NovelToon NovelToon
Kaisar Abadi Penentang Surga

Kaisar Abadi Penentang Surga

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.

Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembantai Berjubah Hitam

Keheningan yang mencekik perlahan pecah, digantikan oleh ledakan sorak-sorai yang menggetarkan langit-langit gua batu pendar. Ribuan penonton di tribun berdiri dari kursi mereka, wajah mereka memerah karena perpaduan antara kengerian dan ekstasi yang gila.

Di Kota Dosa, kekuatan adalah satu-satunya hukum yang diakui. Kematian tragis Tu Ba si Beruang Darah tidak membuahkan simpati, melainkan memicu rasa haus darah yang lebih besar dari para penonton.

Di pinggir gelanggang berpasir, wasit yang mengenakan jubah abu-abu menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia melirik ke arah tribun khusus di atas, tempat para pengelola gelanggang duduk. Sebuah anggukan pelan namun tegas diberikan dari atas sana.

Gelanggang Asura tidak pernah kekurangan orang gila yang mencari kematian, dan mereka juga tidak pernah menolak kesempatan untuk meraup koin emas dari taruhan yang memanas.

"P-Penantang berikutnya!" teriak wasit itu dengan suara bergetar, mencoba menutupi kegugupannya. "Si Pisau Kembar, Li Gui!"

Seorang pria kurus dengan tatapan licik melompat ke dalam gelanggang. Ia memegang dua bilah pisau melengkung yang meneteskan racun hijau. Kultivasinya berada di Kondensasi Qi Tingkat Delapan Menengah. Li Gui tidak sebodoh Tu Ba; ia telah melihat bagaimana raksasa itu diremukkan dalam adu kekuatan fisik.

"Bocah bertopeng, fisikmu memang mengerikan. Tapi pisauku tidak akan menyentuh tulangmu, melainkan mengiris urat nadimu!" Li Gui mendesis. Tubuhnya langsung melesat memutar, menciptakan beberapa bayangan palsu menggunakan teknik pergerakan tingkat menengah.

Jian Chen berdiri diam bagai arca batu kuno. Topeng hantunya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Ketika bayangan Li Gui menyatu tepat di sisi kanannya dan pisau beracun itu terayun menuju lehernya...

Wush!

Tangan kiri Jian Chen melesat lebih cepat dari patukan ular beludak. Tanpa perlu menoleh, dua jarinya menjepit bilah pisau beracun itu dengan presisi mutlak.

"Apa?!" Li Gui membelalakkan matanya, mencoba menarik pisaunya kembali, namun pisau itu seolah tertanam di dalam gunung baja.

"Terlalu lambat," bisik Jian Chen sedingin es abadi.

KRAK!

Dengan satu putaran pergelangan tangan, pisau baja spiritual itu patah menjadi dua. Jian Chen menggunakan patahan bilah itu untuk menyayat tenggorokan Li Gui dalam satu gerakan melingkar yang mulus. Darah menyembur mewarnai pasir. Tubuh Li Gui ambruk, berkejang sesaat sebelum nyawanya melayang.

Pertarungan kedua, selesai dalam satu tarikan napas.

"K-Kirim yang ketiga!" teriak wasit, suaranya kini nyaris melengking.

Malam itu, Gelanggang Asura menjadi saksi bisu atas lahirnya sebuah legenda yang dibasuh oleh lautan darah.

Penantang ketiga adalah seorang pembelot sekte bersenjata tombak api; dadanya ditembus oleh tinju Jian Chen. Penantang keempat mencoba menggunakan mantra ilusi tingkat rendah; lehernya dipelintir hingga patah sebelum ia bisa menyelesaikan segel tangannya. Penantang kelima, keenam, hingga kesembilan... tidak ada satu pun dari mereka yang mampu bertahan lebih dari tiga tarikan napas!

Mereka semua mati dengan cara yang brutal namun sangat efisien. Tidak ada gerakan yang sia-sia, tidak ada setetes pun Qi yang dibuang percuma oleh Jian Chen.

Bahkan yang lebih mengerikan, tidak ada satu pun dari para penonton yang menyadari sebuah pemandangan ganjil. Setiap kali Jian Chen merunduk untuk mengambil kantong penyimpanan dari mayat musuhnya, mayat-mayat itu menyusut secara perlahan. Pusaran hitam Seni Melahap Surga Primordial terus bekerja dalam senyap, menelan lautan esensi darah dan Qi kultivasi dari sembilan ahli Tingkat Delapan!

Energi murni mengalir membanjiri Meridian Primordial emas milik Jian Chen, membuat Dantiannya bergemuruh layaknya guntur yang terkurung.

"Haaa..." Jian Chen menghembuskan napas panjang. Udara yang keluar dari celah topeng hantunya berwarna putih kelabu, membeku di udara malam yang dingin.

Kondensasi Qi Tingkat Tujuh Menengah.

Hanya dengan melahap sembilan kultivator Tingkat Delapan, ia berhasil menembus hambatan kecil tanpa perlu menyerap ribuan Batu Spiritual. Dunia bawah tanah ini benar-benar surga bagi teknik terlarangnya.

Jian Chen mendongak, menatap lautan mayat di sekelilingnya, lalu menunjuk ke arah wasit yang kini pucat pasi dan gemetar hingga kakinya tak mampu berdiri tegak.

"Satu lagi," tuntut Jian Chen. Suaranya tidak lagi serak, melainkan membawa gaung kehendak seorang penguasa tiran yang menuntut persembahan. "Kirim kepala kesepuluh."

Di tribun para pengelola gelanggang, seorang pria berjubah ungu dengan bekas luka melintang di wajahnya mendobrak meja kayunya hingga hancur. Ia adalah Pengawas Gelanggang. Malam ini, kemenangan beruntun pemuda bertopeng itu telah membuat pihak gelanggang kehilangan ratusan ribu koin emas karena para petaruh mulai bertaruh gila-gilaan untuk kemenangan 'Kekosongan'.

"Siapa bocah iblis ini?! Dari sembilan pertarungan, ia bahkan belum mencabut pedang besar di punggungnya!" geram Pengawas Gelanggang. Matanya memancarkan niat membunuh yang pekat. "Panggil 'Bayangan Hantu' Xie San. Beri tahu dia, jika dia bisa memenggal bocah itu, aku akan membebaskan kontrak budaknya!"

Beberapa saat kemudian, suasana gelanggang berubah drastis. Sorak-sorai penonton mereda menjadi keheningan yang tegang. Suhu udara seakan turun tajam.

Dari gerbang jeruji besi yang gelap, sesosok manusia bertubuh sangat kurus melangkah keluar. Ia tidak mengenakan jubah, melainkan pakaian ketat berwarna abu-abu yang menyatu dengan debu. Wajahnya pucat bagai mayat hidup, dan sepasang pisau belati tipis sepanjang siku tergenggam di kedua tangannya.

Aura yang dipancarkannya membuat beberapa kultivator fana di tribun kesulitan bernapas.

Kondensasi Qi Tingkat Delapan Puncak! Ia hanya berjarak sehelai rambut dari Alam Pembentukan Fondasi.

"Itu Xie San! Algojo terkuat Gelanggang Asura!" bisik seorang penonton dengan bibir gemetar. "Kudengar ia pernah membunuh seorang tetua klan di ibu kota. Kecepatannya tidak bisa ditangkap oleh mata!"

Xie San tidak berteriak arogan seperti penantang sebelumnya. Matanya sedingin sumur tua. Ia menatap lautan mayat di sekitar Jian Chen, dan ia mencium bahaya yang luar biasa pekat dari sosok berjubah hitam itu.

"Sembilan kemenangan. Kau cukup hebat, Nak," suara Xie San terdengar serak, seperti dua lempeng besi yang digesekkan. "Sayang sekali. Kau terlalu serakah untuk berhenti, dan itu akan menjadi alasan kematianmu."

Jian Chen perlahan memutar lehernya hingga terdengar bunyi tulang bergemeretak. Ia membiarkan Lautan Kesadaran-nya terbuka, menyebarkan Indra Spiritual sejauh lima ratus langkah ke segala arah. Setiap butiran pasir, setiap hembusan angin, dan setiap helai rambut Xie San kini terkunci mutlak dalam jaring kesadarannya.

"Coba saja," tantang Jian Chen pelan.

Xie San menyipitkan matanya. Ia menjejakkan kakinya ke pasir.

Syuuuut!

Sosok Xie San benar-benar menghilang! Itu bukan sekadar kecepatan tinggi; itu adalah teknik pergerakan khusus yang membiaskan cahaya di sekitarnya. Bagi para penonton, ia seolah-olah menguap menjadi debu.

"Mati!"

Dua bilah belati tipis tiba-tiba muncul dari ruang kosong tepat di belakang leher Jian Chen. Serangan itu begitu sunyi dan mematikan, tidak menyisakan ruang sedetik pun untuk menangkis. Penonton berseru tertahan, mengira kepala sang iblis bertopeng akan segera bergelinding.

Namun, tepat sebelum belati itu menyentuh kulitnya, Jian Chen hanya mengambil satu langkah miring.

Langkah Hantu Kekosongan.

Tubuh Jian Chen berkedip, berubah menjadi bayangan ilusi yang dilewati begitu saja oleh belati mematikan Xie San.

"Apa?!" Mata Xie San membelalak lebar. Ini adalah pertama kalinya serangannya yang sempurna hanya mengenai udara hampa!

Sebelum Xie San sempat menarik kembali belatinya, hawa dingin yang menusuk tulang merayap dari arah kanannya.

"Kau terlalu bergantung pada matamu," suara Jian Chen terdengar seperti bisikan dewa maut tepat di telinga Xie San.

Jian Chen tidak memukul. Ia menjulurkan tangan kanannya dengan kecepatan kilat, mencengkeram wajah pucat Xie San. Jari-jarinya yang mengandung kekuatan empat ribu empat ratus kilogram mencengkeram tengkorak pembunuh bayaran itu layaknya cakar naga raksasa.

BAM!

Jian Chen membanting wajah Xie San langsung ke lantai gelanggang berpasir dengan tenaga penuh.

Ledakan dahsyat terjadi! Pasir dan pecahan batu berhamburan ke udara, membentuk kawah selebar tiga langkah di bawah tubuh Xie San. Tulang tengkorak pembunuh bayaran Tingkat Delapan Puncak itu retak, seluruh giginya hancur, dan ia langsung kehilangan kesadaran sebelum bisa mengeluarkan satu jeritan pun.

Kesunyian yang mematikan kembali menguasai Gelanggang Asura. Tidak ada seorang pun yang berani bersuara.

Jian Chen berdiri tegak di tengah gelanggang, dikelilingi oleh sepuluh tubuh tak bernyawa. Jubah hitamnya tidak ternoda setetes pun darah, dan pedang raksasa di punggungnya masih terbalut rapi, tak tersentuh.

Ia membiarkan Seni Melahap Surga Primordial-nya bekerja dalam senyap, menyedot esensi murni Xie San yang sekarat, mengonsolidasikan terobosannya di Tingkat Tujuh Menengah menjadi sangat kokoh.

Jian Chen mengumpulkan kesepuluh kantong penyimpanan milik musuh-musuhnya ke dalam sabuknya. Ia menoleh ke arah tribun pengelola gelanggang, menatap langsung ke arah Pengawas Gelanggang yang kini duduk gemetar dengan keringat dingin membanjiri dahi.

"Sepuluh kepala telah diambil," suara Jian Chen bergema pelan namun meresap ke dalam jiwa setiap orang yang mendengarnya. "Katakan pada tuan kalian... 'Kekosongan' akan kembali. Simpan batu spiritual kalian untuk pertaruhan selanjutnya."

Dengan kata-kata itu, sang iblis bertopeng berbalik dan berjalan menuju lorong gelap, meninggalkan legenda mengerikan yang akan mengguncang dunia bawah tanah Ibu Kota Kerajaan Angin Langit selama bertahun-tahun mendatang.

1
selenophile
lagi
Nanik S
Aturan baru sang Monster👍👍👍
Nanik S
Paman dan keponakan yang rakus
Nanik S
Maaantaaap dapat harta karun
Nanik S
Dapat cincin Gratis
Nanik S
Mantap Pooool 👍👍👍
Bambang Widono
👍👍👍💯💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Optimus prime
cerita nya bagus...TPI lebih bagus ga ush pake bahasa inggris thor...👍👍
Nanik S
Pulang menghadapi Anjing dan pieraanya
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Hadir dan cukup menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!