NovelToon NovelToon
ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: Endiya Winter

ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi


- - -

Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.

Bunuh diri.

Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.

Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.

Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.

Drama.

Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.

Act Zero.




- - -

Endiya Winter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ACT II

  Luput dari ingatannya, dia lupa memberitahu kepada sang nenek tentang kematian Keisha—sepuluh tahun terlewat tanpa sadar. Bohong ... Mulanya dia berniat memberitahu, namun ia langsung mengurungkan niat begitu menyaksikan Nek Mira sedang terbaring di balik gulungan selimut. Tubuhnya kurus dan napas beratnya terdengar menyesakkan, mengingatkannya pada saat-saat terakhir ibunya berpulang. Ia pasti sudah melalui banyak waktu setelah anak-anak nakal yang dulu suka sekali berbuat jahil, kini satu demi satu meninggalkan kampung halamannya dan bermigrasi ke kota-kota besar. 

   Melihatnya datang kemari dengan kaki beralaskan sandal tipis, membuatnya pilu. Dia bersikeras hendak masuk ke dalam sekolah untuk menemui kakak perempuannya yang bahkan kematiannya selama sepuluh tahun tidak pernah diketahuinya. Bermodal tekad dan rantang berisikan makanan kesukaan kakak beradik itu, dia pergi entah apa saja yang telah dilaluinya sebelum sampai di tujuan.

   “Nek, kau pasti sangat merindukannya.” Riyan berjongkok merendahkan tinggi badannya. Dia menggenggam kedua tangan sang nenek sementara tangan yang satunya menepuk-nepuk dadanya guna menahan sesak. Air matanya mulai tak bisa dibendung, akhirnya mengalir membasahi pipinya. Pak John dan Pak Sion yang menonton di belakang pun saling berpelukan, merasa amat bersalah mengingat bagaimana mereka menghadang tubuh sang nenek.

   “Eh? Suaramu..” Nek Mira menjulurkan tangannya, meraba-raba sosok di depannya. “Benar ... Kau adik laki-laki Keisha, kan? Pinokio yang suka berbohong. Kaukah itu?”

   “Kau mengenalku, nek?” Dada Riyan bertambah sesak. Dia ingat pada hari ia dan kakaknya bermigrasi ke pusat kota, kala itu ia masih duduk dibangku kelas 6 SD. Karena Keisha-lah satu-satunya tulang punggung keluarga yang juga kala itu sudah beranjak dewasa, maka ia tidak membantah saat sang kakak membuat keputusan untuk berkuliah di sana. Dan hari itu jugalah ... hari terakhir bagi Nek Mira melihatnya. 

   “Aih, mana mungkin aku tidak mengenalmu. Aku selalu tahu bau orang-orang di sekitarku. Omong-omong bagaimana kabarmu? Apa kau masih menangis jika kakakmu mengomelimu?” 

   Riyan menundukkan kepalanya, tidak menggubris. Perasaannya kalut, bercampur aduk di hatinya. 

   “Cuacanya mulai dingin, aku harus kembali.” Nek Mira bangkit dari kursi. Dia mengambil tongkatnya dan mulai meraba-raba tanah tempat rantang makanannya diletakkan. “Aku memasak sup iga beserta lauk kesukaan kalian. Makanlah selagi hangat.” Ditariknya tangan Riyan, lalu diserahkan rantang tersebut yang masih dalam keadaan dibalut kain. “Keisha berkata dia merindukan sup iga laut buatanku. Jadi aku memasak agak banyak, berbagilah dan jangan berebut, ya.”

   Jari-jari Riyan gemetar, semua otot di seluruh tubuhnya terasa melemah. Sebelum Nek Mira berbalik badan, dia memberanikan diri memeluknya. Kepalanya mendarat di ceruk lehernya sementara kedua lengannya mendekap erat tubuh kurusnya. “Terima kasih. Lain kali aku akan datang berkunjung lebih sering.”

   “Aih, tidak perlu. Keisha berkata kau sangat sibuk sejak bekerja sebagai kepala administrasi. Aku mengerti.”

   Cukup—Tangisnya makin pecah. Sesak rasanya mendengar Nek Mira menyebut nama kakak perempuannya itu, sedangkan ... ia tak pernah tahu bahwa takdir telah membawanya pergi.

   “Mari kuantar kau pulang, nek.” Riyan melepas dekapannya sembari menyeka air matanya. 

   “Tidak perlu. Pengurus panti akan menjemputku.”

   “Pengurus panti?”

   “Ah, benar. Aku lupa memberitahumu. Sekarang aku tinggal di panti jompo. Keisha mendaftarkanku ke sana di hari kalian bermigrasi.”

   “Kak Keisha?”

   Nek Mira merogoh-rogoh saku bajunya, kemudian mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya. “Mampirlah jika kau punya waktu luang.”

   Riyan membaca dengan saksama, 'Panti Jompo Evening'—sebuah tempat tinggal para lansia yang dikelola oleh pemerintah melalui Departemen Sosial dan Kesejahteraan Masyarakat. Di bawahnya terdapat alamat lengkap dan nomor telepon panti tersebut, serta slogan yang berbunyi: ‘Merawat Dengan Cinta dan Kehormatan’.

   “Datanglah bersama kakakmu. Kau bisa tersesat karena belum pernah berkunjung.” Nek Mira beranjak bangkit. Daun telinganya bergoyang pelan menerima gelombang suara mobil mengerem di sisi jalan—tampaknya itulah mobil dari panti yang datang untuk menjemputnya. 

   Sementara itu, Riyan merasakan kejanggalan dari susunan kalimat sang nenek. “....Nek,” panggilnya. “Apakah ... Kak Keisha sering datang berkunjung?”

   “Tidak juga. Kadang dia sibuk dengan pekerjaannya.”

   Saat Nek Mira hendak berbalik badan, Riyan menahan pergerakannya lagi. “....Nek, apa ... kau sungguh-sungguh bertemu dengan kakakku?”

   Nek Mira tersenyum. Sembari melambaikan tangan tanda berpamitan, dia berkata, “Kau bisa bertanya padanya. Sampai nanti.”

   Tepat saat matahari di ufuk barat tenggelam dan digantikan oleh lampu-lampu penerang jalan, pertemuan hangat mereka berakhir serupa dengan senja itu—indah namun singkat. Bila mendongakkan kepala, tampak langit berubah warna menjadi jingga pekat bercampur ungu gelap, menciptakan suasana melankolis. Di saat bersamaan, mobil van putih semakin bergerak menjauh sampai kemudian hilang dari jarak pandangnya.

   “....Anu, pak.” Pak John menghampirinya, gerak-gerik tubuhnya masih sama seperti sebelumnya ketika ia berbicara dengan berbisik-bisik. “Lima bulan lalu, ibuku meninggal dunia. Dia menderita demensia cukup parah sejak kematian putraku.”

   Pak Sion bergegas mengambil kursi, satu untuk Riyan dan satu untuk dirinya. Di depan pos jaga gedung sekolah, ketiga pria duduk bersama, berbincang sebentar sebelum malam menyelimuti seluruh daerah pinggiran. 

   Pak John melanjutkan, “Yohan putraku, ditemukan meninggal dunia di dalam selokan pada hari kami pergi ke pasar. Sebelumnya, dia merajuk karena ibuku lupa tentang janji yang dibuatnya, karena itulah dia pergi dan menghilang di tengah keramaian. Sampai hari berubah gelap, dia tidak kunjung kembali, jadi aku pun membuat laporan ke kantor polisi. Sekitar pukul delapan malam, aku dan ibuku dipanggil untuk memverifikasi identitas mayat yang ditemukan petugas keamanan pasar. Pak Riyan, Pak Sion, rupanya ... dia adalah putraku sendiri, Yohan.”   

   Pak Sion secara inisiatif menepuk pelan bahu Pak John, menenangkannya.

   “Sejak saat itu, ibuku terus berhalusinasi dan yakin bahwa putraku masih hidup. Anehnya, setiap kali bayangan putraku muncul, dia selalu menunjukkan wajah marah dan berkata,”

   “Siapa yang melakukan ini kepadamu?! Kenapa kau harus mengalaminya, oh, Yohan, cucuku yang malang...”

   “...Pak John, jadi maksudmu nenek yang datang kemari tadi juga menderita demensia?” Pak Sion bertanya.

   “Entahlah, tapi kupikir begitu.” Pak John beralih kepada Riyan, hendak mengatakan sesuatu yang khusus. “...Pak, aku tahu itu tidak mudah bagimu. Tapi aku yakin kau adalah orang yang kuat dan gigih.”

   Riyan mengangguk, menerima simpati darinya. 

   “Mulai saat ini, sering-seringlah datang mengunjungi nenekmu. Dia pasti merasa kesepian dalam waktu yang lama.”

   Pak Sion menyikut lengan Pak John, bertanya, “Kenapa kau bilang begitu?”

   “Orang yang dicarinya tadi..”

   Pak Sion mengangguk, mengerti maksud perkataannya. 

   Sementara di sisi lain, Riyan mengernyitkan dahi, merasa seperti ada sesuatu yang janggal. “Pak John, apakah secara kebetulan ... kau mengetahui siapa Keisha?”

   “...Saudara perempuanmu, bukan?”

   Kelopak mata Riyan terbuka lebih lebar, menatap lurus ke sepasang mata lawan bicaranya. “Bagaimana kau bisa tahu?”

   “...Hu?”

   Bukan hanya Pak John yang kebetulan sedang ditanya, Pak Sion yang jadi pihak ketiga pun juga menunjukkan reaksi wajah yang serupa—bingung. 

   “Aku tak pernah cerita kepada siapa pun.”

...• • • • •...

   Setelah matahari tenggelam sepenuhnya, bulan separuh menggantung dengan cantiknya di langit malam. Kehadirannya memancarkan nuansa tenang dan damai saat gelap mulai mengukung. Bersama dengan cahaya peraknya, lampu-lampu penerang jalan menyala secara otomatis, memantulkan larik indahnya pada permukaan kaca jendela. 

   Jarum pada jam dinding menunjukkan pukul delapan lewat sedikit. Usai kelima anggota bekerja sama menata kamar baru mereka, barulah tiba saatnya untuk merayakan malam pertama pertukaran kamar asrama; acara makan malam di balkon. Kegiatan ini sudah menjadi kebiasaan para gadis setiap kali tiba waktunya bertukar kamar. Pada tanggal satu di awal bulan, pasti setiap balkon terisi oleh lima orang, lengkap dengan hidangan enak buatan tangan koki—anggota yang pandai memasak, serta topik obrolan yang bermacam-macam—anggota yang ahli dalam bergosip.

   Pada malam pertama ini juga, pembagian tugas membersihkan asrama sudah dibagikan. Dalam sehari, setiap individu memiliki pekerjaan masing-masing yang setiap harinya akan dikerjakan secara silih berganti. Kelima tugas pokok tersebut adalah menyapu dan mengepel, mencuci dan menjemur baju, menyetrika, memasak, dan mencuci piring. Pekerjaan lainnya tidaklah bersifat wajib selain kelima itu, jadi siapa pun boleh melakukannya dengan sukarela.

   “Asin!” Karinn menyipitkan mata, mengusap-usap lidahnya menggunakan tisu. Buru-buru dia menyambar teko berisikan sirup, menuangkannya ke gelas miliknya hingga penuh, lalu meminumnya dengan buru-buru juga.

   “Kau ikan?” 

   Karinn tersedak, lantas menoleh cepat ke sebelah kursinya, tempat di mana si beruang laser berada. “Tiba-tiba?” Sebenarnya dia tahu maksud Irene mengatakan dirinya ikan adalah karena ikan tidak punya lidah. Jadi ‘Lidahmu bermasalah?’ adalah makna dari itu. Namun yang tidak ia mengerti adalah bagaimana bisa Irene berkata begitu dengan wajah yang menunjukkan bahwa dia juga merasakan hal yang sama? Kan, itu artinya sama saja dia mengatakan dirinya sendiri sebagai ikan. 

   “Kalian mau bertengkar lagi?” Erica melotot, tangan kanannya terkepal siap meninju. Lantas kedua pelaku yang sedang saling mengacungkan jari tengah pun menoleh, lalu tersenyum palsu bersamaan. 

   “Aih, kau pemarah juga, ya.” Karinn terkekeh, kemudian berpura-pura merangkul pundak Irene seolah menunjukkan bahwa mereka melakukannya hanya sebagai bentuk candaan. “Lihat, dia penggemar baruku. Mana mungkin aku memperlakukannya dengan buruk.” 

   Sembari menggeser kursi Karinn menggunakan kakinya, Irene membalas, “Akan kubunuh kau, Sherlock.” 

   “Ya, silakan. Mari adu seberapa cepat kau mengejarku..” Karinn tersenyum lagi, senyum menyebalkan yang sangat cocok untuk mengakhiri perseteruan. 

   “Kau bilang, Sherlock?” Ayaa di seberangnya bertanya, membaurkan diri dalam area. 

   “Orang ini,” jempol kiri Erica menunjuk ke arah Karinn. “...dia detektif terkenal di angkatan kelas 11. Banyak yang bercerita bahwa ada seseorang yang terobsesi dengan kasus kematian gadis bunuh diri di atap. Itu dia.”

   “Selama ini kami tidak pernah tahu siapa orangnya, tapi suatu hari mereka (salah seorang temannya) menunjukkan fotonya ... Ck, dari wajahnya saja terlihat dia adalah maniak yang haus oleh rasa penasaran.”

   Meja bergetar, kaki Irene tidak sengaja menghentaknya karena pahanya merespons rangsangan berupa rasa sakit dari cubitan orang di sebelahnya. “Kau mau mati?” batin keduanya yang sama-sama mengangkat dagu begitu kedua mata mereka saling melotot. 

   “Wah, itu terdengar keren. Ternyata kau orangnya.” Ayaa memberi komentar, jelas dia tahu asal-usul tentang julukan di kalangan kelas 11 itu. Sejak kasusnya jadi perbincangan para gadis, mendadak banyak detektif bermunculan bagai letupan air saat mendidih. Namun entah dari mana dan siapa yang menyebarkannya, ‘Sherlock’ lebih populer lantaran disebut-sebut memiliki kesimpulan yang berwarna jelas—putih untuk ‘ya’ dan hitam untuk ‘tidak’, sementara abu-abu adalah jembatan antara kedua warna itu tercampur; pendapat dari berbagai perspektif. 

   “Sejak kapan kau mulai menyelidikinya? Dan bagaimana perkembangannya?” Villy bertanya, penuh antusias atas ketertarikannya pada gadis itu.

   “Yah, tidak ada yang spesial. Aku menyelidiki kasusnya berdasarkan apa yang menurutku tidak wajar. Walau banyak yang belum terjawab, setidaknya aku dapat membedakan antara rumor dan yang sebenarnya.”

   “Coba sebutkan salah satunya.”

   Sambil mengunyah, Karinn berpikir sejenak. Dia menimbang-nimbang sepertinya akan membuat bingung si senior jika ia langsung memilih poin di tengah kasus, maka ia pun memutuskan untuk memulai dari awal lagi. “Tidakkah menurut kalian aneh saat mendengar dia bunuh diri di sekolah?”

   “Aneh?” 

   “Bagian mana yang kau maksud aneh?”

   “Bulan November ... adalah hari di mana serah-terima jabatan OSIS kepada junior, tepatnya pada tanggal 13.”

   Erica menjadi yang pertama kali menyadari akan hal itu  menyahut, “Hari terjadinya kasus.”

   “Benar. Secara kebetulan, gadis itu memilih mati pada tanggal di hari begitu senggang. Serah-terima jabatan OSIS telah selesai bahkan sebelum tengah hari. Semua pelajaran juga ditiadakan khusus hari itu. Makanya, jam pulang dipercepat dan gadis-gadis asrama memilih memanfaatkan waktu tersebut untuk kembali ke rumah masing-masing. Secara kebetulan, gedung sekolah berubah menjadi tempat yang benar-benar sepi.”

   “Jadi, Karinn, kau bermaksud mengatakan kalau gadis itu seharusnya bisa saja naik ke atap dan melompat saat hari masih siang?” Ayaa melontarkan tebakannya.

   Dan Villy di sebelahnya menambahkan, “Kau tidak bisa mengontrol itu, bukan?”

   Karinn mengangguk. “Benar, aku tidak bisa mengontrol itu. Namun masalahnya, apa yang dia lakukan selama rentang waktu yang panjang itu? Kenapa dia menunda kematiannya sampai hari berubah gelap? Memangnya orang tuanya tidak mencarinya?”

   Erica dengan penuh semangat menyetujui. “Itu benar, mereka pasti mencarinya.”

   “Pada pertemuan di gimnasium tiga tahun lalu, kepala sekolah memberitahukan pada kita bahwa orang tua korban tidak mengkhawatirkan atas kepergian putrinya itu karena dia mengiriminya pesan yang mengatakan dia akan pergi ke rumah temannya sampai malam. Polisi juga sudah memeriksa riwayat obrolan di ponsel sang wali. Jadi sampai sini, seharusnya kita dapat memastikan kalau korban memiliki teman dan tidak berniat bunuh diri sama sekali.”

   “Dia memiliki teman?” Ayaa menengadahkan kepalanya, berpikir sejenak.

   “Kalau begitu kenapa banyak yang bersaksi tidak ada yang mengenalnya?”

   “Mungkin itu karena dia hanya memiliki satu orang teman.”

   “Lalu di mana dia sekarang?”

   “Mungkin ... dia pindah?”

   “Tapi sejauh ini para polisi datang kemari dan melakukan wawancara kepada kita, mereka selalu mengatakan kalau semua gadis pindahan yang diperiksanya tidak ada yang memiliki hubungan dengannya.”

   “Kalau begitu, jawaban terakhirnya adalah teman si korban menutup mulutnya.”

   “Jadi ada kemungkinan dia masih bersekolah di sini?”

   Karinn mengangkat bahu.

   Erica berujar lagi. “Tapi Karinn, meskipun kau bilang gadis itu hanya memiliki satu orang teman, itu tidak menghapus fakta bahwa dia dirundung, kan?”

   Karinn mengangguk. “Tentu saja. Memiliki satu orang teman dan nasibnya yang malang adalah dua hal berbeda.”

   Ayaa kemudian melanjutkan, “Mungkin itu sebabnya juga dia memiliki luka gores di pergelangan tangannya.”

   Villy mendongakkan kepalanya, menatap sesuatu yang berada tepat di atas lantai kamar ini; atap. Dari jarak segini, pembatas atap yang setinggi orang dewasa itu dapat terlihat walau samar karena tampak menyatu dengan gelapnya malam. 

   Semilir angin menggoyangkan kertas kecil yang tertempel di sepanjang pagar pembatas—berisikan tulisan tangan para siswi; doa dan kata-kata hangat atas kematian korban.

   “Pergilah dengan tenang..”

   “Kami di sini membantumu untuk menguak kebenarannya..”

   “Jika kita bertemu di kehidupan berikutnya, mari saling berteman!”

   “Kudengar kita adalah teman sekelas, lain kali datanglah ke mimpiku!”

   “Percayalah, bangkai busuk pasti akan tercium baunya!”

   “Kau telah berjuang.. Beristirahatlah sejenak..”

   Dahulu ... tiga tahun lalu tepatnya, gedung sekolah ini sebenarnya bukanlah gedung SMA. Ketika itu gedung SMA direncanakan dibangun di dekat pusat kota lantaran tidak cukup lahan di area dekat perbukitan ini. Tetapi yayasan pendidikan yang menaungi sangat menyayangkan apabila gedung SMA harus berdiri bersebelahan dengan gedung-gedung tinggi di pusat kota. Di sana tempatnya sangat ramai, sibuk, dan populasi para pekerja lebih banyak ketimbang anak-anak sekolah. Jadi setelah melewati banyak rapat pertemuan dan melakukan survey lapangan, akhirnya gedung baru diputuskan dibangun di dekat danau kecil yang letaknya agak jauh. Namun entah alasan apa, saat pembangunannya telah selesai dan telah diresmikan, gedung tersebut justru dialihkan menjadi gedung SMP—diduga untuk mencegah penyebaran berita ke pihak luar. Sementara gedung yang lama dijadikan gedung SMA dengan dilakukannya perluasan gedung asrama yang kemudian berdiri menjadi satu bangunan seperti sekarang. 

   Benar.. Dengan kata lain, para siswi menempati gedung sekolah yang dulunya merupakan tempat terjadinya kasus itu.

   “Yang membuat rumor dia melompat dari atap juga tidak masuk akal,” lanjut Karinn lagi. 

   “Hu? Apa maksudmu?” Erica tersedak, kepalanya langsung cepat menoleh dengan semburat rasa penasaran di wajahnya. “Jika ... Jika kau bilang itu rumor, apa itu artinya....”

   Keningnya terasa panas oleh tatapan seseorang. Benar saja, saat Karinn mengangkat kepalanya, tampak keempat anggotanya sedang menatapnya. “....Kalian tidak tahu? Tubuh gadis itu tidak ditemukan di halaman sekolah sebagaimana yang tersebar dalam rumor kalau dia mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atap.” 

   Bagai tertembak peluru tepat di dada, keempatnya serempak menunjukkan reaksi yang sama. Wajah mereka pucat saat saling bersitatap satu sama lain, membisu di tempat.

   “Kalian tahu polisi menemukan tubuhnya di mana?” Karinn tersenyum ganjil, lalu berkata lirih, “Tubuh gadis itu ... ditemukan dalam keadaan menggantung di tepi atap.”

   “APA?!”

   Suara pekik keempatnya yang nyaring nyaris membuat kursi yang diduduki Karinn bergoyang. Kalau saja tangan Irene tidak bergerak cepat menahannya, maka tidak ada yang terjadi selain tubuhnya terhempas ke belakang. 

   “Kau jangan bercanda, ya! Tidak Lucu!” Irene meninju lengan Karinn, menyebalkan melihatnya berlagak.

   “Hahahaaa, lucu sekali, lho. Puas, kau?!” Karinn membalas balik dua pukulan tinju kepada Irene; impas. 

   “Karinn, kau sungguhan?”

   Karinn mendorong kursi Irene menjauh agak ke belakang dengan kakinya, sebelum kemudian mengarahkan badannya menghadap Erica untuk menjawab pertanyaannya. “Walau terdengar tidak masuk akal, namun itulah faktanya. Foto itu membantahnya.”

   “...Hu? Foto apa?”

   “Polisi memotret tubuhnya saat dia ditemukan menggantung di tepi atap.”

   Peluru kedua bagai tertembak, menimbulkan reaksi tak kalah terkejut dari sebelumnya. Villy dengan tergagap bertanya, “Dari mana kau tahu itu?”

   “Rahasia,” katanya sembari tersenyum ganjil. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!