NovelToon NovelToon
Batas Jarak Dan Baktimu

Batas Jarak Dan Baktimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
​Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan, Luka dan Benang Takdir

​Gerimis yang turun sejak tengah hari di kompleks Asrama TNI AD Gatot Subroto akhirnya berubah menjadi hujan lebat. Suara deru air yang menghantam atap seng barak-barak militer menciptakan ritme monoton yang biasanya membuat orang ingin meringkuk di bawah selimut. Namun, bagi Aura Shenina, hujan adalah panggung megah yang dikirim Tuhan langsung dari langit.

​Gadis kecil berusia tujuh tahun itu—yang lebih akrab disapa Nina—sama sekali tidak peduli dengan baju kaos putihnya yang kini melekat transparan di kulit, atau rambut hitamnya yang lepek menutupi dahi. Di tengah jalan aspal yang membelah deretan rumah dinas tipe 36 itu, Nina sedang berada di dunianya sendiri.

​Nina sedang menjadi bintang film Bollywood.

​"Nina! Jangan terlalu jauh ke tengah jalan, Sayang!" seru sebuah suara lembut namun tegas.

​Di teras rumah nomor 12, sepasang suami istri duduk bersila di atas tikar pandan. Serda Hamdan, mengenakan kaos loreng hijau khas TNI yang santai, menyandarkan punggungnya ke dinding sembari menikmati kopi hitam yang uapnya masih mengepul. Di sampingnya, Fatimah, sang istri, sedang mengupas mangga.

​"Biarkan saja, Bu. Jarang-jarang dia seceria itu. Asal tetap dalam pantauan kita," sahut Hamdan sambil tersenyum lebar. Matanya tidak lepas dari putri tunggalnya yang kini sedang berputar-putar, merentangkan tangan, dan mencoba meniru gerakan tari Chaiyya Chaiyya yang tempo hari mereka tonton di televisi tetangga.

​Nina tertawa riang. Tawanya yang renyah bersaing dengan suara guntur yang lamat-lamat terdengar di kejauhan. Baginya, setiap tetes air hujan adalah tepuk tangan penonton. Ia melompat kecil, menggoyangkan pinggulnya yang mungil, dan menyeka air hujan dari matanya dengan punggung tangan yang mungil.

​"Lihat, Ayah! Nina seperti Rani Mukherjee!" teriaknya sambil berputar makin cepat.

​***

​Di ujung jalan asrama yang menurun, sebuah bayangan muncul dari balik kabut hujan. Seorang remaja laki-laki sedang memacu sepeda gunungnya dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk cuaca seburuk ini.

​Pradipta Arya, atau yang biasa dipanggil Arya, sedang merasa kesal. Remaja berusia 15 tahun itu baru saja kalah dalam pertandingan basket di sekolahnya dan melampiaskan emosinya pada pedal sepeda. Rambutnya yang dipotong rapi gaya militer sudah basah kuyup. Ia menunduk, melawan terpaan angin dan air yang menusuk wajahnya, mengabaikan fakta bahwa jalanan aspal asrama yang licin bisa menjadi jebakan mematikan.

​Ia tidak melihat gadis kecil berbaju putih itu.

​Nina sedang melakukan gerakan pamungkasnya—berputar dengan mata terpejam, menikmati sensasi dingin yang membalut tubuhnya.

​"Arya! Awaaaas!" Teriakkan itu entah datang dari mana, mungkin dari salah satu penghuni asrama yang melihat dari jendela.

​Semuanya terjadi dalam hitungan detik.

​Arya mendongak, matanya membelalak melihat sesosok kecil tepat di jalurnya. Ia menarik rem sekuat tenaga. Suara decit ban yang bergesekan dengan aspal basah memekakkan telinga. Sepedanya melintir, namun momentum kecepatan tinggi itu tak terbendung.

​Brakk!

​Tubuh kecil Nina terpental seperti boneka kain. Kepalanya menghantam pinggiran trotoar beton dengan suara yang tumpul namun mengerikan. Sepeda Arya terseret beberapa meter, membuat remaja itu juga terjatuh dan terseret di atas aspal kasar.

​Hening sejenak. Hanya suara hujan yang terus menghujam bumi.

​"NINA!"

​Hamdan dan Fatimah melonjak dari teras. Gelas kopi Hamdan pecah berkeping-keping, namun ia tidak peduli. Mereka berlari menembus hujan dengan jantung yang seolah berhenti berdetak.

​Di tengah jalan, Nina tergeletak diam. Darah segar berwarna merah pekat mulai mengalir, bercampur dengan air hujan, membentuk aliran kecil yang mengerikan di atas aspal. Kepalanya bocor.

​Arya merangkak bangun dengan lutut yang gemetar. Ia melihat gadis kecil itu. Ia melihat darah itu. Wajahnya yang semula merah karena amarah kini pucat pasi seputih kapas.

​"Ya Tuhan... Dek? Dek, bangun!" Arya merangkak mendekat, suaranya pecah menjadi tangisan histeris. "Om, Tante, maaf! Saya nggak sengaja! Saya nggak lihat!"

​Arya memeluk lututnya, menangis sejadi-jadinya melihat Nina yang tak sadarkan diri. "Bawa ke rumah sakit! Ayo bawa ke rumah sakit! Saya tanggung jawab!"

​Hamdan, dengan ketenangan seorang prajurit yang sudah terlatih dalam situasi darurat, langsung menggendong Nina. Ia mengabaikan Arya yang terus menangis ketakutan di sampingnya.

​"Ibu, ambil kunci motor! Cepat!" perintah Hamdan.

​Mereka membawa Nina ke RSAD terdekat. Di sepanjang jalan, Fatimah tak henti-hentinya merapalkan doa sambil mendekap kepala putrinya yang sudah dibalut kain seadanya. Di belakang mereka, Arya mengikuti dengan motor yang dipinjam dari tetangga, wajahnya sembab oleh air mata dan rasa bersalah yang teramat sangat.

​Di depan ruang Unit Gawat Darurat, Arya duduk meringkuk di bangku kayu. Bajunya masih basah, kotor oleh lumpur dan sisa darah Nina yang menempel saat ia mencoba membantu mengangkatnya tadi. Ia terus terisak. Bayangan kepala Nina yang menghantam beton terus berputar di kepalanya seperti mimpi buruk.

​Hamdan menghampiri remaja itu. Arya mendongak, siap menerima makian atau bahkan pukulan. Ia tahu ia salah. Ia tahu ia ceroboh.

​Namun, Hamdan hanya menepuk bahunya pelan.

​"Tenanglah, Nak. Ini musibah. Jangan terus menyalahkan dirimu," kata Hamdan tenang, meski gurat kecemasan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.

​"Tapi Om... Nina... dia tadi cuma main... saya yang salah," isak Arya.

​"Kita tunggu dokter, ya? Nina anak yang kuat," tambah Fatimah sambil mengusap punggung Arya. Kebaikan hati orang tua Nina justru membuat dada Arya makin sesak. Ia merasa tidak pantas mendapatkan pengampunan secepat itu.

​Beberapa jam kemudian, dokter keluar. Nina mendapatkan sepuluh jahitan di bagian samping kepalanya. Beruntung, hasil CT scan menunjukkan tidak ada pendarahan dalam yang serius. Nina sudah sadar dan diperbolehkan pulang sore itu juga.

​***

​Malam harinya, suasana di rumah mungil nomor 12 itu terasa hangat namun tenang. Nina berbaring di sofa ruang tamu dengan perban putih yang melilit kepalanya. Ia tampak pucat, namun matanya sudah mulai bersinar lagi saat melihat kartun di televisi.

​Ketukan di pintu mengejutkan Hamdan yang sedang merapikan obat-obatan. Saat pintu dibuka, Hamdan terpaku.

​Berdiri di sana adalah Arya, yang sudah berganti pakaian rapi dengan kemeja polo. Namun, ia tidak sendiri. Di sampingnya berdiri dua gadis remaja yang lebih tua, keduanya memiliki paras yang menawan dan pembawaan yang anggun. Di tangan mereka terdapat keranjang buah yang besar dan beberapa tas berisi makanan.

​"Selamat malam, Pak. Saya Aurel, dan ini Arista. Kami kakak-kakaknya Arya," ucap gadis yang paling tua dengan nada sangat sopan.

​"Kami datang ingin memohon maaf yang sedalam-dalamnya atas kecerobohan adik kami," sambung Arista.

​Hamdan mempersilakan mereka masuk. Namun, saat Arya dan kakak-kakaknya masuk ke ruang tamu, Fatimah yang keluar dari dapur membawa teh sempat tertegun melihat logo pada mobil yang terparkir di depan rumah mereka. Sebuah mobil dinas dengan plat bintang.

​"Maaf... kalau boleh tahu, Arya ini putra dari...?" tanya Hamdan ragu-ragu.

​Aurel tersenyum tipis. "Ayah kami Jenderal Sudrajat, Pak. Beliau sedang ada tugas di Jakarta, jadi kami yang mewakili untuk datang ke sini begitu mendengar kabar dari Arya."

​Seketika, atmosfer di ruangan itu berubah. Jenderal Sudrajat adalah orang nomor satu di Kodam ini. Hamdan, yang hanya seorang Sersan Dua, merasa seolah lantai yang dipijaknya tiba-tiba menjadi sangat tinggi. Ia merasa sangat terhormat, sekaligus canggung. Seorang putra Jenderal datang meminta maaf ke rumah seorang bintara?

​"Ya Tuhan... tidak perlu repot-repot begini, Mbak. Kami sudah memaafkan Arya sejak di rumah sakit tadi," ujar Fatimah dengan tulus.

​Arya berjalan mendekati sofa tempat Nina berbaring. Ia berlutut di samping gadis kecil itu.

​"Nina... Kakak minta maaf, ya? Gara-gara Kakak, Nina jadi nggak bisa menari lagi buat sementara," ucap Arya dengan suara tulus. Matanya masih menyimpan sisa-sisa penyesalan.

​Nina menoleh pelan. Kepalanya memang masih terasa nyeri, seperti ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk di balik perbannya. Namun, melihat wajah Arya yang tampak sangat sedih, Nina justru tersenyum kecil.

​"Nggak apa-apa, Kak Arya. Nanti kalau sudah sembuh, Nina mau menari lagi. Kakak mau nonton, kan?"

​Arya tertegun. Ia tidak menyangka anak sekecil itu memiliki hati seluas itu. "Iya. Kakak janji, nanti Kakak akan tonton Nina menari dari awal sampai selesai."

​Malam itu, kunjungan yang seharusnya penuh ketegangan justru berakhir dengan kehangatan. Aurel dan Arista berbincang akrab dengan Fatimah, sementara Arya duduk di lantai di samping sofa Nina, menceritakan buku cerita yang ia bawa sebagai kado permintaan maaf.

​Hamdan hanya memperhatikan dari sudut ruangan. Ada sesuatu yang aneh dalam dadanya—sebuah perasaan bahwa pertemuan ini bukanlah sebuah kecelakaan biasa.

​Di luar, hujan sudah berhenti. Langit asrama militer itu kembali gelap, hanya menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan. Luka di kepala Nina mungkin akan meninggalkan bekas jahitan yang permanen, sebuah memori fisik dari hari yang kacau.

​Namun, tidak ada yang tahu bahwa pada sore yang basah itu, saat ban sepeda menghantam tubuh kecil Nina, sebuah benang takdir yang sangat panjang baru saja mulai dipintal.

​Gadis kecil yang gemar menari India dan putra seorang Jenderal yang sempat merasa dunianya runtuh karena rasa bersalah, tidak pernah menyangka bahwa di masa depan, garis hidup mereka akan saling membelit dengan cara yang jauh lebih rumit, lebih emosional, dan mungkin, lebih menyakitkan daripada sekadar sepuluh jahitan di kepala.

​Sebab, di asrama ini, setiap pertemuan adalah sebuah instruksi operasi dari semesta yang tidak bisa dibatalkan.

1
falea sezi
kapok. jd cowok. kok. lemah ibumu. cm akting
falea sezi
ma emak nya aja kalah laki plin. plan pengecut makan itu karir
Erlina Candra
kereen karyanya Thor..semakin penasaran
Boa: Terima kasih banyak kak, semoga suka ya 🙏☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!