lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 5
Mobil SUV itu melaju membelah kabut pagi yang mulai menipis. Di dalam kabin yang sunyi, Jek tetap fokus pada kemudi, namun pikirannya sedang memproses ribuan skenario simulasi yang berjalan di latar belakang penglihatannya.
"Jek," panggil Rara memecah keheningan. "Apa yang kamu lihat sekarang?"
Jek melirik kecil ke arah Rara, lalu kembali ke jalan. "Sistem sedang mengalkulasi rute distribusi logistik untuk bantuan pangan di wilayah timur, Ra. Tapi kali ini berbeda. Algoritmanya tidak lagi mencari efisiensi biaya tercepat, tapi titik-titik di mana dampak sosialnya paling besar."
Rara tersenyum, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Baguslah. Akhirnya dia belajar dari tuannya."
Namun, ketenangan itu terusik saat sebuah panggilan masuk melalui jalur komunikasi terenkripsi yang seharusnya tidak bisa ditembus. Itu bukan panggilan suara, melainkan transmisi data mentah yang langsung diterjemahkan oleh Sistem Jek menjadi sebuah video pendek.
Di layar dasbor, muncul gambar sebuah pelabuhan peti kemas di Jakarta yang sedang dijaga ketat oleh pasukan internasional. Bukan polisi lokal, melainkan organisasi keamanan swasta global yang berafiliasi dengan konsorsium energi yang baru saja Jek jatuhkan.
"Mereka melakukan blokade," gumam Jek, matanya menyipit. "Mereka tidak bisa menyerangku secara digital, jadi mereka menahan fisik aset-aset yang akan aku kirimkan ke masyarakat."
"Itu pelabuhan tempat kiriman beras dan alat medis kita, kan?" Rara tampak cemas. "Kalau ditahan di sana, bantuan itu akan busuk sebelum sampai ke orang-orang yang membutuhkan."
Jek tidak menjawab dengan kata-kata. Jarinya mengetuk setir dengan ritme tertentu. Sistemnya memberikan opsi: 'Gunakan Protokol Gajah Mada: Lumpuhkan Seluruh Komunikasi Pelabuhan dalam Radius 5 KM.'
Jek hampir saja menekan perintah itu, namun ia teringat kepingan logam hitam di saku Rara. Ia teringat janjinya untuk tidak menjadi tuhan yang arogan.
"Ra, mereka ingin aku membalas dengan kekuatan. Mereka ingin aku menunjukkan bahwa aku punya 'senjata' agar mereka punya alasan untuk melabeliku sebagai teroris global," bisik Jek.
"Jadi apa rencanamu?"
Jek tersenyum tipis, sebuah ide liar muncul yang tidak berasal dari algoritma Sistem, melainkan dari pengalamannya sebagai orang yang dulu sering bertahan hidup di jalanan. "Kita tidak akan menyerang mereka. Kita akan membuat mereka tidak relevan."
Jek mengetikkan perintah baru: "Alokasikan dana hibah instan kepada seluruh armada nelayan kecil dan pemilik kapal kayu di sekitar pelabuhan. Berikan mereka koordinat penjemputan di laut lepas."
"Kamu akan melakukan penyelundupan bantuan?" Rara terbelalak.
"Bukan penyelundupan, Ra. Ini adalah ekonomi rakyat," Jek tertawa kecil. "Para penguasa itu menjaga gerbang besar, tapi mereka lupa bahwa laut ini milik ribuan nelayan yang selama ini kita bantu. Biarkan mereka menjaga pelabuhan yang kosong. Bantuan kita akan sampai lewat ribuan tangan kecil yang tidak bisa mereka tangkap satu per satu."
Sistem Jek berkedip hijau, memvalidasi rencana tersebut dengan tingkat keberhasilan 98%.
"Jek," Rara menyentuh tangan Jek di atas persneling. "Itu keputusan yang jauh lebih baik daripada sekadar mematikan lampu pelabuhan."
"Terima kasih sudah mengingatkanku untuk tetap menggunakan cara manusia, Ra," kata Jek tulus.
Saat mobil mereka kembali memasuki batas kota Jakarta, gedung-gedung pencakar langit tampak berdiri angkuh di kejauhan. Jek tahu, meski ia memiliki kunci untuk meruntuhkan mereka semua, ia lebih memilih untuk membangun fondasi baru dari bawah, bersama wanita di sampingnya dan ribuan orang yang kini mulai memiliki harapan kembali.
Malam itu, Pelabuhan Tanjung Priok tampak seperti benteng besi. Lampu sorot raksasa menyapu permukaan air, sementara kapal-kapal patroli milik konsorsium swasta mondar-mandir dengan angkuh. Mereka mengunci gerbang utama, yakin bahwa tanpa akses keluar-masuk resmi, Jek tidak akan bisa menggerakkan satu butir beras pun.
Namun, di bawah kegelapan teluk, pemandangan berbeda mulai terlihat. Ratusan lampu kecil—lampu teplok dan senter nelayan—mulai muncul dari balik kabut. Itu bukan kapal-kapal besar yang mudah terdeteksi radar, melainkan perahu ketinting, sekoci kayu, dan kapal motor nelayan yang biasa disebut "kapal klotok".
"Sinkronisasi selesai," bisik Jek dari balik kemudi SUV-nya yang kini terparkir di sebuah bukit yang menghadap pelabuhan. "Setiap nelayan sudah menerima titik koordinat di ponsel mereka."
Rara mengamati melalui teropong digital yang terhubung ke sistem Jek. "Mereka bergerak sangat rapi, Jek. Seperti semut yang mengangkut remah roti."
Di pelabuhan, para penjaga bersenjata mulai menyadari ada yang tidak beres. Mereka melihat peti-peti kemas J-Group di dermaga terbuka secara otomatis. Melalui sistem cloud yang ia kendalikan, Jek menginstruksikan robot-robot pengangkut di dalam pelabuhan untuk menurunkan logistik langsung ke perahu-perahu nelayan yang merapat di sisi dermaga yang tidak terjaga.
"Sistem melaporkan interupsi dari pihak keamanan," ujar Jek. Matanya berkilat biru. "Mereka mencoba melepaskan tembakan peringatan ke arah nelayan."
Jek tidak melepaskan serangan balik yang mematikan. Sebaliknya, ia mengetikkan baris perintah baru: "Aktifkan Protokol Kabut Buatan: Overload Generator Pendingin Sektor 4."
Dalam hitungan detik, pipa-pipa pendingin di sekitar pelabuhan melepaskan uap dingin yang sangat pekat, menciptakan kabut putih tebal yang menelan seluruh area dermaga. Para penjaga kehilangan jarak pandang, sementara radar mereka terganggu oleh frekuensi rendah yang dikirimkan Jek.
Di tengah kabut itu, suara mesin kapal nelayan terdengar menjauh, membawa muatan berharga menuju pulau-pulau kecil dan daerah pesisir yang sedang dilanda krisis.
"Berhasil," desah Jek. "Dua ribu ton logistik keluar tanpa satu pun dokumen resmi yang bisa mereka sita."
Rara menurunkan teropongnya dan menatap Jek. "Kamu baru saja membuat para oligarki itu terlihat sangat bodoh, Jek. Mereka punya tank dan satelit, tapi mereka kalah oleh nelayan dengan mesin bekas."
"Itu karena mereka bertaruh pada kekuatan, sementara kita bertaruh pada kepercayaan," Jek mematikan layar hologramnya. "Mereka akan sangat marah besok pagi."
Benar saja, sebuah notifikasi merah berkedip di sudut mata Jek. Bukan serangan siber, melainkan panggilan video langsung dari Menteri Koordinator Keamanan yang selama ini dikenal sebagai "tangan kanan" para oligarki.
Jek mengangkat panggilan itu, membiarkan wajah sang Menteri yang memerah karena marah muncul di udara.
"Jek! Apa yang kamu lakukan adalah pelanggaran kedaulatan logistik! Kamu menyelundupkan barang-barangmu sendiri!" teriak sang Menteri.
Jek menyandarkan punggungnya, tampak sangat santai. "Selamat malam, Pak Menteri. Saya tidak menyelundupkan apa pun. Rakyat hanya sedang mengambil apa yang sudah menjadi hak mereka. Oh, dan satu lagi... jika Anda ingin membahas 'kedaulatan', mungkin Anda harus menjelaskan mengapa ada tentara bayaran asing di pelabuhan nasional kita pada audit publik besok pagi."
Panggilan itu diputus sepihak oleh sang Menteri.
Jek menoleh ke arah Rara, yang kini sudah menyandarkan kepalanya di bahunya. "Besok akan menjadi hari yang panjang di pengadilan dan media massa, Ra."
Rara tersenyum tenang, memejamkan matanya. "Biarkan saja. Malam ini kita sudah menang. Tidurlah sebentar, Jek. Bahkan seorang Kaisar butuh mematikan sistemnya sesekali."
Jek tersenyum, merasakan kedamaian yang aneh di tengah badai yang sedang ia ciptakan. Ia mematikan mesin mobil, membiarkan keheningan malam menyelimuti mereka, sementara di kejauhan, lampu-lampu kapal nelayan terus bergerak membawa harapan baru bagi negeri yang sedang ia coba sembuhkan.