ia berdiri, berjalan menuju dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota. "Linda, kakakku yang tersayang, pasti sudah punya rencana untuk menghancurkan reputasi pemuda ini melalui media, bukan?"
"Benar, Tuan. Nona Linda telah menghubungi sepuluh redaksi berita besar. Pagi ini, narasi utamanya bukan tentang kegagalan keluarga Wijaya, melainkan tentang 'Teroris Misterius' yang melakukan sabotase demi agenda gelap. Arga akan dicap sebagai penjahat yang membahayakan warga sipil."
"Sempurna," Dharmendra tersenyum. "Biarkan masyarakat membencinya, biarkan polisi memburunya seperti anjing gila, dan biarkan dia kehilangan semua tempat untuk berpijak. Ketika dia merasa tidak punya harapan lagi, saat itulah kita akan menunjukkan wajah kita. Ingat, jangan bunuh dia. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya dihancurkan oleh sistem sebelum dia mati di tanganku."
Sementara itu, dua puluh kilometer dari kemewahan penthouse tersebut, di sebuah gudang bawah tanah yang jauh dari jangkauan sinyal satelit, Arga terjatuh ke lantai dengan tubuh yang bergetar hebat.
“Argh!” Ia mencengkeram dadanya. Mustika Macan Kencana di dalam tubuhnya mendadak berdenyut tidak stabil. Energi yang biasanya mengalir deras kini terasa seperti aliran listrik yang tersendat-sendat, menciptakan rasa sakit yang merobek saraf-sarafnya.
“Ada apa ini?” Arga mencoba memanggil kembali cadangan kekuatan itu, namun yang ia dapat hanyalah rasa sakit yang semakin intens di ototnya.
“Inang...” suara macan itu terdengar sangat jauh, tipis seperti bisikan di tengah badai. “Aku... aku tidak bisa lagi menopang fisikmu. Hubungan simbiosis kita mulai menuntut harga yang terlalu tinggi bagi jasad manusia ini. Jika aku terus memaksa, jantungmu akan meledak sebelum matahari mencapai zenitnya. Kau harus belajar mengandalkan dirimu sendiri, atau kau akan mati karena kelelahan jantungmu sendiri.”
Arga menyadari kenyataan pahit itu. Selama ini, ia hidup di atas "cheat" kekuatan yang diberikan oleh Mustika. Ia menang karena ia memiliki kecepatan super dan kekuatan yang tak masuk akal. Namun, setiap detik ia menggunakan kekuatan itu, ia sebenarnya sedang meminjam nyawa dari masa depannya. Untuk menjadi sosok yang mampu menumbangkan 15 bos besar—Dharmendra, Yudhistira, hingga sang Dalang Utama—ia tidak bisa lagi mengandalkan keajaiban dari artefak kuno ini.
Ia harus menjadi seorang petarung yang lahir dari latihan, seorang ahli strategi yang lahir dari pengalaman, dan seorang politikus yang paham cara memenangkan perang di balik meja.
Arga menatap pantulan dirinya di cermin retak yang disandarkan di sudut gudang. Sosok di cermin itu tampak berantakan, penuh luka, dan lelah yang luar biasa. Namun di balik sorot mata yang keemasan itu, ada api yang jauh lebih tenang namun mematikan. Ia bukan lagi sekadar alat. Ia adalah pria yang sedang membangun dirinya kembali dari puing-puing penderitaan.
Ia mulai berlatih. Ia tidak berlatih memanggil aura atau meningkatkan kecepatan di luar batas manusia. Ia berlatih bela diri dasar. Ia menggunakan ingatannya sebagai kuli panggul—bagaimana cara mengangkat beban yang berat dengan titik tumpu yang tepat, bagaimana memindahkan berat badan saat diserang, dan bagaimana menggunakan lingkungan sekitar sebagai senjata.
Satu, dua, tiga. Arga memukul tiang kayu yang sudah lapuk.
Satu, dua, tiga. Ia menghindar dari imajinasi serangan yang datang bertubi-tubi.
Setiap pukulan yang ia lepaskan terasa lambat jika dibandingkan dengan kecepatannya saat dirasuki Mustika, namun setiap pukulannya kini terasa jauh lebih presisi. Ia belajar untuk menghemat gerakan. Ia belajar untuk tidak menyia-nyiakan energi. Ia menjadi lebih efisien, lebih metodis, dan lebih dingin.
Di luar gudang, sensor seismik yang ia pasang dengan sisa-sisa kabel tembaga mendadak bergetar. Arga berhenti. Ia mendengar suara mesin mobil mewah yang berhenti di jarak lima puluh meter. Langkah kaki yang terorganisasi, bunyi pengaman senjata yang dilepas, dan instruksi-instruksi taktis dalam bahasa yang tidak ia kenal, namun ia pahami artinya.
Mereka telah menemukannya.
Arga tidak panik. Ia tidak memanggil sang macan. Ia menarik napas dalam, memfokuskan pikirannya, dan mengambil sebatang pipa besi tua yang berkarat. Ini adalah Tahap 1: Pejuang Kota. Tidak ada lagi gerakan teleportasi. Tidak ada lagi perisai energi. Hanya Arga, otaknya, dan kemampuannya untuk tetap hidup di tengah kepungan predator.
"Mari kita lihat," gumam Arga saat pintu gudang didobrak oleh tim elit keluarga Rajendra. "Seberapa jauh kalian bisa menekan seorang pria yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dikorbankan."
Pintu gudang hancur berkeping-keping. Granat cahaya dilemparkan masuk ke dalam, menciptakan kilatan yang menyilaukan dan suara yang memekakkan telinga. Namun, Arga sudah tidak berada di titik lemparan. Ia sudah berada di sudut gelap, memposisikan dirinya di belakang pilar beton.
Saat tim pertama masuk dengan senjata otomatis yang menyalak, Arga tidak mencoba menangkis peluru. Ia menunggu. Ia menghitung detik. Satu... dua...
Saat penyerang pertama melewati pilar, Arga mengayunkan pipa besinya dengan kekuatan yang difokuskan pada titik tumpu leher. Duk! Pria itu tumbang tanpa suara. Arga segera mengambil alih senjata otomatis milik penyerang itu, bukan untuk menembak, melainkan menggunakan popor senjatanya untuk menghantam rahang musuh kedua.
Arga bergerak di antara kepulan asap granat. Ia kini tidak lagi bertarung seperti monster, melainkan seperti bayangan. Ia menggunakan kegelapan sebagai sekutu. Ia memanfaatkan setiap inci ruang gudang. Ia tahu di mana posisi setiap musuh hanya dari deru napas dan gesekan sepatu mereka di atas lantai yang berdebu.
Dalam waktu kurang dari dua menit, sepuluh orang penyerang elit keluarga Rajendra terkapar di lantai. Arga tidak membunuh mereka—ia hanya mematahkan setiap sendi yang memungkinkan mereka untuk memegang senjata atau berlari mengejarnya. Ia menyisakan satu orang yang masih sadar, mencengkeram kerah bajunya dan menatapnya dengan tatapan yang membuat pria itu gemetar ketakutan.
"Katakan pada Dharmendra," bisik Arga, suaranya tenang, datar, namun sangat mengancam. "Pesta yang dia rencanakan baru saja dimulai. Dan jika dia ingin memainkannya sebagai teroris, aku akan memastikan dia tahu bahwa teroris yang sebenarnya adalah seseorang yang tidak memiliki rasa takut lagi."
Arga melepaskan pria itu, lalu berbalik dan menghilang ke dalam lubang ventilasi gudang tepat saat sirene polisi terdengar mendekat.
Di tempat persembunyiannya yang baru, Arga duduk menyandar di dinding. Napasnya masih teratur, meskipun jantungnya bekerja lebih keras dari biasanya. Ia tahu ini baru permulaan. Linda Rajendra akan segera merilis fitnah itu di semua saluran media, dan seluruh kota akan segera menjadi musuhnya.
Namun, Arga tidak lagi merasa cemas. Ia merasa hidup. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa kekuatannya adalah miliknya, bukan milik Mustika.