NovelToon NovelToon
SENJA TAK BERTUAN

SENJA TAK BERTUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dokter / Penyelamat
Popularitas:115
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.

Dan, ketika kegelapan itu datang...

Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERSAMA YASMIN...

​Cahaya matahari siang itu terasa terik, namun seketika luruh saat Arya mendorong pintu kaca sebuah restoran di sudut jalan utama setelah menghabiskan waktu berjam-jam membelikan Yasmin beberapa potong pakaian di butik.

​"Mas, ini?" Yasmin menoleh, matanya berbinar saat langkah mereka disambut oleh hembusan pendingin udara yang sejuk dan aroma rempah yang elegan.

​Tanpa banyak bicara, Arya hanya mengajak Yasmin masuk.

​Restoran itu adalah perpaduan antara kemewahan modern dan kehangatan yang intim. Langit-langitnya unik, dihiasi panel hitam dengan cekungan-cekungan lingkaran berwarna emas yang memancarkan cahaya temaram, seolah-olah ada puluhan bulan kecil yang menggantung di atas kepala mereka.

​Dindingnya dilapisi panel kayu gelap beralur vertikal, diselingi dekorasi berbentuk lengkungan art deco yang memberikan kesan megah namun tetap artistik. Di tengah hiruk-pikuk pengunjung yang menikmati makan siang, deretan tanaman lidah mertua yang hijau segar tertata rapi di atas pembatas sofa, menjadi sekat alami yang memberikan privasi bagi setiap meja.

​Seketika, perasaan canggung merayap di tengkuk Yasmin. Ia memandang piring porselen putih bersih di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Baginya, definisi "makan mewah" selama ini hanyalah menambah porsi kikil atau telur balado di warteg langganannya, di mana aroma asap knalpot dan suara bising klakson menjadi musik pengiring yang lazim. ​Ketika duduk di atas sofa beludru yang begitu empuk hingga tubuhnya seolah tenggelam, ia merasa seperti penyusup di dunia yang asing.

​Tak lama, seorang pramusaji dengan kemeja putih bersih dan apron hitam yang rapi mengantar mereka menuju sebuah sudut yang nyaman.

"Selamat datang di Laluna Resto. Mau pesan apa?" Kata wanita itu ramah.

Sekilas, Arya menatap Yasmin yang duduk dihadapannya. "Kamu mau apa?" Suaranya rendah, nyaris berbisik di tengah alunan musik instrumen yang mengalun samar.

Yasmin mengerjapkan mata. Jemarinya yang memegang tepian meja tampak sedikit gemetar. Ia melirik sekilas daftar menu yang dipenuhi istilah asing—nama-nama yang bahkan sulit ia eja di dalam kepala, apalagi dibayangkan rasanya. Pikirannya mendadak kosong. Baginya, menu paling mewah adalah ayam goreng dengan siraman kuah gulai yang melimpah, bukan sesuatu yang dihias dengan bunga yang bisa dimakan.

​"Terserah Mas Arya saja," jawab Yasmin pelan, nyaris tak terdengar. Ia menunduk, pura-pura merapikan letak sendok perak yang sebenarnya sudah sangat simetris. "Aku... aku nggak tahu mana yang enak di tempat seperti ini."

​Arya terdiam sejenak. Ia menangkap nada minder dalam suara itu, sebuah getaran yang membuatnya merasa ingin melindungi Yasmin lebih jauh lagi. Baginya, kemewahan ini adalah keseharian, tapi bagi Yasmin, ini mungkin terasa seperti panggung sandiwara di mana ia lupa naskahnya.

"Baiklah," angguk Arya akhirnya. Ia tidak ingin Yasmin merasa terhakimi oleh ketidaktahuannya. Ia tahu, Yasmin jarang sekali ke tempat seperti ini, dan memaksanya memilih di antara barisan menu berbahasa asing hanya akan mempertebal tembok kecanggungan di antara mereka.

Arya memberikan isyarat kecil kepada pramusaji yang sejak tadi berdiri siaga. Dengan suara rendah yang tenang, ia menyebutkan beberapa menu andalan tanpa perlu membuka buku besar di hadapannya. Ia memilihkan hidangan yang sekiranya tidak akan membuat Yasmin bingung saat memakannya, namun tetap memberikan kesan istimewa yang belum pernah gadis itu rasakan.

Setelah pramusaji itu berlalu dengan bungkukan sopan, keheningan mendadak jatuh di antara mereka, menciptakan ruang hampa yang hanya diisi oleh denting alat makan dari meja-meja tetangga. Arya tidak segera membuka suara. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa beludru biru itu, mencoba memberikan ruang bagi Yasmin untuk menenangkan diri di lingkungan yang masih terasa asing baginya.

​Sesekali ia membuka ponsel, jemarinya bergerak di atas layar, namun fokusnya jelas tidak tertuju pada pesan atau email yang masuk. Ia hanya menggunakan benda itu sebagai alibi agar bisa mencuri pandang ke arah Yasmin tanpa membuatnya semakin salah tingkah.

​Dari balik layar ponselnya, Arya mengamati bagaimana pakaian baru itu mengubah aura Yasmin. Bahan kain yang jatuh dengan sempurna itu membingkai bahu Yasmin dengan anggun, jauh berbeda dari bayangan gadis yang biasa ia lihat bergelut dengan kesederhanaan. Ada kecantikan yang tenang, yang selama ini seolah tersembunyi di balik debu jalanan seperti kali pertama mereka berjumpa.

Sementara, Yasmin sendiri hanya mampu menunduk, sesekali membetulkan letak rambutnya yang sebenarnya sudah rapi. Ia merasa seolah semua orang di restoran itu sedang memperhatikannya, menilai apakah ia pantas duduk di sofa empuk itu atau tidak.

Dan, tak lama, lagi, ingatan tentang Sheila mendadak melintas seperti kilat yang mengganggu di kepala Yasmin. Kejadian tadi pagi, sebelum ia benar-benar meninggalkan rumah bersama Arya, ada sesuatu yang membuatnya masih ingin tahu. Yang jelas, selain Freya, ternyata Arya masih memiliki seorang kakak lelaki bernama Tama.

"Mas," panggil Yasmin pelan, memecah kesunyian yang sempat menggantung di antara mereka.

"​Hm?" sahut Arya pendek. Ia tidak langsung mendongak. Jempolnya masih bergerak lincah di atas layar ponsel, yang secara tidak kebetulan sedang membalas satu pesan kerja yang masuk.

Yasmin meremas jemarinya di bawah meja. Ia merasa seperti sedang bersaing dengan benda pipih di tangan Arya. Di warteg, biasanya orang-orang makan sambil mengobrol keras atau menonton berita di televisi kecil yang digantung di pojok ruangan. Tidak ada yang sibuk dengan ponsel semahal itu.

​"Mas Arya... ternyata punya kakak laki-laki, ya?" tanya Yasmin hati-hati. "Dan wanita tadi... itu istrinya?"

​Gerakan jempol Arya terhenti seketika. Ia menarik napas pendek, lalu perlahan meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah—sebuah gestur yang menunjukkan ia akhirnya memberikan perhatian penuh. Ia mendongak, menatap Yasmin yang tampak begitu kecil di balik balutan pakaian mewah yang ia belikan. "Kamu sudah tahu jawabannya, bukan? kenapa musti bertanya lagi?"

Yasmin tertegun lalu menundukkan kepalanya, tak berani lagi menatap mata Arya. "A-aku... aku hanya bertanya, Mas."

"Ya. Dan mereka akan segera berpisah."

Berpisah?

Seketika, kalimat tegas Sheila tadi pagi kembali terngiang di telinga Yasmin...

Saya ingatkan ya sama kamu... jangan sampai mereka menyakiti kamu. Mereka itu iblis, bukan manusia. Jangan sampai nasib kamu sama seperti saya. Jaga hubungan kamu dengan suami kamu. Jangan mudah percaya pada mereka.

Peringatan itu terasa seperti duri yang mendadak menusuk ulu hati Yasmin. Ia menatap pakaian mewah yang melekat di tubuhnya—pakaian yang dibelikan Arya, pria yang kini duduk di hadapannya namun terasa ribuan kilometer jauhnya.

​Di restoran semegah ini, dengan lampu-lampu kristal yang berkilauan dan pelayan yang membungkuk hormat, Yasmin justru merasa sedang berjalan di atas lapisan es yang tipis. Apakah Arya adalah bagian dari 'iblis' yang dimaksud Sheila? Ataukah kemewahan ini hanyalah cara untuk menutup-nutupi keretakan yang lebih besar?

​"Permisi," ucap seorang pramusaji dengan nada sopan yang memecah lamunan Yasmin.

​Dua piring porselen besar diletakkan dengan gerakan yang sangat presisi di atas meja. Aroma gurih mentega dan rempah yang tajam seketika menyerbu indra penciuman Yasmin. Di hadapannya kini tersaji potongan daging tebal yang disiram saus berwarna cokelat mengilap, didampingi irisan sayuran hijau yang ditata begitu cantik hingga menyerupai lukisan, serta segelas minuman dingin dengan potongan buah segar di dalamnya.

​Yasmin menatap hidangan itu dengan dahi berkerut. Pikirannya yang tadi penuh dengan bayangan Sheila, kini beralih pada kebingungan baru, bagaimana cara memulai makan makanan yang tampak begitu "mahal" ini? Sedangkan, di warteg, ia cukup menyendok nasi dengan tangan atau sendok plastik, tapi di sini, pisau dan garpu perak yang berkilau seolah sedang mengujinya.

​"Makanlah," kata Arya singkat. Ia telah meletakkan ponselnya sepenuhnya, memberikan perhatian pada piring di hadapannya.

​Melihat Yasmin yang masih mematung menatap daging itu seolah benda purbakala, Arya menghela napas pendek namun tidak terdengar kesal.

​"Jangan dipikirkan lagi," lanjut Arya, suaranya berat dan menenangkan. "Apa pun yang dikatakan Sheila... itu bukan bagian dari urusan kamu hari ini."

​Arya mulai memotong dagingnya dengan gerakan yang sangat luwes. "Dunia mereka memang penuh racun. Tapi di meja ini, hanya ada aku, kamu, dan makanan ini. Mereka tidak punya kursi di sini, jadi jangan beri mereka ruang di kepalamu."

​Yasmin mengangguk. "Iya, Mas. Aku paham, tapi..."

"Tapi, apa?" Desak Arya pelan sambil mulai melahap makanan ke dalam mulutnya.

Yasmin menggigit bibir bawahnya. Di bawah meja, jemarinya saling menggesek gugup. "A-aku... aku tidak tahu cara makan makanan ini, Mas."

"Uhuk!"

Arya yang baru saja menyesap air mineralnya tersedak seketika. Ia segera meletakkan gelas kristalnya dengan bunyi klunting yang cukup keras, mengundang lirikan kecil dari meja sebelah. Ia berdeham, mencoba menormalkan suaranya yang mendadak serak, sementara wajahnya memerah bukan karena marah, melainkan karena kejujuran Yasmin yang menghantamnya tepat di ulu hati.

​"Maaf, Mas... a-aku malu-maluin ya?" bisik Yasmin, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku harusnya tahu kalau tempat ini bukan..."

"Tak apa." Potong ​Arya mengusap bibirnya dengan serbet kain putih, lalu menatap Yasmin lekat-lekat. Sisa-sisa pikiran tentang Sheila dan kerumitan urusan mereka seketika menguap, digantikan oleh rasa bersalah karena telah membawa Yasmin ke "medan perang" yang tidak ia kuasai. "Aku kira... kamu pelayan resto yang mengerti makanan seperti ini juga."

Yasmin mengangguk. "Hanya plating makanan biasa dan minuman, Mas." Jawabnya polos. "Selebihnya... aku masih belajar, karena dua minggu ini aku baru kategori karyawan magang."

Hening.

"Berikan piringmu!" Perintah Arya.

Yasmin mengangguk menurut. Ia lalu menyodorkan piring itu dengan hati-hati ke arah Arya. Di saat yang sama, matanya mulai menatap lekat bagaimana pria itu memotong kecil daging untuk pas sekali suap. Dengan gerakan luwes, alat makan itu sama sekali tak menimbulkan denting sedikit pun pada piring.

"Sebelumnya kamu kerja apa?" Tanya Arya kemudian. Matanya tetap tertuju pada daging yang ia potong-potong kecil itu.

Yasmin menelan saliva. "A-aku... tidak bekerja sebelumnya, Mas. Sejak Ayah meninggal dua minggu lalu karena serangan jantung, aku justru baru memberanikan diri untuk melamar ke kafe itu."

Gerak Arya terhenti seketika, seolah menyesapi kalimat yang baru saja didengarnya. Matanya kini memandang Yasmin dengan tatapan luruh, nyaris kepada iba. "Maaf." gumamnya lirih.

Yasmin tersenyum, namun senyum itu menyimpan luka yang teramat dalam, lebih kelam daripada bayangan di sudut restoran yang temaram ini. Ia menatap potongan asparagus di piringnya, namun pikirannya melayang jauh ke masa lalu yang penuh debu dan air mata.

​"Kehilangan Ibu adalah masa-masa terakhir aku berhenti sekolah SMA," bisik Yasmin, suaranya bergetar halus. "Setelah itu, aku nggak punya pilihan lain untuk menjaga Ayahku yang saat itu tak lama jatuh sakit. Beruntung, Ayahku masih punya tabungan. Jadi, kami gunakan tabungan itu untuk biaya sehari-hari kami."

"Kalau begitu, kenapa kamu musti bekerja?" Tanya Arya penasaran.

"Tabungan Ayah habis untuk membayar rumah sewa yang kami tinggali, Mas." Jawab Yasmin dengan nada sedikit bergetar. Kalimat itu meluncur bersama helaan napas berat, seolah beban bertahun-tahun yang ia pikul sendirian mendadak tumpah di atas meja restoran yang mewah ini.

Arya berdeham, suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar berat. Ia benar-benar menghentikan seluruh gerakannya. Dengan gerakan yang perlahan namun tegas, ia memutar kembali piring yang tadi telah ia potong-potong isinya ke arah Yasmin. ​"Makanlah," katanya pelan, suaranya sedikit lebih lembut dari biasanya. "Habiskan dagingnya, nanti keburu dingin. Rasanya tidak akan enak lagi kalau sudah keras."

Yasmin menatap piring itu, lalu beralih ke wajah Arya. Ia melihat ketulusan yang murni di sana, sebuah perintah yang sebenarnya adalah cara Arya untuk menghentikan air matanya agar tidak jatuh di tempat umum.

​"Terima kasih, Mas," bisik Yasmin. Ia menusuk sepotong daging kecil dengan garpunya, mengunyahnya pelan meski tenggorokannya terasa mencekat.

Sementara, ​Arya mulai memperhatikan setiap gerak-gerik Yasmin, memastikan gadis itu benar-benar menelan makanannya. Di dalam kepalanya, pikirannya terpaut pada sosok wanita didepannya. Baginya, pertemuan hari ini bukan lagi sekadar makan siang biasa atau pelarian dari penatnya pekerjaan di rumah sakit. Ada sesuatu dalam diri Yasmin—ketabahan yang luar biasa, yang membuatnya merasa bahwa ia harus melakukan lebih dari sekadar membelikan pakaian dan makan siang mewah.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!