Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.
Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.
bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IBU DURHAKA?
Bulan demi bulan berlalu.
Rafna tetap tidak pernah berhasil menyusui bayinya sendiri.
Farhan pun tak pernah sekalipun memaksa istrinya.
“Tenangkan dirimu, sayang. Aku masih bisa mengusahakan semuanya. Lagipula sekarang Rafna sudah bisa minum susu formula,” ujarnya lembut, berusaha menenangkan.
Rani tersenyum tipis. Namun di balik senyum itu, ada rasa iri yang diam-diam tumbuh melihat perhatian suaminya yang begitu besar pada bayi mereka.
Padahal… itu juga anaknya.
“Aku hanya merasa gagal jadi ibu,” ucapnya lirih, dramatis.
“Tidak ada itu,” bantah Farhan cepat, hampir tak suka mendengarnya.
“Kamu ibu yang hebat. Kamu mengandungnya, melahirkannya dengan selamat. Itu bukan hal kecil,” lanjutnya tegas.
Rani menunduk dalam, memperkuat kesan rapuh yang ia tampilkan.
Farhan segera memeluknya erat, mengelus punggung sang istri dengan penuh kasih, lalu mengecup keningnya.
“Dengarkan aku,” katanya pelan sambil merengkuh bahu Rani.
“Kamu adalah istri dan ibu terbaik. Jangan merasa tidak sempurna hanya karena tidak bisa menyusui. Banyak perempuan di luar sana bahkan belum diberi kesempatan menjadi ibu.”
Rani mengangguk perlahan.
“Iya, Mas… terima kasih ya… atas semua usahamu untuk… anak kita,” ujarnya pelan, sedikit tertahan di kata terakhir.
Farhan kembali mengecup keningnya tanpa curiga sedikit pun.
“Oh ya, beberapa hari ini aku harus sering bolak-balik ke luar kota. Jadi aku akan menyewa ART untuk membantu kamu dan Rafna,” katanya kemudian.
“Kamu akan jarang pulang?” tanya Rani, nada kecewa tak bisa disembunyikan.
Farhan menatapnya lembut. Rani langsung mencebik kecil.
“Iya, iya… aku paham kok,” katanya cepat, seolah menyesali reaksinya sendiri.
“Maaf ya, sayang. Ini semua demi masa depan kita,” ujar Farhan.
“Iya… namanya juga istri manja,” balas Rani sambil tersenyum kecil.
Farhan ikut tersenyum.
Tepat saat itu, bel rumah berbunyi.
“Ah… ART-nya sudah datang,” ujar Farhan sambil berdiri.
Di depan pagar berdiri seorang wanita paruh baya berpakaian sederhana.
“Ayo masuk, Bi Asih,” ujar Farhan ramah.
Perempuan itu masuk dengan sopan, melepas sandal sebelum mengikuti Farhan ke ruang tamu. Rani berjalan di belakang mereka tanpa banyak bicara.
“Ini Bi Asih,” jelas Farhan.
“Beliau akan membantu mengurus rumah dan Rafna. Sudah berpengalaman. Datang pagi, pulang sore atau malam.”
“Nyonya…” Bi Asih membungkuk hormat.
Rani mengangguk tipis.
“Tapi kenapa tidak menginap? Mas kan sering tidak pulang,” tanyanya.
“Aku tetap akan berusaha pulang,” jawab Farhan.
“Kalau Bi Asih pulang, kamu bisa menjaga Rafna sebentar, ya," lanjutnya meminta.
Deg!
Tubuh Rani menegang. Ia menggeleng kecil tanpa sadar.
Farhan langsung mengerutkan kening.
“Kamu tidak mau?” tanyanya.
“Eh… bukan begitu!” sanggah Rani cepat.
“Aku hanya takut… selama ini Rafna lebih tenang di tanganmu. Aku takut melukainya,” alasannya.
Farhan menatapnya lama, tak berkata apa-apa. Rani menunduk
semakin dalam.
“Maaf, Tuan… boleh saya bicara?” sela Bi Asih hati-hati.
Fokus Farhan beralih.
“Silakan, Bi.”
“Bagaimana kalau saya tinggal saja di sini saat Tuan tidak bisa pulang?”
“Iya! Lebih baik begitu!” seru Rani cepat.
“Rani…!” tegur Farhan.
“Mas… jujur aku takut,” balas Rani, kali ini lebih keras.
“Tapi itu anakmu. Anak kita!” suara Farhan mulai meninggi, tak percaya.
“Mas! Apa kamu pikir aku tidak berusaha melawan baby blues ini?” suara Rani pecah.
Ia berdiri.
“Bagaimana kalau suatu hari ada bisikan menyuruhku mencelakai anak itu?!”
Ruangan mendadak sunyi. Farhan menatapnya tajam.
“Anak… itu?” ulangnya pelan.
“Rani… apa salah Raf—”
“Aku tidak peduli!” sentaknya.
Rani berbalik dan berlari ke lantai dua.
BRAK!
Pintu kamar terbanting keras.
Farhan memejamkan mata. Rahangnya menegang. Bi Asih berdiri kaku, tak berani bergerak.
Keheningan pecah oleh dering ponsel Farhan.
Nama Lina muncul di layar.
Pekerjaan memanggil — dan tak bisa ditunda.
Farhan menarik napas panjang sebelum menatap Bi Asih.
“Mulai hari ini Bibi bekerja di sini. Tolong bawa pakaian ganti. Saat menggendong bayi saya, jangan memakai pakaian habis memasak!"
“Iya, Tuan. Saya sudah siapkan,” jawab Bi Asih patuh.
Farhan menatap lantai atas sekali lagi. Ia ingin naik untuk memperbaiki keadaan.
Namun ponselnya kembali berdering. Akhirnya ia pergi.
Pintu rumah tertutup pelan di belakangnya.
Bi Asih menghela napas panjang, lalu berjalan menuju ruang belakang untuk berganti pakaian sebelum mulai memasak.
Sementara di kamarnya, Rani menangis hebat di ranjang. Tubuhnya bergetar akibat tangisannya. Lalu terdengar suara tangisan Rafna.
"Oeeek. . Ooooeek!"
"Diamlah!" teriaknya pada bayi tak bersalah.
Rani menutup telinganya dengan bantal. Ia benar-benar membenci tangisan putrinya itu.
Asih mendengar tangisan bayi sayup-sayup. Ia mendongak, kamar itu ada di atas. Ia sedikit ragu, tapi tangisan itu belum berhenti juga.
Hatinya berkebit sakit, tak tega mendengar tangisan yang makin lama makin serak dan menyayat.
Ia pun memutuskan naik ke atas dengan langkah cepat. Tak mengetuk pintu di sana, ia melihat Rani yang tidur sambil menutup mukanya dengan bantal. Sementara seorang bayi menangis kencang sampai tubuhnya gemetar.
Asih mengambilnya cepat, mengayunnya pelan dan mulai membuat susu dari storage khusus. Menyodorkan ujung dot pada Rafna dan perlahan tangisannya pun berhenti.
Asih menatap Rani yang tak bergeming dengan semuanya. Bahkan nafasnya tampak teratur, tanda ia tertidur lelap. Seakan tangisan Rafna tadi adalah sebuah nyanyian lagu Nina Bobo untuknya.
Malam beranjak, Farhan pulang pada hari yang terlalu larut. Kepalanya sedikit pusing, tuntutan pekerjaan membuat tubuhnya kelelahan.
Ia masuk sambil mengucap salam, lalu pandangannya tertuju pada sosok yang duduk di sofa tengah. Ia terkejut.
"Bi Asih?" perempuan itu tengah memeluk bayi dengan dot susu di mulutnya.
Pemandangan di ruang tengah itu seperti tamparan keras bagi Farhan. Di bawah lampu temaram, ia melihat orang asing—yang baru bekerja beberapa jam—tengah melakukan tugas yang seharusnya menjadi pelabuhan ternyaman bagi seorang bayi: dekapan ibu.
Bi Asih tersentak, hampir saja ia berdiri namun Farhan memberikan isyarat tangan agar tetap duduk. Farhan melangkah mendekat, matanya tertuju pada wajah Rafna yang tampak letih, bekas air mata masih mengering di pipi gembulnya.
"Kenapa Rafna di sini, Bi? Di mana Rani?" tanya Farhan dengan suara rendah, berusaha menekan amarah yang mulai merayap di dadanya.
"Eum. .. Maaf Tuan. Saya bawa Non Rafna ke bawah agar tidak mengganggu Nyonya," jawab Asih takut-takut.
"Apa. Mengganggu?"
"Nyonya. .. Nyonya tidur lelap, jadi saya tidak berani mengganggunya. Non Rafna menangis kehausan jadi saya ambil alih," jawab perempuan itu.
Farhan mengepal tangan erat di sisi tubuhnya, rahangnya mengeras. Menahan amarah, tetapi melihat putrinya yang begitu nyaman di gendongan Asih membuatnya sedikit melunak.
"Berikan Rafna padaku, Bi. Bibi istirahat saja," suruhnya pelan.
Asih memberikan Rafna pada Farhan. Bayi itu sedikit menggeliat kecil. Farhan langsung menenangkannya dengan menggoyang-goyang kecil tubuhnya
"Shhh ... Sssshhh!" ujarnya pelan.
Ia membawa bayinya ke lantai dua di mana kamarnya berada. Asih menatapnya lalu menggeleng pelan.
Tiga puluh tahun usianya, baru kali ini mendapat seorang ibu yang tidak mau merawat anaknya. Sementara Asih hidup sendirian tanpa anak. Suaminya pergi setelah tau dirinya terkena tumor rahim ganas. Rahimnya diangkat, ia tak bisa punya anak lagi.
Sementara Farhan telah sampai kamarnya. Membuka pintu dan menutupnya perlahan.
Ia meletakkan Rafna dalan boks dengan hati-hati, bayi itu sangat lelap dan nyaman. Lalu matanya menatap Rani yang menutupi kepalanya dengan bantal. Tidak sekali dua kali ia melihat pemandangan itu. Sudah sering, tapi ia memilih diam.
Ia ingin sekali memarahinya, tapi tubuhnya terlalu lelah. Ia memilih berganti piyama dan berbaring di sebelah Rani.
"Besok saja aku tegur dia pelan-pelan," gumamnya pelan.
Lalu perlahan, matanya mulai berat dan ia tertidur setelahnya.
Bersambung.
kasihan Rafna.
Next?