Karya terbaru Gurania Zee yang menceritakan tentang gadis tidak peka dan cinta segitiga antara Aluna, Arsen dan Prasha Arzelio.
memiliki kisah yang sedikit rumit perihal rahasia misteri kematian ayahnya dan adanya permainan bisnis yang menjadikannya sebuah kunci utama dari misteri tersebut. dan Cinta yang mulai tumbuh perlahan. Aluna seorang gadis yang polos tanpa sadar menjadi pusat permainan dalam dunia bisnis mendiang ayahnya. yang jauh lebih besar dari semua intriks itu bahkan paling tidak menyadari akan hal yang paling sederhana yaitu, perasaannya sendiri. karena terkadang misteri dalam hidup, bukanlah rahasia dari kisah masa lalu melainkan hati yang terlambat menyadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Lola bergerak begitu cepat, jemari tangannya begitu lihai memainkan keyboard, tatapannya yang begitu fokus menatap layar tanpa menoleh sedikitpun ke arah kanan ataupun ke kiri.
Mengecek dan memperhatikan perkembangan perusahaan atas titah Prasha maupun Arden Maharana.
"Gila, lihat deh grafik ini, grafik sahamnya kalian bisa lihat sendiri naik turunnya cepet banget."
"Eh iya loh, coba kamu zoom yang sebelah sini." kemudian dengan cepat Lola mengklik yang diarahkan Arden.
Tak lama suara ponselnya berbunyi, notifikasi pesan masuk, Mr X mengirim pesan anonim pada Lola, entah tau dari mana nomernya.
Isi pesannya adalah :
"Jika kamu mau tau rahasia kematian ayah Aluna dan masalah perusahaan yang lama dirahasiakan oleh ayah Aluna datanglah ke rumah catur bawah tanah pukul 12 malam."
"Hah, rumah Catur?." kaget Lola saat membacanya.
"Bukannya rumah ini bisa dikatakan rumah dengan desain interior mirip catur dengan warna hitam putih."
"Tepat banget kamu lun."
"Dihalaman rumah ini kan ada patung catur yang mirip kuda berwarna hitam lalu dan air mancur di taman berbentuk kuda putih seperti catur juga."
"kalian benar, rumah ini memang konsepnya konsep catur, karena ayahku suka sekali bermain catur, sampai terinspirasi dengan itu dibuatlah rumah ini." jelas Prasha.
"Aku enggak nyaman tinggal disini." ucap Aluna dengan polosnya.
"Kenapa?." tanya Prasha.
"Keliatan banget banyak rahasia yang disembunyikan, rumah besar tapi didalamnya penuh rahasia, serem." ucapnya lagi.
"Kamu tidak salah Aluna, aku juga tidak menyangka akan tinggal dirumah seperti ini, penuh misteri didalamnya."
Keduanya sambil berjalan beriringan dengan yang lainnya. tak lupa mereka membawa senter karena diarea itu tidak dinyalakan lampunya karena memang jarang ada yang keluar masuk area terlarang itu.
Hari mulai semakin gelap dan pukul 12 malam tinggal beberapa menit lagi, semua sudah siap pergi ke arah ruang bawah tanah.
Sambil sesekali Arden Sanjaya berbisik pada Prasha, "Gue baru tau bro rumah elo ada ruang bawah tanah juga."
"Sama gue juga baru tau."
"La, tadi yang kirim pesan ke elo seriusan dari Mr X?." tanya Arden Maharana.
"I,..iya mas, dia chat lagi."
"Baguslah sekarang kalian nampak kompak, dan bersatu itulah yang saya tunggu." ucap Mr X.
Tak lama mereka sudah sampai, di area ruang bawah tanah, pintu terbuka otomatis seolah sudah menunggu kedatangan mereka. dan tak mereka sangka ruangannya begitu tertata rapi, banyak komputer lama dan berkas lama tersimpan rapi meski sedikit berdebu.
Ada meja berukuran panjang lengkap dengan kursi putar, tak lama suara ketukan kaki seolah menghampiri mereka dan semakin mendekat.
Dia ibu Ratna, yang tiba tiba saja mengetahui keberadaan mereka. Dan bertanya "kalian ngapain ada disini?."
"Bu, kami di arahkan untuk datang kesini, oleh Mr X." ucap Lola.
ibu Ratna hanya tersenyum lalu ia duduk sambil menyalakan sebatang rokok. "Cepat juga dia bergerak, tapi baguslah, biar cepat selesai semuanya."
""Maksud mama gimana?." tanya Prasha.
"jadi rumah ini memang disebut rumah catur sha, dan didalamnya memang banyak menyimpan rahasia, seperti permainan catur, ada banyak trik dan intrik saat kita bermainnya bukan.
"Sekali ada yang kalah alias runtuh pasti runtuh semua."
Prok prok prok
Suara tepukan tangan seorang berpakaian hitam, kemudian menghampiri, benar sekali Ratna, lama tak bertemu kalian.
"jadi,..jadi kakek, Mr X itu?."
"Hahaha iya nak, kakek."
"Haish kakek so misterius sekali sih, apa salahnya tinggal bilang."
"Kalo enggak gitu ceritanya enggak akan tegang Prasha."
Serempak semua pada tertawa, pecah sudah suasana tegang menjadi absurd seketika. "Nah ini berkas yang kalian cari, pelajarilah dan bangkitkan perusahaan ayah kalian lagi." ucap kakek Prasha.
Prasha membacanya dengan seksama begitu pula Arden Maharana dan yang lainnya, namun Arsen nampak santai saja. Seolah sudah tau akhirnya akan bagaimana.
Dan ini flashdisk ke dua, rekaman saat ayah Aluna. Kecelakaan. "Degh!"
Semua langsung fokus menatap layar monitor yang menyala, kecepatan jadi Lola memang tidak bisa diremehkan, dan ketelian prasha maupun Arden Maharana tidak diragukan lagi.
"La coba kamu putar ulang, aku seperti melihat seseorang dibalik tiang itu."
"Dan itu,.. Arsen?."
"Bukan, bukan gue, tapi bokap gue." jujur Arsen
"Jadi elo dah tau lama soal ini Sen?." Prasha langsung emosi dibuatnya.
Menarik kerah baju Arsen dengan tatapan emosi. "iya, gue udah lama tau."
"Gila LO yah, sen ini tentang ayah Aluna elo malah sengaja sembunyikan dari kita."
"Tapi ini juga soal ayah gue, ayah angkat Aluna juga kan." jawab Arsen enteng.
Jadi elo sengaja deketin Aluna karena ada tujuan lain?,..gitu?."
"Gue bukan kayak elo Prasha." Keduanya semakin memanas, jika saja tidak langsung dicegah oleh Darto dan Arden Sanjaya. Mungkin keduanya akan baku hantam diruangan itu.
"Sudah kalian jangan terbawa emosi dulu, sebaiknya kita fokus pada inti masalah." tegas sang kakek, dan di setujui oleh Arden Maharana.
"Dalam hal ini, kalian harus kontrol emosi kalian agar bisa berpikir dengan baik."
"Jika memang bapaknya Arsen salah satu pelaku dalam kasus itu, kira bisa mencari tau lebih detail lagi, apakah bapaknya Arsen hanya dijadikan pion atau lainnya."
Aluna yang tidak kuat begadang ia memilih tidur selonjoran tak mau ambil pusing masalah orang dewasa. Begitulah pikirnya
Meskipun pikirannya masih bertanya tanya, apalah mimpi yang dialaminya itu nyata apakah itu hanya mimpi, bunga tidur semata. Seolah hatinya sudah memilih. Dimana ia merasa ada dititik kenyamanan pada kedua pria yang mendekatinya tersebut.
Suasana tegang kini kembali mencair, saat mereka mendengar suara igauan Aluna. meskipun Prasha masih menatap Arsen dengan tatapan tajam, tapi Arsen mengabaikannya.
Kali ini Prasha sudah tidak mau lagi, mengalah pada Arsen, dan kompetisi diantara keduanya semakin panas dalam mendekati Aluna. Meski berkali kali Arden Sanjaya menanyakan akan perasaannya Prasha pada Aluna, ia masih gengsi untuk mengakuinya.
Tidak tega melihat Aluna kedinginan, keduanya saling mendahului untuk menggendong Aluna, dan yang terjadi akhirnya Aluna malah keberiaikan atas cekcok Arsen dan Prasha yang bagaikan anak kecil, berebut untuk membawa aluna pergi ke kamarnya
"Gue aja yang bawa dia."
"enggak gue aja, kamar gue lebih dekat sama kamarnya Aluna."
"gue aja sen."
"enggak gue aja, lagian elokan baru sembuh bro,udah biar gue saja."
"hoaaamm, ini ada apasih kalian ribut ribut."
Keduanya langsung berbalik dan berjalan cepat dengan kompak sambil berkata "tidak ada apa apa." yang diucapkan secara serentak oleh Arsen maupun Prasha, seketika semua pada menahan tawa atas kelakuan keduanya. Sedangkan Aluna hanya geleng kepala, dan melanjutkan tidurnya lagi.