Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.
Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam Sebentar, Shanum
Shanum mengangguk pelan, matanya masih sibuk mengagumi detail kamar utama yang terasa sangat maskulin namun tetap nyaman.
"Kalau begitu, Mas istirahat dulu," ucap Shanum lembut.
Abi tidak menyahut, ia hanya melepas jam tangannya dan meletakkannya di atas nakas lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Matanya terpejam, namun pikirannya tidak benar-benar tertidur dan ia bisa merasakan kehadiran Shanum.
Tak lama kemudian, bel apartemen berbunyi pelan. Shanum terlonjak kaget dan ia melirik Abi yang masih memejamkan mata, lalu ia memutuskan untuk memeriksa pintu depan. Begitu Shanum membuka pintu, dua orang petugas berseragam apartemen sudah berdiri di sana membawa koper-koper mereka.
"Pagi, Bu. Ini barang-barang milik Pak Abi," ucap salah satu petugas dengan sopan.
"Oh, iya. Terima kasih, Pak," jawab Shanum canggung.
Shanum membiarkan mereka meletakkan koper di ruang tengah sebelum akhirnya menutup pintu kembali.
Kini, Shanum berdiri mencoba mengumpulkan keberanian untuk menyentuh barang-barang sang suami. Perlahan, ia menyeret koper miliknya dan koper Abi masuk ke dalam kamar, namun saat ia ingin membuka koper dan merapikan barang-barang di dalamnya, Shanum merasakan sepasang mata memperhatikannya, ia menoleh dan mendapati Abi sudah duduk di tepi ranjang, memerhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa nggak istirahat juga? Kamu pasti lelah setelah perjalanan tadi," ucap Abi.
"Maaf ya, Mas. Aku bikin Mas Abi kebangun," ucap Shanum merasa tidak enak.
"Ayo istirahat," ajak Abi.
"Nanti aja, Mas. Aku beresin ini dulu," balas. Shanum.
"Aku nggak bisa tidur," ucap Abi.
Shanum pun menatap bingung sang suami, "Mas sakit?" tanya Shanum.
"Ck, sini dulu," ucap Abi.
Shanum yang sedang memegang ritsleting koper langsung mengurungkan niatnya, ia melangkah ragu mendekati ranjang dan merasakan karpet bulu yang tebal di bawah telapak kakinya, tatapan Abi yang lurus dan dalam seolah mengunci pergerakannya.
"Iya, Mas?" tanya Shanum pelan saat sudah berdiri tepat di hadapan Abi.
Tanpa aba-aba, Abi meraih pergelangan tangan Shanum. Tarikannya tidak kasar, namun tegas dan membuat tubuh kecil Shanum kehilangan keseimbangan hingga terjatuh di atas ranjang, tepat di samping Abi.
"Ma-mas... Mas kan harus tidur," ucap Shanum gugup.
Abi yang melihat kegugupan istrinya pun tersenyum, lalu tanpa mengatakan apapun, ia menarik pinggang Shanum hingga tubuh mereka saling menempel.
"Ma-mas," panggil Shanum pelan.
Shanum menahan napas, tubuhnya kaku seperti patung. Jarak yang tersisa di antara mereka mungkin tak lebih dari beberapa sentimeter dan dalam posisi sedekat ini, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana bulu mata Abi yang lentik membingkai netra gelapnya, serta gurat kelelahan yang masih tertinggal di sana.
"Diam sebentar, Shanum. Kepalaku sedikit pusing," gumam Abi.
Bukannya memejamkan mata untuk tidur, Abi justru membawa tangan Shanum yang bebas untuk menyentuh pelipisnya, telapak tangan Shanum yang sedikit kasar karena terbiasa bekerja di dapur terasa sangat kontras dengan kulit wajah Abi yang halus dan dingin.
"Pijat sedikit di sini, biasanya kalau kurang tidur bagian ini terasa berdenyut," ucap Abi.
Dengan ragu, Shanum mulai menekan lembut pelipis Abi dan memutar perlahan dengan teratur.
"Begini, Mas?" tanya Shanum lirih.
Abi hanya bergumam pelan sebagai jawaban, matanya terpejam menikmati sentuhan itu. Dekapan tangannya di pinggang Shanum tidak melonggar, justru semakin posesif, menarik tubuh Shanum hingga tak ada lagi celah udara di antara mereka. Shanum bisa merasakan detak jantung Abi yang tenang namun kuat beradu dengan detak jantungnya sendiri yang masih bedetak dengan kencang.
Di tengah keheningan kamar apartemen yang kedap suara itu, hanya terdengar deru halus pendingin ruangan dan detak jantung yang mulai seirama. Shanum memperhatikan wajah suaminya dari jarak yang begitu dekat, garis rahang yang tegas itu kini tampak sedikit lebih rileks dan napas Abi yang semula berat berangsur menjadi teratur dan dalam.
Abi benar-benar tertidur, melihat pria di hadapannya sudah menjelajah ke alam mimpi, Shanum menghentikan pijatannya dan mencoba menarik napas panjang untuk menenangkan dadanya yang sedari tadi bergemuruh.
Namun, saat Shanum berniat untuk bangkit dan melanjutkan pekerjaannya merapikan koper, ia menyadari satu hal, yakni pelukan Abi tidak melonggar sama sekali.
Lengan kokoh pria itu masih melingkar erat di pinggangnya dan menarik tubuh mungil Shanum hingga terkunci rapat dalam dekapannya.
"Mas... Mas Abi," bisik Shanum pelan, berharap pria itu hanya setengah sadar sehingga ia bisa meminta izin untuk bergeser.
Tidak ada jawaban, Abi justru sedikit menggumam dalam tidurnya dan membenamkan wajahnya lebih dalam ke ceruk leher Shanum, seolah mencari posisi paling nyaman di sana. Meskipun Shanum menggunakan hijab, namun embusan napas hangat Abi menerpa kulit lehernya dan membuat bulu kuduk Shanum meremang.
Shanum mencoba menggerakkan pinggulnya sedikit demi sedikit, berusaha menyelinap keluar dari kungkungan lengan itu. Namun, setiap kali Shanum bergerak, refleks tubuh Abi justru semakin protektif. Lengan pria itu mengencang dan menarik Shanum kembali ke posisi semula.
'Ya Allah, kuat sekali pelukannya,' batin Shanum pasrah.
Shanum menatap langit-langit kamar. Mau tidak mau, ia harus tetap dalam posisi ini, jika ia memaksa melepaskan diri dengan kasar, ia takut Abi akan terbangun dalam kondisi kaget dan kepalanya yang pusing akan semakin parah.
Shanum akhirnya menyerah, ia membiarkan tubuhnya melemas dan mengikuti alur dekapan suaminya. Kepalanya ia sandarkan di atas bantal yang sama dengan Abi, aroma kayu cendana yang menenangkan dari tubuh Abi seolah menjadi sihir yang perlahan-lahan mulai membius kesadaran Shanum.
Rasa lelah akibat perjalanan jauh dari desa, kurangnya waktu istirahat semalam karena canggung, ditambah dengan kenyamanan kasur yang luar biasa empuk, mulai mengambil alih kendalinya dan membuat kelopak mata Shanum terasa semakin berat.
Tanpa sadar, Shanum menyandarkan tangannya di dada bidang Abi. Gerakan itu terjadi begitu alami, seolah tubuhnya sudah mulai mengenali siapa pemilik dekapan hangat tersebut. Hanya dalam hitungan menit, Shanum pun menyusul Abi ke alam mimpi.
Jarum jam terus bergeser hingga menunjukkan angka sepuluh, cahaya matahari Bandung yang mulai terik tertahan oleh tirai blackout abu-abu, menyisakan suasana remang yang menenangkan.
Mata Abi terbuka perlahan, ia merasakan beban hangat di dadanya. Saat ia menunduk, ia mendapati Shanum masih terlelap dalam dekapannya, di mana wajah istrinya tampak begitu damai.
Abi melonggarkan pelukannya secara perlahan, ia tidak ingin membangunkan Shanum yang begitu nyenyak. Ketika lengannya berhasil terlepas, ia segera menyusupkan bantal guling sebagai penggantinya.
Abi turun dari ranjang tanpa suara, ia melirik jam yang menunjukkan pukul 10.05 pagi dan ia harus segera bersiap jika tidak ingin terlambat masuk ke ruang kuliah pukul 11.00 nanti.
.
.
.
Bersambung.....
pasti keduanya akan merasa kecanduan setelah merasakan nikmatnya Sorga Dunia😊