Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi Cegil Pertama
Sejak pulang dari pertemuan dengan Adrian kemarin, Alya merasa hidupnya berubah menjadi sebuah misi rahasia yang sangat penting. Ia mengurung diri di kamar hampir sepanjang malam sambil memikirkan berbagai kemungkinan strategi yang bisa membuat calon suaminya itu merasa ilfeel.
Bagi Alya, tiga tahun setengah adalah waktu yang terlalu lama untuk sebuah pernikahan kontrak. Ia tidak berniat benar-benar menjalani semuanya dengan normal. Jika Adrian ingin mempercepat pernikahan, maka Alya akan mempercepat kehancurannya.
Pagi itu kamar Alya terlihat seperti medan perang kecil. Pakaian berserakan di atas tempat tidur, di kursi, bahkan di lantai. Lemari pakaiannya terbuka lebar seolah baru saja dirampok oleh perampok fashion yang sangat tidak terorganisir. Alya berdiri di depan cermin besar dengan ekspresi serius seperti seorang ilmuwan yang sedang menguji eksperimen berbahaya.
“Baiklah,” gumamnya pelan sambil menyilangkan tangan. “Hari ini kita mulai operasi membuat Direktur Dingin ilfeel.”
Ia mengambil sebuah dress aneh berwarna cerah yang memiliki potongan mengembang seperti balon. Dress itu sebenarnya lucu jika dipakai dalam acara pesta tertentu, tetapi Alya sengaja memilihnya karena terlihat sedikit berlebihan untuk sekadar jalan di mall. Setelah mengenakannya, ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan ekspresi menilai.
“Hmm… masih terlalu normal.”
Beberapa menit kemudian Alya sudah duduk di depan meja rias sambil memegang alat catokan rambut. Ia tidak merapikan rambutnya seperti biasanya.
Sebaliknya, ia hanya mencatok sebagian rambutnya saja, meninggalkan bagian lain tetap lurus alami. Hasil akhirnya terlihat… tidak jelas. Sebelah kiri bergelombang dan sebelah kanan terlihat lurus alami.
“Perfect,” gumamnya puas dengan senyuman licik.
Namun bagian terbaik dari rencananya adalah makeup. Alya sengaja memakai concealer terlalu tipis di bawah mata, lalu menambahkan sedikit eyeshadow gelap agar terlihat seperti lingkar mata panda yang dramatis. Ia bahkan menatap dirinya di cermin sambil mencoba beberapa ekspresi sedih. Ini agar Adrian berpikir bahwa Alya sebenarnya sangat tersiksa dengan perjodohan ini dan tidak siap untuk benar-benar menikah.
“Ah, tampang orang yang tersiksa hidupnya,” katanya puas.
Beberapa saat kemudian ponselnya bergetar di meja.
Pesan dari Adrian.
[Aku sudah sampai di lobby.]
Alya tersenyum kecil.
“Game dimulai.”
Ia mengambil tas kecilnya lalu berjalan keluar kamar dengan langkah ringan.
Di lantai bawah, Bima yang sedang membaca koran hampir menjatuhkan kacamatanya ketika melihat putrinya turun dari tangga dengan pakaian berwarna hijau neon cerah, rambut tidak jelas, dan wajah panda bahkan hampir menyerupai makhluk astral di film horor komedi.
“Alya… kamu mau ke mana?” tanyanya perlahan.
“First date,, Ayahhh...,” jawab Alya santai.
Bima menatapnya dari atas sampai bawah dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. “Kamu yakin itu… pakaian yang tepat?”
Alya berputar satu kali dengan ceria sehingga rok balonnya mengembang lucu dan terpantul.
“Cantik kan?”
Bima hanya memijat pelipisnya.
Beberapa menit kemudian Alya keluar rumah dan langsung melihat Adrian berdiri di dekat mobil hitamnya. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan jas abu gelap yang terlihat sederhana namun sangat rapi. Seperti kemarin, ekspresinya tetap tenang dan nyaris tidak berubah.
Namun ketika Alya mendekat, Adrian sedikit mengangkat alis.
Sangat sedikit.
Itu hampir tidak terlihat jika seseorang tidak memperhatikannya dengan baik.
Alya berhenti tepat di depannya dengan senyum cerah yang sengaja dilebarkan agar lesung pipinya muncul.
“Hi.”
Adrian menatapnya beberapa detik.
“Kamu… siap?”
“Selalu,” jawab Alya ringan.
Mereka kemudian masuk ke mobil dan berkendara menuju sebuah mall besar di pusat kota. Sepanjang perjalanan, Alya sengaja terus mengobrol tentang hal-hal tidak penting. Ia bertanya tentang makanan favorit Adrian, tempat liburan, bahkan tentang apakah Adrian pernah makan mie instan tengah malam.
Adrian menjawab semuanya dengan nada tenang.
Pendek.
Dan tidak terlihat terganggu.
Ini membuat Alya sedikit kesal dalam hati.
Beberapa waktu kemudian mereka sampai di mall dan memilih makan di sebuah restoran yang cukup ramai. Alya sengaja duduk dengan gaya santai yang dibuat-buat sexy agak berlebihan, kadang menyandarkan dagu di tangan, kadang memainkan rambutnya sambil menatap Adrian.
“Jadi…” katanya pelan sambil tersenyum manis.
“Kamu benar-benar gak keberatan menikah sama aku, nihhh?”
Adrian memotong steaknya dengan tenang. “Tidak.”
Alya menyandarkan tubuh ke kursi.
“Aku ini orangnya dramatis loh.”
“Aku tahu.”
“Aku juga suka ngomong banyak.”
“Aku tahu.”
Alya menatapnya beberapa detik lalu terkekeh kecil.
“Kamu ini kok santai banget sih?”
Adrian menatapnya singkat.
“Kamu lucu.”
Alya hampir tersedak minumannya sendiri.
Setelah makan, mereka berjalan keluar mall. Malam sudah mulai turun dan lampu-lampu kota menyala terang. Di depan mall terdapat sebuah air mancur besar yang biasanya menjadi tempat orang-orang berfoto.
Dan di situlah Alya melihat kesempatan sempurna.
Ia mulai berjalan lebih cepat, lalu tiba-tiba melompat kecil di dekat tepi kolam seperti anak kecil yang terlalu bersemangat. Rok balonnya bergerak mengikuti setiap lompatan, sementara beberapa orang di sekitar mereka mulai memperhatikan.
“Alya,” panggil Adrian pelan.
Namun Alya sengaja mengabaikannya.
Ia melompat lagi, kali ini lebih dekat ke air. Dengan gerakan aneh yang ia buat-buat.
“Lihat!” katanya ceria. “Lampunya bagus banget!”
Satu lompatan lagi.
Dan… plung.
Kaki Alya terpeleset sedikit di pinggir kolam sehingga sebagian air mancur terciprat ke arah tubuhnya. Dress Balon hijau neon aneh yang ia pakai langsung basah di bagian depan.
Alya membeku beberapa detik.
Orang-orang di sekitar mereka menoleh.
Ia menatap pakaiannya yang basah dengan wajah datar sebelum bergumam pelan, “Oops.”
Namun sebelum ia sempat melakukan apa pun, sesuatu yang hangat tiba-tiba menutupi bahunya. Gerakannya tenang dan sigap, tanpa ekspresi marah atau malu dengan kejadian barusan. Terlebih rambut Alya mulai berantakan. Beberapa anak disana menertawakan keadaan Alya, dan Alya hanya tersenyum ramah seolah itu hal biasa untuknya.
Alya menoleh pelan.
Adrian baru saja melepas jasnya dan menyampirkannya di tubuh Alya untuk menutupi bagian dress yang basah. Dress tersebut basah dan lepek hingga mengikuti lekuk tubuh Alya.
Gerakan itu sangat sederhana.
Sangat tenang. Bahkan tanpa harus menarik Alya atau mempermalukannya didepan umum.
Namun entah kenapa jantung Alya tiba-tiba berdetak sedikit lebih cepat. Rasanya seperti pasokan oksigen di bumi akan segera berakhir hingga ia harus berebut dengan makhluk lain yang membuat ia sedikit leluasa.
“Kamu kedinginan,” kata Adrian datar.
Alya menatap pria itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Alya memastikan bahwa Adrian tidak melakukan gerakan berlebihan.
Ia sebenarnya hanya ingin membuat Adrian ilfeel.
Bukan membuat dirinya sendiri… sedikit baper.
Alya cepat-cepat mengalihkan pandangan lalu mengembuskan napas kecil.
Di dalam kepalanya, ia mulai berpikir satu hal yang cukup mengganggu.
Misi ini mungkin akan lebih sulit dari yang ia kira.